TERAPI TARGET UNTUK KANKER

Oleh : dr Denise Utami Putri, MSc
Share

Kanker merupakan penyebab kematian nomor tiga di seluruh dunia, setelah penyakit serangan jantung dan stroke. Penyakit ini dapat menyerang berbagai kalangan dan usia. Selain berkaitan dengan faktor genetik dan keturunan, kanker juga berhubungan dengan gaya hidup tidak sehat serta paparan terhadap karsinogen (zat yang dapat mencetuskan kanker). Penyakit ini sering kali terdeteksi pada stadium yang sudah lanjut dan kerap kali dianggap sebagai penyakit yang “tidak dapat disembuhkan”.

Hingga saat ini, sudah ditemukan berbagai jenis pengobatan kanker. Tiga macam pengobatan kanker yang utama adalah pembedahan/operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Ketiganya bertujuan untuk menghilangkan dan menghancurkan sel-sel kanker. Sayangnya, terapi ini tidak spesifik terhadap sel-sel kanker sehingga sel normal pun turut hancur. Akibatnya, pasien mengalami berbagai macam efek samping, misalnya rambut rontok, mual, muntah, dan diare. Selain itu, terapi ini juga dapat menyisakan sel kanker yang dapat berkembang menjadi kanker yang baru.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peneliti telah mengembangkan berbagai jenis terapi baru untuk kanker. Salah satu yang banyak menjadi perhatian adalah pengembangan terapi target (targeted therapy). Terapi ini fokus untuk menyerang sel kanker, sehingga memberikan efek minimal pada sel normal.

Dalam konteks ini, setiap pasien dilihat sebagai individu dengan karakteristik penyakit yang berbeda, sehingga membutuhkan penanganan penyakit yang berbeda pula. Sebagai contoh, dua orang pasien, Bapak A dan Bapak B menderita kanker paru-paru pada stadium yang sama. Setelah dilakukan pemeriksaan genetik, Bapak A diketahui memiliki mutasi suatu gen yang disebut Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). Sementara pada Bapak B, tidak ditemukan adanya mutasi pada gen tersebut. Penelitian telah membuktikan bahwa gen EGFR ini sangat berperan dalam perkembangan kanker paru-paru. Saat ini, sudah ditemukan obat yang secara khusus menghambat kerja gen tersebut. Obat ini hanya akan memberikan manfaat yang baik untuk Bapak A. Sementara pada Bapak B, pemberian terapi ini akan menjadi kurang tepat.

Pengembangan terapi target dimulai dengan penemuan gen dan molekul yang berperan dalam pertumbuhan serta penyebaran kanker. Menariknya, pada satu jenis kanker yang sama dapat ditemukan gangguan gen yang berbeda. Artikel ini akan membahas mengenai beberapa jenis dan cara kerja terapi target yang banyak dikembangkan.

  1. Terapi hormon

Hormon dapat memicu perkembangan jenis kanker tertentu, misalnya kanker payudara, ovarium, dan prostat. Oleh karena itu, dilakukan terapi hormon. Terapi ini bertujuan untuk mengurangi atau menghambat produksi hormon dari tubuh. Cara kerja lainnya dari terapi ini adalah menghambat interaksi hormon tersebut dengan organ yang terkena kanker.

  1. Terapi penghambat sinyal

Secara normal, setiap sel pada tubuh manusia akan menerima, mengolah, serta menghantarkan sinyal-sinyal yang berperan dalam menjalankan fungsi masing-masing sel. Pada sel kanker, terdapat peningkatan aktivitas dari sinyal yang memacu pertumbuhan dan pembelahan sel. Terapi penghambat sinyal menarget satu sinyal tertentu yang sudah terbukti menyebabkan kanker. Setiap kanker tentunya memiliki sinyal yang berbeda sehingga obat yang diberikan pun berbeda. Terapi ini masih terus dikembangkan, karena masih ada jenis kanker yang belum diketahui sinyalnya.

  1. Terapi pemicu kematian sel kanker

Sel kanker memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dan terus membelah diri. Salah satu sasaran dari terapi target adalah memicu kematian pada sel kanker. Terapi ini khusus menyasar sel kanker  tanpa menyebabkan gangguan pada sel-sel normal di sekitarnya.

  1. Terapi penghambat pembentukan pembuluh darah

Sel kanker mampu membentuk pembuluh darah baru yang berguna untuk menyediakan nutrisi dan oksigen bagi pertumbuhan kanker. Pembuluh darah ini juga dapat menjadi jalur penyebaran kanker ke organ lainnya. Terapi ini menggunakan obat yang mampu menghambat pembentukan pembuluh darah yang baru. Diharapkan pertumbuhan kanker terhambat akibat turunnya suplai nutrisi dan oksigen. Selain itu, tujuan lain dari terapi ini adalah mencegah penyebaran kanker.

  1. Terapi imun

Normalnya, sistem kekebalan tubuh dapat mengenali sel yang tidak normal, termasuk sel kanker. Setelah dikenali, sel kanker dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, sel kanker juga memiliki kemampuan untuk “bersembunyi dan menghindar” sehingga tidak dihancurkan. Bahkan, beberapa kanker juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Terapi imun bertujuan untuk “memperkuat” dan “melatih” sistem kekebalan tubuh  untuk mengenali kanker dan menghancurkannya.

 

Meskipun terapi target sudah banyak memberikan kontribusi dalam pengobatan kanker, terapi ini masih memiliki banyak keterbatasan. Misalnya kanker tidak lagi merespons terapi. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan genetik sel kanker. Padahal terapi target yang dilakukan bertujuan untuk menghambat gen tersebut. Oleh karena itu, terapi target sering kali diberikan bersamaan dengan terapi target lain atau kemoterapi. Selain itu, metode untuk mengetahui ada tidaknya mutasi pada sel kanker masih sedikit. Akibatnya, terapi target masih belum banyak digunakan.

Terapi target tidak bebas dari efek samping, meski efek samping yang ditimbulkan tidak berat. Efek samping yang dapat muncul adalah gangguan kulit (kemerahan pada kulit dan kulit kering), perubahan warna rambut, gangguan pembekuan darah, kenaikan tekanan darah, serta gangguan pencernaan. Beberapa efek samping justru merupakan pertanda reaksi obat yang berhasil. Sebagai contoh pada pasien yang mendapat obat Erlotinib dan Gefitinib. Keduanya merupakan obat penghambat pembentukan  pembuluh darah. Ditemukannya reaksi kulit seperti jerawat, merupakan pertanda bahwa pengobatan yang dilakukan mengenai sasaran.