PERLUKAH RADIOTERAPI BAGI PENDERITA KANKER?

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

Radioterapi merupakan salah satu jenis pengobatan yang dapat diberikan pada penderita kanker. Terapi ini menggunakan sinar radiasi berenergi tinggi, misalnya sinar X, gamma, elektron, ataupun proton untuk menghancurkan sel kanker. Sinar radiasi tersebut dapat merusak DNA di dalam sel. Sel dengan DNA yang rusak tidak dapat membelah lagi. Selain itu, kerusakan DNA juga dapat menyebabkan kematian sel.

Sayangnya, radioterapi tidak hanya merusak sel-sel kanker. Sel normal yang ada di sekitar kanker juga dapat terkena efek radiasi. Sel normal yang terkena radiasi biasanya dapat pulih kembali. Meskipun, kadang sel normal tersebut juga dapat mati akibat radiasi.

Berbeda dengan kemoterapi, radioterapi bersifat lokal. Artinya, radioterapi hanya digunakan pada area tertentu dan tidak pada seluruh tubuh. Oleh karena itu, radioterapi memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan kemoterapi. Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai radioterapi.

Tujuan radioterapi

Radioterapi memiliki beberapa tujuan, antara lain:

  1. Menyembuhkan kanker

Radioterapi dapat digunakan untuk menyembuhkan jenis kanker yang sensitif terhadap sinar radiasi, jika kanker masih stadium awal. Pada kasus ini, kanker dapat digunakan sebagai terapi tunggal tanpa disertai terapi lainnya (pembedahan atau kemoterapi).

Sementara itu, tipe kanker lainnya memerlukan radiasi sekaligus kemoterapi. Beberapa obat kemoterapi (disebut radiosensitizer) dapat membuat sel kanker menjadi lebih sensitif terhadap sinar radiasi sehingga meningkatkan efek radioterapi. Namun, terapi kombinasi ini menimbulkan efek samping yang lebih besar dibandingkan radioterapi saja.

  1. Mengecilkan ukuran kanker

Beberapa kanker memerlukan radioterapi sebelum pembedahan untuk memperkecil ukuran tumor. Hal ini akan memudahkan proses operasi dan memungkinkan seluruh kanker dapat diangkat.

  1. Mencegah kanker kambuh kembali

Sel kanker memiliki kemampuan untuk menyebar ke bagian tubuh lain. Pada tahap awal, penyebaran ini tidak dapat dideteksi melalui pemeriksaan seperti CT-scan ataupun MRI. Pada kasus tersebut, tempat yang paling sering menjadi lokasi penyebaran diberikan terapi radiasi. Tujuannya untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin sudah ada meskipun belum terlihat. Terapi ini diharapkan dapat membunuh sel kanker sebelum tumbuh menjadi jaringan kanker yang lebih besar. Sebagai contoh, pasien kanker paru dapat diberikan radiasi pencegahan pada area kepala karena kanker paru sering menyebar ke kepala.

  1. Mengurangi gejala pada kanker stadium lanjut

Kanker stadium lanjut yang sudah menyebar ke berbagai organ sangat sulit untuk diobati. Pada kasus ini, kanker dapat diobati dengan terapi radiasi. Tujuannya agar ukuran kanker menjadi lebih kecil sehingga pasien dapat merasa lebih nyaman. Terapi radiasi ini dapat mengurangi berbagai gejala seperti nyeri, kesulitan menelan, sesak, atau sumbatan usus.

Bagaimana cara pemberian radioterapi?

Terdapat 3 cara pemberian radioterapi, yaitu:

  1. Radiasi eksternal

Terapi jenis ini menggunakan mesin yang mengeluarkan sinar berenergi tinggi dari luar tubuh ke dalam kanker. Terapi ini dilakukan selama beberapa minggu. Pasien dapat menerima radiasi eksternal tanpa perlu rawat inap.

  1. Radiasi internal

Terapi ini dikenal juga sebagai brakhiterapi. Implan yang mengandung zat radioaktif akan dimasukkan ke dalam tubuh dan diletakkan di dekat lokasi kanker. Implan dapat bersifat sementara atau permanen, tergantung rencana pengobatan yang dilakukan oleh dokter.

  1. Radiasi sistemik

Obat-obatan radioaktif dimasukkan dengan cara ditelan atau disuntikkan ke pembuluh darah. Dengan cara ini, obat radioaktif akan menyebar ke seluruh tubuh dan membunuh sel kanker.

Jenis radioterapi yang didapat bergantung kepada jenis dan lokasi kanker. Pada beberapa kasus, dapat digunakan lebih dari satu tipe pemberian radioterapi.

Apa efek samping radioterapi?

Efek samping radioterapi dapat dibagi menjadi dua, yaitu akut (cepat) dan kronik (lambat). Efek samping akut akan muncul tak lama setelah radioterapi. Sementara itu, efek samping kronik timbul berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah terapi diberikan. Efek samping umumnya akan muncul pada tempat yang diberi radioterapi. Walaupun demikian, radioterapi juga dapat menyebabkan efek samping sistemik (seluruh tubuh). Beratnya efek samping bergantung pada beberapa faktor, seperti lokasi yang menerima radioterapi, dosis radiasi per hari, total dosis yang diberikan, kondisi kesehatan pasien, dan terapi lain yang diberikan.

Efek samping akut, misalnya iritasi kulit, gangguan kelenjar ludah, rambut rontok, lelah, mual, dan gangguan berkemih. Umumnya efek samping akut akan hilang setelah pengobatan selesai, walaupun beberapa dapat bersifat permanen (misalnya gangguan kelenjar ludah). Efek samping kronik tidak dapat diprediksi, bisa muncul atau tidak ada sama sekali. Contoh efek samping kronik adalah fibrosis (kulit menjadi kaku), gangguan pencernaan, hilang ingatan, infertilitas (sulit memiliki anak), atau kanker sekunder akibat radiasi.

Efek samping di atas merupakan risiko radioterapi yang perlu dipikirkan. Walaupun demikian, dokter akan menimbang keuntungan dan kerugian dari terapi yang diberikan. Apabila risiko efek samping radioterapi lebih kecil dibandingkan keuntungannya mengobati kanker, dokter akan menyarankan terapi radiasi.

Apa yang harus dilakukan sebelum dan setelah radioterapi?

Perlu diingat bahwa setiap jenis kanker memiliki pengobatan yang berbeda. Dokter yang menangani Anda akan menentukan pengobatan terbaik untuk jenis kanker yang diderita. Tanyakan kepada tim medis yang menangani Anda mengenai jenis radioterapi, efek samping, serta hal-hal yang perlu disiapkan sebelum dan setelah radioterapi.

Setelah dilakukan radioterapi, tetap lakukan kunjungan berkala ke dokter yang menangani Anda. Dokter akan menanyakan beberapa hal terkait gejala kanker dan efek samping pengobatan. Dokter juga menilai apakah kanker mulai sembuh atau kembali kambuh. Dari pemeriksaan yang dilakukan, dokter akan menentukan pengobatan selanjutnya.