Osteosarkoma

Oleh : dr. Wiedya Kristianti Angeline
Share

Osteosarkoma atau sarkoma osteogenik merupakan jenis kanker yang berasal dari sel-sel tulang. Meskipun dapat terjadi pada seluruh usia, osteosarkoma lebih sering ditemukan pada orang berusia di bawah dua puluh tahun. Hal ini disebabkan karena osteosarkoma biasanya berkembang pada tulang yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi, seperti pada anak-anak dan remaja. Osteosarkoma biasanya muncul di ujung tulang-tulang panjang (misalnya tulang tangan dan kaki) yang sel-selnya masih aktif membelah. Sebagian besar tumor muncul di area sekitar lutut (75%). Lokasi paling sering berikutnya adalah tulang lengan atas yang berdekatan dengan bahu. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan osteosarkoma terjadi di tulang lainnya.

 

Tulang

Tulang merupakan struktur penting untuk menyokong dan membentuk tubuh seseorang. Selain fungsi tersebut, tulang juga memiliki sejumlah fungsi lainnya, yaitu:

  • Menopang dan melindungi organ vital. Sebagai contoh adalah tulang tengkorak yang melindungi otak serta tulang rusuk yang melindungi paru-paru dan jantung.
  • Membuat kerangka untuk membantu pergerakan otot. Misalnya tulang tangan dan kaki yang terlibat dalam proses pergerakan.
  • Menghasilkan sel darah yang baru. Fungsi ini dilakukan pada bagian tulang yang disebut sumsum tulang.
  • Menyediakan tempat untuk menyimpan mineral seperti kalsium.

 

Epidemiologi

Osteosarkoma merupakan kanker tulang yang paling sering, terutama pada anak-anak dan remaja. Kanker ini menyumbang 65% kanker tulang primer dan merupakan 10% dari kanker pada anak-anak. Kejadian osteosarkoma di Amerika Serikat, yaitu sekitar 4-5 kasus per 1.000.000 penduduk.

 

Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dijumpai 219 kasus osteosarkoma (16,8 kasus/tahun) dalam kurun waktu 13 tahun (1995-2007). Angka tersebut menempatkan osteosarkoma menjadi kanker tulang (70,59%) terbanyak di RSCM dengan kejadian paling sering pada usia dekade kedua.

Osteosarkoma lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 1,6:1. Hal ini diperkirakan akibat masa pertumbuhan tulang pada laki-laki yang lebih lama daripada perempuan.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Seperti kanker lainnya, osteosarkoma muncul akibat mutasi alias perubahan pada gen. Meskipun demikian, belum diketahui secara pasti penyebab mutasi tersebut. Mengingat bahwa osteosarkoma lebih sering terjadi di ujung-ujung tulang yang selnya aktif membelah, para ilmuwan menduga bahwa mutasi terjadi pada sel tulang yang cepat membelah. Tingginya kejadian pada anak-anak dan remaja, terutama laki-laki juga turut mendukung dugaan tersebut.

Adanya anggota keluarga yang mengalami osteosarkoma juga meningkatkan kecenderungan seseorang untuk terkena osteosarkoma. Selain itu, pada pasien dengan retinoblastoma (jenis kanker pada mata), osteosarkoma terjadi 500 kali lebih sering daripada pada orang sehat. Penyakit gangguan gen lainnya, juga dapat meningkatkan risiko osteosarkoma.

 

Paparan radiasi atau zat kimia juga dapat meningkatkan risiko terjadinya osteosarkoma. Radiasi diperkirakan menyebabkan sekitar 3% osteosarkoma. Faktor lain yang juga diduga memicu kanker ini adalah trauma dan infeksi virus onkogenik (jenis virus yang dapat menyebabkan kanker). Trauma sering dilaporkan menjadi pemicu osteosarkoma. Namun, hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang mendukung hubungan antara trauma dan osteosarkoma.

 

Gejala

Gejala awal yang biasa dikeluhkan adalah nyeri tulang hebat di daerah ujung tulang. Namun, gejala ini sering diabaikan karena banyak penyakit lain yang juga dapat menyebabkan nyeri tulang hebat. Sebagian besar pasien baru menyadari setelah nyeri tak kunjung hilang atau muncul pembengkakan alias massa kanker pada ujung tulang. Pembengkakan ini akan semakin membesar dan terasa hangat jika diraba.

 

Pada awalnya, nyeri yang dirasakan masih ringan dan hilang timbul. Biasanya nyeri akan memberat pada malam hari. Seiring berjalannya waktu, nyeri akan semakin berat. Rasa nyeri juga meningkat jika pasien beraktivitas atau bergerak.

 

Gejala berikutnya yang dapat terjadi adalah kelemahan sehingga pasien kesulitan bergerak. Patah tulang juga dapat terjadi di daerah tumbuhnya osteosarkoma. Gejala ini dialami pada 15% pasien anak-anak yang mengalami osteosarkoma. Pada stadium lanjut, dapat terjadi penurunan berat badan, pucat, sulit makan, dan demam.

 

Diagnosis

Diagnosis osteosarkoma ditegakkan berdasarkan anamnesis (proses wawancara oleh dokter), pemeriksaan fisik (pemeriksaan sederhana oleh dokter tanpa menggunakan alat) dan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan menggunakan alat, misalnya pemeriksaan laboratorium, roentgen, dan lain-lain).

 

Anamnesis dan pemeriksaan fisik

Pada tahap anamnesis, dokter akan menanyakan berbagai hal untuk mengetahui lebih lanjut tentang gejala yang dialami. Hal yang ditanyakan meliputi gejala, riwayat cedera, riwayat kesehatan sebelumnya, proses perjalanan penyakit, riwayat kanker pada keluarga, dan lain sebagainya. Sementara itu, pada pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa keadaan pasien secara keseluruhan dan massa pada tulang.

 

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat ditemukan tanda dan gejala seperti:

  • Nyeri tulang yang semakin berat
  • Pembengkakan yang membesar dengan cepat dan terasa nyeri jika ditekan
  • Patah tulang di area sekitar kanker
  • Keterbatasan gerak, tidak mampu menahan beban, atau pincang
  • Penurunan berat badan
  • Sulit makan
  • Demam
  • Anemia (kekurangan sel darah merah)

 

Pemeriksaan Penunjang

Bila dokter mencurigai diagnosis mengarah ke osteosarkoma, dokter akan menyarankan pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan  yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan roentgen/sinar-X

Pemeriksaan roentgen merupakan pemeriksaan radiologi pertama yang dilakukan. Selain untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan ini juga dilakukan untuk evaluasi setelah kemoterapi. Tak hanya dilakukan pada daerah yang terkena kanker, roentgen juga dapat dilakukan pada dada untuk mengetahui kemungkinan penyebaran kanker ke paru.

  • Computed Tomography Scan (CT-scan)

CT-scan berguna untuk memperlihatkan secara detail kelainan pada tulang. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan penyebaran ke paru atau bagian tubuh lainnya.

 

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI merupakan pemeriksaan terbaik untuk menentukan stadium osteosarkoma karena dapat mengetahui distribusi kanker pada tulang dan penyebaran kanker pada jaringan lunak sekitarnya. MRI juga dapat memperlihatkan kondisi pembuluh darah secara lebih detail. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan manajemen bedah yang paling sesuai.

 

  • Bone Scan

Bone scan menggunakan sejumlah kecil bahan radioaktif yang disuntikkan ke pembuluh darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran kanker ke tulang yang lain.

 

  • Positron Emission Tomography  Scan (PET-scan)

PET-scan memiliki keuntungan dapat memindai seluruh tubuh, untuk mengecek kemungkinan penyebaran kanker. Sayangnya, pemeriksaan ini tidak terlalu mendetail. Sehingga PET-scan hanya digunakan untuk skrining (Hanya pendapat saya saja, tapi menurut saya istilah ‘skrining’ kurang cocok pada konteks ini, mungkin bisa digunakan seperti ‘membantu mengetahui’ saja? Terima kasih) kemungkinan penyebaran kanker.

 

  • Bone Scintigraphy

Bone scintigraphy digunakan untuk menunjukkan penyebaran kanker.

 

  • Biopsi

Seperti pada kanker yang lain, biopsi merupakan pemeriksaan penting untuk menegakkan diagnosis osteosarkoma. Pada pemeriksaan ini, akan diambil sampel jaringan atau tulang dari bagian tubuh yang terasa nyeri atau membengkak. Biopsi merupakan cara terbaik untuk membedakan osteosarkoma dari jenis kanker tulang lainnya.

 

  • Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dilakukan bukan untuk menegakkan diagnosis, melainkan untuk mengetahui fungsi organ tubuh sebelum melakukan pengobatan. Khususnya untuk kemoterapi yang efek berefek samping pada organ tubuh yang lain. Pemeriksaan fungsi organ yang dimaksud meliputi paru-paru, jantung, liver/hati, ginjal, dan lain sebagainya.

 

 

Stadium

Stadium adalah cara untuk menentukan ukuran, agresivitas, dan pertumbuhan kanker. Metode ini juga berpengaruh terhadap rencana pengobatan. Mengetahui stadium tentunya membantu dokter untuk memutuskan jenis tatalaksana dan memprediksi kemungkinan pemulihan pasien.


Terdapat beberapa sistem untuk menentukan stadium kanker tulang. Dua jenis sistem stadium yang sering digunakan, yaitu sistem yang dikeluarkan oleh Musculoskeletal Tumor Society (MSTS) dan American Joint Committee on Cancer (AJCC) edisi ke-7. Meskipun demikian, sampai saat ini tidak satu pun dari sistem tersebut yang sempurna atau diterima secara umum. Oleh karena itu, stadium pada kasus osteosarkoma sering tidak digunakan untuk mengekspresikan derajat beratnya penyakit. Sebagai gantinya, kebanyakan kasus osteosarkoma dapat diklasifikasikan menjadi lokal, metastasis, atau berulang (rekuren).

  • Osteosarkoma lokal

Pada osteosarkoma lokal, sel kanker hanya ditemukan pada tulang. Kanker belum menyebar ke area sekitarnya, seperti otot, tendon, atau lemak. Meskipun demikian, mungkin terdapat lebih dari satu area tulang yang terkena kanker. Sehingga pada saat operasi, area-area tersebut dapat diangkat.

  • Osteosarkoma metastasis

Pada osteosarkoma metastasis, sel kanker telah menyebar ke organ tubuh lainnya, misalnya ke tulang lain, otak, paru-paru, dan lain-lain. Sebagian besar osteosarkoma akan menyebar ke paru-paru. Kira-kira 1 dari 5 pasien osteosarkoma sudah mengalami penyebaran ke organ lain pada saat diagnosis. Kanker yang telah mengalami penyebaran tentunya lebih sulit diobati. Namun, beberapa kasus masih dapat disembuhkan.

 

  • Osteosarkoma berulang/rekuren

Osteosarkoma rekuren adalah osteosarkoma yang kambuh kembali setelah telah diobati. Kanker baru mungkin kambuh pada tempat yang sama dengan kanker pertama atau di bagian tubuh lain. Osteosarkoma rekuren biasanya ditemukan pada paru-paru. Meskipun demikian, osteosarkoma jenis ini jarang terjadi.

 

 

Tata laksana

Untuk pengobatan osteosarkoma, terdapat beberapa terapi yang dapat dilakukan, yaitu pembedahan, kemoterapi, radiasi maupun kombinasi dari ketiga jenis pengobatan tersebut. Pemilihan terapi bergantung pada beberapa hal, seperti lokasi, kecepatan pertumbuhan, dan penyebaran kanker. Usia dan kondisi tubuh pasien juga dipertimbangkan dalam pemilihan terapi. Namun saat ini, standar terapi yang disarankan adalah kemoterapi preoperasi yang diikuti dengan pembedahan dan diakhiri dengan kemoterapi pascaoperasi.

 

Pembedahan

Limb salvage surgery (LSS) adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk menghilangkan tumor dengan tujuan untuk menyelamatkan anggota gerak dan mengoptimalkan fungsi. Saat ini, 80–90% pasien osteosarkoma ditatalaksana dengan metode ini. LSS dapat dilakukan selama kanker belum menyerang pembuluh darah atau saraf dan belum menyebar ke jaringan lain. Selain itu, tidak terdapat infeksi maupun patah tulang. Pembedahan LSS melibatkan pengangkatan tulang yang terkena dan menggantikannya dengan cangkok tulang atau tulang prostetik. Setelah itu, dilanjutkan dengan terapi rehabilitasi.

 

Jika persyaratan LSS tidak terpenuhi, langkah dapat dilakukan pembedahan amputasi. Pada osteosarkoma berat yang tidak memungkinkan pemberian kemoterapi, maka kemungkinan akan langsung dilakukan pembedahan amputasi.

 
Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker atau menghentikan pertumbuhannya. Kemoterapi dapat diberikan sebelum pembedahan (preoperatif)
dengan tujuan untuk mengecilkan tumor sehingga mempermudah pembedahan. Kemoterapi juga diharapkan dapat membunuh sel kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Setelah pembedahan pun, kemoterapi dapat kembali diberikan (pascaoperatif) untuk membunuh sel kanker yang tersisa. Dengan pemberian kemoterapi sebelum operasi, setelah operasi, atau kombinasi keduanya, angka kelangsungan hidup jangka panjang pasien dapat mencapai 75–80%.

 

Terapi radiasi

Terapi radiasi bertujuan untuk membunuh atau mengecilkan sel kanker yang berada pada bagian tubuh tertentu. Namun, peran radioterapi pada osteosarkoma relatif kecil. Hal ini disebabkan karena osteosarkoma termasuk dalam golongan radioresisten (kanker yang tidak peka dengan radioterapi). Selain itu, penyebaran osteosarkoma biasanya melalui aliran darah, bukan jalur limfatik. Meski demikian, peran radioterapi saat ini sudah menjadi lebih besar berkat kemajuan teknologi.

 

Radioterapi biasanya diberikan sebagai terapi tambahan setelah pembedahan, pada osteosarkoma derajat ringan, dan sebagai terapi paliatif di area penyebaran kanker. Radioterapi juga dilakukan pada osteosarkoma di lokasi tertentu, seperti tulang wajah (karena keterbatasan tindakan bedah dan masalah kosmetik). Radioterapi juga dapat diberikan pada osteosarkoma di tulang belakang,  panggul, tengkorak, dan rusuk yang lebih sulit diangkat sepenuhnya dengan operasi. Pada pasien yang menolak dilakukan tindakan pembedahan, dapat dilakukan pemberian kemoterapi dan radioterapi sebagai terapi utama.

 

Pemantauan

Pemantauan pasien dilakukan setiap dua bulan pada tahun pertama dan kedua terapi. Kemudian dilakukan setiap tiga bulan pada tahun ketiga dan setiap enam bulan pada tahun keempat dan kelima. Setelah lima tahun, pemantauan dilakukan sekali dalam setahun. Jika kanker kembali kambuh, dapat dilakukan kemoterapi, LSS atau amputasi, atau radiasi.

 

 

Deteksi Dini

Waktu rata-rata dari awal munculnya gejala hingga diagnosis osteosarkoma adalah empat bulan. Sekitar 10–20% osteosarkoma yang terdiagnosis telah mengalami penyebaran. Padahal, kemungkinan sembuh tentu akan semakin besar bila pasien datang pada stadium yang lebih awal.

 

Hingga saat ini, belum ada deteksi dini khusus untuk mendeteksi osteosarkoma. Sehingga deteksi dini hanya bergantung pada kewaspadaan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat diagnosis, adalah sebagai berikut:

  • Menemui dokter secepatnya bila mengalami rasa sakit dan bengkak pada ujung-ujung tulang yang tidak kunjung hilang atau penyebabnya tidak jelas.
  • Bagi orang tua, harus lebih waspada dan segera memeriksakan anaknya bila mendapati gejala-gejala osteosarkoma.

Meskipun gejala osteosarkoma sering kali terabaikan, kewaspadaan yang berlebih pun tidak baik. Mengingat kanker ini jarang terjadi dibandingkan penyakit tulang lainnya.

 

Pencegahan

Karena penyebabnya belum diketahui, pencegahan spesifik untuk osteosarkoma pun masih belum ada. Mutasi genetik dapat diminimalkan dengan memulai gaya hidup sehat, meliputi olahraga, tidur cukup, makan makanan bergizi, dan pemeriksaan kesehatan rutin. Selain itu, usahakan untuk menghindari stres, paparan sinar matahari berlebihan, penggunaan tembakau, atau konsumsi alkohol. Gaya hidup sehat ini tidak hanya menurunkan risiko terkena osteosarkoma, melainkan juga jenis kanker lainnya.

 

Prognosis (Angka harapan hidup)

Osteosarkoma yang telah menyebar ke organ lain memiliki prognosis yang lebih buruk. Selain itu, prognosis buruk juga ditemukan pada osteosarkoma yang letaknya bukan pada anggota gerak (tangan dan kaki), berukuran besar, atau terjadi pada usia tua.


Pada osteosarkoma lokal, tingkat kelangsungan hidup setelah lima tahun mencapai 60–80%. Osteosarkoma pun jarang mengalami metastasis setelah tiga tahun terapi. Apabila osteosarkoma telah menyebar, tingkat kelangsungan hidup lima tahunnya adalah sekitar 15% sampai 30%. Tingkat kelangsungan hidup mendekati 60% bila kanker hanya menyebar ke paru-paru atau semua penyebaran kanker dapat diangkat dengan operasi.