MIELOMA MULTIPEL

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

Organ

Mieloma berasal dari kata “myelo-” yang berarti sumsum tulang dan “-oma” yang berarti tumor. Mieloma merupakan kanker yang berasal dari sel plasma. Sel plasma sendiri merupakan sel B dewasa (salah satu sel darah putih) yang berperan dalam sistem imun. Sel yang dibentuk di sumsum tulang ini berfungsi sebagai penghasil antibodi saat tubuh diserang kuman.

 

Ketika terjadi mieloma, pertumbuhan sel plasma menjadi tidak terkontrol. Sel plasma juga menjadi hidup abadi, tidak menjadi tua, ataupun mati. Sel mieloma dapat menyebar dari sumsum tulang ke luar tulang. Seiring dengan pertumbuhan mieloma, tulang dapat menjadi rusak.

 

Penamaan mieloma tergantung pada lokasi dan seberapa banyak daerah yang terserang. Sekumpulan sel mieloma disebut sebagai plasmasitoma. Jika terdapat lebih dari satu plasmasitoma, maka disebut sebagai mieloma multipel.

 

Epidemiologi

Mieloma multipel merupakan kanker tersering ke-23 di dunia, menyumbang angka 0,8% dari semua kasus kanker. Di Amerika Serikat, mieloma multipel menempati rangking ke-14 sebagai kanker tersering; sebesar 1,8% dari semua kasus kanker di Amerika Serikat.

 

Mieloma multipel paling sering ditemukan pada etnis Afrika dan paling jarang ditemukan pada etnis Asia. Umumnya, kanker ini semakin sering ditemukan seiring dengan peningkatan usia; paling tinggi pada orang dengan usia 65–74 tahun. Kanker ini juga 1,6 kali lipat lebih sering dialami pria dibandingkan wanita.

 

Penyebab

Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti mieloma multipel. Walaupun demikian, sudah diketahui bahwa terjadi abnormalitas genetik pada sel mieloma.

Genetik dalam bentuk deoxyribonucleid acid (DNA) disimpan di kromosom. Pada beberapa sel mieloma, terdapat kromosom yang hilang (delesi), berpindah tempat (translokasi), atau berlebih (duplikasi). Ketika muncul abnormalitas genetik tersebut, maka sel akan bertindak abnormal juga, yaitu membelah secara berlebihan dan tidak terkontrol.

 

Contoh faktor risiko mieloma multipel adalah usia yang tua, jenis kelamin laki-laki, keturunan etnis Afrika, riwayat mendapatkan radiasi, riwayat keluarga pernah mengalami mieloma, obesitas, dan menderita penyakit sel plasma lain (contohnya monoclonal gammopathy of undetermined significance atau MGUS).

 

Gejala

Mieloma dapat menunjukkan gejala, bisa juga tidak. Mieloma yang tidak bergejala (asimtomatis) disebut sebagai smoldering myeloma. Mieloma yang tidak bergejala umumnya tidak perlu diberikan terapi.

 

Hasil lab yang menunjukkan peningkatan M-protein dan sel plasma yang abnormal tanpa adanya gejala apa pun dikenal sebagai monoclonal gammopathy of undetermined significance (MGUS). M-protein sendiri merupakan antibodi yang dibentuk oleh sel mieloma. Bedanya dengan antibodi normal, M-protein diproduksi bukan sebagai respons terhadap infeksi. Walaupun diproduksi berlebihan dan tidak terkontrol, M-protein tidak membantu melawan infeksi. M-protein juga dapat ditemukan dalam urine, dikenal sebagai protein Bence Jones.

 

Mieloma yang menimbulkan gejala disebut sebagai mieloma aktif. Walaupun belum menimbulkan gejala ataupun kerusakan pada organ, hasil pemeriksaan laboratorium yang terlihat tidak normal juga digolongkan sebagai mieloma aktif. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang diperiksa, antara lain sel plasma di sumsum tulang, jumlah M-protein, dan jumlah kerusakan tulang yang tidak terasa nyeri. Mieloma jenis ini perlu diberikan pengobatan.

 

Berikut beberapa gejala tersering pada mieloma aktif:

  • Lesu dan lemah

Rasa lesu dan lemah yang tidak membaik dengan istirahat bisa menandakan adanya anemia. Anemia merupakan kondisi kurangnya sel darah merah (eritrosit). Anemia dapat terjadi akibat sel mieloma yang tumbuh menyerang bibit sel darah merah di sumsum tulang.

  • Mudah memar dan berdarah

Mudah memar dan berdarah bisa diakibatkan oleh kurangnya keping darah (trombosit). Trombosit merupakan bagian dari darah yang membantu penyembuhan luka dengan membentuk bekuan darah. Kurangnya trombosit disebabkan karena tempat produksinya di sumsum tulang diserang sel mieloma.

  • Sering demam dan infeksi

Demam menandakan tubuh yang sedang melawan infeksi. Sering mengalami demam dan infeksi menandakan bahwa tubuh memiliki sel darah putih (leukosit) yang rendah. Sel darah putih berfungsi sebagai sistem imun di tubuh kita. Rendahnya sel darah putih ini dikarenakan sel mieloma yang menyerang sumsum tulang tempat produksi sel darah putih.

  • Nyeri dan kerusakan pada tulang

Sel mieloma dapat menyebabkan kerusakan pada tulang karena tumbuh mendesak keluar dari tulang. Sel mieloma juga dapat melepaskan zat kimia yang menghancurkan tulang. Proses yang merusak tulang tersebut akan terasa sebagai nyeri tulang. Selain itu, proses tersebut mengakibatkan kalsium yang di dalam tulang terlepas ke aliran darah. Dikarenakan struktur tulang dirusak, maka tulang menjadi mudah patah. Beberapa lokasi tersering yang diserang mieloma, antara lain tulang belakang, tengkorak, panggul, dada, dan bahu.

  • Gangguan ginjal

Ginjal merupakan organ yang bertugas menyaring darah dan membuang zat sisa melalui urine. Banyaknya jumlah M-protein yang diproduksi oleh sel mieloma akan menyebabkan ginjal bekerja keras menyaring darah. Demikian pula halnya dengan kalsium yang terlepas dari tulang akibat dirusak sel mieloma. Tingginya kadar kalsium di darah akan menyebabkan ginjal bekerja berat. Apabila dibiarkan, ginjal dapat menjadi rusak.

 

Skrining dan deteksi dini

Hingga kini, belum terdapat program skrining dan deteksi dini mieloma multipel. Orang yang berisiko tinggi sebaiknya berkonsultasi ke dokter terhadap kemungkinan adanya mengalami mieloma.

 

Diagnosis

Apabila terdapat keluhan dan gejala yang mengarah ke mieloma, dokter akan melakukan tanya-jawab yang lebih mendalam. Beberapa pertanyaan yang akan diajukan termasuk faktor risiko, riwayat keluarga, dan riwayat penyakit lainnya. Setelah melakukan tanya-jawab, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat kondisi umum dan kemungkinan kelainan pada tubuh.

 

Untuk mendiagnosis mieloma, perlu dilakukan pemeriksaan darah. Dari sampel darah, akan dicari jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Selain itu, juga dilihat bentuk dari sel darah yang diperiksa. Adanya keanehan pada jumlah dan bentuk sel darah yang diperiksa dapat membantu diagnosis mieloma.

 

Dari darah juga akan dilakukan pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal, kadar kalsium, asam urat, albumin, laktat dehidrogenase (LDH), dan imunoglobulin. Pemeriksaan urine juga dapat dilakukan untuk melihat adanya protein di urine. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mencari tahu adanya komplikasi yang telah ditimbulkan oleh mieloma.

 

Untuk memastikan bahwa memang terdapat mieloma, biopsi sumsum tulang perlu dilakukan. Pada pemeriksaan ini, sebagian kecil dari sumsum tulang akan diambil menggunakan jarum. Setelah itu, sampel sumsum tulang tersebut akan dilihat di bawah mikroskop untuk dicari apakah terdapat sel mieloma.

 

Beberapa pemeriksaan lain, seperti flowcytometry, imunohistokimia, pemeriksaan genetik, proliferasi sel plasma, dan amiloid rantai ringan, juga dapat dilakukan untuk membantu diagnosis.

 

Pemeriksaan radiologi, seperti magnetic resonance imaging (MRI), computed tomography (CT)-scan, positron emission tomography (PET)-scan, dan bone survey akan membantu untuk melihat lokasi dan penyebaran sel kanker. Pemeriksaan ini dapat melihat lokasi mieloma dan kerusakan tulang yang telah terjadi akibat mieloma. Selain itu, pemeriksaan radiologi juga dapat melihat penyebaran dari mieloma ke lokasi lain.

 

Klasifikasi

Penentuan stadium mieloma multipel aktif dapat menggunakan sistem Durie-Salmon ataupun International Staging System (ISS). Penentuan stadium berdasarkan ISS umumnya lebih mudah karena hanya menggunakan hasil pemeriksaan laboratorium mikroglobulin beta-2 serum dan albumin serum. Baru-baru ini, penentuan stadium ISS telah direvisi dengan memasukkan hasil pemeriksaan LDH dan abnormalitas fluorescence in situ hybridization (FISH) risiko tinggi. Oleh ISS, mieloma multipel dibagi menjadi tiga stadium, dengan stadium I paling ringan dan stadium III paling berat.

 

Pengobatan

Secara garis besar, pengobatan mieloma multipel dapat dibagi menjadi dua, yaitu lokal dan sistemik. Kanker yang belum menyebar dan masih berada pada satu tempat saja dapat diberikan terapi lokal. Pengobatan sistemik diberikan jika kanker sudah menyebar ke organ tubuh lain.

 

Berikut jenis-jenis pengobatan kanker yang dapat diberikan:

  1. Radioterapi

Radioterapi merupakan salah satu jenis terapi lokal. Terapi ini biasanya ditujukan untuk mengobati sel mieloma yang merusak dan menyebabkan keluhan nyeri tulang. Terapi ini menggunakan energi radiasi untuk menghancurkan sel mieloma yang merusak pada tulang. Walaupun demikian, sel normal juga dapat dirusak oleh radiasi yang digunakan. Karena berperan sebagai terapi lokal, radioterapi hanya digunakan pada daerah kanker secara spesifik.

  1. Bedah

Tindakan bedah untuk membuang sel kanker mieloma juga termasuk terapi lokal. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membuang sel kanker mieloma yang ganas sehingga tidak menyebar lebih lanjut. Tindakan bedah juga dapat dikombinasi dengan terapi radiasi untuk mengoptimalkan pengobatan.

  1. Terapi target

Terapi ini menggunakan obat yang menargetkan sel kanker. Dikarenakan bersifat spesifik (hanya menyerang sel kanker), pengobatan ini lebih tidak merusak sel-sel tubuh yang normal. Cara kerja obat terapi target berbeda-beda, misalnya menghambat pembentukan pembuluh darah, menghambat protein dan enzim yang mempertahankan sel kanker, serta meningkatkan fungsi sistem imun dalam menghancurkan sel kanker.

  1. Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan yang dapat membunuh sel kanker. Terapi ini bersifat sistemik dan digunakan untuk membunuh sel kanker yang telah menyebar. Berbeda dengan terapi target, kemoterapi membunuh semua sel yang tumbuh dengan cepat di tubuh, baik sel kanker maupun sel normal. Oleh karena itu, akan muncul berbagai efek samping akibat kemoterapi, seperti mual, muntah, diare, seriawan, rambut rontok, pucat, dan sebagainya. Kemoterapi umumnya diberikan terbagi-bagi dalam beberapa siklus, yang mana bertujuan agar tubuh dapat pulih sebelum pemberian siklus selanjutnya. Jumlah siklus dan lama siklus berbeda-beda, tergantung jenis obat kemoterapi yang digunakan.

  1. Steroid

Selain berfungsi sebagai antinyeri dan antiradang, steroid juga dapat digunakan sebagai pengobatan mieloma multipel. Steroid dapat diberikan sebagai obat tunggal atau bersama-sama dengan terapi target dan kemoterapi.

  1. Transplantasi sel punca (stem cell)

Sel darah berasal dari sel punca yang terdapat di sumsum tulang. Mieloma maupun pengobatan yang diberikan dapat merusak sel punca di dalam sumsum tulang. Dengan transplantasi sel punca, maka sel yang telah rusak di sumsum tulang dapat digantikan dengan sel baru yang sehat.

Tujuan terapi transplantasi sel punca adalah memulihkan sumsum tulang sehingga dapat diberikan kemoterapi yang lebih kuat. Terdapat dua jenis transplantasi sel punca: autolog dan alogenik. Sel punca autolog berasal dari diri sendiri, sementara sel punca alogenik berasal dari orang lain (donor). Sel punca alogenik memiliki risiko penolakan yang lebih besar sehingga yang cenderung dipilih adalah sel punca autolog.

 

Prognosis

Setiap pasien memiliki prognosis (peluang kesembuhan) yang berbeda, mengingat kondisi tubuh dan keparahan kanker yang berbeda. Semakin cepat mieloma didiagnosis, semakin baik pula kemungkinan untuk bertahan hidup. Akan tetapi, hanya 5% mieloma yang didiagnosis pada saat masih belum menyebar. Padahal, mieloma yang belum menyebar memiliki kesintasan (survival rate) 5 tahun yang lebih tinggi, yaitu sebesar 71,0%. Apabila kanker sudah menyebar jauh, survival rate 5 tahun berkurang menjadi 48,4% saja.

 

Stadium mieloma multipel juga menentukan survival rate. Median survival rate mieloma multipel berdasarkan data ISS: stadium I sebesar 62 bulan, stadium II sebesar 44 bulan, dan stadium III sebesar 29 bulan.

 

Perlu diingat bahwa angka-angka tersebut berasal dari penelitian 5–25 tahun yang lalu. Dunia kedokteran telah berkembang sehingga penderita mieloma yang didiagnosis saat ini memiliki angka harapan hidup yang lebih baik. Faktor lain, seperti usia, kondisi kesehatan, respons kanker terhadap pengobatan, dan sebagainya, juga memengaruhi angka harapan hidup tersebut.

 

Pencegahan

Pencegahan utama pada mieloma multipel adalah menghindari faktor risiko. Akan tetapi, kebanyakan faktor risiko mieloma multipel bersifat genetik dan tidak dapat dihindari. Konsultasi rutin ke dokter, terutama jika terdapat faktor risiko yang tinggi, dapat membantu mendiagnosis lebih awal sehingga prognosis lebih baik.

 

Satu-satunya faktor risiko yang dapat dicegah adalah obesitas. Menghindari asupan kalori berlebih dan meningkatkan aktivitas fisik dapat membantu mengurangi terjadinya obesitas. Konsumsi makanan tinggi serat, seperti sayuran dan buah-buahan, juga dapat membantu mencegah obesitas.