Meniran: Berkhasiat Sembuhkan Kanker?

Oleh : dr Denise Utami Putri, MSc
Share

Phyllanthus urinaria. atau yang biasa dikenal sebagai meniran, merupakan tanaman hijau yang sering kali ditemukan di sekitar kita. Tanaman ini tumbuh tegak (vertikal) dengan tinggi 30–50 cm dan berdaun majemuk. Batangnya berwarna pucat dan daun-daunnya berbentuk lonjong dengan ujung tumpul, berukuran sekitar 15x7 mm. Pada bagian bawah daun, dapat terlihat biji-biji berbentuk bulat dan berwarna hijau. Di beberapa daerah, tanaman ini juga dikenal dengan nama ‘meniran ijo’ dan ‘memeniran’.

Meniran telah banyak dikenal dan digunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Meniran dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit infeksi, hipertensi, diabetes, hepatitis, radang sendi, bahkan HIV. Selain itu, tanaman ini juga diyakini mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Ekstrak meniran diambil dari akar dan daunnya. Saat ini, meniran telah banyak diolah dan didistribusikan secara luas sebagai obat herbal, baik yang diproduksi dalam jumlah besar oleh industri obat, maupun skala kecil oleh industri rumah tangga.

Tidak hanya Indonesia, masyarakat dunia, khususnya India dan Cina juga banyak menggunakan meniran untuk mengobati penyakit. Beberapa penelitian telah menguji potensi meniran sebagai obat untuk hepatitis, tuberkulosis, lepra, anemia, penyakit pernapasan (bronkitis dan asma), serta batu ginjal. Selain itu, manfaat meniran sebagai anti-kanker, khususnya kanker serviks, kulit, dan kanker hati juga marak diteliti.

 

Bagaimana cara kerja meniran?

Daun dan akar meniran banyak mengandung berbagai fitokimia, termasuk flavonoid, alkaloid, tannin dan saponin. Dari bagian akarnya, beberapa rantai asam lemak termasuk asam ricinoleat, asam linoleat dan linolenat juga dapat ditemukan. Di tubuh manusia, zat-zat ini dapat dimetabolisme di hati. Namun, detail proses metabolisme zat tersebut masih belum diketahui.

Penelitian yang dilakukan telah menyimpulkan bahwa meniran berperan dalam menjaga dan meningkatkan sistem imun tubuh. Tanaman ini dapat meningkatkan kerja sel makrofag. Sel ini adalah salah satu sel imun tubuh yang bertugas untuk mengenali benda asing di dalam tubuh dan mengaktifkan sel-sel imun lainnya. Hal ini menjelaskan khasiat meniran untuk penyakit jenis infeksi.

Meniran juga dapat menghambat perkembangbiakan virus hepatitis. Selain itu, pada penyakit tuberkulosis, pemberian obat anti-tuberkulosis dan suplementasi meniran akan mempercepat proses eliminasi bakteri dan meningkatkan respons imunitas tubuh. Kandungan flavonoid dan phenol pada meniran juga diketahui dapat melawan radikal bebas sehingga bermanfaat menjaga sel-sel normal tubuh dari kerusakan.

 

Meniran sebagai terapi kanker?

Pada artikel lainnya di website ini sempat dibahas mengenai peran sistem imun dalam proses karsinogenesis (proses terjadinya kanker). Secara singkat, pada proses terjadinya kanker, terjadi mutasi gen pada sel-sel tubuh. Akibatnya, sel ini menjadi ‘abadi’ alias ‘imortal’ dan terus membelah diri. Sel yang mengalami mutasi gen ini secara normal akan dikenali oleh sistem imun tubuh dan dieliminasi. Namun pada beberapa kasus, sel kanker memiliki kemampuan untuk bersembunyi dari sel imun. Sel kanker ini justru memanfaatkan dan memperdaya sel-sel imun untuk memfasilitasi pertumbuhan dan penyebaran kanker.

Dengan ‘memperkuat’ fungsi sel-sel imun penderita untuk mengenali dan melawan sel kanker, diharapkan tidak terjadi perburukkan penyakit lebih lanjut. Kemampuan meniran untuk meningkatkan kerja dan respons sel imun secara teori dapat membantu mencegah perkembangan kanker.

Beberapa jenis kanker terjadi akibat infeksi virus tertentu, misalnya virus hepatitis B dapat berkembang menjadi kanker hati dan human papilloma virus (HPV) berpotensi menjadi kanker serviks (mulut rahim). Meniran bermanfaat untuk memperkuat sistem imun dan membunuh virus secara langsung. Secara teori, hal ini dapat mencegah kemunculan kanker yang diakibatkan infeksi virus.

 

Apa yang perlu diperhatikan?

Meskipun meniran memiliki khasiat yang sangat beragam, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, yaitu:

  • Belum dapat dipastikan mekanisme tubuh dalam mengolah zat-zat fitokimia yang terkandung dalam meniran. Tak menutup kemungkinan bahwa tubuh akan mengolah zat-zat tersebut menjadi zat lain yang tidak berguna.
  • Manfaat meniran untuk pengobatan kanker masih dalam bentuk teori. Penelitian mengenai manfaat secara klinis alias lapangan masih sangat minim.
  • Sebagian besar penelitian mengenai meniran dilakukan secara singkat sehingga efek samping penggunaan jangka panjang masih belum diketahui.
  • Belum ada patokan baku alias standar pengolahan obat herbal, termasuk meniran. Perbedaan proses pengolahan akan memengaruhi khasiatnya. Bahkan, efek meniran pun dapat hilang jika pengolahannya tidak tepat.
  • Jenis tanaman herbal yang sama dapat memiliki efek yang berbeda. Kandungan fitokimia di dalamnya dipengaruhi oleh lokasi tumbuh, keadaan tanah, air, musim, dan cuaca. Hal ini menjelaskan pada orang yang mengonsumsi meniran ada yang berkhasiat dan ada yang tidak.

 

Oleh karena itu, konsumsi meniran masih belum dapat menggantikan terapi medis. Setiap obat yang dikonsumsi harus dikonsultasikan terlebih dulu dengan dokter yang merawat. Selain itu, jangan lupa mengecek di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengenai obat yang hendak dikonsumsi. Jika tidak terdaftar, sebaiknya tidak dikonsumsi karena kandungan obat tersebut tidak dijamin aman.