Mari Mengenali Kanker

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

Mari Mengenali Kanker

 

Mendengar kata kanker saja sudah terasa seram, terlebih lagi harus berkenalan dengannya. Jangan salah dulu. Ibarat peribahasa tak kenal maka tak sayang. Dengan memahami seluk beluk kanker, kita akan mampu mencegah dan mendeteksinya lebih dini.

Sumber: Nick Youngson - link to - http://nyphotographic.com/

 

Berdasarkan data Global Burden of Cancer Study (GLOBOCAN), pada tahun 2012 terdapat 14.067.849 kasus baru kanker dan 8.201.575 kematian akibat kanker di seluruh dunia. Angka ini akan terus meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan akan mencapai 23,6 juta pada tahun 2030.

Bagaimana dengan di Indonesia? Data dari Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas 2013) menunjukkan bahwa sebanyak 0,14% penduduk Indonesia (sekitar 347.792 orang) ternyata menderita kanker. Jumlah ini bervariasi antarprovinsi. Jumlah penderita kanker terbanyak berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY Yogyakarta), yaitu 0,41%. Sebaliknya, peringkat terkecil dipegang oleh Gorontalo yang hanya 0,02% penduduknya menderita kanker. Usia merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan proporsi penderita kanker di Indonesia. Jumlah penderita kanker semakin banyak seiring bertambahnya usia. Selain itu, statistik juga memperlihatkan bahwa kanker tidak mengenal kelas sosioekonomi. Semua orang berpotensi menderita kanker.

Banyaknya jumlah penderita membuat kanker kerap menjadi momok yang menakutkan. Walaupun demikian, tak perlu khawatir. Artikel ini akan mengupas kanker yang menakutkan menjadi hal yang dapat diantisipasi dan dicegah.

 

Apa itu kanker?

Kanker berasal dari Bahasa Latin yang berarti kepiting. Dinamakan demikian karena kanker mirip kepiting yang mencengkeram dengan jari-jarinya. Kata ini pertama kali digunakan oleh Hippocrates (460-370 SM), seorang dokter berkebangsaan Yunani yang dianggap sebagai “Bapak Kedokteran”.

Kanker memiliki sinonim lain, yaitu tumor ganas. Dalam bahasa Latin, tumor diartikan sebagai benjolan. Umumnya, tumor dapat dibedakan menjadi tumor jinak atau ganas. Kanker disebut tumor ganas karena mampu menyerang dan menyebar ke daerah tubuh lainnya, yang dikenal dengan istilah metastasis.

Walaupun terdengar seperti penyakit zaman kini, ternyata kanker sudah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat dilihat dari bukti arkeologis berupa fosil tulang, mumi, serta manuskrip kuno. Pada beberapa tulang mumi dapat ditemukan osteosarkoma, sejenis kanker tulang. Selain itu, ditemukan juga catatan mengenai kanker payudara dalam manuskrip kuno Mesir. Manuskrip yang dibuat tahun 3000 SM tersebut menyebutkan bahwa “tidak ada obat” untuk penyakit ini.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, teka-teki seputar kanker mulai terkuak sedikit demi sedikit dari penyebab, gejala, hingga terapi terbaik untuk setiap jenis kanker.

 

Penyebab

Kanker merupakan pertumbuhan sel tubuh yang berlebihan dan tidak terkontrol. Hingga kini, penyebab kanker belum diketahui secara pasti. Sebagian besar penyebab kanker diduga berasal dari lingkungan. Meskipun demikian, faktor genetik juga berperan penting dalam timbulnya kanker. Orang-orang dengan anggota keluarga yang pernah/sedang menderita kanker, memiliki kecenderungan untuk terkena kanker di kemudian hari.

Setiap jenis kanker memiliki penyebab dan faktor risiko (kondisi yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit tertentu) berbeda. Namun secara molekuler, proses timbulnya kanker hampir mirip. Awalnya, terjadi kerusakan pada bagian DNA yang mengatur proses pembelahan sel. Kerusakan tersebut dapat dipicu oleh berbagai macam hal, mulai dari infeksi virus, radiasi, maupun zat kimia. Kerusakan DNA tersebut menyebabkan sel membelah terus-menerus dan menjadi abadi. Sel-sel kanker ini akan mengeluarkan berbagai sinyal yang merangsang pertumbuhan pembuluh darah. Pembuluh darah ini berfungsi untuk menyediakan suplai oksigen dan nutrisi bagi pertumbuhan sel kanker. Hasil akhir dari proses ini berupa jaringan kanker beserta pembuluh darah yang tidak stabil dan rapuh.

 

Gejala

Pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali menyebabkan ukuran jaringan kanker semakin membesar. Jaringan tersebut akan mendorong organ tubuh lain di sekitarnya. Akibat dorongan tersebut, bagian tubuh yang terkena kanker akan terasa nyeri. Apabila mendorong saraf, kanker dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf tersebut. Selain itu, jaringan kanker kerap kali mengalami perdarahan akibat pembuluh darah yang rapuh.

Gejala kanker sangat bervariasi, tergantung lokasi dan organ yang terkena. Misalnya kanker di paru akan menimbulkan gejala sesak. Sementara kanker laring menyebabkan suara serak dan kanker usus besar menimbulkan buang air besar berdarah. Selain gejala yang bersifat lokal, penderita kanker juga dapat mengalami gejala lain, seperti berkurangnya berat badan, demam, rasa lelah, dan tidak nafsu makan. Apabila kanker sudah menyebar, dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening serta keluhan-keluhan lain sesuai dengan organ yang terlibat.

 

Diagnosis

Kanker umumnya baru dideteksi setelah muncul gejala. Padahal, seringkali kanker stadium awal tidak menunjukkan gejala apapun. Oleh karena itu, skrining sangat penting dilakukan untuk deteksi dini kanker.

Skrining dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pemeriksaan sederhana hingga berbagai jenis pemeriksaan penunjang (contoh: pemeriksaan laboratorium, rontgen, dan lain-lain). Pemeriksaan sederhana dilakukan untuk melihat adanya benjolan yang mencurigakan, misalnya benjolan yang tumbuh besar dengan cepat, berwarna berbeda dibandingkan kulit sekitarnya, atau gampang berdarah.

Vonis kanker tidak hanya ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang telah disebutkan di atas. Dibutuhkan pemeriksaan penunjang lebih lanjut untuk memastikan diagnosis kanker. Ada beberapa macam pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan, yaitu pemeriksaan laboratorium, radiologi, dan patologi anatomi (pemeriksaan sampel jaringan menggunakan mikroskop).

Beberapa jenis kanker akan meningkatkan kadar suatu zat tertentu dalam darah. Zat ini dikenal dengan istilah “penanda tumor” dan dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Selain penanda tumor, pemeriksaan laboratorium juga menilai parameter lain yang membantu dalam menegakkan diagnosis, melihat komplikasi serta menentukan prognosis dan terapi. Pemeriksaan radiologi, seperti rontgen/X-ray, ultrasonography (USG), Computerized Tomography scan (CT-scan), Magnetic Resonance Imaging(MRI), maupun bone scan berperan penting untuk melihat ukuran dan persebaran kanker. Ukuran dan persebaran inilah yang menjadi dasar dalam menentukan stadium kanker.

Untuk menegakkan diagnosis pasti, diperlukan pemeriksaan patologi anatomi. Dalam pemeriksaan ini, digunakan sampel yang berasal dari jaringan kanker. Sampel tersebut dapat diambil dari lokasi awal kanker maupun lokasi penyebarannya. Namun, dokter umumnya akan memilih untuk mengambil sampel dari tempat awal munculnya kanker. Proses pengambilan sampel jaringan ini sering kali dikenal dengan istilah biopsi. Sampel jaringan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa oleh ahli patologi anatomi. Dari sampel jaringan tersebut, akan dilakukan berbagai jenis pemeriksaan untuk melihat jenis sel, tingkat abnormalitas sel, hingga materi genetik yang berperan dalam terjadinya kanker.

Setelah informasi-informasi dari gejala, pemeriksaan sederhana, hingga pemeriksaan penunjang sudah didapatkan dengan lengkap, barulah seseorang dapat didiagnosis kanker. Berbagai pemeriksaan tersebut juga menjadi dasar dalam menentukan stadium, prognosis, serta pemilihan terapi yang sesuai.

 

Penentuan stadium

Bicara soal kanker, tentu tak asing lagi dengan istilah “stadium”. Stadium adalah tahapan-tahapan yang digunakan untuk menggambarkan tingkat keparahan kanker. Stadium kanker dapat ditentukan dengan berbagai cara. Namun, cara yang paling sering digunakan adalah sistem TNM yang dikeluarkan oleh Union for Cancer Control (UICC). Sistem yang terus diperbarui setiap 6–8 tahun ini menentukan stadium tumor berdasarkan tiga kriteria, yaitu Tumor, Node, dan Metastasis (TNM).

Tumor dinilai berdasarkan ukuran jaringan kanker primer (jaringan kanker di lokasi awal), node/nodus berdasarkan kelenjar getah bening yang telah terserang sel kanker, sedangkan metastasis berdasarkan persebaran kanker dari lokasi primer/awal ke organ tubuh lainnya. Setiap jenis kanker memiliki rentang dan standar penilaian berbeda, mengacu pada panduan yang dikeluarkan oleh UICC.

Setelah ditentukan, nilai T, N, dan M tersebut akan dikombinasikan untuk mengetahui stadium kanker. Stadium dibagi menjadi empat, mulai dari stadium I yang paling ringan hingga stadium IV yang paling berat. Pada beberapa jenis kanker, stadium yang ada dapat dibagi lagi dengan menggunakan huruf (misalnya stadium IIIa, IIIb, dan lain-lain).

Selain sistemTNM, kanker juga dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria lain, misalnya grade, jenis sel, lokasi, dan penanda. Penilaian grade dan jenis sel kanker umumnya didapatkan dari pemeriksaan sampel jaringan kanker menggunakan mikroskop. Dari pengamatan tersebut, akan dinilai seberapa abnormal sel kanker serta asal mula sel kanker.

Tujuan utama dari pengelompokan kanker ini adalah menentukan terapi, karena terapi setiap kelompok kanker berbeda-beda. Misalnya terapi kanker payudara stadium I akan berbeda dengan terapi kanker payudara stadium IV, meskipun keduanya sama-sama kanker payudara. Selain itu, sistem pengelompokan ini juga membantu untuk memprediksi prognosis pasien. Semakin tinggi stadiumnya, tentu prognosis pasien juga semakin buruk.

 

Pengobatan

Tujuan utama terapi kanker adalah membuang atau menghancurkan sel-sel yang bersifat ganas. Terapi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari operasi pembedahan, terapi hormon, terapi radiasi, hingga kemoterapi. Selain itu, terdapat dua jenis terapi baru, yaitu terapi target dan imunoterapi yang baru-baru ini semakin giat diteliti. Keduanya memanfaatkan prinsip molekuler, sehingga dapat bekerja lebih spesifik dengan efek samping lebih kecil.

Kanker dengan jenis dan stadium yang berbeda memiliki terapi yang berbeda pula. Walaupun demikian, terdapat satu kesamaan, yaitu kanker yang ditemukan pada stadium awal memiliki peluang kesembuhan lebih besar dibandingkan kanker stadium lanjut.

Saat ini, penderita kanker memiliki kesempatan lebih besar untuk sembuh dan hidup lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu. Orang yang berhasil sembuh dari kanker, dikenal sebagai survivor kanker. Pengalaman dan cerita yang dibagikan oleh para survivor turut memotivasi masyarakat bahwa diagnosis kanker bukanlah akhir dari segalanya. Pandangan bahwa kanker tidak dapat disembuhkan pun perlahan-lahan berubah.

 

Pencegahan

Kanker dapat dicegah dengan menghindari pencetusnya, baik yang bersifat biologis, fisika, maupun kimia. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari pencetus tersebut. Salah satu contohnya adalah melakukan imunisasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus yang berpotensi menyebabkan kanker. Selain itu, hindari paparan radiasi dan zat kimia dalam jangka waktu lama atau berjumlah besar. Polusi dan lingkungan yang tercemar juga sebaiknya dijauhi. Apabila paparan tidak dapat dihindari, sebaiknya menggunakan alat pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan. Alat pelindung diri ini bertujuan untuk mengurangi jumlah paparan sehingga menurunkan risiko kanker. Penggunaan topi, payung, maupun tabir surya (sunblock) juga bermanfaat untuk melindungi kulit dari paparan radiasi ultraviolet matahari.

Modifikasi gaya hidup juga berperan besar dalam pencegahan kanker. Beberapa zat karsinogen (zat yang dapat menyebabkan kanker) dapat ditemukan dalam makanan sehari-hari, misalnya daging merah, daging asap, daging bakar, dan asinan daging. Pengurangan konsumsi daging merah akan membantu mencegah terjadinya kanker. Selain itu, meningkatkan konsumsi sayuran, buah-buahan, gandum, dan ikan juga dapat menurunkan risiko terjadinya kanker.

Selain pengaturan pola makan, kanker juga dapat dicegah dengan menghindari kebiasaan lain yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker, misalnya merokok dan minum alkohol. Meningkatkan aktivitas fisik serta mempertahankan berat badan tetap ideal juga bermanfaat dalam menurunkan risiko terkena kanker.