Limfoma

Oleh : dr. Edwin Sukmadja
Share

Apa itu limfoma?

Limfoma merupakan jenis kanker atau keganasan pada darah. Kanker ini muncul dalam sistem limfatik yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Limfoma muncul karena sel-sel limfosit B atau T menjadi abnormal sehingga membelah diri lebih cepat atau hidup lebih lama daripada sel normal. Sel limfosit B dan T merupakan sel darah putih yang dalam keadaan normal/sehat menjaga daya tahan tubuh kita untuk menangkal infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus.

 

Apa itu sistem limfatik?

Sistem limfatik merupakan salah satu dari tiga belas sistem yang ada di tubuh manusia. Sistem ini mengalirkan cairan getah bening ke aliran darah sebagai salah satu bentuk pertahanan tubuh terhadap infeksi. Sistem limfatik terdiri dari cairan getah bening (cairan limfa), pembuluh getah bening, dan beberapa struktur yang mengandung jaringan limfatik seperti kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening berfungsi untuk menyaring benda asing dari cairan getah bening. Selain itu, kelenjar ini juga mengangkut lemak yang diserap dari usus halus ke hati. Kelenjar getah bening terdapat di beberapa bagian tubuh seperti leher, dada, ketiak, lipat paha, panggul, dan di sepanjang usus.

 

Gambar 1: Sistem Limfatik

 

Pada kelenjar getah bening banyak terdapat sel darah putih, salah satunya adalah limfosit yang berfungsi untuk melawan kuman penyakit. Ada tiga jenis limfosit, yaitu sel B, sel T, dan sel natural killer (NK). Limfosit dibentuk di sumsum tulang lalu dialirkan melalui aliran darah ke sistem limfatik.

 

Jenis-Jenis Limfoma

Secara garis besar limfoma dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu limfoma Hodgkin (LH) dan limfoma non-Hodgkin (LNH). Sekitar 90% dari penderita limfoma merupakan penderita LNH dan 10% sisanya merupakan LH. Tenaga kesehatan dapat membedakan LNH dan LH melalui pemeriksaan histopatologis menggunakan mikroskop. Apabila saat pemeriksaan histopatologis ditemukan suatu jenis sel abnormal yang bernama sel Reed-Sternberg, limfoma tersebut digolongkan sebagai LH. Sebaliknya, jika tidak ditemukan sel Reed-Sternberg, limfoma tersebut merupakan LNH. Tipe limfoma akan membantu menentukan pilihan pengobatan dan prognosis/angka harapan hidup pasien. Beberapa tipe limfoma dapat disembuhkan. Untuk beberapa jenis lainnya dapat dikontrol agar penderita memiliki kualitas hidup yang baik dengan pengobatan medis yang tepat.

 

Apa itu Limfoma Hodgkin dan Limfoma Non-Hodgkin?

Limfoma Hodgkin (LH)

LH terjadi karena mutasi (perubahan yang tidak normal) pada sel B di sistem limfatik. Limfoma ini dapat dikenali jika ditemukan adanya sel abnormal yang disebut sel Reed-Sternberg dalam jaringan kanker. LH merupakan jenis limfoma yang paling bisa disembuhkan dan biasanya menyerang kelenjar getah bening yang terletak di leher dan kepala. Umumnya pasien didiagnosis LH pada usia 20 hingga 30 tahun atau pada usia lebih dari 60 tahun.

Limfoma Non-Hodgkin

LNH terjadi karena adanya mutasi DNA sel B dan sel T pada sistem limfatik. LNH mencakup semua jenis limfoma yang tidak mengandung sel Reed-Sternberg. Hingga saat ini, terdapat 36 subtipe LNH dan masih terus bertambah. Limfoma ini merupakan tumor ganas yang padat. Jika pertumbuhannya lambat, disebut tipe indolen (low grade). Sementara kanker, dengan pertumbuhan yang cepat disebut tipe agresif (high grade). LNH lebih sering terjadi pada usia di atas 60 tahun.

 

Apakah saya berisiko terkena limfoma?

Penyebab pasti limfoma masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, faktor-faktor berikut dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena limfoma:

  1. Usia

Limfoma dapat terjadi pada segala usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Sebagian besar LH terjadi pada orang yang berusia 15-30 tahun dan usia di atas 55 tahun. Sedangkan LNH, lebih sering terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.

  1. Jenis Kelamin

Limfoma lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan.

  1. Faktor genetik

Risiko untuk terkena limfoma akan meningkat pada orang yang memiliki anggota keluarga inti (ayah, ibu, atau saudara kandung) yang pernah mengalami kanker jenis limfoma.

  1. Memiliki penyakit autoimun (gangguan sistem kekebalan tubuh).

  2. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (imunosupresi)

Kekebalan tubuh yang lemah misalnya pada infeksi virus HIV dan penggunaan obat-obat imunosupresan dapat meningkatkan risiko limfoma.

  1. Diet tinggi daging dan lemak

Konsumsi makanan-makanan tinggi lemak dan tinggi daging merah diketahui dapat meningkatkan risiko limfoma.

  1. Rokok

Penelitian menunjukkan bahwa merokok, baik aktif maupun pasif dapat meningkatkan risiko limfoma, terutama tipe LNH.

  1. Paparan terhadap zat kimia beracun

Paparan berulang terhadap beberapa jenis zat kimia beracun (pestisida, herbisida, dan pewarna rambut tertentu) jugadapat meningkatkan risiko limfoma.


 

Seberapa sering limfoma terjadi?

Limfoma termasuk ke dalam sepuluh penyakit kanker terbanyak di dunia menurut data dariGlobal Burden of Cancer Study(GLOBOCAN) 2012. Pada tahun 2014 di Amerika Serikat, sebanyak 75.350 orang terdiagnosis limfoma dan 21.464 orang yang meninggal karena limfoma. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 14.905 jiwa penderita limfoma di Indonesia atau sekitar 0,06%. LNH berada pada urutan kesepuluh kanker terbanyak di RS Kanker Dharmais pada tahun 2010 dan 2011. Jumlah ini terbilang cukup banyak dan mengkhawatirkan. Kematian akibat limfoma juga cukup tinggi, yaitu hampir setengah dari jumlah kasus baru. Oleh karena itu, diperlukan kepedulian yang lebih bagi masyarakat tentang penyakit kanker limfoma, terutama dalam hal menghindari faktor risiko dan deteksi dini terhadap limfoma.

 

Stadium Limfoma Non Hodgkin

Tingkat keberhasilan terapi dan prognosis pasien sangat bergantung pada stadium limfoma saat terdiagnosis dan memulai terapi. Stadium LNH yang banyak digunakan saat ini berdasarkan pada klasifikasi Ann Harbor. Stadium LNH terdiri dari:

  1. Stadium I

Sel kanker limfoma berkelompok menimbulkan pembesaran kelenjar getah bening hanya di satu area, misalnya di area leher atau bawah ketiak.

  1. Stadium II

Sel kanker limfoma berkelompok menimbulkan pembesaran kelenjar getah bening di dua area atau lebih, tapi masih dalam satu sisi diafragma (batas antara rongga dada dan rongga perut).

  1. Stadium III

Sel kanker limfoma berkelompok menimbulkan pembesaran kelenjar getah bening di dua area pada dua sisi diafragma (di atas atau di bawah diafragma).

  1. Stadium IV

Sel kanker limfoma sudah menyebar ke organ atau jaringan selain d kelenjar getah bening (hati, darah, sumsum tulang).

Gambar 2. Stadium dari Limfoma Non-Hodgkin.

 

Gejala Limfoma

Gejala yang sering ditemukan pada penderita limfoma pada umumnya tidak khas, seperti:

  1. Penurunan berat badan

  2. Demam berulang selama lebih dari 1 minggu tanpa sebab yang jelas

  3. Keringat berlebihan di malam hari

  4. Pembengkakan pada kelenjar getah bening (misalnya pada leher, ketiak, lipat paha) yang tidak terasa nyeri

  5. Kehilangan selera makan

  6. Mudah lelah

  7. Sesak napas dan batuk

  8. Gatal terus menerus di seluruh tubuh tanpa sebab disertai ruam kulit

  9. Mudah lelah

  10. Sakit kepala

Tiga gejala pertama perlu diwaspadai karena berhubungan dengan prognosis yang kurang baik.
 

Diagnosis

Diagnosis yang tepat sangat diperlukan agar penanganan dilakukan dengan optimal. Diagnosis dilakukan dengan berbagai tahap sebagai berikut:

  1. Anamnesis

Anamnesis adalah sesi tanya jawab antara pasien dan dokter. Pada tahap ini dokter akan menggali gejala, riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat, perjalanan penyakit, serta faktor-faktor risiko limfoma pada pasien. Tujuannya adalah memperkirakan kemungkinan penyakit yang dialami pasien.

  1. Pemeriksaan fisik sederhana

Pada pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa kondisi umum pasien dan mengecek organ yang dicurigai bermasalah. Pada tahap ini dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran organ (hati/limpa), serta kemungkinan penyebaran kanker ke organ lain.

  1. Pemeriksaan tambahan/penunjang

Jika dalam dua tahap sebelumnya terdapat kecurigaan ke arah limfoma, dokter akan memeriksakan berbagai pemeriksaan tambahan untuk menunjang diagnosis. Pemeriksaan tambahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Pemeriksaan laboratorium pada limfoma menggunakan sampel darah pasien. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan terkait limfoma. Uji darah lengkap dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit) pada tubuh. Jumlah sel darah dapat meningkat atau menurun akibat kanker atau masalah kesehatan lain.

  • Uji penanda hepatitis B dilakukan karena hepatitis B merupakan faktor penting dalam terapi limfoma. Pasien dengan riwayat hepatitis B sebelumnya dapat menjadi aktif kembali akibat limfoma atau pengobatan limfoma. Selain itu, uji penanda HIV juga penting dilakukan karena pasien limfoma dengan infeksi HIV akan mendapatkan pengobatan yang berbeda dibandingkan tanpa infeksi HIV. Di samping itu, dilakukan juga pemeriksaan kimia darah lainnya seperti uji fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah, dan lain lain.

  • Uji sumsum tulang (bone marrow test), untuk mengetahui ada tidaknya sel limfoma pada sumsum tulang. Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengambil sampel jaringan tulang dan sumsum tulang sertacairan sumsum tulang. Karena pengambilan sampel pada uji ini memberikan rasa tidak nyaman bagi pasien, pemeriksaan ini dilakukan jika ada kecurigaan limfoma dari pemeriksaan dokter, laboratorium, dan radiologi. Sampel tersebut akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.

  • Pemeriksaan radiologi (misalnya: rontgen, CT scan, MRI, PET scan) dilakukan untuk melihat lokasi pembesaran kelenjar getah bening di rongga dada dan perut. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat melihat kemungkinan penyebaran limfoma ke organ lain. Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai stadium kanker limfoma.

  • Pemeriksaan cairan tubuh lain (cairan paru-paru/pleura, cairan perut/asites, cairan otak) dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya sel limfoma pada organ tersebut.

  • Biopsi kelenjar getah bening

Pemeriksaan biopsi kelenjar getah bening sangat penting untuk membedakan LH dan LNH. Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengambil sedikit bagian dari jaringan kelenjar getah bening yang dicurigai terdapat keganasan/kanker. Selanjutnya dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan seperti histopatologi, imunohistokimia, dan pemeriksaan molekuler lain pada sampel jaringan tersebut.
 

Terapi

Penanganan Limfoma sangat bergantung pada jenis dan stadium limfoma. Oleh karena itu, apabila mengalami gejala limfoma segeralah periksakan ke dokter untuk mendapat pemeriksaan secara menyeluruh. Semakin awal stadium limfoma saat ditemukan dokter akan semakin baik hasil yang didapat. Terapi pada kanker limfoma biasanya merupakan kombinasi dari berbagai jenis terapi. Tidak semua orang akan mendapatkan terapi yang sama, tergantung dari jenis, tingkat keparahan, dan stadium kanker. Terapi pada kanker limfoma secara garis besar meliputi:

  1. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan terapi dengan obat-obatan yang mengganggu siklus hidup sel kanker sehingga sel tersebut tidak dapat bertambah banyak. Obat kemoterapi pada kanker limfoma ada yang berbentuk pil dan ada juga yang diberikan melalui suntikan. Kemoterapi diberikan pada beberapa siklus terapi diikuti dengan periode istirahat. Lama dan frekuensi siklus terapi bergantung pada jenis obat yang didapat, biasanya satu siklus berdurasi dua hingga empat minggu.

Efek samping yang muncul akibat penggunaan obat kemoterapi sangat beragam, tergantung dari jenis obat, dosis, dan respons masing-masing pasien. Efek samping yang sering dialami pasien adalah penurunan jumlah sel darah putih dan sel darah merah, mual, muntah, nafsu makan turun, diare, rambut rontok, serta nyeri pada mulut. Efek samping tersebut dapat membaik setelah kemoterapi selesai. Rambut yang rontok dapat tumbuh kembali. Selain itu, masih ada beberapa efek samping lain yang berbeda-beda pada masing-masing obat kemoterapi. Beberapa efek samping dapat dicegah dan diringankan dengan tatalaksana yang tepat.

  1. Terapi obat-obatan

Terapi obat-obatan mencakup terapi steroid dan terapi suportif. Terapi ini tidak bisa berjalan sendirian, biasanya dikombinasikan dengan terapi lain seperti kemoterapi. Terapi dengan obat steroid merupakan terapi tambahan pada kemoterapi karena memiliki efek anti kanker dan toksik terhadap sel limfoma. Terapi suportif pada limfoma meliputi pemberian obat-obatan untuk mengurangi efek samping kemoterapi dan gejala akibat limfoma. Jenis obat yang biasanya diberikan adalah obat antimual, analgetik (anti nyeri), penurun demam, dan obat lainnya.

  1. Terapi imunomodulator

Imunomodulator merupakan obat yang dapat memodifikasi beberapa bagian sistem kekebalan tubuh. Salah satu contoh obat imunomodulator yang sering digunakan adalah Lenalidomide. Lenalidomide diberikan dalam bentuk pil yang diminum dalam siklus terapi tiga minggu dan siklus istirahat satu minggu. Lenalidomide akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menghentikan pertumbuhan sel kanker.

  1. Terapi target

Terapi ini merupakan terapi jenis baru pada penanganan kanker dan masih terus berkembang dengan pesat. Terapi ini menggunakan golongan obat yang mampu menghentikan sel kanker tumbuh secara molekuler. Terapi target akan secara spesifik menyerang sel kanker dan lebih jarang mengenai sel normal dibandingkan kemoterapi. Contoh obat-obatan yang termasuk terapi target pada pasien limfoma adalah brentuximab, everolimus, rituximab, idelalisib, dan lain-lain.

  1. Radioterapi

Radioterapi menggunakansinar radiasi tinggi energi untuk merusak DNA sel kanker. Terapi ini bertujuan untuk membunuh sel kanker dan menghentikan pembentukan sel kanker baru. Radioterapi juga dapat membunuh dan merusak sel tubuh normal di dalam tubuh. Akan tetapi, dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran kerusakan sel tubuh yang normal dapat dikurangi seminimal mungkin. Efek samping yang mungkin muncul adalah kelelahan, kulit terasa kering, sensasi perih atau terbakar pada lokasi penyinaran, mulut kering, batuk, dan lain-lain.

  1. Terapi sel punca (stem cell)

Terapi sel punca merupakan terapi yang berkembang dengan sangat pesat. Akan tetapi, di Indonesia terapi sel punca ini masih sangat jarang dilakukan karena keterbatasan perangkat dan teknologi, serta biaya yang relatif lebih mahal. 

Sel darah dibentuk di sumsum tulang. Terapi kanker seperti kemoterapi akan menghancurkan sel kanker limfoma yang berasal dari sel darah putih dan sel-sel darah lain di sumsum tulang. Pada terapi sel punca, sel punca tubuh yang sehat ditransplantasikan untuk memperbaiki sel sumsum tulang yang rusak setelah kemoterapi. Sel punca tersebut akan membentuk sumsum tulang dan sel darah yang baru.

  1. Terapi tambahan dan alternatif (Complementary and Alternative Medicine)

Terapi tambahan dan alternatif pada kanker limfoma sudah banyak diteliti dan dilakukan. Pada prinsipnya, beberapa jenis terapi tambahan dan alternatif dapat membantu pasien kanker limfoma asalkan tetap disertai terapi medis. Terapi tambahan dan alternatif seperti akupunktur, terapi herbal terstandar, dan yoga dapat membantu memberikan rasa nyaman, mengurangi mual, dan meredakan nyeri akibat kanker dan terapinya. Penggunaan terapi tambahan dan alternatif sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter. Penggunaan terapi tambahan tanpa disertai dengan terapi medis dan konsultasi dengan dokter dapat mengakibatkan terapi medis menjadi tertunda dan terlambat. Akibatnya, banyak pasien kanker datang ke tenaga medis pada stadium akhir kanker dan penanganan menjadi semakin sulit.
 

Apakah kanker limfoma dapat dicegah?

Sampai saat ini belum ditemukan cara pasti untuk mencegah kanker limfoma. Beberapa orang dengan limfoma memiiki faktor risiko yang tidak dapat diubah. Akan tetapi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena limfoma, seperti menghindari infeksi tertentu (HIV), menjaga pola hidup sehat, pola makan seimbang dan bergizi, serta menghindari paparan rokok, pestisida, herbisida, zat pewarna kimia, dan radiasi.

Selain itu, deteksi dini juga diperlukan agar kanker limfoma dapat ditemukan pada stadium yang serendah mungkin sehingga dapat dilakukan terapi dengan tepat dan memiliki prognosis yang lebih baik. Apabila memiliki gejala limfoma segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih lanjut.

 

Prognosis Kanker Limfoma

Prognosis kanker limfoma biasanya dinyatakan dalam tingkat kesintasan (survival rate). Tingkat kesintasan memberikan informasi tentang seberapa banyak orang dengan jenis dan stadium kanker yang sama berhasil bertahan hidup pada jangka waktu tertentu (biasanya dalam jangka waktu 5 tahun) setelah terdiagnosis. Data tersebut tidak dapat memprediksi seberapa lama Anda akan hidup, tetapi akan memberi gambaran tentang kemungkinan keberhasilan terapi. Tingkat kesintasan 5 tahun merupakan persentase orang yang hidup minimal 5 tahun setelah terdiagnosis kanker. Sebagai contoh, tingkat kesintasan 5 tahun sebesar 80% berarti berdasarkan data statistika diperkirakan bahwa 80 dari 100 orang yang memiliki kanker masih bertahan hidup dalam 5 tahun setelah terdiagnosis kanker. Data tersebut tidak dapat digunakan untuk memprediksi hidup mati seseorang, karena setiap pasien memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Statistika tersebut hanya berguna sebagai gambaran keparahan penyakit dan kemungkinan keberhasilan terapi.

Secara keseluruhan, tingkat kesintasan 5 tahun LNH sebesar 70%. Angka tersebut masih dapat bervariasi tergantung dari beberapa faktor. Faktor-faktor yang dapat memperburuk prognosis pasien menurut International Prognostic Index adalah usia lebih dari 60 tahun, stadium III atau IV, kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dL, melibatkan lebih dari 4 kelenjar getah bening, kadarlactate dehydrogenase(LDH) serum tinggi. Untuk jenis LH, prognosis cenderung lebih baik bila ditemukan pada stadium awal. Tingkat kesintasan 5 tahun untuk stadium I dan II sekitar 90%, stadium III sekitar 80%, dan stadium IV sekitar 65%.