Leukemia

Oleh : dr. Anita Tiffany
Share

Pendahuluan

Leukemia, atau sering disebut sebagai kanker darah, merupakan kanker yang menyerang sumsum tulang dan paling memengaruhi sel darah putih. Normalnya, sel darah, seperti sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit), dihasilkan di sumsum tulang dengan jumlah bervariasi.

Tiap sel tersebut memiliki perannya sendiri-sendiri. Sel darah putih berperan melindungi tubuh dari penyakit maupun benda asing, seperti bakteri, virus, atau parasit. Sel darah merah mengantarkan oksigen yang menjadi “bahan bakar” setiap sel untuk melakukan metabolisme. Sementara itu, keping darah digunakan untuk membekukan darah ketika terjadi perdarahan sehingga darah tidak mengalir terus-menerus.

Pada pasien leukemia, produksi sel darah di sumsum tulang menjadi tidak normal sehingga terjadi peningkatan jumlah sel darah putih. Meskipun jumlahnya banyak, tetapi sel tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik. Akibatnya, pasien leukemia akan lebih mudah terinfeksi kuman. Produksi sel darah putih yang berlebihan juga menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah lain, seperti sel darah merah dan keping darah. Selain itu, kanker ini dapat menyebar ke paru, hati, ginjal, maupun otak.

 

Epidemiologi

Kasus leukemia jarang terjadi dibandingkan dengan kanker jenis lain. Leukemia memiliki jenis-jenis yang bervariasi. Kasus leukemia tersering adalah leukemia limfositik kronis (CLL), sedangkan yang kedua adalah leukemia mielositik kronis/granulositik kronis (CML). Angka kejadian CML diperkirakan mencapai 20% dari kasus leukemia pada orang dewasa, dengan rentang tersering terjadi ketika usia 40-50 tahun.

Gambar 1. Perbandingan darah pasien yang normal dan yang mengalami leukemia.

Sumber: http://www.scientificanimations.com/wiki-images/

 

Jenis leukemia

Berdasarkan kecepatan perkembangannya, leukemia dikelompokkan menjadi akut dan kronis.

  • Leukemia akut

Pada jenis akut, sel darah putih diproduksi sumsum tulang dalam jumlah besar, tetapi dalam keadaan belum “matang”. Perkembangannya sangat cepat dan dapat menyebar melalui aliran darah. Akibatnya, terjadi kekurangan oksigen sehingga dapat terjadi sesak napas. Di sisi lain, kondisi sel darah putih yang belum “matang” menyebabkan sel tersebut tidak berfungsi sehingga kekebalan tubuh menurun. Dengan demikian, pasien rentan mengalami infeksi berulang.

  • Leukemia kronis

Pada jenis kronis, kanker berkembang secara perlahan sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk disadari oleh pasien. Berbeda dengan jenis akut, sel yang diproduksi oleh sumsum tulang lebih matang sehingga dapat berfungsi dengan baik, tetapi hanya untuk sementara. Sel darah putih yang berlebihan tersebut secara perlahan akan menumpuk pada organ hati atau limpa sehingga perut pasien menjadi membesar dan mudah merasa kenyang atau begah. Karena perkembangannya yang lambat, kondisi tersebut sulit disadari bahkan hingga bertahun-tahun.

Berdasarkan jenis sel darah putih yang diserang, leukemia dapat dibedakan menjadi leukemia limfoblastik yang menyerang sel limfosit (salah satu jenis sel darah putih) dan leukemia mielogen yang menyerang sel mieloid (berperan dalam produksi sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah).

Secara garis besar, terdapat empat jenis leukemia:

  1. Leukemia limfoblastik akut atau acute lymphoblastic leukemia (ALL)

Leukemia jenis ini lebih sering terjadi pada anak, walaupun juga dapat terjadi pada orang dewasa, yaitu sekitar 20%. Insiden atau jumlah kasus baru leukemia ini adalah 1 dari setiap 60.000 orang per tahun. Sebesar 75% dari kasus baru per tahun ini terjadi pada pasien berusia di bawah 15 tahun. Leukemia limfositik akut memiliki perkembangan yang cepat sehingga apabila terlambat untuk ditangani, maka dapat menyebabkan kematian akibat infeksi.

  1. Leukemia limfositik kronis atau chronic lymphocytic leukemia (CLL)

Jenis kanker ini ditemukan pada orang dewasa dengan usia rata-rata 65 tahun. Hanya 10–15% yang mengalami leukemia ini ketika berusia di bawah 50 tahun. Leukemia ini juga 2,8 kali lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Umumnya, pasien dengan jenis leukemia ini tidak memiliki gejala (asimtomatis). Apabila kondisi penyakit sudah lanjut, maka gejala yang ditemukan adalah pembesaran kelenjar getah bening atau organ hati maupun limpa.

  1. Leukemia mielogen akut atau acute myelogenous leukemia (AML)

Leukemia ini memiliki perkembangan penyakit yang cepat. Sel-sel darah putih yang terbentuk belum matang dan tidak berfungsi normal. Sering kali, sel-sel tersebut menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah. Leukemia jenis ini lebih sering ditemukan pada dewasa, yaitu sekitar 85% dibandingkan pada anak (15%).

  1. Leukemia mielogen kronis atau chronic myelogenous leukemia (CML)

Leukemia jenis ini sering ditemukan pada orang dewasa dibandingkan pada anak. Kejadiannya sekitar 20% pada orang dewasa dengan rentang usia 40–50 tahun, walaupun dapat juga terjadi pada anak. Perkembangan leukemia jenis ini terdiri dari dua tahap. Tahap awal ditandai adanya sel tidak normal yang berkembang secara perlahan. Kemudian, tahap selanjutnya ditandai dengan penurunan jumlah sel darah secara drastis yang disebut sebagai fase krisis.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab kanker darah atau leukemia belum diketahui secara pasti. Leukemia diperkirakan berhubungan dengan adanya mutasi DNA pada sel pembentuk sel darah putih di sumsum tulang sehingga sifat dan fungsi sel akan berubah. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dengan fungsi tidak normal pula. Secara umum, kanker tidak hanya dipengaruhi oleh satu penyebab saja, melainkan juga oleh berbagai faktor (disebut juga dengan istilah multifaktorial).

Berikut faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker darah:

  • Keturunan atau genetik

Adanya faktor keturunan atau riwayat anggota keluarga yang menderita leukemia dapat meningkatkan risiko terjadinya leukemia, khususnya jenis kronis. Orang dengan kelainan genetik tertentu, misalnya pasien dengan sindrom Down, rentan untuk mengalami leukemia akut.

  • Riwayat pengobatan kanker

Adanya riwayat menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi (terapi radiasi) dapat meningkatkan risiko terjadinya leukemia.

  • Riwayat terpapar radiasi tingkat tinggi atau zat-zat kimia tertentu

Orang yang sering terpajan dengan radiasi, nuklir, ataupun zat kimia lainnya cenderung lebih mudah mengalami risiko mutasi sel sumsum tulang yang berujung pada leukemia. Contoh zat kimia tersebut adalah benzena (paling banyak ditemukan pada gas buangan kendaraan, asap rokok, dan asap pabrik) atau insektisida (racun pembunuh serangga).

  • Merokok

Rokok mengandung substansi yang dapat meningkatkan risiko leukemia serta penyakit serius lain.

 

Tanda dan gejala

Pada pasien leukemia, tanda dan gejala yang dialami dapat berbeda antara orang yang satu dengan lainnya, tergantung pada jenis leukemianya. Misalnya pada jenis kronis, perkembangan penyakit ditandai dengan adanya kondisi yang terlambat disadari, seperti perut yang membesar akibat pembesaran organ hati atau limpa. Selain itu, apabila memiliki tanda dan gejalanya tidak khas sehingga perlu diperiksa secara langsung oleh dokter.

Berikut tanda dan gejala leukemia, khususnya apabila gejala yang dirasakan tidak membaik, bahkan semakin buruk:

  • Demam

Demam dapat terjadi sebagai respons tubuh terhadap infeksi atau penyakit. Pada leukemia, demam terjadi karena jumlah sel darah putih banyak, tetapi fungsinya tidak normal. Akibatnya, sel darah putih tidak mampu melawan infeksi di tubuh dengan baik. Demam juga bisa disebabkan oleh metabolisme berlebihan karena keberadaan sel kanker.

  • Kelelahan berkepanjangan

Kelelahan berkepanjangan bisa disebabkan oleh anemia (rendahnya jumlah sel darah merah) karena sumsum tulang lebih fokus menghasilkan sel darah putih daripada sel darah merah. Normalnya, sel darah merah berperan membawa oksigen ke seluruh tubuh. Apabila terjadi kekurangan sel darah merah, maka pasien akan mengalami kelelahan, terlihat pucat, sulit berkonsentrasi, kelemahan, bahkan hingga sesak napas.

  • Penurunan nafsu makan

Kondisi ini dapat disebabkan oleh pembesaran organ di dalam perut, seperti hati dan limpa, yang mendesak lambung sehingga perut rentan terasa kembung dan begah. Akibatnya, nafsu makan menurun.

  • Penurunan berat badan

Secara umum, pasien kanker (jenis kanker apa pun) cenderung mengalami penurunan berat badan yang drastis. Turunnya berat badan bisa disebabkan oleh penurunan nafsu makan ataupun banyaknya zat gizi yang dicuri oleh sel kanker (sel kanker terus membelah diri sehingga membutuhkan banyak sekali energi).

  • Sering mengalami infeksi

Sel darah putih tidak berfungsi normal pada leukemia sehingga tidak bisa melawan infeksi.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Bila terjadi infeksi di tubuh, kelenjar getah bening dapat membesar sebagai respons terhadap infeksi yang sedang berlangsung.

  • Pembesaran organ hati atau limpa

Penumpukan sel darah yang tidak normal serta respons tubuh karena produksi di sumsum tulang yang berlebihan dapat menyebabkan pembesaran organ hati dan limpa. Hati yang membesar bisa teraba di perut bagian atas kanan, sementara limpa yang membesar bisa teraba di perut bagian atas kiri.

  • Perdarahan spontan tanpa sebab jelas

Pasien leukemia dapat mengalami memar tanpa diketahui penyebabnya (tidak terbentur sebelumnya) atau sering mimisan spontan akibat jumlah keping darah (trombosit) yang rendah. Keping darah berperan dalam proses pembekuan darah. Sama dengan sel darah merah, jumlah keping darah yang dihasilkan oleh sumsum tulang mengalami penurunan pada pasien leukemia.

 

Tanda dan gejala lain yang dapat terjadi pada pasien leukemia adalah bintik-bintik kemerahan di kulit yang tidak menonjol saat diraba (petechiae), sakit kepala, dan nyeri sendi atau tulang karena sel kanker yang telah menyebar.

 

Pemeriksaan

Untuk menentukan benar atau tidaknya seseorang mengalami leukemia, dokter perlu melakukan anamnesis. Anamnesis adalah tanya-jawab dokter kepada pasien yang terarah untuk menentukan kemungkinan penyakit. Pasien leukemia bisa mengeluhkan adanya gejala anemia (mudah lelah, sering terlihat pucat, kurang mampu berkonsentrasi, atau merasa lemah) dan gejala kurangnya keping darah (sering memar, mimisan, atau gusi mudah berdarah). Pasien leukemia juga bisa mengeluhkan perut mudah kenyang dan makin membesar karena organ hati dan limpa yang membesar dan mendesak lambung.

Setelah melalui tahap anamnesis, tahap selanjutnya adalah pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dokter akan memeriksa ada atau tidaknya petechiae (binti-bintik kemerahan di kulit), kelopak mata bawah yang pucat, pembesaran kelenjar getah bening, atau pembesaran organ hati dan limpa.

Apabila dari pemeriksaan tersebut dokter ingin memastikan adanya leukemia atau penyakit lain, maka dilanjutkan pemeriksaan lanjutan, berupa pemeriksaan pengambilan darah untuk diperiksa di laboratorium. Dari hasil pemeriksaan darah, bisa ditentukan jumlah masing-masing sel darah. Bila sel darah putih meningkat drastis dan sel darah lainnya turun, maka dokter bisa mencurigai kemungkinan leukemia.

Untuk benar-benar memastikan, dokter bisa menyarankan pemeriksaan biopsi sumsum tulang. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan jarum panjang yang ditusukkan ke dalam tulang (biasanya di tulang panggul), yang didahului dengan pemberian obat bius untuk mengurangi rasa nyeri. Kemudian, sebagian kecil sampel dihisap masuk ke dalam jarum untuk dibawa dan diperiksa di ahli patologi anatomi. Dokter ahli patologi anatomi akan melihat sampel di bawah mikroskop untuk menentukan benar atau tidaknya pasien mengalami leukemia. Bila memang benar leukemia, maka jenis leukemia yang diderita bisa diketahui juga melalui pemeriksaan biopsi ini. Jenis leukemia penting untuk diketahui karena masing-masing jenis leukemia memiliki pilihan terapi yang berbeda-beda.

 

Tata laksana

Penanganan leukemia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dokter akan mempertimbangan pilihan terapi berdasarkan jenis leukemia, stadium kanker, usia pasien, atau kondisi kesehatan pasien (ada tidaknya penyakit lain).

Berikut penanganan umum pada pasien leukemia:

  • Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan bahan kimia untuk menyerang sel kanker dan merupakan pilihan terapi tersering untuk mengobati leukemia. Umumnya, kemoterapi dapat dilakukan sebelum memulai proses transplantasi sel punca.

  • Radioterapi

Radioterapi, disebut juga terapi radiasi, menggunakan gelombang radiasi, seperti sinar X, sinar gamma, dan laser elektron yang ditembakkan langsung pada organ yang didiami kanker. Radioterapi bertujuan untuk menghambat atau menyerang pertumbuhan dan perkembangan sel kanker. Serupa dengan kemoterapi, umumnya radioterapi juga dilakukan sebelum memulai tindakan transplantasi sel punca.

  • Transplantasi sel punca (stem cell)

Transplantasi sel punca adalah tindakan mengganti sumsum tulang pasien yang tidak berfungsi normal dengan sel punca. Sel punca yang digunakan dapat berasal dari keluarga ataupun pasien kanker.