KEMOTERAPI

Oleh : dr. Benny Theodore
Share

Kemoterapi, atau yang biasa disebut “kemo”, adalah salah satu pilihan terapi untuk penyakit kanker. Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk melawan sel-sel kanker dalam tubuh penderitamenghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker.

Secara umum, tujuan pengobatan kanker adalah sebagai berikut:

  1. Menyembuhkan kanker secara sempurna
  2. Menghambat atau mengontrol perkembangan sel kanker
  3. Meringankan atau meredakan gejala kanker

Pada penentuan terapi kanker, dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti tingkat keparahan penyakit kanker, kondisi kesehatan pasien, serta kesepakatan setelah berdiskusi antara dokter dengan pasien dan keluarga pasien.

Kemoterapi dapat dilakukan bersamaan dengan terapi lain seperti radioterapi (terapi radiasi yang dapat menggunakan sinar-X), pembedahan, target terapi (pemberian obat atau zat lain untuk menyerang sel kanker secara spesifik), dan imunoterapi (bertujuan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh terhadap sel kanker). Selain itu, adanya kerjasama yang optimal antara dokter spesialis onkologi (kanker), dokter spesialis radiologi, dokter spesialis bedah, dan dokter lainnya sangat dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan terapi pasien kanker.

Kemoterapi memiliki berbagai manfaat, antara lain:

  1. Mengontrol atau memperkecil ukuran kanker, terutama sebelum tindakan pembedahan atau terapi radiasi
  2. Menghancurkan sel-sel kanker yang masih tersisa setelah pembedahan atau terapi radiasi
  3. Menghancurkan sel-sel kanker yang sudah menyebar ke organ lain
  4. Meringankan gejala nyeri akibat proses pendesakkan dari ukuran kanker yang membesar
  5. Meningkatkan keberhasilan dari terapi lain yang dilakukan, seperti terapi radiasi atau biologis

Penentuan jenis kemoterapi yang diberikan,dipengaruhi oleh tipe dan tingkat keparahan kanker, riwayat kemoterapi sebelumnya, serta penyakit lain yang menyertai seperti diabetes melitus/kencing manis dan penyakit jantung.

Cara pemberian kemoterapi antara lain:

  1. Suntik : obat-obatan kemoterapi dimasukkan ke dalam otot, lapisan lemak, pembuluh darah, rongga perut, atau cairan sumsum tulangmelalui jarum suntik.
  2. Oral : pemberian kemoterapi dengan cara diminum secara langsung
  3. Topikal : pemberian obat yang bersifat lokal seperti di permukaan kulit dengan cara mengoleskannya dengan salep kemoterapi

Jangka waktu/lama pengobatan kemoterapi tergantung dari

  1. Tujuan dari pengobatan kanker, apakah untuk menyembuhkan secara sempurna, memperlambat pertumbuhan sel kanker, atau sekadar meringankan gejala akibat kanker tersebut
  2. Tipe dan tingkat keparahan kanker
  3. Jenis kemoterapi
  4. Reaksi tubuh terhadap kemoterapi

Sel-sel kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan bersifat agresif. Obat kemoterapi akan mengidentifikasi dan merusak sel kanker tersebut. Sayangnya, obat kemoterapi juga dapat merusak sel sehat di dalam tubuh seperti: sel-sel di mulut, pencernaan, sumsum tulang, dan rambut.

Tiap orang mengalami respon terapi yang berbeda akibat pengobatan kemoterapi sehingga efek sampingnya tidak selalu sama. Penanganan terhadap efek samping dari kemoterapi melibatkan tim dokter yang melakukan pemantauan berkala dalam jangka waktu pengobatan dan sesudah pengobatan, berupa pemeriksaan fisik, laboratorium, atau keduanya, secara maksimal. Hal tersebut diperlukan untuk memastikan apakah pengobatan kemoterapi telah mencapai tujuan yang sudah ditetapkan ketika awal pengobatan. Oleh karena respon tubuh setiap orang berbeda dalam pengobatan tersebut, maka tidak ada prosedur tetap dalam menangani efeksamping kemoterapi

Normalnya, efek samping jangka pendek akan menghilang seiring dengan pemberhentian kemoterapi, walaupundapat berlanjut atau muncul kembali setelah pengobatan kemoterapi dihentikan.  Efek samping jangka pendek yang mungkin muncul diantaranya :

  1. Kelelahan (efek yang paling sering muncul)
  2. Kerontokan rambut
  3. Nyeri (kepala, perut, otot tubuh, ujung-ujung jari tangan dan kaki)
  4. Mual dan muntah disertai penurunan nafsu makan
  5. Sariawan di mulut dan kerongkongan
  6. Diare (buang air besar cair lebih dari tiga kali sehari) atau konstipasi (kesulitan buang air besar)
  7. Penurunan jumlah sel darah secara umum
  8. Penurunan proses berpikir dan mudah lupa
  9. Penurunan kemampuan seksual
  10. Masalah kulit seperti kemerahan atau reaksi obat lainnya

Pasien yang menjalani kemoterapi tidak selalu membutuhkan rawat inap di rumah sakit. Apabila pasien merasakan kelelahan setelah menjalani kemoterapi, sebaiknya pasien tidak melakukan aktivitas berat dan usahakan untuk mengajak keluarga/kerabat ketika menjalani kemoterapi. Sebaiknya, pasien merencanakan untuk mengambil cuti apabila kelelahan sangat menganggu konsentrasi saat berada di tempat kerja. Konsultasikan segala keluhan yang muncul kepada dokter ketika follow-up agar dapat ditangani secepatnya.

Secara umum, terdapat beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat membantu meringankan efek samping yang timbul. Untuk diare, pasien dapat mencoba meminumsari buah, teh tanpa kafein, madu, jeli, dan sebagainya. Untuk penurunan nafsu makan, pasien disarankan untuk mencoba makanan yang tinggi kalori dan protein seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, susu, susu kocok, yogurt, es krim, puding, dan lainnya. Untuk kesulitan buang air besar, sebaiknya pasien mengonsumsi makanan tinggi serat seperti gandum, buah, sayuran, kacang, atau biji bunga matahari.

Kemoterapi merupakan salah satu pilihan pengobatan yang terbukti dapat menyembuhkan penyakit kanker. Sayangnya, kemoterapi masih memiliki beberapa efek samping yang tidak diiharapkan. Pemahaman dari anggota keluarga mengenai kondisi penyakit dan program kemoterapi sangat diperlukan.  Oleh karena itu, kerja sama dan bantuan dari orang-orang yang ada di sekitar pasien sangat diharapkan. Untungnya, saat ini sedang dikembangkan beberapa pilihan terapi baru dan muktahir yangdiharapkan nantinya memiliki efektivitas yang sama atau bahkan lebih baik dan memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan kemoterapi.