KANKER VULVA

Oleh : dr. Yaumil Reiza
Share

Vulva

Vulva adalah bagian dari alat kelamin wanita yang terletak di luar. Vulva terdiri dari lubang saluran kemih, lubang vagina, labia mayora dan minora (“bibir” besar dan kecil yang menutupi lubang vagina), serta klitoris (tonjolan kecil pada titik pertemuan labia minora). Selain itu, terdapat kelenjar Bartholin yang terletak di kanan dan kiri lubang vagina. Kanker vulva dapat muncul sebagai tonjolan pada salah satu bagian vulva tersebut.

 

 

Gambar 1. Anatomi vulva

Sumber: https://www.cancer.org/cancer/vulvar-cancer/if-you-have-vulvar-cancer/_jcr_content/par/textimage/image.img.gif/1498761358300.gif

 

Gambar 2. Kanker vulva

Sumber: http://expertherald.com/wp-content/uploads/2017/12/Vulvar-Cancer-Market.png

 

Epidemiologi

Kanker vulva adalah kanker kandungan yang tersering keempat (3–5%) setelah kanker rahim, kanker ovarium/indung telur, dan kanker leher rahim. Berdasarkan data tahun 2014 di Amerika Serikat, sebanyak 26 dari 1.000.000 wanita mengidap kanker vulva. Selain itu, kanker vulva menyebabkan 5 kematian setiap 1.000.000 wanita.

 

Biasanya, kanker vulva terjadi pada wanita usia tua yang telah mengalami menopause. Kelompok usia yang paling sering terkena adalah usia 65–75 tahun. Kanker ini jarang terjadi pada wanita dengan usia di bawah 45 tahun. Kanker vulva yang terjadi pada usia muda umumnya disebabkan oleh infeksi HPV subtipe 16 dan 18.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab terjadinya kanker vulva belum diketahui dengan jelas. Namun, banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker vulva, yaitu:

  1. Usia

Risiko kanker vulva meningkat seiring bertambahnya usia. Lebih dari separuh kasus kanker vulva terjadi pada wanita berusia di atas 70 tahun. Kurang dari 20% kasus terjadi pada usia di bawah 50 tahun.

  1. Infeksi Human papillomavirus (HPV)

Infeksi HPV terjadi melalui kontak kulit dengan bagian tubuh yang terinfeksi. HPV dapat menular melalui hubungan seksual secara vagina, anal, atau oral. Seseorang yang aktif secara seksual dan sering berganti pasangan memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi HPV. Infeksi HPV menyebabkan munculnya kutil yang berbentuk seperti jengger ayam (disebut juga papilloma) pada alat kelamin. Kutil ini dapat berkembang menjadi kanker, terutama jika penyebabnya adalah HPV subtipe 16 dan 18.

  1. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV)

Infeksi HIV akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan seseorang untuk terinfeksi berbagai penyakit, termasuk HPV.

  1. Kelainan kulit pada vulva

Kelainan kulit pada vulva dapat meningkatkan risiko kanker vulva.

  1. Merokok

Rokok mengandung berbagai macam karsinogen (zat yang dapat menyebabkan kanker). Wanita yang merokok memiliki risiko terkena kanker vulva yang lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak merokok. Selain kanker vulva, rokok juga dapat meningkatkan risiko untuk terkena kanker lainnya, seperti kanker paru, kandung kemih, dan lain-lain.

  1. Kanker leher rahim atau vagina

Kanker leher rahim dan vagina memiliki faktor risiko yang sama dengan kanker vulva. Oleh karena itu, seseorang yang mengidap kanker leher rahim atau vagina juga berisiko mengidap kanker vulva.

  1. Faktor risiko lainnya

Seseorang dengan penyakit menular seksual (sifilis/raja singa, herpes, dan lain-lain), diabetes melitus/kencing manis, obesitas, hipertensi/tekanan darah tinggi, atau tingkat sosio-ekonomi rendah memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kanker vulva.

 

Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya, kanker vulva dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama disebabkan oleh infeksi virus HPV, sedangkan tipe kedua disebabkan oleh usia tua. Berdasarkan jenis selnya, kanker vulva dibedakan menjadi sel skuamosa, melanoma, sarkoma, dan basalioma. Sebagian besar kasus kanker vulva (95%) merupakan tipe karsinoma sel skuamosa.

 

Tanda dan Gejala

Kanker vulva dapat dilihat dan diraba dengan mudah. Awalnya, kanker tampak seperti peradangan kulit yang tidak kunjung sembuh. Kemudian, muncul benjolan yang terus tumbuh dan menjadi keras. Benjolan akan berbentuk seperti bunga kol. Gejala dan tanda lain yang dapat muncul adalah sebagai berikut:

  1. Rasa gatal, perih, atau nyeri pada vulva
  2. Perubahan ketebalan dan warna kulit pada vulva
  3. Kelainan kulit pada vulva, misalnya luka terbuka atau benjolan
  4. Perdarahan yang bukan berasal dari menstruasi
  5. Keluarnya cairan encer yang berbau busuk

 

Deteksi dini kanker vulva sangat penting karena memberikan peluang kesembuhan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, setiap kelainan yang ditemukan pada alat kelamin hendaknya tidak dianggap remeh. Segera berkonsultasilah kepada dokter apabila Anda mengalami tanda atau gejala seperti yang telah disebutkan di atas.

 

Diagnosis

Pada saat berkonsultasi, dokter akan menggali lebih dalam tentang keluhan yang dialami, serta riwayat kesehatan pasien dan anggota keluarganya. Setelah mengumpulkan informasi yang cukup, dokter akan melakukan pemeriksaan sederhana. Dokter akan mengamati dan meraba alat kelamin serta area di sekitarnya untuk menilai adanya benjolan yang dicurigai kanker. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan dalam untuk menilai keadaan rahim, leher rahim, indung telur, dan vagina.

 

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang berupa Pap’s smear atau pemeriksaan kolposkopi. Pap’s smear adalah pemeriksaan menggunakan sampel dari dinding leher rahim untuk menyingkirkan kemungkinan kanker leher rahim. Sementara itu, kolposkopi merupakan alat dengan kaca pembesar untuk menilai keadaan vulva dengan lebih jelas.

 

Apabila terdapat hal yang mencurigakan ke arah kanker, dokter akan melakukan biopsi (mengambil contoh jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop). Jika hasil biopsi menunjukkan diagnosis kanker vulva, akan dilakukan beberapa pemeriksaan lain untuk mengetahui penyebaran kanker, antara lain pemeriksaan sistoskopi (pemeriksaan kandung kemih); proktoskopi (pemeriksaan rektum/bagian dari usus besar); foto rontgen dada, CT-scan, MRI, atau positron emission tomography scan (PET-scan).

 

Kanker vulva seringkali ditemukan bersamaan dengan kanker vagina. Apabila kanker awalnya berasal dari jaringan vulva, kanker tersebut dinamakan kanker vulva. Sebaliknya, jika kanker berasal dari jaringan vagina, disebut kanker vagina.

 

Stadium

Kanker vulva memiliki empat stadium, yaitu:

  1. Stadium 0: kanker hanya ditemukan di permukaan kulit vulva.
  2. Stadium 1: kanker hanya terbatas pada vulva, belum menyebar ke kelenjar getah bening atau area tubuh lain.
  3. Stadium 2: kanker telah menyebar ke area sekitar vulva seperti vagina, uretra, dan dubur.
  4. Stadium 3: kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening.
  5. Stadium 4: kanker telah menyebar ke area tubuh yang lebih luas, bahkan ke organ tubuh lain yang jauh.

 

Tata Laksana

Penanganan kanker vulva dilakukan oleh dokter spesialis kandungan (dengan atau tanpa gelar konsultan onkologi). Setelah diagnosis ditegakkan dan stadium kanker ditentukan, dokter akan menentukan pilihan pengobatan. Pengobatan yang dipilih bergantung pada usia dan kondisi kesehatan pasien. Secara umum, terdapat tiga jenis pengobatan untuk penderita kanker vulva, yaitu:

  1. Pembedahan

Pembedahan merupakan terapi utama pada kanker vulva. Pembedahan yang dilakukan dapat mengangkat sebagian (vulvektomi parsial) atau seluruh vulva (vulvektomi simpleks). Jika kanker hanya terbatas pada kulit, dapat dilakukan vulvektomi skinning, yaitu pengangkatan lapisan teratas kulit vulva yang terkena kanker. Umumnya, bagian yang diangkat dalam proses pembedahan adalah jaringan kanker beserta jaringan sehat di sekitarnya. Apabila telah terdapat penyebaran ke kelenjar getah bening, dilakukan pengangkatan hingga ke kelenjar getah bening (vulvektomi radikal). Organ-organ dalam, seperti usus besar, kandung kemih, dan lain-lain dapat diangkat jika ditemukan penyebaran kanker ke organ tersebut.

Prosedur pembedahan ini tentu akan meninggalkan luka operasi sehingga diperlukan bedah rekonstruksi. Bedah rekonstruksi bertujuan agar pasien dapat memiliki vulva atau vagina buatan dengan cara mencangkok kulit dari bagian tubuh lainnya. Bedah rekonstruksi ini dilakukan oleh dokter spesialis bedah plastik. Setelah pembedahan, pasien akan kehilangan kemampuan untuk merasakan di area kemaluan serta tidak bisa mencapai orgasme ketika berhubungan seksual.

  1. Radioterapi

Terapi ini menggunakan sinar berenergi tinggi, contohnya sinar X. Sinar ini diarahkan ke bagian tubuh tertentu untuk membunuh sel-sel kanker dan memperkecil ukuran tumor.

  1. Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat-obatan kemoterapi tersedia dalam bentuk obat minum, suntikan melalui pembuluh darah, atau salep untuk kanker vulva stadium awal.

 

Pencegahan

Beberapa hal berikut dapat dilakukan untuk mencegah kanker vulva:

  1. Tidak berganti-ganti pasangan seksual

Seseorang yang sering berganti pasangan memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi HPV dan infeksi menular seksual lainnya.

  1. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual

Kondom dapat mencegah penularan infeksi menular seksual HPV. Namun, kondom tidak sepenuhnya menutupi seluruh bagian tubuh, seperti kulit atau dubur yang mungkin terinfeksi oleh HPV.

  1. Vaksinasi HPV

Vaksin HPV bertujuan untuk mencegah infeksi HPV. Di Indonesia, terdapat dua jenis vaksin HPV, yaitu vaksin bivalen (mencegah HPV subtipe 16 dan 18) dan tetravalen (mencegah empat HPV subtipe 6, 11, 16, dan 18). Namun, harga vaksin ini masih tergolong mahal karena belum termasuk ke dalam program imunisasi nasional.

  1. Tidak merokok

Merokok tidak hanya dapat meningkatkan risiko kanker vulva, namun juga kanker lainnya.

 

Prognosis

Prognosis atau hasil akhir kanker vulva umumnya baik apabila diagnosis dan pengobatan diberikan sedini mungkin. Tingkat kelangsungan hidup selama lima tahun adalah 70%. Angka ini berarti 70 dari 100 orang yang menderita kanker vulva masih hidup lima tahun setelah didiagnosis dan diobati. Secara umum, stadium kanker yang lebih rendah memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Kanker yang belum menyebar ke kelenjar getah bening juga memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan kanker yang telah menyebar. Selain itu, ukuran tumor yang lebih besar dan adanya kelainan genetik (misalnya jumlah kromosom yang tidak normal) juga dapat menurunkan angka kelangsungan hidup.