KANKER VAGINA

Oleh : dr. Benny Theodore
Share

Mengetahui Letak dan Fungsi Vagina

Vagina adalah saluran kelamin perempuan yang menghubungkan dunia luar dengan rahim, terletak di antara lubang saluran kencing dan dubur/anus. Saluran ini memiliki panjang sekitar 8–10 cm. Dinding vagina terbagi atas lapisan mukosa (lapisan permukaan vagina), lapisan otot, dan lapisan jaringan ikat. Fungsi penting dari vagina adalah sebagai saluran untuk mengeluarkan darah haid atau cairan lainnya, organ untuk melakukan hubungan seksual, dan jalan lahir pada waktu bersalin.

Apa itu Kanker Vagina

Kanker dimulai saat sel-sel dalam organ tubuh mulai bertumbuh di luar kendali. Pada kanker vagina, sel vagina mengalami pertumbuhan tak terkendali. Kanker vagina bisa langsung berasal dari vagina atau hasil penyebaran dari kanker di organ lain. Kanker yang bermula dari vagina sangat jarang ditemukan, 80% kasus kanker vagina merupakan hasil penyebaran dari organ lain. Contoh organ-organ lain menjadi asal penyebaran kanker ke vagina adalah serviks (mulut rahim), endometrium (lapisan dinding dalam rahim), dan ovarium (indung telur). Karena letak ketiga organ tersebut berdekatan dengan vagina, penyebaran kanker dari salah satu organ tersebut ke vagina terjadi melalui kontak langsung. Ada pula penyebaran kanker secara metastasis (melalui aliran darah dan getah bening) dari organ lain yang letaknya jauh, misalnya dari usus besar, ginjal, payudara, dan lain-lain.

Penyebab dan faktor risiko kanker vagina belum diketahui seluruhnya. Suatu jenis virus, yaitu human papillomavirus (HPV), sering ditemukan pada beberapa tipe kanker tertentu sehingga dianggap sebagai salah satu penyebab utama kanker di organ reproduksi wanita. HPV subtipe 16 dan 18 memiliki kemampuan tertinggi untuk menimbulkan kanker. HPV biasanya ditularkan melalui hubungan seksual. Selain itu, herpes simplex virus (HSV) dan Trichomonas vaginalis (sejenis protozoa) juga diperkirakan berhubungan dengan kejadian kanker vagina, tetapi masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.

Diethylstilbestrol (DES), sebuah obat penguat rahim yang diberikan saat hamil trimester pertama, diperkirakan memiliki hubungan kuat dengan timbulnya adenokarsinoma (kanker kelenjar) vagina. Peningkatan risiko untuk mengidap kanker ini sudah diteliti pada tahun 1987 pada 524 wanita yang mengidap adenokarsinoma. Wanita di dalam penelitian tersebut ditanyai pernah memakai obat DES atau tidak. Hasilnya, 60% dari subjek penelitian ternyata mempunyai riwayat memakai obat DES. Oleh karena itu, obat penguat rahim ini sudah dihentikan izin edarnya sejak tahun 1971 di Amerika Serikat.

Di samping itu, sebuah penelitian oleh Hellman, dkk. menyimpulkan bahwa usia tua dan menarche  (menstruasi pertama) yang terlambat berhubungan erat dengan terjadinya kanker vagina. Faktor hormon, trauma (luka) vagina, pasangan seksual lebih dari satu, hubungan seksual pertama pada usia yang terlalu muda, dan infeksi virus human immunodeficiency virus (HIV) juga dinilai sebagai penyebab yang probable (belum pasti) kanker vagina. Merokok, kemoterapi, radioterapi, dan terapi imunosupresan (terapi penekan sistem imunitas, biasanya diberikan pada pasien yang menjalani transplantasi organ atau memiliki penyakit autoimun) juga berhubungan dengan terjadinya kanker vagina.

Gejala-gejala kanker vagina

Pada umumnya, butuh waktu cukup lama untuk benar-benar memastikan diagnosis kanker vagina, kira-kira 1–11 tahun. Proses diagnosis yang lambat ini disebabkan oleh jarangnya penyakit ini sehingga klinisi tidak langsung memikirkan kemungkinan kanker vagina ketika berhadapan dengan pasien. Akibatnya, kebanyakan pasien datang ketika kanker vagina sudah berada dalam tahap lanjut. Kanker yang sudah berada dalam tahap lanjut lebih sulit disembuhkan dan sering menyebabkan kematian.

Perdarahan dari vagina tanpa rasa nyeri adalah gejala kanker vagina yang paling sering dijumpai. Gejala ini bisa ditemukan pada 60–80% kasus kanker vagina, terutama pasien yang sudah dalam masa setelah menopause (masa ketika perempuan sudah tidak lagi haid). Oleh karena itu, kanker vagina biasanya dijumpai pada usia tua, yaitu di atas 60 tahun. Selain perdarahan setelah menopause, kanker vagina juga bisa ditandai oleh gejala lainnya, berupa menoragia (perdarahan saat haid yang jumlahnya lebih banyak dari biasanya), perdarahan pada masa non-haid, dan perdarahan setelah hubungan seksual.

Pengeluaran cairan tidak normal yang berbau dan tidak jernih dari vagina terjadi pada 30% kasus kanker vagina. Di samping itu, ada pula laporan bahwa muncul gejala yang melibatkan kandung kemih atau saluran kemih pada 20% kasus kanker vagina. Gejala-gejala kandung kemih dan saluran kemih yang bisa dirasakan oleh pasien meliputi nyeri saat buang air kecil, kesulitan menahan buang air kecil, dan adanya darah dalam urine. Gejala kandung kemih dan saluran kemih tersebut biasanya disebabkan oleh kanker vagina yang letaknya berdekatan dengan kandung kemih. Massa (benjolan) dari vagina tersebut dapat menekan kandung kemih atau saluran kemih. Selain menekan, massa kanker juga bisa menyebarkan sel-sel kanker ke kandung kemih atau saluran kemih lewat kontak langsung..

Sementara itu, massa di bagian belakang vagina dapat menekan usus besar yang berada dekat dubur/anus. Gejala penekanan usus besar ini dilaporkan pada 15–30% kasus kanker vagina. Gejalanya meliputi sembelit dan rasa ingin segera buang air besar lagi setelah buang air besar.

Hanya sekitar 10% pasien kanker vagina yang merasakan keberadaan massa di dalam vagina, sedangkan kurang lebih 10–27% pasien tidak mengalami gejala apa-apa. Penemuan kanker vagina pada pasien-pasien yang tidak memiliki gejala biasanya terjadi saat pemeriksaan rutin organ panggul.

Memastikan diagnosis dan stadium kanker vagina

Bila dokter menduga pasien mengalami kanker vagina, maka perlu dilakukan sejumlah pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan untuk memastikan diagnosis kanker vagina dan penyebarannya, antara lain

  1. Computed tomography scan (CT scan)
  2. Magnetic resonance imaging (MRI)
  3. Pemeriksaan kadar penanda tumor carcinoembryonic antigen (CEA), cancer antigen 125 (CA-125), dan squamous cell carcinoma antigen
  4. Kuretase dan dilatasi untuk melihat penyebaran pada adenokarsinoma vagina
  5. Foto rontgen dada
  6. Mamografi (pemeriksaan jaringan payudara) untuk melihat kemungkinan penyebaran yang berasal dari kanker payudara

Penentuan derajat kanker vagina menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO)

  • Stadium 0: adanya sel-sel prekanker, disebut juga vaginal intraepithelial neoplasia (VAIN)
  • Stadium 1: adanya kanker yang terbatas di dinding vagina saja
  • Stadium 2: kanker menjalar ke lapisan di bawah dinding vagina, tetapi belum menjalar ke dinding panggul
  • Stadium 3: kanker menjalar ke dinding panggul
  • Stadium 4: kanker menjalar ke kandung kemih atau rektum (ujung dari usus besar yang terletak di belakang vagina)
  • Stadium 4a: kanker menjalar ke seluruh bagian kandung kemih atau rektum
  • Stadium 4b: kanker menjalar ke organ yang terletak jauh dari vagina, seperti paru-paru, payudara, ginjal, dan lain-lain

Bagaimana cara untuk mengobati kanker vagina

Belum ada penetapan konsensus atau pedoman klinis untuk mengatasi kanker vagina. Umumnya pengobatan kanker vagina menggunakan radioterapi. Seiring dengan perkembangan teknologi, kemoterapi mulai ditambahkan pada paduan terapi kanker vagina. Pada tahun 1999, sebuah rekomendasi ditetapkan untuk menambahkan kemoterapi berbasis obat cisplastin. Sebab, setelah diteliti, kemoterapi dengan cisplastin ternyata memberikan perkembangan yang signifikan terhadap proses penyembuhan kanker vagina.

Terapi bedah untuk kanker vagina juga mulai diterapkan, tetapi terapi bedah memiliki beberapa indikasi dan kontraindikasi tertentu. Kasus-kasus kanker vagina yang mungkin memerlukan terapi bedah, antara lain karsinoma sel skuamosa stadium 1 dan 4a, adenokarsinoma vagina, dan kasus-kasus lain (melanoma, sarkoma, dan lain-lain). Kasus-kasus kanker vagina yang tidak mungkin diterapi melalui pembedahan adalah kasus yang sudah menyebar secara ekstensif ke dinding panggul dan pembuluh darah panggul.

Hasil dan efek dari pengobatan kanker vagina

Untuk beberapa orang, pengobatan kanker vagina yang sudah dilaksanakan dapat menghilangkan kanker secara sempurna. Perjalanan untuk menyelesaikan proses pengobatan bisa menyulitkan, namun bisa juga menyenangkan. Pasien mungkin akan merasa senang dan puas saat menyelesaikan terapi, namun akan sulit bagi pasien untuk tidak mengkhawatirkan kemungkinan kanker datang kembali. Ini adalah masalah utama yang diderita para survivor kanker. Butuh waktu yang cukup lama bagi para survivor untuk beradaptasi dengan kekhawatiran ini.

Di sisi lain, sayangnya pada beberapa orang, kanker vagina tidak akan hilang secara sempurna. Mereka biasanya akan tetap menjalani radioterapi, kemoterapi, dan terapi lainnya secara rutin. Proses belajar untuk hidup menerima kanker vagina yang tidak dapat hilang ini akan menyulitkan dan menjadi stresor berat bagi para pasien kanker vagina.

Follow-up setelah pengobatan kanker

Setelah menyelesaikan program pengobatan, pasien perlu bertemu kembali dengan dokter. Pada pertemuan tersebut, dokter melakukan evaluasi keluhan yang dirasakan pasien dan menjalankan beberapa pemeriksaan rutin. Evaluasi dan pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kemungkinan kambuhnya kanker, penyebaran kanker ke organ lain, atau efek samping dari pengobatan kanker. Seperti pengobatan kanker pada umumnya, pengobatan untuk kanker vagina juga sarat akan efek samping.

Pada suatu titik, pasien mungkin akan pergi ke dokter lain untuk melakukan follow-up kondisinya, misalnya karena berpindah domisili atau kembali ke tempat tinggal asal. Bila demikian, pasien harus membawa semua laporan dan hasil pemeriksaan yang sudah didapatkan dari dokter sebelumnya untuk memastikan dokter baru dapat langsung mengetahui kondisi medis pasien.

Prognosis

Prognosis untuk kanker vagina pada beberapa literatur menggunakan angka survival setelah 5 tahun. Angka ini akan menunjukkan angka keselamatan ataupun kesembuhan dari kanker vagina pada pasien dalam jangka waktu 5 tahun. Angka yang dipakai disini spesifik untuk kanker vagina, apabila pasien meninggal oleh karena penyakit lain tidak akan dimasukkan kedalam perhitungan.

Berdasarkan data dari National Cancer Institute, angka survival  setelah 5 tahun pertama-tama ditentukan dari derajat kanker vagina tersebut. Semakin tinggi derjat kanker yang diderita, semakin rendah pula angka survival-nya. Pada kasus kanker derajat 3 dan4 angka  survival  hanya mencapai 57%.

Prognosis juga dapat ditentukan dari tipe kanker vagina yang diderita. Tipe-tipe kanker vagina seperti karsinoma sel skuamous, adenokarsinoma, melanoma. Tipe yang memiliki angka  survival  paling tinggi adalah adenokarsinoma, sedangkan yang memiliki angka survival paling rendah adalah tipe melanoma.

Pencegahan kanker vagina

Belum ditemukan cara-cara pencegahan yang dapat menghilangkan sama sekali risiko kanker vagina. Cara-cara pencegahan yang paling efektif adalah menghindari faktor-faktor risiko yang dapat diubah atau dijauhi.

Infeksi virus HPV adalah faktor risiko terjadinya kanker vagina, kebanyakan terjadi pada wanita usia muda (di bawah 30 tahun). HPV dapat disebarkan hanya melalui kontak dari kulit ke kulit dan HPV juga dapat disebarkan saat hubungan seksual. Infeksi HPV di salah satu bagian tubuh dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Infeksi HPV yang dimulai dari serviks dapat menyebar ke vagina dan organ tubuh lainnya. Langkah untuk menghindari HPV adalah tidak berhubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan dan memastikan pasangan seks juga tidak melakukan hubungan seksual dengan banyak orang. Akan tetapi karena HPV sangat umum, membatasi pasangan seksual juga tidak menghilangkan sepenuhnya risiko terinfeksi virus HPV. Infeksi virus ini sebenarnya dapat hilang dengan sendirinya, tetapi pada beberapa kasus infeksi ini tidak dapat hilang sehingga menjadi kasus kronis. Kasus-kasus infeksi kronis inilah yang dapat menyebabkan kanker.

Penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks memberikan sedikit proteksi terhadap virus HPV. Walaupun demikian, kontak kulit ke kulit di bagian kulit yang sudah terinfeksi akan tetap mentransmisikan virus HPV saat hubungan seks. Penggunaan kondom juga dapat memberikan proteksi terhadap penyakit menular seksual (PMS) lainnya, seperti HIV dan HSV.

Pemakaian vaksinasi HPV dapat memproteksi dari beberapa subtipe virus HPV, terutama subtipe 16 dan 18. Vaksinasi hanya berguna untuk mencegah terkena infeksi virus HPV, tetapi tidak berguna untuk mengobati infeksi HPV yang sudah terjadi.

Tidak merokok adalah cara lainnya untuk menurunkan risiko kanker vagina. Selain itu, perempuan yang tidak merokok memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami kanker-kanker lainnya, seperti kanker paru, mulut, tenggorokan, kandung kemih, ginjal, dan beberapa organ lainnya.

Rajin melakukan pemeriksaan HPV atau pap-smear dapat meningkatkan peluang untuk segera mendeteksi tipe-tipe sel yang mudah berubah menjadi sel kanker. Apabila ditemukan saat masih dalam fase prekanker, maka kemungkinan untuk sembuh akan jauh lebih besar.