Kanker Usus Besar

Oleh : dr. Jordy Kristanto
Share

Gambar 1. Usus dan posisinya pada tubuh

Sekilas organ

Usus besar merupakan organ terakhir dari sistem pencernaan. Fungsi utama usus besar adalah menyerap air dan berbagai sisa nutrisi yang tidak terserap oleh usus halus. Bagian akhir dari usus besar yang berhubungan dengan anus disebut rektum. Panjang rektum pada manusia dewasa berkisar antara 18–20 cm. Bagian bawah rektum memiliki diameter yang lebih lebar dan berfungsi sebagai tempat penampungan tinja sebelum dibuang melalui anus.

 

Epidemiologi

Kanker kolorektal merupakan tumor ganas yang berasal usus besar. Kanker ini menduduki peringkat ketiga kanker terbanyak di dunia. Berdasarkan data dari Global Burden of Cancer Study (GLOBOCAN) 2012, kasus baru kanker kolorektal mencapai 1.361.000 dan menyebabkan 694.000 kematian di seluruh dunia.

Tidak jauh berbeda, kanker kolorektal menempati urutan ketiga kanker tersering di Indonesia. Berdasarkan WHO Country Cancer Profile, jumlah kasus kanker kolorektal di Indonesia tercatat sebanyak 15.985 pada pria dan 11.787 pada perempuan. Selain itu, kanker kolorektal menyebabkan 8-10% dari total kematian akibat kanker. Jumlah kasus kanker kolorektal di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini diakibatkan oleh perubahan pola diet orang Indonesia menjadi tinggi lemak serta rendah serat.

 

Penyebab

Kanker kolorektal adalah tumor yang berasal dari sel epitel. Hanya tumor yang telah menembus lapisan mukosa otot yang dianggap ganas. Jika jaringan kanker kolorektal diamati menggunakan mikroskop, akan ditemukan banyak kelenjar dengan berbagai variasi ukuran, bentuk, dan struktur.

Penyebab pasti kanker kolorektal adalah peradangan kronik yang terjadi di area usus besar. Secara umum, faktor risiko kanker kolorektal dibagi menjadi dua, yakni yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Adapun faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah:

  1. Riwayat  menderita polip atau kanker kolorektal pada pasien atau keluarga.

  2. Riwayat peradangan pada usus yang kronik.

  3. Kerusakan genetik yang menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap sindrom Lynch. Pada Lynch sindrom, terjadi perubahan pada gen sehingga mudah berkembang menjadi kanker.

Sementara itu, faktor risiko yang dapat diubah adalah sebagai berikut:

  1. Keterbatasan aktivitas fisik
    Olahraga yang rutin dapat mengurangi risiko kanker kolorektal hingga 50%. Salah satu contoh bentuk olahraga yang dianjurkan adalah jalan cepat selama 30 menit selama 5 hari dalam seminggu. 

  2. Pola makan
    Pola konsumsi daging berlebihan dan rendah buah serta sayur dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal.

  3. Rokok dan alkohol
    Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa rokok dan alkohol dapat meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. Seseorang yang mengonsumsi alkohol dengan rata-rata 2–4 porsi per hari selama hidupnya, mempunyai risiko 23% lebih tinggi untuk menderita kanker kolorektal.

 

Gejala

Kebanyakan pasien tidak mengeluhkan gejala, apalagi pada pasien yang ditemukan adanya kanker secara tidak sengaja. Adanya darah ketika buang air besar dan anemia merupakan gejala umum karena terjadi perdarahan dari kanker. Kadang pasien juga mengeluhkan susah buang air besar alias konstipasi karena tinja yang padat terhalang oleh massa kanker. Keluhan ini dapat disertai dengan perut membesar dan rasa tidak lampias ketika BAB. Adapun gejala-gejala lainnya yang tidak spesifik berupa demam, lemas, penurunan berat badan, dan nyeri perut juga dapat dijumpai.

 

Deteksi dini

Deteksi dini atau skrining, dilakukan pada kelompok yang memiliki risiko sedang atau tinggi. Adapun yang termasuk risiko sedang, yaitu:

  1. Usia ≥ 50 tahun

  2. Tidak memiliki riwayat kanker kolorektal atau penyakit radang pada usus

  3. Tidak memiliki riwayat keluarga kanker kolorektal

  4. Terdiagnosis kanker kolorektal setelah berusia 60 tahun

Sementara kriteria yang termasuk ke dalam kategori risiko tinggi, yaitu:

  1. Memiliki riwayat polip usus

  2. Memiliki riwayat operasi karena kanker kolorektal

  3. Memiliki riwayat keluarga derajat pertama (ayah, ibu, saudara, dan anak kandung) kanker kolorektal

  4. Memiliki riwayat penyakit peradangan usus yang kronik

  5. Individu dengan kecurigaan sindroma Lynch

Pada orang-orang yang memiliki risiko disarankan untuk melakukan skrining. Berikut adalah bentuk-bentuk skrining yang biasanya dilakukan:

  1. Colok dubur

Pada pemeriksaan ini, dokter akan memasukkan jarinya ke anus untuk mengetahui ada tidaknya benjolan. Jika dicurigai ada benjolan, pemeriksaan akan berlanjut seperti yang nanti akan dijelaskan dalam bagian “Diagnosis”

  1. Pemeriksaan tinja setiap 1 tahun

  2. Sigmoidoskopi fleksibel setiap 5 tahun

  3. Kolonoskopi setiap 10 tahun

  4. Barium enema dengan kontras ganda setiap 5 tahun

  5. CT kolonografi setiap 5 tahun

 

Diagnosis

Angka kesembuhan untuk kanker usus besar sendiri cukup tinggi, tetapi berangsur menurun mengikuti peningkatan stadium ditemukannya kanker usus besar tersebut. Untuk stadium I, kanker usus besar memiliki angka kesembuhan sebesar 87%, tetapi pada stadium IV menurun drastis hingga menjadi 12%. Ini membuktikan bahwa masyarakat harus sadar akan pentingnya kesehatan, dan mulai untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur.

Dari gejala, hanya dapat diprediksikan apakah ini sebuah kanker usus besar atau bukan. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan colok dubur untuk menilai ada tidaknya tumor yang dalam usus besar. Adapun poin-poin yang menunjukkan ke arah kanker usus besar, yaitu:

  1. Perdarahan melalui anus yang disertai gangguan BAB minimal selama 6 minggu

  2. Perdarahan melalui anus tanpa gangguan BAB pada seseorang yang berusia ≥60 tahun

  3. Gangguan BAB selama 6 minggu pada seseorang yang berusia ≥60 tahun

  4. Teraba adanya benjolan pada perut bawah sebelah kanan

  5. Setiap pasien dengan anemia defisiensi besi.

Penegakkan diagnosis kanker kolorektal sendiri harus melalui pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan laboratorium, radiologi (rontgen, MRI, CT scan, USG, dan lain-lain), dan mikroskopi. Sigmoidoskopi dan kolonoskopi merupakan pemeriksaan yang penting. Pada pemeriksaan ini, dokter akan memasukkan kamera melalui anus untuk menilai rektum dan usus besar secara langsung. Pada kolonoskopi, kamera dimasukkan lebih dalam hingga memungkinkan dokter untuk melihat keseluruhan usus besar. Sementara pada sigmoidoskopi, kamera hanya menunjukkan gambaran sebatas rektum.

Jika kolonoskopi tidak dapat dilakukan, pemeriksaan sigmoidoskopi dilanjutkan dengan pemeriksaan barium enema kontras ganda. Pemeriksaan penunjang berikutnya adalah CT kolonografi, yaitu pemeriksaan CT scan pada daerah usus besar. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk menilai ukuran letak dan keadaan organ sekitar tumor. Penyebaran kanker juga dapat dilihat melalui CT kolonografi. Namun, CT kolonografi yang baik memerlukan keterampilan dokter radiologi dan peralatan CT scan yang memadai. Sayangnya, tidak semua alat CT scan di Indonesia memiliki spesifikasi yang cukup untuk melakukan CT kolonografi. Sehingga pemeriksaan ini tidak selalu bisa dilakukan.

Setelah diagnosis kanker kolorektal ditegakkan, langkah selanjutnya adalah penentuan stadium. Penentuan stadium ini sangat penting karena jenis terapi untuk setiap stadium berbeda. Sistem yang digunakan untuk menentukan stadium kanker kolorektal adalah sistem TNM, yaitu Tumor, Node, dan Metastasis. Tumor berarti menilai seberapa besar dan seberapa dalam tumor tersebut telah berkembang. Sementara node menggambarkan seberapa banyak kelenjar getah bening yang telah diserang oleh sel kanker. Metastasis menunjukkan ada tidaknya penyebaran tumor ke organ lainnya.

Setelah diketahui sistem TNM, kanker kolorektal dapat disederhanakan menjadi stadium 0-IV. Pada stadium 0, sel ganas biasanya masih hanya terbatas pada lapisan mukosa usus besar, dan biasanya dijumpai dalam bentuk polip. Sedangkan stadium I, sel ganas sudah mencapai dinding dari usus besar, tetapi belum dijumpai adanya penyebaran. Stadium II, sel ganas telah menyebar ke jaringan sekitar usus besar, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening. Stadium III, sel ganas telah mengenai kelenjar getah bening, dan pada stadium IV, sel ganas telah menyerang ke organ yang jauh dari usus besar, seperti hati dan paru-paru.

 

Pencegahan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kanker kolorektal diyakini berhubungan dengan pola hidup. Oleh karena itu, pencegahan dapat dilakukan dengan memulai pola hidup sehat, misalnya mengurangi daging-dagingan. Selain itu, aktivitas fisik alias olahraga juga dapat mencegah kanker kolorektal. Olahraga yang disarankan adalah berjalan 30 menit sehari selama minimal 5 hari dalam seminggu. Pola hidup tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol juga harus dihindari. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa suplemen tambahan berupa vitamin D dan kalsium dapat mengurangi risiko kanker kolorektal. Namun,masih belum ada anjuran bahwa kedua suplemen ini dapat digunakan secara rutin untuk mencegah kanker kolorektal.

 

Pengobatan

colorectal-cancer-stages.jpg

Gambar 2. Stadium kanker kolorektal

Terdapat berbagai pilihan terapi untuk mengobati kanker kolorektal, yaitu pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. Perlu diingat bahwa pilihan tersebut tergantung pada beberapa faktor, seperti stadium dan jenis kanker, efek samping terapi, kondisi dan pilihan pasien itu sendiri. Pembedahan sendiri menjadi modal utama pada kanker stadium dini. Sementara, kemoterapi biasanya dilakukan pada kanker stadium lanjut. Kanker stadium II–IV dapat diterapi menggunakan radioterapi.

Terdapat berbagai jenis tipe pembedahan pada kasus kanker kolorektal dari yang sederhana seperti pengangkatan polip, hingga kolostomi, sebuah tindakan pembuatan lubang sebagai pengganti anus di perut yang bersifat seumur hidup.

Pada stadium 0-I, kanker kolorektal cukup dilakukan operasi lokal untuk membuang sel ganas. Tetapi pada stadium I, sel ganas telah mencapai lapisan usus besar yang lebih dalam, sehingga area pembedahan lebih luas dibandingkan stadium 0. Pada stadium II-IV kanker telah menyebar hingga daerah diluar usus besar, sehingga diberikan terapi kombinasi antara kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan. Untuk pertimbangan pilihan manakah yang menjadi prioritas dari terapi kanker kolorektal stadium lanjut ditentukan oleh dokter.

Perlu diketahui bahwa kanker kolorektal memiliki angka kambuh yang cukup tinggi dibanding kanker jenis lain, yakni sekitar 23%. Sehingga, pasien yang sudah dinyatakan sembuh tetap harus rajin melakukan kontrol. Jika kanker kembali kambuh, dokter dapat segera mendeteksi sedini mungkin. Adapun beberapa tes yang akan dilakukan selama kontrol berupa pemeriksaan sederhana oleh dokter, pemeriksaan laboratorium CEA (penanda tumor kolorektal), CT scan, dan kolonoskopi.