KANKER TESTIS

Oleh : dr. Wiedya Kristianti Angeline
Share

Kanker testis adalah kanker yang berasal dari jaringan testis. Biasanya, kanker terjadi pada salah satu testis (kanan atau kiri). Hanya sekitar 5% kasus kanker testis yang terjadi pada kedua testis. Berkat kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran saat ini, kanker testis dapat didiagnosis dini dan diobati dengan tepat. Akibatnya, kanker ini menjadi salah satu kanker yang paling dapat disembuhkan.

 

Sekilas Tentang Organ

Testis merupakan bagian penting dari sistem reproduksi laki-laki. Organ ini terletak di dalam kantung kulit yang disebut skrotum dan tergantung di bawah pangkal penis. Testis laki-laki dewasa berukuran sedikit lebih kecil dari bola golf. Meskipun mirip, ukuran dan posisi testis kanan dan kiri tidak sama.

 

Testis berfungsi untuk memproduksi dan menyimpan sperma. Sperma merupakan sel jantan yang dibutuhkan untuk membuahi sel telur agar dapat memulai kehamilan. Selain itu, organ ini juga menghasilkan hormon testosteron yang penting bagi laki-laki. Fungsi hormon ini adalah mematangkan organ reproduksi laki-laki; memberikan penampilan fisik pada laki-laki (kumis, jenggot, jakun, suara, dan lain-lain); serta memberikan dorongan seks, ereksi, dan ejakulasi.

 

 File:Testicle.jpg

Gambar 1. Bagian-bagian dalam testis

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Testicle.jpg

 

Epidemiologi             

Kanker testis termasuk jenis kanker yang jarang terjadi, yaitu hanya sekitar 1% dari semua jenis kanker pada laki-laki. Di Amerika Serikat, ditemukan 2 kasus kanker testis setiap 100.000 laki-laki. Menurut National Cancer Institute, pada tahun 2015 ditemukan 8.400 kasus baru dan 380 kematian akibat kanker testis. Kanker testis lebih banyak terjadi pada laki-laki yang berusia 30–35 tahun. Meskipun demikian, penyakit ini juga dapat terjadi pada usia remaja atau di atas 50 tahun.

 

Jenis

Terdapat dua jenis sel utama dalam testis, yaitu sel germinal dan sel stroma. Sekitar 95%  kanker testis yang ditemukan berkembang dari sel germinal. Berikut adalah dua jenis kanker sel germinal yang paling sering ditemukan:

  • Seminoma

Sekitar 50–55% kanker testis adalah jenis seminoma murni. Kanker ini dapat terjadi pada semua usia dan paling sering ditemukan pada laki-laki dewasa. Seminoma biasanya hanya terbatas pada testis dan kelenjar getah bening di sekitarnya. Kanker ini sangat sensitif terhadap terapi radiasi.

  • Non-seminoma

Kanker ini cenderung terjadi pada laki-laki muda, berkembang dengan cepat, dan dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kanker yang termasuk dalam kelompok non-seminoma adalah teratoma, karsinoma embrional, koriokarsinoma, dan tumor yolk sac.

Terkadang, ditemukan kanker campuran antara seminoma dan non-seminoma. Kanker ini disebut jenis mixed (campuran), meliputi limfoma, tumor sel Leydig, tumor sel Sertoli, gonadoblastoma, dan mesothelioma.

 

Faktor risiko dan penyebab

Penyebab kanker testis masih belum diketahui dengan pasti. Namun, beberapa faktor telah terbukti meningkatkan risiko terkena kanker testis. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  • Testis yang tidak turun (undescended testis/kriptorkismus).

Sebelum lahir, testis berkembang di dalam perut bayi. Kemudian, testis akan turun ke skrotum dalam waktu empat bulan setelah dilahirkan. Namun pada beberapa anak, testis tidak dapat turun yang disebut sebagai undescended testis atau kriptorkismus. Laki-laki dengan kondisi ini memiliki risiko tiga kali lipat untuk menderita kanker pada kedua testis. Risiko ini tidak menurun, bahkan setelah operasi untuk memindahkan testis ke dalam skrotum.

  • Riwayat pernah menderita kanker testis

Laki-laki yang pernah menderita kanker testis berisiko 4–12 kali lipat untuk mengalami kanker testis. Kanker baru ini dapat tumbuh pada testis lainnya atau testis yang sama dengan kanker sebelumnya.

  • Memiliki keluarga dengan kanker testis

Laki-laki yang ayahnya menderita kanker testis berisiko empat kali lipat mengalami kanker testis. Sementara itu, bila saudara laki-lakinya menderita kanker testis, risikonya untuk menderita penyakit yang sama bertambah hingga delapan kali lipat. Meskipun demikian, pada kenyataannya mayoritas laki-laki yang menderita kanker testis tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker testis.

  • Infertilitas atau kemandulan

Belum diketahui dengan jelas mengenai hubungan antara infertilitas/kemandulan dan kanker testis. Diperkirakan bahwa penyebab-penyebab infertilitas juga dapat menyebabkan kanker testis sehingga keduanya sering kali terjadi secara bersamaan.

  • Kelainan kongenital

Kelainan pada testis, penis, atau ginjal, serta hernia inguinalis (usus menonjol di daerah lipat paha) mungkin dapat meningkatkan risiko kanker testis.

  • Sindrom Down

Sindrom Down meningkatkan risiko terkena kanker testis, kanker gastrointestinal, dan leukemia.

  • Perkembangan testis abnormal

Kondisi yang menyebabkan testis berkembang secara tidak normal (misalnya pada sindrom Klinefelter) dapat meningkatkan risiko kanker testis. Sindrom Klinefelter adalah kelainan genetik yang langka. Sindrom ini dapat menyebabkan testis tidak turun, hormon testosteron menurun, kemandulan, pembesaran payudara pada laki-laki (ginekomastia), dan ukuran testis kecil.

  • Usia

Kanker testis biasanya terjadi pada remaja dan laki-laki muda, terutama yang berusia 15–35 tahun.

  • Ras

Kanker testis lebih sering terjadi pada laki-laki kulit putih dibandingkan kulit hitam.

  • Paparan bahan kimia tertentu       

Paparan terhadap pestisida, marijuana, atau formalin dapat meningkatkan risiko terkena kanker testis. Penggunaan hormon estrogen sintetis (biasanya pada pil atau suntik KB) oleh ibu hamil dapat meningkatkan risiko tumor ganas pada alat kelamin janin ketika sudah dewasa, termasuk kanker testis pada janin laki-laki.

  • Kalsium di testis

Endapan kalsium pada testis (testicular microlithiasis) meningkatkan risiko seseorang terkena kanker testis.

  • Infeksi HIV/AIDS

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki dengan penurunan sistem kekebalan tubuh akibat infeksi HIV/AIDS berisiko untuk mengalami kanker testis. Hal ini disebabkan karena sel kanker menjadi lebih mudah untuk berkembang.

  • Merokok

Perokok aktif dalam jangka waktu yang lama berisiko terkena kanker testis.

Prosedur vasektomi, makanan, atau trauma pada testis tidak terbukti meningkatkan risiko kanker testis.

 

Gejala

Gejala kanker testis biasanya cukup mudah untuk dilihat dan dirasakan sehingga penyakit ini mudah terdeteksi. Namun perlu diperhatikan, bahwa gejala kanker testis dapat menyerupai penyakit lain pada testis, seperti infeksi. Berikut gejala-gejala awal yang dapat dialami oleh laki-laki dengan kanker testis:

  • Adanya benjolan yang tidak nyeri pada testis (paling sering).
  • Penumpukan cairan di skrotum yang mendadak.
  • Pembengkakan pada testis sehingga menjadi lebih besar dari biasanya. Atau sebaliknya, terjadi penyusutan ukuran testis.
  • Rasa sakit pada testis, skrotum, atau pangkal paha.
  • Perasaan berat pada skrotum.
  • Muncul tanda-tanda pubertas pada usia yang lebih muda.
  • Infertilitas/kemandulan.

 

Berikut adalah gejala yang muncul bila kanker sudah berada pada stadium lanjut atau telah menyebar:

  • Rasa nyeri dan pegal pada perut bagian bawah, punggung dan/atau pinggang.
  • Kelenjar getah bening di leher membesar.
  • Kesulitan bernapas atau sesak napas akibat penumpukan cairan di sekitar paru-paru (akibat penyebaran ke paru-paru).
  • Batuk, kadang dapat disertai dengan darah.
  • Nyeri dada.
  • Kesulitan menelan.
  • Penumpukan cairan di perut (disebut asites).
  • Rasa lelah dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Mual dan nyeri kepala (akibat penyebaran ke otak).
  • Pembesaran dan nyeri pada payudara.

Biasanya kanker testis akan menyebar ke kelenjar getah bening. Lalu, dapat menyebar ke perut dan paru-paru. Kanker ini juga bisa menyebar ke organ lain yang lebih jarang, misalnya hati, tulang, dan otak.

 

Diagnosis

Berikut adalah pemeriksaan yang akan dilakukan dokter untuk menegakkan diagnosis kanker testis:

  • Anamnesis dan pemeriksaan fisik sederhana

Anamnesis merupakan proses wawancara yang dilakukan dokter kepada pasien. Berbagai pertanyaan yang diajukan meliputi perjalanan penyakit, gejala-gejala yang dialami, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, serta pertanyaan lain yang dibutuhkan untuk mengarahkan diagnosis. Pemeriksaan fisik sederhana dilakukan untuk memeriksa kesehatan secara umum, termasuk tanda-tanda penyakit. Testis akan diperiksa untuk melihat apakah terdapat benjolan, pembengkakan, atau rasa sakit.

  • Ultrasonografi (USG)

Dengan pemeriksaan USG, dapat diketahui letak dan isi benjolan yang dicurigai sebagai kanker testis. Prosedur ini merupakan pemeriksaan yang aman dan disarankan karena tidak menimbulkan rasa sakit atau efek samping yang membahayakan.

  • Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menentukan kadar penanda tumor (tumor marker) dalam darah. Penanda tumor adalah zat yang terdapat secara normal di dalam darah. Namun pada situasi tertentu, kadar zat tersebut dapat meningkat, seperti pada kanker. Kadar penanda tumor yang tinggi tidak memastikan diagnosis kanker, namun hanya membantu penegakkan diagnosis. Penanda tumor yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan kanker testis, yaitu:

  • Alpha-fetoprotein (AFP)
  • Beta-human chorionic gonadotropin (β-hCG)
  • Lactate dehydrogenase (LDH)

 

Stadium

Setelah menegakkan diagnosis, langkah selanjutnya yang diperlukan ialah menentukan stadium. Stadium membantu dokter untuk menentukan jenis pengobatan dan memprediksi prognosis pasien. Dalam proses menentukan stadium, berbagai pemeriksaan akan dilakukan, misalnya rontgen dada, CTscan, MRI, PET-scan, pemeriksaan penanda tumor, dan diseksi kelenjar getah bening perut.

 

Secara umum, stadium kanker testis dibagi menjadi:

  • Stadium 0:

Sel-sel abnormal ditemukan di tempat sel sperma mulai berkembang. Kadar seluruh penanda tumor normal.

  • Stadium 1:

Kanker hanya berada di testis, belum terjadi penyebaran ke organ lain. Bila kadar penanda tumor meningkat, stadium kanker disebut 1S.

  • Stadium 2:

Kanker telah menyebar hingga kelenjar getah bening di perut.

  • Stadium 3:

Kanker telah menyebar ke organ tubuh yang lain, seperti paru-paru, hati, otak, dan tulang.

 

Kanker rekuren/kambuh adalah kanker yang kembali muncul setelah pasien dinyatakan bebas kanker. Jika kanker kambuh, terdapat beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan untuk mengetahui tingkat kekambuhannya. Pemeriksaan tersebut biasanya serupa dengan yang dilakukan pada saat diagnosis kanker testis pertama kali.


Penatalaksanaan        

Kanker testis memiliki salah satu angka kesembuhan tertinggi dari semua kanker, yaitu sekitar  90–95%. Bahkan, laki-laki dengan faktor risiko yang kurang baik memiliki kemungkinan 50% untuk sembuh. Pengobatan kanker testis dapat berupa pembedahan (operasi), radioterapi, kemoterapi, maupun kombinasi. Pemilihan terapi ini bergantung pada jenis dan stadium kanker; kondisi kesehatan secara umum; serta preferensi penderita.

  • Pembedahan (operasi)

Pembedahan yang dapat dilakukan pada kanker testis, yaitu:

  • Operasi untuk mengangkat seluruh testis (orkiektomi inguinal radikal) 

Operasi ini merupakan bagian dari diagnosis dan pengobatan utama untuk hampir semua kanker testis. Seluruh testis akan dikeluarkan melalui sayatan pada pangkal paha. Lalu, sebuah testis buatan dapat dimasukkan untuk keperluan kosmetik bila diinginkan. Pada kasus kanker testis stadium awal, operasi pengangkatan testis mungkin merupakan satu-satunya perawatan yang dibutuhkan. Jika seorang laki-laki masih memiliki satu testis setelah operasi, kehidupan seks dan fungsi reproduksi seharusnya tetap normal. Bila kedua testis harus diangkat, pasien akan menjadi mandul karena tidak dapat menghasilkan sperma.

  • Operasi untuk mengangkat kelenjar getah bening terdekat 

Umumnya, dokter bedah selalu berusaha menghindari kerusakan saraf di sekitar kelenjar getah bening saat prosedur ini. Namun, kerusakan saraf ini tidak dapat dihindari dalam beberapa kasus. Saraf yang rusak dapat menyebabkan kesulitan ejakulasi, tetapi tidak mengganggu ereksi.

Selain operasi, dibutuhkan radioterapi atau kemoterapi pada kanker yang telah menyebar ke organ lain.

  • Radioterapi

Prosedur ini menggunakan sinar radiasi berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker, sehingga ukuran tumor mengecil. Radioterapi dapat dilakukan setelah operasi pengangkatan testis untuk mencegah kambuhnya kanker. Efek samping radioterapi adalah mual, diare, kelelahan, kekakuan otot dan sendi, kulit memerah, serta iritasi di daerah perut dan pangkal paha. Terapi radiasi juga mungkin menyebabkan kemandulan sementara.

  • Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat untuk membunuh sel kanker. Biasanya, pasien harus menjalani kemoterapi setelah operasi. Tujuannya untuk memberantas seluruh sel kanker di dalam tubuh. Efek samping kemoterapi bergantung pada obat yang digunakan. Efek samping yang biasanya timbul adalah kelelahan, anemia, mual, penurunan nafsu makan, rambut rontok, rasa kebas, dan mudah terkena penyakit infeksi. Namun, efek samping tersebut dapat diringankan dengan perawatan dan obat-obatan. Dalam beberapa kasus, kemoterapi dapat menyebabkan kemandulan yang menetap.

Mengingat ketiga jenis pilihan pengobatan dapat mengakibatkan kemandulan, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter mengenai solusi penyimpanan sperma (biasanya pada bank sperma) agar tetap dapat memiliki keturunan di kemudian hari. Sedangkan untuk mempertahankan dorongan seksual, diperlukan terapi hormon testosteron.

 

Pencegahan

Sampai saat ini belum ada cara untuk mencegah kanker testis. Deteksi dini dapat dilakukan dengan pemeriksaan testicular self-examination (TSE) secara teratur. Pemeriksaan tersebut merupakan metode cepat dan sederhana untuk membantu mengenali perubahan abnormal pada testis lebih dini. TSE direkomendasikan oleh National Cancer Institute untuk dilakukan secara rutin setiap bulan.

TSE yang baik dilakukan setelah mandi air hangat. Hal ini disebabkan karena air hangat dapat melemaskan skrotum sehingga lebih mudah untuk menemukan kelainan. Bila dilakukan secara teratur, seseorang akan dapat mengetahui testis yang normal dan menyadari adanya perubahan yang tidak biasa. Bila ditemukan perubahan pada testis, sebaiknya  segera berkonsultasi dengan dokter agar dapat diperiksa lebih lanjut.

 

https://www.andrologyaustralia.org/wp-content/uploads/2011/08/testicular-cancer-selfexamination.png File:Testicular Self Examination.png

Gambar 2. Cara Melakukan TSE

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Testicular_Self_Examination.png

 

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menjalani pola hidup sehat, yaitu:

    • Mengonsumsi makanan yang sehat (diet tinggi buah, sayuran, ikan, serta rendah lemak)
    • Belajar untuk dapat merilekskan diri
    • Berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol
    • Tidur malam yang nyenyak dan cukup
    • Berolahraga

 

Follow-Up

Seorang laki-laki yang telah menyelesaikan pengobatan kanker testis, disarankan untuk melakukan pemeriksaan, setidaknya selama 5 tahun. Pemeriksaan ini membantu untuk mengetahui efektivitas pengobatan dan mendeteksi kemungkinan kanker kambuh.  Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:

• Rontgen

• CT-scan

• Tes penanda tumor

 

Prognosis

Kanker testis memiliki prognosis yang baik. Tingkat kelangsungan hidup laki-laki yang didiagnosis dengan stadium I 98–99% dan stadium II >90%. Sementara itu, tingkat kesembuhan stadium III bervariasi antara 50–80%. Tidak seperti beberapa kanker lainnya, kanker testis jarang kambuh setelah 5 tahun kemudian.