Kanker Prostat

Oleh : dr. Edwin Sukmadja
Share

Pendahuluan

Kanker prostat merupakan keganasan pada prostat yang ditandai adanya pertumbuhan sel yang tidak terkontrol. Prostat adalah kelenjar kecil yang merupakan bagian dari sistem reproduksi laki-laki. Sistem reproduksi pada laki-laki mencakup berbagai organ seperti testis (kelenjar yang menghasilkan hormon testosteron), skrotum (kantung kemaluan yang membungkus testis), penis, prostat, serta organ seks tambahan lain.

Prostat normal pada orang dewasa berukuran kurang lebih sebesar biji kenari dengan berat sekitar 30 gram. Kelenjar prostat terletak di rongga panggul laki-laki, tepatnya di bawah kandung kemih dan di depan rektum (bagian usus yang terbawah), serta mengelilingi uretra (saluran kencing bagian bawah). Prostat berfungsi untuk menghasilkan cairan (semen) yang berperan dalam pergerakan sel sperma dan berfungsi untuk melindungi sperma dari lingkungan yang asam di dalam vagina. Otot pada prostat juga membantu mendorong cairan semen ke dalam uretra saat proses ejakulasi (pengeluaran semen oleh saluran reproduksi pria).

 

 

Epidemiologi

Menurut data dari Global Burden of Cancer Study (GLOBOCAN) 2012, kanker prostat menempati urutan keempat dari sepuluh kanker terbanyak di seluruh dunia . Kanker prostat merupakan kanker nomor dua tersering pada pria setelah kanker paru-paru. Pada tahun 2012 diperkirakan terdapat sekitar 1,1 juta kasus kanker prostat di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 307 ribu jiwa. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 diperkirakan terdapat sekitar 25.012 jiwa penderita kanker prostat di Indonesia (0,2%).

 

Jenis Kanker Prostat

Salah satu pertimbangan dokter dalam menentukan pilihan pengobatan kanker prostat adalah dari jenis kanker prostat. Berdasarkan gambaran mikroskopik atau histopatologisnya, kanker prostat terdiri dari adenokarsinoma prostat, kanker prostat tipe sel transisional, kanker prostat tipe sel skuamous, serta berbagai jenis kanker prostat lain yang lebih jarang terjadi (tipe small cell, tipe sarcoma prostat, dll). Pada adenokarsinoma prostat, sel kanker berasal dari sel-sel glandular (kelenjar) pada prostat. Pada kanker prostat tipe sel transisional, sel kanker berasal dari sel yang melapisi uretra (saluran kencing bagian bawah) dan kandung kemih. Pada kanker prostat tipe sel skuamous, sel kanker berasal dari sel pipih yang menyelimuti prostat. Jenis kanker prostat tersering adalah adenokarsinoma prostat, mencakup lebih dari 98% dari seluruh kanker prostat.

 

Faktor Risiko

Penyebab kanker prostat masih belum diketahui secara pasti dan dapat terkait adanya mutasi gen tertentu. Akan tetapi, faktor-faktor berikut diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker prostat, seperti:

  1. Usia

Risiko mengalami kanker prostat meningkat seiring dengan pertambahan usia, khusunya pada pria dengan usia di atas 50 tahun. Kanker prostat jarang terjadi pada pria berusia kurang dari 40 tahun. Sekitar 6 dari 10 kasus kanker prostat ditemukan pada pria dengan usia lebih dari 65 tahun.

  1. Ras

Kanker prostat lebih sering terjadi pada pada ras Afrika-Amerika dibandingkan orang Asia.

  1. Riwayat keluarga

Risiko mengidap kanker prostat akan meningkat pada pria yang memiliki anggota keluarga (ayah atau saudara kandung) yang pernah mengidap kanker prostat. Pria dengan riwayat keluarga yang terdiagnosis kanker prostat pada usia 50 tahun memiliki risiko hingga 2 kali lipat terkena kanker prostat. Risiko dapat meningkat menjadi 7-8 kali lipat pada pria dengan dua atau lebih keluarga yang menderita kanker prostat.

  1. Pola makan dan gaya hidup

Menurut beberapa penelitian, kanker prostat dapat dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup. Pola makan tinggi lemak jenuh, tinggi daging merah, rendah buah, rendah sayur, rendah tomat, atau rendah ikan, serta gaya hidup tidak sehat (konsumsi minuman beralkohol dan memiliki kebiasaan merokok) dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat.

 

 

Gejala

Secara umum, kanker prostat akan sulit diketahui pada stadium awal karena bersifat asimtomatik atau tanpa memiliki gejala yang spesifik. Pada beberapa kasus dapat muncul gejala awal yang harus Anda waspadai, seperti:

  1. Ingin buang air kecil lebih sering, terutama ketika malam hari
  2. Sulit memulai proses buang air kecil atau sulit menahan buang air kecil
  3. Pancaran air kencing saat buang air kecil lemah, menetes, dan sering terputus-putus
  4. Buang air kecil terasa nyeri atau panas seperti terbakar
  5. Kesulitan ereksi dan nyeri saat ejakulasi
  6. Darah di air kencing atau air mani
  7. Nyeri atau kaku di pinggang bagian bawah, paha, punggung bawah, atau panggul

Apabila Anda memiliki gejala tersebut, bukan berarti Anda pasti mengalami kanker prostat. Beberapa kondisi seperti prostatitis (radang pada prostat) dan pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH) juga dapat menyebabkan gejala di atas. Oleh karena itu, apabila mengalami gejala tersebut, maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Umumnya, kanker prostat akan menimbulkan gejala pada stadium lanjut saat sel kanker prostat sudah menyebar ke organ lain di tubuh. Kanker prostat paling sering menyebar ke tulang, kelenjar getah bening, paru-paru, hati, dan otak. Gejala yang dialami pada kanker prostat stadium lanjut biasanya berupa nyeri tulang, sesak napas, lemas, atau patah tulang tanpa sebab yang jelas.

 

Penentuan Diagnosis

Kanker prostat pada stadium awal hampir selalu tanpa gejala dan seringkali diketahui saat stadium lanjut. Oleh karena itu, dianjurkan kepada semua pria usia di atas 50 tahun untuk melakukan pemeriksaan prostate-specific antigen (PSA). Pada pria yang memiliki riwayat keluarga terkena kanker prostat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan PSA lebih awal, yaitu pada usia 40 tahun.

Diagnosis yang tepat sangat diperlukan agar penanganan dapat dilakukan dengan optimal. Diagnosis dilakukan dengan tahap sebagai berikut:

  1. Anamnesis

Anamnesis adalah sesi tanya jawab antara pasien dan dokter untuk memperoleh infromasi seperti gejala, riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat, perjalanan penyakit, serta faktor-faktor risiko kanker prostat pada pasien. Tujuannya adalah memperkirakan kemungkinan penyakit yang dialami pasien.

  1. Pemeriksaan fisik sederhana

Pada pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa kondisi umum pasien dan mengecek organ yang dicurigai bermasalah, salah satunya adalah pemeriksaan colok dubur untuk mendeteksi pembesaran prostat. Pada pemeriksaan colok dubur, dokter akan memasukkan satu jari ke dalam lubang pantat pasien untuk meraba prostat. Apabila pada pemeriksaan colok dubur ditemukan prostat yang berbenjol-benjol, keras, dan berbentuk tidak simetris, maka pasien dapat dicurigai terkena kanker prostat. Pasien yang dicurigai memiliki kanker prostat dari hasil pemeriksaan colok dubur memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan colok dubur sangat penting karena hampir 18% dari kanker prostat dapat terdeteksi hanya dari colok dubur. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan perut untuk menilai adanya pembesaran organ (hati/limpa), serta pemeriksaan fisik lain.

  1. Pemeriksaan tambahan/penunjang

Apabila dalam dua tahap sebelumnya terdapat kecurigaan ke arah kanker prostat, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan tambahan untuk menunjang diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan adalah:

  1. Pemeriksaan prostate-specific antigen (PSA)

Prostate-specific antigen (PSA) merupakan jenis protein yang diproduksi oleh sel penghasil cairan pada prostat. Kadar PSA dapat diperiksa melalui sampel darah pasien. PSA dapat dideteksi pada laki-laki normal dalam jumlah rendah. Pada kondisi tertentu, seperti kanker prostat, pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH), dan prostatitis, kadar PSA akan meningkat di dalam darah. Nilai PSA dikatakan meningkat bila kadarnya dalam darah mencapai lebih dari 4 ng/mL. Akan tetapi, beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa kadar PSA darah lebih dari 3 ng/mL sudah dapat mengindikasikan adanya kelainan pada prostat, terutama pada pria dengan usia yang lebih muda.

Kadar PSA darah yang tinggi tidak dapat memastikan seseorang terkena kanker prostat. Semakin tinggi kadar PSA, maka semakin besar pula kecurigaan orang tersebut terkena kanker prostat. Berdasarkan penelitian, pria dengan kadar PSA di antara 4-10 ng/mL memiliki peluang 25% terkena kanker dibandingkan orang dengan kadar PSA darah <4 ng/mL. Apabila kadar PSA >10 ng/mL, maka peluang terkena kanker prostat sekitar 50%. Selain untuk mendeteksi kanker prostat, kadar PSA darah digunakan untuk menentukan stadium atau derajat keparahan dan memantau keberhasilan pengobatan kanker prostat.

  1. Pemeriksaan laboratorium darah

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan terkait kanker prostat dan berperan untuk mengetahui kondisi pasien sebelum memulai tindakan lain, seperti biopsi, pembedahan, dan pengobatan. Uji darah lengkap dilakukan untuk mengetahui jumlah sel darah (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit) pada tubuh. Jumlah sel darah dapat meningkat atau menurun akibat kanker atau masalah kesehatan lain. Selain itu, pemeriksaan lain adalah uji fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah, dan lainnya. Pemeriksaan alkali fosfatase juga diperlukan untuk mendeteksi penyebaran kanker prostat ke tulang. Peningkatan alkali fosfatase dalam darah menandakan adanya penyebaran ke tulang pada 70% kasus.

  1. Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan radiologi seperti USG transrektal (transrectal ultrasonography/TRUS) dan MRI prostat dilakukan apabila dari pemeriksaan colok dubur dan PSA darah ditemukan kecurigaan ke arah kanker prostat. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis. Pada pemeriksaan USG transrektal (TRUS), dokter akan memasukkan alat kecil ke dalam lubang dubur pasien untuk mengetahui kondisi prostat pasien dan dapat dilakukan bersamaan dengan proses biopsi prostat. Selain itu, pemeriksaan seperti rontgent, USG, CT-scan, bone scan/bone scintigraphy, atau MRI juga diperlukan untuk mendeteksi penyebaran kanker ke organ lain di tubuh.

  1. Biopsi prostat

Pemeriksaan biopsi prostat berperan dalam penegakkan diagnosis kanker prostat dan untuk mengetahui jenis kanker prostat yang dialami pasien. Biopsi prostat dilakukan apabila terdapat kecurigaan kanker prostat dari anamnesis, pemeriksaan colok dubur, kadar PSA darah, dan temuan penyebaran kanker prostat.

Tindakan biopsi prostat dapat dilakukan dengan bantuan TRUS atau tanpa TRUS. Sebelum proses biopsi, pembiusan akan diberikan untuk menghilangkan rasa nyeri saat prosedur biopsi. Prosedur biopsi pada kanker prostat dilakukan tanpa membelah atau menyayat perut pasien, tetapi menggunakan jarum kecil yang dimasukkan ke dalam lubang anus pasien. Jarum kecil tersebut berfungsi untuk mengambil sedikit jaringan prostat untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Prosedur ini memiliki tingkat komplikasi yang sangat rendah apabila dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat biopsi prostat seperti perdarahan pada urin, sedikit perdarahan dari lubang anus, dan infeksi. Dokter mungkin akan meminta biopsi prostat ulang setelah 3-6 bulan apabila dibutuhkan.

  1. Biopsi kelenjar getah bening

Pada biopsi kelenjar getah bening (lymphadenectomy), satu atau lebih kelenjar getah bening diangkat dan diperiksa di laboratorium untuk melihat keberadaan sel kanker. Prosedur ini jarang dilakukan dan hanya dikerjakan jika terdapat kecurigaan penyebaran kanker prostat ke kelenjar getah bening.

 

Stadium Kanker Prostat

            Stadium kanker digunakan untuk menentukan seberapa besar dan seberapa jauh kanker prostat tumbuh dan menyebar dalam tubuh. Pembagian stadium pada kanker prostat ditentukan berdasarkan kriteria dari American Joint Committee on Cancer (AJCC). Pembagian stadium kanker prostat menggunakan kode T, N, dan M. Dokter akan memberikan nilai pada masing-masing kode untuk menentukan stadium kanker. Penilaian TNM sangat penting untuk menentukan pengobatan kanker prostat.

            Penilaian TNM dilakukan berdasarkan lima hal: ukuran tumor utama (T), penyebaran kanker ke kelenjar getah bening / nodus limfa (N), penyebaran (metastasis) sel kanker ke bagian tubuh lain (M), kadar PSA pada saat terdiagnosis kanker prostat, serta hasil biopsi prostat (dinilai menggunakan sistem skoring Gleason). Sistem skor Gleason merupakan sistem penilaian derajat kanker prostat berdasarkan pemeriksaan histopatologis dengan mikroskop.

            Berikut adalah cara penilaian stadium TNM:

  1. Kategori T (Tumor)

Terdapat 4 kategori untuk mendeskripsikan ukuran dan pembesaran tumor secara local.

Kategori

Subkategori

Tx

Tumor tidak dapat dinilai

 

T0

Tumor tidak dapat ditemukan

 

T1

Tumor tidak dapat diraba dengan pemeriksaan colok dubur dan tidak terlihat dengan USG transrektal

T1a

Tumor ditemukan secara tidak sengaja saat prosedur pembedahan prostat (TURP) pada pasien pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH). Sel kanker <5% sel prostat yang dibedah.

T1b

Tumor ditemukan secara tidak sengaja saat prosedur pembedahan prostat (TURP) pada pasien pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia/BPH). Sel kanker > 5% sel prostat yang dibedah.

T1c

Tumor ditemukan dengan biopsi yang dilakukan karena peningkatan kadar PSA

T2

Tumor dapat diraba dengan pemeriksaan colok dubur atau dapat dilihat dengan USG transrektal. Tumor terbatas di kelenjar prostat.

T2a

Tumor terbatas pada kurang dari setengah bagian pada salah satu sisi kelenjar prostat (setengah sisi kiri atau setengah sisi kanan prostat)

T2b

Tumor mengenai lebih dari setengah bagian pada salah satu sisi kelenjar prostat, tetapi tidak mengenai kedua sisi prostat.

T2c

Tumor mengenai kedua sisi prostat

T3

Tumor membesar dan tumbuh hingga keluar dari kelenjar prostat

T3a

Tumor membesar hingga keluar kelenjar prostat tetapi belum mencapai vesikula seminalis.

T3b

Tumor membesar hingga mengenai vesikula seminalis

T4

Tumor tumbuh hingga mengenai organ lain selain vesikula seminalis, seperti: kandung kemih, dinding panggul, rectum (usus bagian bawah), dan otot saluran kencing.

 

 

 

  1. Kategori N

Kategori N menjelaskan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening sekitar. Cara terbaik untuk menentukan stadium N adalah dengan operasi limfadenektomi (mengambil jaringan kelenjar getah bening untuk diperiksa lebih lanjut).

 

Kategori

Deskripsi

Nx

Kelenjar getah bening tidak diperiksa

N0

Sel kanker tidak menyebar ke kelenjar getah bening

N1

Sel kanker menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening

 

  1. Kategori M

Kategori M menjelaskan penyebaran kanker ke organ lain di tubuh. Kanker prostat paling sering menyebar ke kelenjar getah bening yang jauh dari prostat, tulang, paru-paru, dan hati. Selain itu, pada beberapa kasus yang jarang, kanker prostat juga dapat menyebar ke otak dan kulit.

 

Kategori

Subkategori

M0

Kanker tidak menyebar melewat kelenjar getah bening

 

 

M1

Kanker menyebar melewati kelenjar getah bening sekitar prostat

M1

Kanker menyebar ke kelenjar getah bening yang jauh dari prostat

 

 

M2

Kanker menyebar ke tulang

 

 

M3

Kanker menyebar ke organ lain selain tulang

 

Berdasarkan kriteria TNM tersebut dapat ditentukan stadium kanker prostat sebagai berikut:

Stadium

Kriteria

TNM

Skor Gleason

Kadar PSA darah

I

T1-T2a, N0,M0

≤ 6

<10

IIA

T1, N0, M0

7

<20

T1, N0, M0

≤ 6

10-20

T2a-T2b, N0,M0

≤7

<20

IIB

T2c, N0, M0

berapapun

berapapun

 

T1-T2, N0, M0

berapapun

>20

 

T1-T2, N0, M0

≥8

berapapun

III

T3, N0, M0

berapapun

berapapun

IV

T4, N0, M0

berapapun

berapapun

 

T1-T4, N1, M0

berapapun

berapapun

 

T1-T4, N0-N1, M1

berapapun

berapapun

 

Terapi Kanker Prostat

Setelah seseorang didiagnosis kanker prostat, dokter akan berdiskusi dengan pasien untuk menentukan terapi yang sesuai. Terdapat berbagai faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan terapi kanker prostat, seperti stadium dan derajat keparahan kanker, usia, penyakit lain yang menyertai, serta fasilitas medis yang tersedia. Oleh karena itu, ketika terdiagnosis kanker prostat, pasien dan dokter sebaiknya berdiskusi untuk menentukan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Secara garis besar, pengobatan kanker prostat terdiri dari:

  1. Observasi dan konservatif

Pada langkah ini, dokter tidak memberi pengobatan terhadap kanker prostat. Dokter melakukan pemeriksaan rutin (colok dubur dan kadar PSA darah) setiap 6 bulan. Langkah ini biasanya dilakukan pada jenis kanker prostat yang berkembang lambat pada pasien usia tua dan pasien yang memiliki penyakit berat lain yang menyertai (misalnya: gangguan jantung, gangguan ginjal berat, dan gangguan hati).

  1. Pembedahan/operasi

Jenis operasi yang sering dilakukan pada kanker prostat adalah prostatektomi radikal. Pada jenis operasi tersebut, dokter bedah akan membuang seluruh kelenjar prostat pasien beserta jaringan di sekitar prostat, termasuk vesikula seminalis. Pada pembedahan ini, pasien akan terlebih dahulu dibius agar tidak merasakan nyeri selama operasi. Terdapat berbagai jenis prosedur operasi prostatektomi radikal, misalnya: retropubic approach (dokter mengiris di bagian perut bawah), perineal approach (dokter mengiris di bagian bawah bokong pasien), atau prosedur laparoskopi (dokter membuat irisan kecil di perut pasien, kemudian memasukkan alat khusus dengan kamera di ujungnya untuk melihat prostat pasien).

      Setiap tindakan kedokteran, termasuk operasi prostat, pasti memiliki risiko. Risiko pada prosedur operasi prostatektomi terutama lebih sering dialami pada pasien dengan usia tua dan pada pasien dengan penyakit berat lain yang menyertai. Risiko yang mungkin muncul pada saat operasi prostatektomi radikal adalah infeksi pada luka operasi, reaksi pada anestesi (pembiusan), perdarahan, hingga kematian. Akan tetapi, risiko dapat diminimalisasi dengan prosedur persiapan operasi yang baik, kolaborasi tim bedah, pengalaman dokter, serta keterampilan tim bedah.

      Setelah menjalani operasi prostatektomi radikal terdapat beberapa efek samping yang mungkin dialami oleh pasien, seperti:

  1. Sulit menahan kencing

Efek ini tidak selalu terjadi pada pasien dengan usia lebih muda. Efek sulit menahan kencing akan menghilang setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.

  1. Disfungsi ereksi (impotensi)

Efek ini dapat muncul secara permanen atau sementara. Dokter dapat memberikan beberapa obat-obatan untuk membantu proses ereksi pasien.

  1. Infertil (mandul)

Prosedur prostatektomi radikal juga memotong saluran vas deferens (saluran sperma dari testis ke saluran kencing). Setelah operasi prostatektomi pasien tidak dapat mengeluarkan sperma saat ejakulasi.

  1. Pengurangan ukuran penis

Pada beberapa pasien dapat terjadi pemendekan ukuran penis setelah operasi prostatektomi.

  1. Radioterapi

Prosedur radioterapi menggunakan sinar radiasi energi tinggi untuk merusak DNA sel kanker. Terapi ini bertujuan untuk membunuh sel kanker dan menghentikan pembentukan sel kanker baru. Radioterapi juga dapat membunuh dan merusak sel tubuh normal di dalam tubuh. Akan tetapi, dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran kerusakan sel tubuh yang normal dapat dikurangi seminimal mungkin. Efek samping yang mungkin muncul adalah kelelahan, kulit terasa kering, sensasi perih atau terbakar pada lokasi penyinaran, diare, nyeri saat berkemih, serta disfungsi ereksi (impotensi).

  1. Krioterapi

Krioterapi (cryotherapy) menggunakan suhu yang sangat dingin untuk membekukan dan membunuh sel kanker prostat. Krioterapi biasanya digunakan pada kanker prostat stadium awal dan pada kasus kekambuhan kanker prostat. Efek samping yang mungkin muncul adalah darah pada urin, bengkak pada penis atau testis, nyeri saat berkemih, dan disfungsi ereksi.

  1. Terapi hormonal

Terapi hormonal bertujuan untuk menurunkan kadar hormon androgen di tubuh pasien serta mencegah hormon tersebut mencapai prostat. Hormon androgen merupakan hormon yang banyak terdapat di laki-laki. Hormon androgen seperti testosteron dan dihidrotestosteron diketahui memicu pertumbuhan sel kanker prostat. Terapi hormonal berguna untuk memperkecil dan memperlambat pertumbuhan sel kanker prostat. Terapi hormonal biasanya digunakan sebagai terapi tambahan pada jenis kanker prostat yang berat, sudah menyebar ke organ lain, atau pada jenis kanker prostat yang kambuh setelah diterapi.

Terdapat berbagai jenis terapi hormonal. Pemilihan terapi hormonal ditentukan berdasarkan kondisi pasien, stadium kanker, serta ketersediaan fasilitas. Contoh terapi hormonal pada kanker prostat adalah: operasi orchidectomy (pengangkatan testis), terapi hormonal implan (LNRH agonis), terapi hormonal suntik (LNRH antagonis), dan terapi hormonal oral (menggunakan obat minum).

Efek samping yang mungkin terjadi akibat penggunaan terapi hormonal yaitu: berkurangnya gairah seksual, disfungsi ereksi (impotensi), ukuran penis dan testis mengecil, nyeri dan pembesaran pada dada, osteoporosis (pengeroposan tulang), anemia, kehilangan massa otot, penambahan berat badan, kelelahan, depresi, dan masalah konsentrasi. Efek samping tersebut dapat dicegah atau dikurangi dengan penanganan yang tepat.

  1. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan terapi dengan obat-obatan yang mengganggu siklus hidup sel kanker sehingga sel tersebut tidak dapat bertambah banyak. Obat kemoterapi pada kanker prostat ada yang berbentuk pil maupun melalui suntikan. Kemoterapi diberikan pada beberapa siklus terapi diikuti dengan periode istirahat. Lama dan frekuensi siklus terapi bergantung pada jenis obat yang didapat. Contoh obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi kanker prostat adalah: docetaxel, cabazitaxel, mitoxantrone, dan estramustine.

      Efek samping yang muncul akibat penggunaan obat kemoterapi sangat beragam, tergantung dari jenis obat, dosis, dan respon masing-masing pasien. Efek samping yang sering dialami pasien adalah penurunan jumlah sel darah putih dan sel darah merah, mual, muntah, nafsu makan turun, diare, rambut rontok, serta nyeri pada mulut. Efek samping tersebut dapat membaik setelah kemoterapi selesai. Rambut yang rontok dapat tumbuh kembali. Selain itu, masih ada beberapa efek samping lain yang berbeda-beda pada masing-masing obat kemoterapi. Beberapa efek samping dapat dicegah dan diringankan dengan tatalaksana yang tepat.

  1. Terapi suportif

Terapi suportif pada kanker prostat meliputi pemberian obat-obatan untuk mengurangi efek samping kemoterapi dan gejala akibat kanker prostat. Jenis obat yang biasanya diberikan adalah obat antimual, analgetik (anti nyeri), penurun demam, transfusi darah, dan obat lainnya.

  1. Terapi tambahan dan alternatif (Complementary and Alternative Medicine)

Terapi tambahan dan alternatif pada kanker prostat sudah banyak diteliti dan dilakukan. Pada prinsipnya, beberapa jenis terapi tambahan dan alternatif dapat membantu pasien kanker prostat asalkan tetap disertai terapi medis. Terapi tambahan dan alternatif seperti akupuntur, terapi herbal terstandar, dan yoga dapat membantu memberikan rasa nyaman, mengurangi mual, dan meredakan nyeri akibat kanker dan terapinya. Penggunaan terapi tambahan dan alternatif sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter. Penggunaan terapi tambahan tanpa disertai dengan terapi medis dan konsultasi dengan dokter dapat mengakibatkan terapi medis menjadi tertunda dan terlambat. Akibatnya, banyak pasien kanker datang ke tenaga medis pada stadium akhir kanker dan penanganan menjadi semakin sulit.

 

Prognosis

Prognosis kanker prostat biasanya dinyatakan dalam tingkat kesintasan (survival rate). Tingkat kesintasan memberikan informasi tentang seberapa banyak orang dengan jenis dan stadium kanker yang sama berhasil bertahan hidup dalam jangka waktu tertentu (biasanya dalam jangka waktu 5 tahun) setelah terdiagnosis. Data tersebut tidak dapat memprediksi seberapa lama Anda akan hidup, tetapi akan memberi gambaran tentang kemungkinan keberhasilan terapi. Tingkat kesintasan 5 tahun merupakan persentase orang yang hidup minimal 5 tahun setelah terdiagnosis kanker. Sebagai contoh, tingkat kesintasan 5 tahun sebesar 80% berarti berdasarkan data statistik diperkirakan bahwa 80 dari 100 orang yang memiliki kanker masih bertahan hidup dalam 5 tahun setelah terdiagnosis kanker.

Secara keseluruhan, tingkat kesintasan 5 tahun pada kanker prostat yang telah diberi pengobatan dengan tepat sebesar 99%. Angka tersebut masih dapat bervariasi tergantung dari beberapa faktor. Faktor-faktor yang dapat memperburuk prognosis pasien adalah: usia, stadium kanker saat pertama terdiagnosis, kadar PSA, serta skor Gleason pasien. Untuk stadium I-III, tingkat kesintasan 5 tahun cukup baik apabila ditangani dengan tepat, yatu mencapai 99%. Akan tetapi, untuk stadium IV, tingkat kesintasan 5 tahun hanya mencapai <29%. Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi kanker prostat sedini mungkin.

Walaupun prognosis cukup baik, tetapi pasien masih memiliki risiko kekambuhan setelah pengobatan. Oleh karena itu diperlukan kontrol rutin ke dokter untuk mendeteksi kekambuhan sejak dini yaitu dengan pemeriksaan colok dubur dan pemeriksaan kadar PSA darah setiap 6-12 bulan. Selain itu, pada beberapa pasien usia <70 tahun dengan kanker prostat yang tidak dilakukan operasi prostatektomi, dianjurkan untuk melakukan biopsi prostat setiap tahun.

            Setelah menjalani terapi kanker prostat, pasien diharapkan menjalankan pola hidup yang sehat. Secara umum, para penyintas kanker prostat sebaiknya memiliki berat badan yang ideal, menerapkan pola makan yang seimbang, menghentikan rokok, serta melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan masing-masing. Pola makan seimbang pada penyintas kanker prostat meliputi diet tinggi buah, tinggi sayur dan biji-bijian, rendah lemak, rendah daging merah, serta rendah alkohol.

 

Pencegahan

Sampai saat ini belum ditemukan cara pasti untuk mencegah kanker prostat. Beberapa orang dengan kanker prostat memiiki faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti jenis kelamin, usia, keturunan, dan ras. Akan tetapi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kanker prostat, seperti menerapkan pola makan yang seimbang dan bergizi (mengurangi konsumsi daging merah dan lemak jenuh, memperbanyak konsumsi sayur dan buah), serta aktif berolahraga.

Selain itu, deteksi dini diperlukan agar kanker prostat dapat ditemukan pada stadium awal. Kanker prostat yang ditemukan pada stadium awal dan ditangani dengan tepat akan memiliki prognosis yang baik karena hasil penanganan akan lebih optimal. Oleh karena itu, dianjurkan pada pria dengan usia >50 tahun untuk melakukan pemeriksaan PSA darah. Pada pria yang memiliki riwayat keluarga yang terkena kanker prostat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan PSA lebih awal, yaitu pada usia 40 tahun.