Kanker Payudara

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

Sumber gambar: https://health.mil

Organ

Payudara merupakan struktur yang terletak pada bagian dada. Baik wanita maupun pria memiliki payudara yang sudah terbentuk saat dalam kandungan. Bedanya, pada saat remaja, hormon estrogen dan pertumbuhan pada wanita akan menyebabkan payudara berkembang. Sementara pada pria, jaringan payudara tidak akan berkembang karena tidak terangsang oleh hormon-hormon tersebut. Payudara terdiri atas kumpulan kelenjar susu yang akan menjadi aktif saat masa menyusui. Fungsi utama payudara adalah sebagai tempat produksi susu yang menjadi makanan bagi bayi.

 

Epidemiologi

Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering ditemukan di Indonesia. Data dari Pathological Based Registration di Indonesia, kanker payudara berada pada urutan pertama kanker terbanyak di Indonesia dengan jumlah 18,5%. Kanker ini juga merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada wanita. Diperkirakan setiap 12 dari 100.000 wanita Indonesia mengalami kanker payudara. Kanker payudara juga dapat ditemukan pada pria dengan frekuensi yang lebih jarang.

Sekitar 80% kasus kanker payudara baru diketahui setelah berada pada stadium lanjut. Padahal, mengetahui kanker payudara lebih awal berarti peluang kesembuhan akan semakin besar.

 

Penyebab dan faktor risiko

Beberapa faktor yang berkaitan erat dengan kanker payudara adalah jenis kelamin wanita, usia di atas 50 tahun, riwayat keluarga mengalami kanker payudara, riwayat kanker payudara sebelumnya, riwayat menstruasi dini (<12 tahun), menopause lama (>55 tahun), tidak memiliki anak, faktor hormon (KB suntik, pil hormon, atau terapi hormon estrogen), berat badan berlebih, konsumsi alkohol, dan riwayat radiasi pada dada.

 

Gejala

Gejala kanker payudara mulai muncul pada area payudara. Biasanya ditandai dengan adanya benjolan pada area tersebut. Benjolan akan tumbuh dengan cepat, dapat disertai rasa nyeri atau tanpa rasa nyeri. Apabila tumor sudah menyerang jaringan sekitar payudara, dapat muncul kelainan pada kulit, luka pada payudara, atau keluar cairan dari puting. Jika kanker payudara sudah menyebar ke kelenjar getah bening, dapat terlihat benjolan di ketiak, dada, atau lengan.

Apabila sudah menyebar ke organ lainnya, kanker akan menyebabkan keluhan-keluhan pada organ-organ tersebut. Sebagai contoh, penyebaran kanker ke paru-paru akan menimbulkan keluhan sesak. Sementara itu, penyebaran ke tulang akan menyebabkan keluhan berupa nyeri tulang. Selain itu, kanker payudara dapat disertai keluhan lain, misalnya tidak nafsu makan, demam ringan, berat badan berkurang, dan rasa lemas.

 

Skrining dan deteksi dini

Skrining dan deteksi dini kanker payudara bertujuan untuk mengetahui kanker payudara pada stadium awal. Semakin dini kanker payudara ditemukan, pengobatan yang diberikan akan lebih maksimal sehingga kesempatan sembuh lebih besar. Cara untuk melakukan deteksi dini kanker payudara dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Periksa Payudara Sendiri (SADARI)

SADARI merupakan pemeriksaan yang paling praktis. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh setiap wanita sejak usia 20 tahun. SADARI dilakukan rutin satu minggu setelah hari pertama haid setiap bulan. Tujuannya adalah untuk mengetahui adanya kelainan pada payudara, misalnya benjolan, luka, atau kelainan pada kulit maupun puting.

  • Periksa Payudara Klinis (SADANIS)

SADANIS dilakukan oleh petugas kesehatan yang terlatih. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan minimal tiga tahun sekali atau jika ditemukan kelainan pada pemeriksaan SADARI.

  • Skrining mamografi

Skrining mamografi menggunakan sinar X-ray untuk melihat adanya kelainan dalam payudara. Pemeriksaan ini memegang peranan penting karena dapat melihat benjolan kecil yang sulit diraba. Mamografi cukup akurat untuk melihat adanya kelainan pada payudara. Di Indonesia, skrining mamografi dianjurkan untuk dilakukan setelah usia 40 tahun. Hal ini dikarenakan payudara pada usia yang lebih muda memiliki struktur lebih padat. Payudara yang lebih padat akan menyulitkan pembacaan hasil mamografi. Sama seperti SADARI, skrining mamografi sebaiknya dilakukan seminggu setelah hari pertama haid terakhir untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan memberikan hasil yang optimal.

 

Berikut adalah langkah-langkah SADARI:

  1. Berdiri di depan cermin. Perhatikan dan bandingkan kedua payudara. Ubah posisi lengan menjadi terjuntai ke bawah, berkacak pinggang, dan diangkat ke atas sambil membandingkan kedua payudara.
  2. Langkah selanjutnya dilakukan pada posisi berbaring, raba seluruh payudara secara melingkar dari luar ke arah dalam payudara.
  3. Terakhir, meraba payudara dalam keadaan basah dan licin oleh sabun di kamar mandi. Rabalah payudara dan perhatikan kelainan di payudara.
  4. Perhatikan dan bandingkan kedua payudara: bentuk, ukuran, dan warna kulitnya. Perhatikan pula posisi dan bentuk puting, apakah bengkak atau masuk ke dalam. Perhatikan pula adanya luka pada kulit payudara atau keluar cairan dari puting.

Langkah-langkah pemeriksaan SADARI ini juga dapat diminta untuk diajarkan oleh petugas kesehatan yang terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan.

 

Diagnosis

Wanita dengan benjolan di payudara sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan tanya-jawab lebih mendalam untuk mengetahui adanya gejala dan faktor risiko. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui letak tumor dan tanda-tanda lainnya. Pemeriksaan akan dilakukan pada payudara, daerah sekitar payudara, dan keseluruhan badan.

Apabila benjolan dicurigai bersifat ganas, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan lanjutan dapat berupa pemeriksaan darah, radiologi, maupun patologi.

Pemeriksaan radiologi bertujuan untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai tumor yang terdapat di payudara serta penyebarannya. Pemeriksaan radiologi yang dapat digunakan adalah USG, MRI, hingga PET-scan.

Pemeriksaan patologi dilakukan dengan cara melihat sampel jaringan yang diambil melalui biopsi dengan mikroskop. Pemeriksaan ini penting dilakukan pada kasus tumor payudara. Dari pemeriksaan patologi, dapat diketahui sifat (jinak atau ganas) tumor. Apabila ditemukan bahwa tumor bersifat ganas, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan molekuler untuk mengetahui jenis kanker payudara.

 

Klasifikasi

Klasifikasi kanker payudara dapat dilakukan berdasarkan tiga aspek, yaitu stadium umum, gambaran jaringan, dan penanda biomolekuler. Ketiga klasifikasi ini berdiri sendiri dan menggambarkan peluang kesembuhan dari seorang pasien.

  1. Stadium umum

Sistem penentuan stadium berdasarkan penilaian TNM yang dikeluarkan oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC)/Union for International Cancer Control (UICC). Sistem ini menilai ukuran kanker pada payudara (Tumor), keterlibatan kelenjar getah bening di sekitar payudara (Nodus), dan penyebaran jauh kanker (Metastasis). Kombinasi TNM ini bertujuan untuk mengetahui stadium kanker payudara, mulai dari stadium 0-IV. Semakin besar ukuran tumor payudara, semakin banyak keterlibatan kelenjar getah bening di sekitar payudara, dan adanya penyebaran jauh kanker, maka semakin berat pula stadium kanker.

  1. Gambaran jaringan

Gambaran jaringan kanker juga menentukan peluang kesembuhan kanker. Jaringan yang lebih tidak beraturan menandakan jenis kanker yang lebih berat. Pemeriksaan gambaran jaringan dilakukan dengan melihat sampel jaringan hasil biopsi di bawah mikroskop. Jaringan tersebut kemudian dinilai bentuk dan gambarannya. Kemudian dilaporkan sebagai grade 1-3. Grade 1 adalah derajat kanker payudara yang paling ringan, sementara grade 3 adalah yang paling berat.

  1. Penanda biomolekuler

Seiring dengan perkembangan pengobatan kanker, pemeriksaan penanda biomolekuler semakin sering dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan metode imunohistokimia (IHK). Pemeriksaan IHK yang standar dilakukan yaitu untuk melihat adanya ER, PR, HER2, dan Ki-67. Keempat pemeriksaan IHK tersebut bertujuan untuk mengetahui adanya ekspresi penanda sel kanker.

Kanker dengan jenis ER, PR, dan HER2 negatif (disebut juga triple-negative) ditemukan pada 15% kasus kanker payudara. Kanker triple-negative ini merupakan kanker dengan peluang kesembuhan yang paling kecil dan menandakan respons yang buruk terhadap pengobatan.

 

Pengobatan

Pemilihan pengobatan kanker payudara sangat tergantung luas dan beratnya kanker. Selain itu, hasil pemeriksaan biomolekuler juga turut menentukan jenis pengobatan. Sebelum memulai pengobatan, perlu ditimbang untung dan rugi dari pengobatan. Hal ini dikarenakan efek samping yang cukup besar. Faktor yang dipertimbangkan antara lain adalah usia, adanya penyakit lain, biaya, dan kualitas hidup yang diharapkan.

Secara umum, pengobatan kanker payudara adalah sebagai berikut:

  1. Pembedahan

Terapi ini memiliki berbagai tujuan, antara lain:

  • Untuk mengangkat kanker pada payudara dan jaringan sekitarnya.
  • Sebagai terapi hormon dengan mengangkat organ produksi hormon seperti ovarium, kelenjar adrenal, dan sebagainya.
  • Untuk mengatasi kanker payudara yang timbul kembali atau sudah menyebar.
  • Sebagai terapi rekonstruksi yang bertujuan kosmetik akibat efek samping pengobatan kanker.
  1. Kemoterapi

Kemoterapi yang diberikan dapat berupa obat tunggal ataupun kombinasi beberapa obat. Umumnya, kemoterapi diberikan bertahap sebanyak 6–8 siklus. Hasil pemeriksaan penanda biomolekuler IHK akan menentukan jenis obat kemoterapi yang diberikan.

  1. Terapi hormon

Terapi ini hanya bermanfaat pada kasus kanker dengan penanda biomolekuler, yaitu ER dan PR yang positif. Terapi ini dapat diberikan pada kanker payudara stadium I hingga IV.

  1. Terapi target

Terapi target berupa anti-HER2 diberikan pada kasus dengan pemeriksaan penanda biomolekular HER2 yang positif. Terapi target anti-HER2 (Herceptin) biasanya digunakan untuk kanker payudara stadium awal dan memiliki peluang kesembuhan yang besar. Terapi ini direkomendasikan untuk diberikan setiap 3 minggu selama satu tahun.

  1. Terapi radiasi

Radioterapi memegang peranan penting sebagai terapi adjuvan (terapi tambahan) atau terapi paliatif (terapi untuk meredakan gejala).

 

Prognosis

Kanker payudara memiliki prognosis (peluang kesembuhan) yang baik jika ditemukan pada stadium awal. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) selama 5 tahun pada kanker payudara stadium I sebesar 100%, stadium II sebesar 92%, stadium III sebesar 72%, dan stadium IV sebesar 22%. Oleh karena itu, skrining dan deteksi dini kanker payudara berperan penting dalam menentukan kesembuhan.

Selain stadium, gambaran jaringan kanker dan subtipe kanker berdasarkan penanda biomolekuler juga menentukan prognosis. Subtipe yang lebih responsif terhadap pengobatan (penanda biomolekuler ER, PR, atau HER2 yang positif) menandakan peluang kesembuhan yang lebih baik.

 

Pencegahan

Pencegahan kanker payudara dapat dilakukan dengan mengurangi atau meniadakan faktor risiko kanker payudara. Beberapa faktor risiko memang sulit dihindari karena bersifat bawaan. Jika memiliki risiko kanker payudara yang tidak dapat dihindari, ada baiknya lebih memperhatikan kelainan pada payudara dengan melakukan SADARI.

Beberapa faktor risiko kanker payudara dapat dihindari dengan cara mempertahankan berat badan ideal, tidak mengonsumsi alkohol, atau menghindari radiasi jika tidak diperlukan.