Kanker Paru

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

Sekilas organ

Paru-paru, organ yang tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Paru-paru memegang peranan kunci dalam sistem pernapasan karena mampu “menarik” oksigen dari udara bebas. Paru-paru juga menjadi tempat pertukaran oksigen dengan gas karbon dioksida (gas buangan yang tidak diperlukan tubuh), dari dan ke dalam aliran darah. Oksigen inilah yang dibawa oleh sel darah merah dalam aliran darah ke seluruh sel tubuh. Tanpa oksigen, sel-sel tubuh tidak bisa membuat energi dengan baik, bahkan bisa mati. Tubuh sangat memahami pentingnya oksigen ini (sekaligus pentingnya pembuangan karbon dioksida ke luar tubuh) sehingga manusia mana pun pasti tidak bisa hidup tanpa bernapas. Sedemikian pentingnya peranan paru-paru, sepasang organ vital yang terletak di dalam rongga dada ini. Selain pernapasan, paru-paru juga berperan dalam pengaturan keseimbangan kadar keasaman tubuh, produksi mediator dan enzim tubuh, hingga proses metabolisme dan pembuangan zat berbahaya.

Tugas paru-paru yang vital tersebut dapat terganggu dengan adanya penyakit. Secara garis besar, ada tiga faktor penyebab penyakit paru-paru: genetik (keturunan), agen penginfeksi (bakteri, virus, jamur, atau parasit), dan lingkungan (pola hidup yang tidak sehat termasuk di dalamnya). Salah satu penyakit berbahaya yang dapat timbul pada paru adalah kanker paru.

 

Epidemiologi

Gambar 1. Tumor pada paru manusia.

Kanker paru menduduki peringkat pertama sebagaikanker terbanyak secara global, persentasenya mencapai 13% dari semua diagnosis kanker di dunia. Selain itu, kanker paru termasuk ke dalam jenis kanker yang fatal alias mengancam nyawa. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh kanker, kanker paru menjadi “pembunuh” nomor satu pada kalangan pria (21,8%). Sementara pada wanita, kanker paru memegang peringkat kedua sebagai penyebab kematian (9,1%) bila dibandingkan dengan jenis kanker lainnya.

Tidak jauh dari reputasinya di dunia internasional, kanker paru turut menjadi masalah besar di Indonesia. Berdasarkan laporan profil kanker Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker paru menjadi penyumbang jumlah jenis kanker tertinggi pada laki-laki di Indonesia. Peringkat kanker paru sedikit merosot untuk bidang kanker terbanyak pada wanita di Indonesia. Pada wanita, kanker paru merupakan kanker nomor lima terbanyak, dikalahkan oleh kanker payudara, leher rahim dan rahim, usus besar, dan ovarium (indung telur). Global Burden of Cancer Study (GLOBOCAN) 2012, sebuah penelitian skala internasional yang mempelajari jumlah berbagai jenis kanker di dunia, mencatat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terdapat 25.322 laki-laki dan 9.374 wanita yang menjadi penderita baru kanker paru di Indonesia. Bila diubah menjadi proporsi, maka diperkirakan sebesar 25,8 dari setiap 100.000 laki-laki dan 8,1 dari setiap 100.000 wanita di Indonesia menjadi pasien baru kanker paru.

Sebuah penelitian berbasis rumah sakit pada 100 rumah sakit di Jakarta mendapatkan bahwa kanker paru merupakan kasus terbanyak pada laki-laki dan nomor empat terbanyak pada perempuan. Akan tetapi, kanker paru tetap menjadi penyumbang utama kematian akibat kanker, baik pada laki-laki maupun perempuan.

 

Penyebab

Kanker paru dimulai ketika sel-sel yang menyusun paru mengalami perubahan dan tumbuh tidak terkendali, yang kemudian membentuk suatu massa (benjolan) yang disebut sebagai tumor. Tumor ini terbagi kedalam dua golongan, yaitu tumor yang bersifat jinak (tidak bisa menyebar ke organ lain) dan tumor ganas (bisa menyebar ke organ lain). Tumor ganas inilah yang disebut dengan kanker.

Mirip seperti kanker lain pada umumnya, kanker paru timbul karena adanya penumpukan abnormalitas genetik (mutasi gen) yang ujung-ujungnya mengubah sel normal menjadi sel kanker yang ganas. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, berbagai faktor diketahui dapat mencetuskan kanker. Namun, telah diketahui bahwa faktor lingkungan memegang peran dominan sebagai penyebab kanker paru.

Mayoritas kanker paru ditimbulkan akibat merokok. Sebesar 80% kanker paru pada laki-laki dan 50% pada perempuan disebabkan oleh merokok. Selain merokok, faktor lainnya juga dapat menyebabkan kanker paru, seperti polusi udara, paparan bahan kimia industri (asbes, silika, dan lain-lain), dan radiasi. Zat-zat pencetus kanker tersebut dikenal dengan sebutan karsinogen. Setiap kali terpapar oleh zat karsinogen, sel akan mengalami perubahan struktur genetik atau mutasi genetik.

Sekitar 10–20 kali mutasi genetik diperkirakan sudah terjadi ketika tumor muncul. Walau tidak sedominan faktor lingkungan, faktor genetik turut berperan menambah risiko untuk mengalami kanker paru. Riwayat kanker paru dalam keluarga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kanker paru. Selain itu, beberapa orang cenderung lebih mudah menderita kanker paru karena memiliki kerentanan genetik untuk mengalami kanker.

 

Gejala

Pada umumnya, gejala awal kanker paru sulit dideteksi sampai sel kanker itu menyebar. Batuk merupakan gejala pertama yang umumnya dialami oleh penderita kanker paru. Sekitar 60–70% pengidap kanker paru mengeluhkan batuk lama yang tak kunjung sembuh. Seiring dengan pertumbuhan tumor, keluhan tidak lagi hanya batuk dan semakin bertambah berat, misalnya batuk darah, nyeri dada, dan sesak napas.

Apabila sel kanker telah menyebar ke organ lain, gejalanya akan semakin terlihat. Jika kanker paru sudah menginvasi dan menyebar ke jaringan sekitarnya, maka akan timbul gejala yang terkait dengan organ yang diserang. Contohnya, suara akan menjadi serak ketika kanker telah menyerang saraf dan pita suara. Penyebaran ke tulang akan menyebabkan rasa nyeri di tulang. Bila otak yang terjangkiti, maka akan muncul sakit kepala, mati rasa, hingga kejang. Penyebaran kanker ke hati dapat menyebabkan menguningnya kulit dan mata. Kanker ini juga dapat menyebar ke kulit dalam wujud benjolan di permukaan kulit.

Selain gejala di atas, penderita kanker paru dapat mengalami penurunan nafsu makan, pengurangan berat badan, dan demam hilang-timbul.

 

Deteksi dini

Hingga saat ini, belum ada metode yang sesuai untuk deteksi dini kanker paru. Rekomendasi yang disusun berdasarkan penelitian-penelitian mutakhir menyarankan agar skrining dilakukan pada orang-orang berisiko tinggi. Siapa saja yang termasuk ke dalam kelompok risiko tinggi ini?

Kelompok risiko tinggi yang pertama adalah orang-orang berusia diatas 40 tahun, dengan riwayat merokok lebih dari 30 tahun, dan sudah berhenti merokok setidaknya 15 tahun sebelum pemeriksaan. Kelompok kedua meliputi pasien berusia diatas 50 tahun, dengan riwayat merokok lebih dari 20 tahun, ditambah satu faktor risiko lainnya kanker paru. Faktor risiko lain tersebut adalah pajanan radiasi, paparan dengan bahan kimia karsinogen saat bekerja, dan pernah mengalami kanker (baik kanker paru maupun jenis kanker lainnya).

Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok risiko tinggi sebaiknya menjalani deteksi dini kanker paru dengan cara memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan skrining kanker dengan anamnesis (tanya-jawab) sesuai gejala dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan dengan alat yang dinamakan low-dose CT scan.

 

Penegakan diagnosis

Kanker paru ditegakkan setelah melalui beberapa fase, yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (contohnya pemeriksaan darah dan rontgen), dan pemeriksaan patologi (pemeriksaan sampel jaringan di bawah mikroskop pembesar). Dokter yang memeriksa akan melakukan anamnesis untuk melihat adanya tanda dan gejala yang mengarah ke kanker paru. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat segala abnormalitas yang ditemukan, misalnya mencari perubahan suara paru menggunakan stetoskop.

Apabila dari gabungan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut dicurigai mengarah ke kanker, maka dokter dapat merencanakan pemeriksaan penunjang, seperti bronkoskopi, laboratorium, radiologi, dan patologi anatomi.

Bronkoskopi merupakan prosedur untuk melihat dan mengambil sampel tumor dari paru. Prosedur ini juga dapat membantu menentukan lokasi tumor di paru. Sampel yang diperoleh kemudian diperiksa oleh bagian patologi anatomi untuk melihat jenis gambaran jaringan kanker. Pemeriksaan radiologi dan laboratorium juga dapat dilakukan untuk melihat persebaran dan komplikasi yang terjadi akibat kanker paru.

 

Klasifikasi kanker

Seluruh jenis kanker, termasuk kanker paru, dinilai berdasarkan sistem TNM (singkatan dari tumor, node, dan metastasis). Panduan sistem TNM untuk kanker paru yang sekarang digunakan dibuat oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC) tahun 2010. Poin tumor menyatakan ukuran dan invasi tumor, node menjelaskan kondisi penyebaran sel kanker ke kelenjar getah bening sekitarnya, sementara metastasis menilai penyebaran sel kanker ke lokasi yang jauh dari organ asal. Pada dasarnya, semakin besar angkanya, semakin berat pula tahapan kanker. Berdasarkan penilaian TNM tersebut, kanker paru kemudian dikelompokkan mulai stadium 0 (teringan) hingga IVb (terberat). Stadium ini penting diketahui untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan sembuh atau meninggal (dikenal dengan sebutan prognosis), serta jenis terapi mana yang sebaiknya dijalani.

Dilihat di bawah mikroskop, sampel kanker yang diambil memiliki berbagai bentuk gambaran jaringan. Begitu bervariasinya gambaran tersebut sehingga diciptakanlah klasifikasi. Klasifikasi ini penting untuk menentukan pilihan terapi dan prognosis dari kanker paru tersebut. Untuk kepentingan terapi, gambaran kanker paru terbagi kedalam dua kategori besar, yaitu non-small cell lung cancer (NSCLC) dan small cell lung cancer (SCLC). NSCLC jarang mengalami penyebaran, namun kurang responsif terhadap kemoterapi. Sebaliknya, SCLC lebih sering menyebar, tetapi lebih responsif terhadap kemoterapi.

NSCLC terdiri atas berbagai jenis kanker yang tidak termasuk ke dalam gambaran SCLC. Ada tiga kelompok gambaran jaringan NSCLC yang paling sering ditemukan, yaitu karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar. Selain tiga kelompok tersebut, masih ada jenis-jenis lainnya yang jarang ditemukan. Kanker paru dengan gambaran NSCLC merupakan jenis kanker paru yang paling sering menyerang manusia, yakni hingga 80% dari seluruh kasus kanker paru, dengan sekitar 40% di antaranya adalah berjenis adenokarsinoma.

Belakangan ini, kasus baru kanker paru dengan jenis adenokarsinoma terus meningkat. Saat ini, adenokarsinoma memegang peringkat pertama sebagai jenis kanker paru yang paling sering ditemukan, baik pada wanita maupun pria. Fenomena ini diduga berhubungan dengan adanya perubahan jenis rokok yang membuat perokok mengisap lebih dalam. Akibatnya, lebih banyak sel paru-paru yang terpapar oleh karsinogen.

 

Pengobatan

Pada dasarnya, pengobatan kanker paru menggunakan prinsip combined modality therapy atau terapi kombinasi multimodal. Artinya, pengobatannya tidak hanya menggunakan bedah atau obat saja, tetapi menggabungkan berbagai metode untuk mematikan sel kanker. Metode yang dimaksud meliputi pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan terapi target.

Pembedahan merupakan terapi utama untuk mayoritas kasus NSCLC. NSCLC stadium I–IIIA dapat diobati dengan terapi pembedahan lobektomi, segmentektomi, dan reseksi sublobaris. Prinsip pembedahan untuk kanker paru adalah sebisa mungkin tumor direseksi dengan lobektomi saja. Akan tetapi, bila lobektomi tidak bisa dilakukan karena kondisi pasien ternyata tidak memungkinkan, maka akan dilakukan pembedahan dengan segmentektomi dan reseksi sublobaris.

Terapi yang kedua adalah radioterapi. Radioterapi tergolong penting untuk kanker paru karena bisa diterapkan bagi semua stadium SCLC dan NSCLC, baik sebagai terapi kuratif definitif (bertujuan menyembuhkan), kuratif neoadjuvan atau adjuvan (bertujuan sebagai tambahan menyertai jenis terapi lainnya), maupun paliatif (bertujuan meringankan gejala yang diderita). Radioterapi juga dapat dilakukan untuk pasien stadium akhir sebagai terapi paliatif, yaitu meringankan keluhan pasien kanker paru, seperti nyeri tulang atau sakit kepala.

Jenis terapi yang ketiga adalah kemoterapi, yang dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Sebelum mengetahui jenis kemoterapi yang akan dipilih, harus diketahui dahulu jenis kanker parunya: NSCLC atau SCLC. Pada NSCLC, kemoterapi diberikan sebagai terapi adjuvan pasca operasi ataupun paliatif. Pada SCLC, kemoterapi merupakan terapi pilihan dan umumnya dikombinasikan dengan terapi lainnya. Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan beberapa obat antikanker sebagai terapi kombinasi. Walau demikian, pada keadaan tertentu, dapat diberikan satu jenis obat antikanker saja. Dalam kemoterapi ada beberapa lini pengobatan, yaitu lini pertama, kedua, dan ketiga. Lini pertama diberikan bagi pasien yang belum pernah kemoterapi. Lini kedua diperuntukkan bagi pasien yang sel kankernya semakin ganas dan tidak merespons pengobatan lini pertama. Sementara itu, lini ketiga diberikan jika lini pertama dan kedua tidak ampuh untuk mengendalikan sel kanker.

Opsi lainnya adalah terapi target. Terapi target dapat diberikan bagi penderita kanker paru stadium IV berjenis NSCLC, yang pada pemeriksaan lanjutan memiliki mutasi gen epidermal growth factor receptor (EGFR) positif yang sensitif terhadap EGFR-tyrosine kinase inhibitor (EGFR-TKI). Jenis EGFR-TKI bermacam-macam, contohnya gefitinib, erlotinib dan afatinib.

 

Prognosis

Prognosis (kemungkinan menuju kesembuhan atau kematian) sangat tergantung pada kondisi umum pasien, penyakit lain yang menyertai, jenis kanker paru, stadium kanker paru, dan terapi yang diperoleh. Secara umum, bila pasien memiliki kondisi lemah, ada penyakit lain, jenis SCLC, stadium IV, dan terlambat diterapi akan memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah (kemungkinan untuk meninggal lebih besar).

 

Pencegahan

Oleh karena sekitar 87% kanker paru disebabkan oleh rokok, baik secara aktif (mengisap rokok secara langsung) maupun pasif (menghirup asap rokok yang dihembuskan orang lain), tidak heran kalau rokok dinyatakan sebagai penyebab utama kanker paru. Sebab, lebih dari 20 bahan karsinogen potensial terkandung dalam rokok dan asapnya.

Zat-zat karsinogen tersebut diproduksi dari pembakaran rokok, antara lain asetaldehida, benzocarbazole, dibenzacridine, butadiena, benzena, akrolein, amina aromatik, dan poliaromatik. Bukan kanker paru saja, sebenarnya zat karsinogen dalam rokok juga dapat memicu berbagai macam kanker.Namun, rokok terutama menyebabkan kanker paru karena paru-paru merupakan organ yang paling terpajan oleh zat karsinogen rokok.

Tidak hanya orang yang merokok (perokok aktif) yang dapat terkena kanker paru, tetapi juga orang yang hanya menghirup asap rokok (perokok pasif). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita yang terpapar asap rokok memiliki risiko kanker paru yang meningkat. Terlebih lagi, merokok pasif lebih berbahaya dibandingkan merokok aktif dikarenakan partikel karsinogen yang dihirup berukuran lebih kecil (karena tidak melalui filter rokok) sehingga lebih mudah masuk ke bagian paru yang lebih dalam. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menghindarkan diri dari paparan asap rokok adalah kunci keberhasilan pencegahan kanker paru.

Melihat fakta bahwa merokok adalah faktor terbesar penyebab kanker paru, maka hal pertama yang harus dilakukan dalam pencegahan kanker paru adalah berhenti merokok. Bagi seorang perokok yang berhenti merokok, peluang untuk mencegah kanker paru bergantung pada durasi berhentinya dan jumlah dosis rokok harian. Pada orang yang telah 10 tahun berhenti merokok, risiko kanker parunya menurun hingga 30–50%.

Selain rokok, menghirup udara yang terpolusi serta zat karsinogen di lingkungan kerja juga berpotensi memicu kanker paru. Zat-zat pemicu kanker paru, seperti asbes, arsen, nikel, kromium, dan zat berbahaya lainnya, sangat sering ditemukan di kawasan industri. Hal ini menyebabkan pekerja pabrik terpapar risiko kanker paru yang lebih tinggi. Untuk mencegah kanker paru, para pekerja yang berhubungan dengan bahan berbahaya tersebut sebaiknya menggunakan alat pelindung diri sesuai standar keselamatan dan kesehatan kerja. Efektivitas tindakan pencegahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku pekerja di tempat kerja, tetapi juga perlu dukungan dari perusahaan dan pemerintah, terutama dalam mengatur peraturan keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan kerja.

Terakhir, pencegahan protektif oleh diri sendiri dapat dimulai dengan melakukan pola hidup sehat: memperhatikan apa yang kita konsumsi dan meningkatkan aktivitas fisik.