Kanker Pankreas

Oleh : dr. Anita Tiffany
Share

Sumber: Cancer Research UK

Sekilas tentang pankreas

Pankreas merupakan organ yang terletak di belakang lambung dan berdekatan dengan limpa serta duodenum (bagian dari usus halus). Organ ini berbentuk seperti ikan yang terdiri dari kepala, badan, dan ekor. Pankreas memiliki dua jenis kelenjar, yaitu kelenjar yang menghasilkan enzim pencernaan dan hormon. Enzim yang dihasilkan pankreas ini berperan penting dalam proses pencernaan makanan. Selain itu, hormon yang dihasilkan pankreas juga penting dalam metabolisme tubuh. Salah satu hormon tersebut adalah insulin yang berperan untuk mengontrol kadar gula darah dalam tubuh.

Epidemiologi

Kanker pankreas lebih sering ditemukan pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Kanker pankreas jarang terjadi pada usia di bawah 50 tahun, tetapi sering ditemukan pada usia lanjut dengan rentang usia 60-80 tahun (78%). Jenis kanker pankreas yang tersering adalah adenokarsinoma dan lebih sering terjadi di bagian kepala pankreas.

Di Amerika Serikat, kanker pankreas diperkirakan mencapai 45.000 kasus baru pada tahun 2013. Berdasarkan GLOBOCAN tahun 2010, kanker pankreas terjadi pada 5 dari 100.000 pria dan 4 dari 100.000 wanita. Pria dan wanita memiliki risiko yang sama terkena kanker pankreas. Angka harapan hidup satu tahun sekitar 12% dan angka harapan hidup lima tahun sekitar 0,4–4%. Sayangnya, belum ada data pasti mengenai angka kejadian kanker pankreas di Indonesia.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti kanker pankreas masih belum diketahui. Kanker pankreas diperkirakan disebabkan oleh berbagai faktor (multifaktor). Faktor tersebut dibedakan menjadi faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah adalah usia, genetik, atau keturunan. Sedangkan faktor yang dapat diubah adalah pola hidup, seperti merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan lainnya.

Berikut adalah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pankreas:

  • Keturunan atau genetik

Sekitar 10% pasien kanker pankreas memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa. Penyebab genetik diperkirakan muncul karena adanya mutasi gen K-ras atau kerusakan pada gen yang berperan untuk menekan pertumbuhan sel tidak normal (tumor suppressor genes), seperti gen p53, p16, DPC4, dan BRCA2.

  • Kebiasaan merokok

Sekitar 20-30% pasien kanker pankreas memiliki kebiasaan merokok. Rokok dapat meningkatkan risiko terkena kanker pankreas dan penyakit serius lainnya akibat kandungan yang ada di dalamnya.

  • Usia tua

Angka kejadian kasus kanker pankreas meningkat seiring pertambahan usia.

  • Obesitas

Semakin tinggi indeks massa tubuh (IMT), maka semakin besar risiko terkena kanker pankreas.

  • Diabetes melitus

Diabetes melitus adalah keadaan kekurangan insulin atau menurunnya respons reseptor tubuh terhadap insulin. Keadaan tersebut dapat menjadi salah satu faktor risiko timbulnya kanker pankreas. Sebaliknya, kanker pankreas dapat memicu adanya gangguan hormon insulin sehingga terjadi diabetes melitus.

  • Alkohol

Konsumsi alkohol yang berlebihan ternyata dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker pankreas.

  • Riwayat pankreatitis kronik

Pankreatitis adalah peradangan organ pankreas. Peradangan yang terjadi dalam waktu lama dapat memicu pertumbuhan kanker pankreas.

Tingkat keparahan atau stadium

Berdasarkan klasifikasi sistem TNM (tumor, nodul, metastasis), kanker pankreas dikelompokkan menjadi empat stadium, yaitu:

  • Stadium I (T1-2, N0, M0): kanker terbatas hanya di pankreas
  • Stadium II (T3, N0, M0): kanker telah meluas hingga ke luar pankreas, namun masih belum terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening
  • Stadium III (T1-3, N1, M0): kriteria stadium II disertai adanya penyebaran ke kelenjar getah bening
  • Stadium IV:  kanker pankreas telah menyebar ke organ lainnya, seperti hati atau paru

Tumor primer merupakan kanker yang pertama kali tumbuh. Pada penilaian T, dinilai ukuran kanker primer ini, apakah hanya berkembang di pankreas atau meluas hingga organ sekitarnya. Berikut adalah deskripsi T yang dapat ditemukan,:

  • TX: tidak dapat dinilai
  • T0: tidak ada tumor primer
  • T1: tumor primer hanya di pankreas dengan ukuran ≤2 cm
  • T2: tumor primer hanya terbatas di pankreas dengan ukuran >2 cm
  • T3: tumor primer berkembang melebihi pankreas, tetapi tidak termasuk pembuluh darah
  • T4: tumor primer telah berkembang hingga ke pembuluh darah

Penilaian selanjutnya adalah kelenjar getah bening (regional lymph node/N) yang menilai adanya keterlibatan kelenjar getah bening atau tidak. Kanker dapat menyebar melalui jalur limfatik sehingga tempat penyebaran yang pertama kali dituju adalah kelenjar getah bening. Berikut adalah penilaian aspek N:

  • NX: penyebaran pada kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
  • N0: tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening
  • N1: sudah ada penyebaran ke kelenjar getah bening

Terakhir, penilaian dari penyebaran jauh (distant metastasis/M) untuk menilai apakah telah terjadi penyebaran ke organ lain, seperti hati dan paru. M0 menyatakan tidak terdapat penyebaran kanker ke organ lain. Sedangkan M1 menyatakan bahwa kanker telah menyebar ke organ lain.

Gejala

Pada tahap awal, kanker pankreas sulit dideteksi karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Keluhan baru muncul ketika kanker sudah semakin parah. Keluhan akan semakin memberat seiring semakin parahnya kanker. Keluhan tersering adalah sakit perut, penurunan berat badan, dan kulit/mata berwarna kekuningan.

Berikut dijelaskan lebih rinci mengenai gejala-gejala yang ditimbulkan kanker pankreas:

  • Nyeri perut

Keluhan ini sering dijumpai pada pasien kanker pankreas (90% kasus). Lokasi nyeri perut umumnya di daerah ulu hati. Nyeri disebabkan adanya desakan kanker ke jaringan sekitar. Nyeri juga dapat menjalar ke punggung. Semakin parah nyeri yang dirasakan, semakin besar pula ukuran kanker pankreas. Ukuran ini kelak memengaruhi keputusan tindakan operasi.

Meskipun hampir seluruh pasien pankreas mengalami nyeri perut, tidak seluruh nyeri perut harus dicurigai kanker pankreas. Banyak penyakit lainnya yang dapat menyebabkan nyeri perut, yaitu sakit maag, infeksi saluran pencernaan, peradangan pada hati atau pankreas, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kecurigaan kanker pankreas baru muncul jika nyeri perut disertai faktor risiko atau gejala lainnya.

  • Penurunan berat badan

Pasien kanker pankreas kerap kali mengalami penurunan berat badan. Kondisi tersebut disebabkan oleh asupan makanan yang berkurang, gangguan penyerapan lemak dan protein, pertumbuhan kanker yang ‘mencuri’ asupan gizi tubuh, serta faktor lainnya.

  • Muntah darah dan buang air besar berwarna hitam

Muntah darah atau buang air besar berwarna hitam disebabkan karena terjadi perdarahan pada saluran cerna. Namun, kondisi ini tidak selalu ditemui pada pasien kanker pankreas.

  • Nafsu makan menurun

Penurunan nafsu makan dapat disebabkan karena mual dan muntah.

  • Perut membesar

Pembesaran perut disebabkan desakan oleh massa kanker. Selain itu, pada kanker pankreas juga dapat ditemukan pembesaran organ lain, seperti hati.

  • Mata dan kulit berwarna kuning

Kanker pankreas, terutama yang berasal dari bagian kepala pankreas dapat mendesak sistem empedu. Desakan tersebut akan menyumbat saluran empedu sehingga menghambat aliran cairan empedu. Akibatnya, muncul kekuningan pada mata dan kulit.

  • Warna urine menjadi lebih gelap

Sumbatan aliran empedu juga dapat menyebabkan urine menjadi berwarna gelap.

  • Feses menjadi terlihat pucat

Feses mendapatkan warna coklat dari empedu. Sumbatan saluran empedu menyebabkan feses tidak terwarnai dan terlihat pucat.

  • Kulit gatal

Kanker pankreas dapat mengganggu berbagai metabolisme tubuh. Akibatnya, terjadi tumpukan zat tertentu yang menyebabkan kulit menjadi gatal.

 

Diagnosis

Karena kanker pankreas stadium awal kerap kali tidak menunjukkan gejala, dokter pun kesulitan untuk menegakkan diagnosis kanker pankreas. Terdapat beberapa tahapan untuk menegakkan diagnosis kanker pankreas. Pertama, dokter akan melakukan wawancara singkat kepada pasien. Beberapa pertanyaan yang diajukan dokter meliputi faktor risiko (riwayat kanker pankreas pada keluarga, riwayat pankreatitis kronik, diabetes melitus, usia tua, konsumsi alkohol, atau merokok) dan gejala (penurunan berat badan, nyeri ulu hati, pembesaran perut, dan lain sebagainya) kanker pankreas.

Setelah tahap wawancara, dokter akan melanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan sederhana yang tidak memerlukan alat khusus. Beberapa pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter akan menitikberatkan pada pemeriksaan mata (bola mata terlihat kuning atau kelopak mata bawah terlihat pucat), leher (terdapat pembesaran kelenjar getah bening), kulit (berwarna kekuningan), dan perut (terdapat nyeri tekan atau organ yang membesar, terdapat penumpukan cairan di rongga perut).

Apabila dari wawancara dan pemeriksaan tersebut dokter curiga terdapat kanker pankreas, dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa:

  • Pemeriksaan laboratorium

Pengambilan darah untuk memastikan adanya anemia (kekurangan darah akibat asupan gizi yang rendah), kadar gula darah yang tinggi, fungsi hati (adanya peningkatan bilirubin dan alkaline phosphatase akibat penyumbatan empedu).

  • Penanda tumor

Pengecekan penanda kanker, seperti CA 19-9 yang ditemukan di darah pasien kanker pankreas. Pemeriksaan ini dilakukan sebelum tindakan selanjutnya, seperti operasi. Penanda tersebut memiliki peranan penting untuk mengetahui prognosis dan respons terapi pasien. Akan tetapi, pemeriksaan CA 19-9 juga menunjukkan kadar yang tinggi pada kondisi peradangan pankreas atau hati.

  • Pencitraan organ tubuh

Pencitraan sering kali dikenal sebagai pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai letak, ukuran, tingkat keparahan kanker pankreas. Pilihan pencitraan yang dapat dilakukan berupa CT-scan, ultrasound scan, MRI, dan sebagainya.

  • Laparoskopi

Pada laparoskopi, dimasukkan teropong kecil melalui sayatan pada perut untuk melihat organ dalam. Tindakan ini dilakukan pada pasien kanker yang memiliki ukuran tumor primer besar (lebih dari 3 cm), menunjukkan gejala lanjut (misalnya terdapat penyebaran kanker ke organ lain), dan lain sebagainya.

  • Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)

Pemeriksaan ini digunakan apabila pasien mengalami jaundice. Pada ERCP, dimasukkan teropong melalui mulut hingga lambung dengan pemberian pewarna khusus di saluran empedu dan pankreas.

  • Biopsi

Pada biopsi, diambil sebagian kecil jaringan yang diduga merupakan jaringan kanker. Lalu, sampel tersebut akan diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi berperan dalam penentuan diagnosis dan memulai pengobatan kemoterapi (menggunakan obat-obatan untuk menyerang sel kanker). Terkadang, tindakan biopsi tidak perlu dilakukan jika dokter sudah mendapatkan gambaran yang cukup jelas melalui pencitraan seperi CT-scan, ultrasound scan, MRI, dan lainnya.

Tata laksana

Penanganan kanker pankreas berbeda-beda, tergantung derajat berat dan lokasi kanker, kondisi kesehatan pasien, serta pilihan pasien. Secara umum, penanganan tersebut bertujuan untuk menekan atau memperlambat pertumbuhan kanker, serta meredakan gejala akibat kanker pankreas. Berikut adalah penanganan yang dapat dilakukan pada kanker pankreas:

  • Operasi

Tindakan operasi yang dilakukan dapat bersifat kuratif (menyembuhkan secara sempurna) atau paliatif (mengurangi gejala atau komplikasi kanker pankreas). Operasi kuratif umumnya hanya dapat dilakukan pada 10-15% kasus. Pelaksanaan operasi kuratif mempertimbangkan ukuran dan derajat berat kanker, kondisi kesehatan pasien, serta kesepakatan antara dokter dan pasien maupun keluarganya. Pada operasi yang bersifat paliatif, dokter akan melakukan tindakan operasi untuk membebaskan sumbatan pada saluran empedu.

  • Kemoterapi

Kemoterapi adalah terapi yang menggunakan obat-obatan untuk menyerang sel kanker. Terapi ini dapat berperan untuk mengecilkan ukuran kanker. Sayangnya, kemoterapi tidak terlalu bermanfaat untuk kanker pankreas stadium lanjut.

  • Radioterapi

Radioterapi merupakan jenis terapi yang memanfaatkan sinar radiasi untuk merusak sel kanker. Terapi ini dapat dikombinasi dengan terapi lainnya.

Selain terapi-terapi di atas, dikenal juga terapi simptomatik. Terapi ini berperan untuk mengatasi gejala akibat kanker pankreas. Contoh dari terapi ini adalah pemberian obat pereda nyeri untuk mengurangi gejala nyeri perut yang dialami pasien. Terapi lainnya bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi tubuh, menurunkan kadar gula yang tinggi, dan lain-lain.

Pencegahan

Kanker pankreas merupakan salah satu jenis kanker yang sulit dicegah karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Akan tetapi, risiko kanker pankreas dapat dikurangi melalui tindakan-tindakan berikut:

  • Berhenti merokok
  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol
  • Menjaga berat badan tetap ideal

Hal terpenting adalah selalu memperhatikan perubahan atau gejala yang dialami. Jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter apabila ditemukan keluhan yang tidak kunjung membaik atau semakin parah.

 

Prognosis

Prognosis kanker pankreas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti stadium kanker, kondisi pasien, penyakit penyerta, dan terapi. Angka harapan hidup (survival rate) dalam 1 tahun diperkirakan sekitar 25% dan untuk 5 tahun menjadi di bawah 20%. Secara umum, kanker pankreas yang telah menyebar memiliki angka harapan hidup sekitar 6-12 bulan.