Kanker Nasofaring

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

Sekilas organ

Nasofaring merupakan bagian paling atas dari faring/tenggorok yang terletak di belakang hidung. Bagian ini menghubungkan rongga hidung dan mulut. Nasofaring berperan dalam proses bernapas sebagai jalan yang menghubungkan rongga hidung ke paru-paru. Dalam proses menelan, otot-otot di area nasofaring membantu proses pergerakan makanan dari rongga mulut ke kerongkongan.

Selain itu, nasofaring juga berhubungan dengan rongga telinga melalui saluran/tuba eustachius. Melalui saluran inilah, tekanan udara di dalam telinga dapat terkontrol sehingga membran telinga dapat bekerja dengan baik. Di dalam nasofaring, terdapat kelenjar getah bening yang sering disebut tonsil. Jika terjadi infeksi, tonsil akan membesar dan meradang. Hal ini terjadi karena sel-sel imun tubuh berperang melawan kuman.

Epidemiologi

Jumlah pengidap kanker nasofaring bervariasi, tergantung ras dan lokasi geografis. Pada beberapa tempat, kanker nasofaring merupakan jenis kanker yang jarang ditemukan. Akan tetapi, pada daerah Asia (terutama Cina Selatan) dan Afrika Utara, kanker nasofaring cukup sering ditemukan. Di Indonesia sendiri, kanker nasofaring paling sering ditemukan pada populasi etnis Jawa.

Data dari Global Burden of Cancer Study (GLOBOCAN) 2012 menunjukkan bahwa setiap tahun diperkirakan terjadi 87.000 kasus baru kanker nasofaring di dunia. Selain itu, kanker ini juga menyebabkan 51.000 kematian setiap tahunnya.

Kanker nasofaring merupakan kanker kepala-leher yang paling sering ditemukan di Indonesia (28.4%). Kanker ini juga berada pada urutan ke-4 terbanyak di Indonesia, setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker paru. Hampir sekitar 13.000 kasus baru didokumentasikan setiap tahun. Sementara ini, jumlah total pengidap kanker nasofaring adalah 6,2 setiap 100.000 penduduk Indonesia.

Di Indonesia, kanker nasofaring lebih sering ditemukan pada pria. Perbandingan jumlah pria dibandingkan wanita adalah 2,4 : 1. Kanker ini biasanya ditemukan pada usia produktif, dengan 60% pengidap berusia antara 25 hingga 60 tahun.

 

Gambar 1. Kanker nasofaring dan posisinya di nasofaring.

Sumber: Cancer Research UK - https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=34333815

 

Penyebab

Pola distribusi geografis yang khas pada kanker nasofaring menandakan adanya interaksi antara faktor lingkungan dan genetik. Ikan maupun makanan yang diawetkan diduga berperan sebagai karsinogen (zat yang memicu kanker). Zat kimia di dalam makanan yang diawetkan tersebut akan dilepaskan dalam bentuk uap dan terhirup sehingga meningkatkan risiko kanker nasofaring. Semakin dini terpapar, semakin tinggi pula risiko menjadi kanker.

Selain itu, infeksi oleh Epstein-Barr virus (EBV) pada sel nasofaring juga dapat mengubah sel normal menjadi ganas. Virus ini akan memasukkan dan menggabungkan DNA pada sel nasofaring. Penyisipan DNA ini dapat menyebabkan mutasi genetik pada sel nasofaring sehingga akhirnya berkembang menjadi kanker.

Umumnya kanker nasofaring lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita. Orang-orang dari Asia (terutama Cina Selatan) dan Afrika Utara juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker nasofaring. Peran genetik juga dapat terlihat melalui riwayat keluarga. Adanya anggota keluarga yang mengalami kanker nasofaring akan turut meningkatkan risiko terjadinya kanker nasofaring.

 

Gejala

Gejala kanker nasofaring bervariasi, tergantung pada stadium dan lokasi kanker. Umumnya, pada tahap awal akan muncul gejala yang sifatnya tidak spesifik, sehingga sulit dikenali oleh penderita. Secara umum, gejala kanker nasofaring dapat dibagi menjadi lima berdasarkan lokasinya, yaitu:

  • Gejala pada hidung (Nasal sign)
    • Pilek yang tidak sembuh dalam jangka waktu lama.
    • Mimisan yang berulang.
  • Gejala pada telinga (Ear sign)
    • Bunyi denging pada telinga akibat kanker yang menekan saluran telinga.
    • Gangguan pendengaran.
    • Rasa tidak nyaman pada telinga.
    • Rasa nyeri di telinga.
  • Gejala pada mata (Eye sign)
    • Pandangan ganda disebabkan karena kanker menginvasi saraf yang mengatur pergerakan bola mata.
    • Hilangnya penglihatan apabila kanker sudah menginvasi saraf penglihatan.
  • Gejala bengkak (Tumor sign)
    • Terjadi pembesaran kelenjar getah bening di leher karena kanker nasofaring sudah menyebar ke kelenjar getah bening.
  • Gejala pada kepala (Cranial sign)
    • Apabila kanker sudah menyebar hingga otak, akan timbul rasa sakit kepala yang terus-menerus.
    • Apabila kanker telah menginvasi saraf di kepala, akan timbul rasa baal/mati rasa di daerah pipi dan hidung. Penderita juga dapat mengalami kesulitan menelan dan suara menjadi sengau. Kelumpuhan pada lidah, langit-langit mulut, faring, laring, dan otot leher juga dapat terjadi.

Jika muncul gejala gangguan pada area kepala dan leher seperti di atas yang menetap lebih dari 2–4 minggu, disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter telinga, hidung, tenggorok (THT).

 

Skrining dan deteksi dini

Skrining dan deteksi dini dapat dilakukan pada orang yang berisiko tinggi mengalami kanker nasofaring. Pemeriksaan laboratorium penanda tumor, yaitu IgA VCA/IgA EA dapat dilakukan dengan menggunakan sampel darah. Selain pemeriksaan tersebut, dapat dilakukan pemeriksaan dengan sampel sel nasofaring. Pengambilan sel tersebut dilakukan dengan teknik swab/brushing, yaitu menggunakan alat seperti lidi berbalut kapas yang dioleskan ke dinding nasofaring. Dari sampel tersebut, dapat dihitung jumlah DNA EBV. Walaupun demikian, pemeriksaan ini tidak digunakan untuk menegakkan diagnosis dan hanya berperan sebagai skrining.

 

Diagnosis

Jika ditemukan gejala yang mengarah pada kanker nasofaring, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter. Awalnya, dokter akan melakukan pemeriksaan menggunakan alat yang dimasukkan melalui hidung atau mulut. Alat ini disebut rinoskop posterior atau nasofaringoskop. Alat ini memungkinkan dokter untuk melihat ada tidaknya massa kanker di daerah nasofaring.

Setelah itu, dilanjutkan pemeriksaan radiologi menggunakan CT-scan ataupun MRI. Pemeriksaan ini berguna untuk melihat lokasi kanker nasofaring serta persebarannya pada jaringan sekitar dan kelenjar getah bening. Untuk melihat penyebaran kanker ke organ lain yang jauh, dapat dilakukan pemeriksaan X-ray dada, bone scan, atau USG abdomen.

Untuk menegakkan diagnosis pasti, diperlukan pemeriksaan sampel jaringan nasofaring. Proses pengambilan sampel ini disebut biopsi. Hasil biopsi sampel jaringan nasofaring kemudian diperiksa dan ditentukan jenis selnya oleh ahli patologi.

 

Klasifikasi

Kanker nasofaring dapat dibedakan berdasarkan kriteria tumor, node, metastasis (TNM) yang dikeluarkan oleh Union for Cancer Control (UICC). Poin T dinilai berdasarkan ukuran tumor di nasofaring serta invasi ke jaringan sekitar, dengan T1 terbatas di nasofaring sedangkan T4 sudah menyebar ke kepala dan leher. Poin N menunjukkan keterlibatan kelenjar getah bening. Sementara, poin M dinilai berdasarkan ada atau tidaknya penyebaran ke organ lainnya, seperti paru-paru, tulang, dan lain sebagainya. Gabungan dari seluruh penilaian TNM tersebut digunakan untuk menentukan stadium sesuai standar yang dikeluarkan UICC. Stadium ini berguna untuk menentukan prognosis (peluang kesembuhan)pasien kanker.

Selain itu, gambaran jaringan juga penting dalam penentuan prognosis  kanker. Terdapat tiga jenis gambaran jaringan berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO), yaitu tipe I, II, dan III. Tipe I merupakan karsinoma sel skuamosa dengan derajat diferensiasi yang bervariasi. Tipe II merupakan karsinoma non-keratinisasi. Sedangkan tipe III merupakan karsinoma tidak terdiferensiasi. Tipe II dan III lebih mudah terkontrol dengan radioterapi dibandingkan tipe I.

 

Pengobatan

Pengobatan kanker nasofaring terdiri dari radioterapi, kemoterapi, maupun kombinasi keduanya. Terapi simptomatik juga dapat diberikan untuk mengurangi gejala yang dialami oleh penderita.

Radioterapi

Radioterapi dapat diberikan sebagai terapi yang bertujuan kuratif (menyembuhkan) ataupun paliatif (mengurangi gejala). Radioterapi kuratif dapat diberikan sebagai terapi tunggal (tanpa kombinasi dengan kemoterapi) pada kanker nasofaring. Sasaran radiasinya adalah kanker primer serta kelenjar getah bening di leher. Pada kasus stadium lanjut yang disertai penyebaran ke organ lain, radioterapi paliatif dapat diberikan. Tujuannya adalah meredakan gejala sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien.

Meskipun radioterapi merupakan terapi terpilih untuk kanker nasofaring, terapi ini memiliki beberapa efek samping. Salah satunya luka pada mukosa mulut yang ditandai dengan munculnya sariawan. Selain itu, radioterapi juga dapat menimbulkan keluhan mulut kering, leher kaku, mual, nafsu makan menurun, dan gejala tidak nyaman lainnya. Untuk mengatasi keluhan tersebut, dapat diberikan obat kumur antiseptik dan astringent. Obat penghilang nyeri lokal juga bermanfaat untuk mengurangi keluhan nyeri menelan.

Kemoterapi

Berbeda dengan radioterapi yang bersifat lokal. Kemoterapi biasanya bersifat sistemik (seluruh tubuh). Oleh karena itu, terapi ini biasanya menarget kanker yang telah menyebar ke organ lainnya. Kombinasi pengobatan kemoterapi dan radioterapi dapat diberikan untuk meningkatkan efektivitas radioterapi. Kemoterapi dapat diberikan sebanyak enam kali setiap minggu 2,5–3 jam sebelum radiasi. Pada pasien kanker nasofaring berulang atau sudah terjadi penyebaran ke organ lain, kemoterapi tambahan dapat dipertimbangkan, baik sebagai terapi kombinasi maupun terapi tunggal.

Non-farmakoterapi

Pasien kanker nasofaring sering kali mengalami kesulitan makan akibat pertumbuhan massa kanker yang mengganggu proses menelan. Ditambah lagi, efek samping terapi, seperti sariawan, mual, muntah, diare, dan sebagainya dapat menyebabkan asupan nutrisi berkurang. Tak heran jika 35% pengidap kanker nasofaring mengalami kekurangan nutrisi. Oleh karena itu, diperlukan tatalaksana nutrisi yang tepat.

Pola makan yang dianjurkan adalah banyak buah, sayur, dan biji-bijian. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya rendah lemak. Daging merah dan alkohol sebaiknya dihindari. Selain itu, makanan sebaiknya berasal dari bahan yang segar. Hal ini dikarenakan makanan yang diawetkan, misalnya ikan dalam kaleng, dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring.

Terakhir, pasien kanker nasofaring juga dianjurkan untuk terus melakukan aktivitas fisik sesuai batas kemampuannya. Aktivitas fisik ini dilakukan, baik selama maupun setelah pengobatan. Tujuannya adalah untuk membantu mempertahankan pembentukan massa otot, fungsi fisik, dan metabolisme tubuh.

 

Prognosis

Kanker nasofaring memiliki prognosis (peluang kesembuhan) yang cukup baik, bahkan pada stadium lanjut sekalipun. Prediksi peluang kesembuhan tergantung pada stadium kanker dan gambaran jaringan kanker. Semakin ringan stadium kankernya, tentunya prognosisnya juga semakin baik. Selain itu, akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai juga menjadi salah satu faktor penentu prognosis.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Hongkong mengatakan bahwa peluang harapan hidup pengidap kanker nasofaring yang telah dilakukan radioterapi sebesar 85% pada stadium I dan II, serta 55% pada stadium III dan IV. Diperkirakan pada masa yang akan datang, adanya pemeriksaan kadar DNA EBV akan dapat membantu evaluasi terapi dan memprediksi prognosis secara lebih akurat.

 

Pencegahan

Hingga saat ini, menghindari faktor risiko merupakan metode terbaik untuk mencegah kanker nasofaring. Konsumsi alkohol dan rokok ternyata dapat memicu infeksi EBV menjadi kanker. Tak hanya kanker nasofaring, alkohol dan rokok juga dapat memicu terjadinya kanker jenis lain. Selain itu, kita juga dapat menghindari beberapa jenis makanan yang dapat memicu kanker nasofaring, misalnya ikan asin ataupun makanan yang diawetkan.