KANKER LAMBUNG

Oleh : dr. Edwin Sukmadja
Share

Pendahuluan

Kanker lambung merupakan kanker penyebab kematian terbanyak ketiga di seluruh dunia. Pada kanker lambung terjadi perubahan sel normal lambung menjadi sel yang abnormal dan tumbuh secara tidak terkontrol. Kanker lambung dapat menyebar (metastasis) dengan berbagai cara. Kanker ini dapat menyebar secara langsung dengan cara menembus dinding lambung dan menginvasi organ lain di sekitar lambung. Selain itu, kanker lambung juga dapat menyebar melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah ke organ-organ lain seperti hati, paru-paru, dan tulang.

 

Sekilas tentang Lambung

Lambung merupakan bagian dari sistem pencernaan manusia. Setelah ditelan, makanan akan memasuki esofagus (kerongkongan) menuju lambung. Lambung merupakan organ di perut yang berbentuk seperti kantong dan berfungsi untuk menampung serta mencerna makanan. Setelah itu, makanan diteruskan dan dicerna oleh usus halus.

Gambar 1 Anatomi Sistem Pencernaan Manusia.

 

Lambung terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bagian atas (fundus), bagian tengah (corpus), dan bagian bawah (pylorus). Pada masing-masing ujung lambung, terdapat katup yang disebut sfingter.

bagian lambung

Gambar 2 Bagian Lambung.

Gambar diadaptasi dari Cancer Research UK (http://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/stomach-cancer/about-stomach-cancer)

 

Epidemiologi

Kanker lambung merupakan kanker terbanyak kelima di seluruh dunia menurut data Global Burden of Cancer Study (GLOBOCAN) 2012. Pada tahun 2012 jumlah kasus baru kanker lambung diperkirakan mencapai 952.000 kasus di seluruh dunia (6,8% dari seluruh kasus baru kanker). Kanker lambung merupakan kanker penyebab kematian terbanyak ketiga di dunia. Diperkirakan sekitar 723.000 jiwa meninggal akibat kanker lambung pada tahun 2012 (8,8% dari seluruh kematian akibat kanker). Berdasarkan data GLOBOCAN 2012, diperkirakan terdapat sekitar 6.011 kasus kanker lambung di Indonesia (2,8 per 100.000 jiwa) dengan angka kematian mencapai sekitar 5.400 jiwa.

 

Jenis Kanker Lambung

Mengetahui jenis kanker lambung akan membantu dokter dalam menentukan pilihan pengobatan yang tepat. Kanker lambung dapat dibagi menjadi:

  1. Adenokarsinoma

Sekitar 90–95% dari kanker lambung merupakan jenis adenokarsinoma. Sel adenokarsinom berasal dari sel yang melapisi lambung bagian dalam (mukosa).

  1. Limfoma

Kanker ini mencakup sekitar 4% dari seluruh jenis kanker lambung. Pada limfoma lambung, sel kanker berasal dari sel kelenjar getah bening di dinding lambung dan sekitar lambung. Penjelasan lebih detail dapat dibaca pada artikel mengenai kanker limfoma.

  1. Gastrointestinal Stromal Tumor (GIST)

GIST merupakan tumor yang jarang terjadi pada saluran cerna. GIST berasal dari sel di dinding saluran cerna yang disebut interstitial cells of Cajal (ICCs). ICCs merupakan sel saraf pada saluran cerna.

  1. Tumor karsinoid

Tumor karsinoid lambung berasal dari sel penghasil hormon pada lambung. Tumor karsinoid mencakup sekitar 3% dari seluruh jenis kanker lambung. Tumor jenis ini jarang menyebar ke organ lain.

  1. Kanker jenis lain-lain

Selain keempat jenis kanker lambung di atas, terdapat berbagai jenis kanker lambung lainnya yang jarang terjadi, seperti squamous cell carcinoma, small cell carcinoma, dan leiomyosarcoma.

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker lambung, yaitu:

  1. Jenis kelamin

Berdasarkan berbagai studi, diketahui bahwa laki-laki berisiko dua hingga tiga kali lipat terkena kanker lambung dibandingkan perempuan.

  1. Riwayat keluarga

Orang dengan keluarga inti (ayah, ibu, anak, dan saudara kandung) menderita kanker lambung memiliki risiko terkena kanker lambung dua hingga tiga kali lipat lebih besar. Hal tersebut diperkirakan terkait dengan faktor genetik dan lingkungan.

  1. Ras dan budaya

Kanker lambung lebih sering mengenai ras Asia dan Hispanik, terutama Jepang, Korea, China, Amerika Latin, dan Eropa Timur. Selain terkait genetik, hal tersebut juga terkait dengan budaya dan kebiasaan makan di daerah tertentu.

  1. Usia

Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun. Risiko terkena kanker lambung akan meningkat seiring bertambahnya usia.

  1. Pola makan

Pola makan tinggi daging yang diawetkan serta rendah sayur dan buah lebih berisiko terkena kanker lambung. Selain itu, konsumsi makanan tinggi garam, makanan yang diolah dengan pengasapan, dan makanan yang diawetkan dengan pengasinan secara terus menerus juga dapat meningkatkan risiko kanker lambung.

  1. Infeksi bakteri Helicobacter pylori

Helicobacter pylori (H. pylori) merupakan bakteri berbentuk spiral yang tumbuh dan hidup pada lapisan mukosa yang melapisi bagian dalam lambung. Berbagai studi menunjukkan bahwa infeksi bakteri H. pylori dapat meningkatkan risiko terkena kanker lambung sebanyak 6–8 kali. Infeksi bakteri H. pylori dalam jangka waktu lama akan menyebabkan peradangan kronis pada lambung. Peradangan pada dinding lambung dalam waktu lama dapat menyebabkan perubahan sel pelapis lambung menjadi sel prekanker yang dapat menjadi sel kanker. Bakteri H. pylori menyebar lewat makanan dan air yang terkontaminasi, serta melalui kontak mulut ke mulut. Infeksi paling sering terjadi pada tempat yang kumuh, padat penduduk, dan area dengan sanitasi yang buruk.

  1. Merokok

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko terkena kanker lambung sebesar 60%.

  1. Obesitas

Orang dengan obesitas memiliki risiko kanker lambung lebih besar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan orang dengan berat badan ideal.

  1. Riwayat operasi lambung sebelumnya

Orang dengan riwayat operasi lambung sebelumnya memiliki risiko terkena kanker lambung lebih besar.

  1. Obat-obatan

Berbagai penelitian menemukan bahwa konsumsi obat-obatan tertentu, seperti aspirin dan statin dapat menurunkan risiko kanker lambung.

  1. Aktivitas fisik

Berbagai penelitian menemukan bahwa orang dengan aktivitas fisik yang optimal (rajin olahraga) memiliki risiko 21% lebih rendah terkena kanker lambung dibandingkan dengan orang yang jarang berolahraga (lebih tidak aktif).

 

Gejala Kanker Lambung

Kanker lambung pada fase awal jarang menimbulkan gejala. Oleh karena itu, sangat sulit mendeteksi kanker lambung pada fase awal. Gejala kanker lambung pada fase awal meliputi:

  1. penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas
  2. nafsu makan menurun
  3. nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut, terutama di ulu hati
  4. mual
  5. buang air besar warna kehitaman
  6. perasaan mudah kenyang walaupun hanya makan sedikit
  7. pucat dan lemas (gejala anemia)

Gejala di atas tidak spesifik untuk kanker lambung. Jika Anda mengalami gejala tersebut, belum tentu Anda terkena kanker lambung. Gejala serupa dapat muncul pada kondisi, seperti radang pada lambung atau usus, kanker jenis lain, luka pada lambung (ulkus gaster), serta luka pada usus (ulkus peptikum). Oleh karena itu, segeralah memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala di atas agar dapat diperiksa lebih lanjut.

Gejala kanker lambung akan lebih sering muncul ketika sudah mencapai stadium lanjut. Pada kondisi ini, sel-sel kanker sudah menyebar ke organ lain, seperti hati, paru-paru, lapisan perut (peritoneum), dan tulang. Pada fase lanjut, gejala yang muncul akibat penyebaran kanker, meliputi sesak napas, nyeri pada tulang, perut membengkak (asites), ataupun kulit menjadi kekuningan karena fungsi hati terganggu.

Diagnosis

Untuk menentukan penanganan yang tepat, dokter harus membuat diagnosis melalui berbagai tahap berikut:

  1. Anamnesis

Pada tahap ini, dokter akan melakukan wawancara mendalam untuk menggali informasi seperti gejala, riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat, perjalanan penyakit, serta faktor risiko kanker lambung pada pasien.

  1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan sederhana pada tubuh pasien. Dokter akan melakukan pemeriksaan dasar pada perut pasien untuk mengetahui adanya kelainan akibat kanker lambung.

  1. Pemeriksaan penunjang (tambahan)

Apabila dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik terdapat kecurigaan ke arah kanker lambung, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan adalah:

  1. Pemeriksaan laboratorium darah

Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan jumlah sel darah (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit), fungsi hati, fungsi ginjal, gula darah, dan lain-lain. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengetahui kondisi pasien sebelum memulai tindakan seperti biopsi, endoskopi, dan pengobatan.

  1. Endoskopi atas

Endoskopi merupakan salah satu tindakan non-bedah yang digunakan untuk memeriksa saluran cerna pasien. Tindakan ini menggunakan endoskop (sebuah tabung fleksibel yang disertai kamera pada salah satu ujungnya). Endoskop dimasukkan ke saluran cerna pasien melalui mulut menuju ke kerongkongan, lambung, hingga usus halus bagian atas. Kamera pada endoskop akan mengambil gambar dari bagian dalam saluran pencernaan pasien, lalu ditayangkan pada layar monitor. Tindakan ini bertujuan untuk menentukan adanya lesi yang dicurigai kanker lambung serta lokasi lesi tersebut di lambung. Tindakan ini dilakukan di ruang khusus oleh dokter spesialis penyakit dalam yang telah menjalani pelatihan endoskopi. Sebelum menjalani prosedur, pasien akan dibius terlebih dahulu agar tidak merasa nyeri.

  1. Endoscopy ultrasound (EUS)

Pemeriksaan ini mirip dengan endoskopi atas. Bedanya, pemeriksaan ini menggunakan endoskop khusus yang memiliki transduser USG di ujungnya. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk melihat lapisan dinding lambung, kelenjar getah bening sekitar, serta beberapa struktur lain di sekitar lambung. Pemeriksaan ini berguna untuk memeriksa seberapa jauh sel kanker telah menginvasi dinding lambung

  1. Biopsi

Pada pemeriksaan biopsi, dokter akan mengambil sebagian sampel jaringan yang abnormal untuk diperiksa dengan mikroskop. Biopsi digunakan untuk memastikan seseorang terkena kanker lambung. Biopsi dapat dilakukan saat endoskopi atas atau EUS.

  1. Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan radiologi yang biasanya digunakan untuk mendiagnosis kanker lambung adalah rontgen barium enema, CT-scan, MRI, dan PET-scan. Pada pemeriksaan rontgen barium enema, pasien akan meminum cairan yang disebut barium. Kemudian dilakukan pemeriksaan rontgen pada perut pasien untuk melihat adanya gangguan pada lapisan lambung. Pemeriksaan lain seperti CT-scan, MRI, dan PET-scan dapat melihat lokasi kanker pada lambung dan penyebaran sel kanker pada organ lain.

  1. Laparoskopi

Prosedur ini biasanya dilakukan jika kanker lambung telah ditemukan dengan CT-scan atau MRI. Prosedur ini dilakukan di ruang operasi dengan bius umum. Dokter akan membuat irisan kecil pada perut pasien, kemudian memasukkan sebuah tabung kecil yang fleksibel (laparoskop) ke dalam perut pasien melalui irisan tersebut. Laparoskop memiliki kamera pada ujungnya yang akan merekam gambar dalam perut pasien, lalu ditampilkan pada layar.

 

Stadium Kanker Lambung

Penentuan stadium kanker lambung penting untuk menentukan pengobatan dan prognosis pasien. Pembagian stadium kanker lambung ditentukan berdasarkan kriteria dari American Joint Committee on Cancer (AJCC). Stadium kanker lambung ditentukan oleh dokter menggunakan kode T, N, dan M. Setiap kode akan diberi nilai berdasarkan beratnya kanker.

Penilaian TNM dilakukan berdasarkan tiga hal:

  1. Ukuran Tumor utama (T)

Kriteria ini menunjukkan seberapa jauh invasi atau pertumbuhan kanker pada lapisan lambung. Nilai T berkisar dari T0 hingga T4. Semakin besar nilai T, maka kanker semakin dalam menginvasi lapisan lambung. Mulai dari T0 (kanker lambung tidak terlihat) hingga T4 (kanker lambung menginvasi lapisan terluar lambung hingga pembungkus perut bagian dalam/peritoneum)

  1. Penyebaran kanker ke kelenjar getah bening/Nodus limfa (N)

Kriteria ini menunjukkan penyebaran sel kanker ke kelenjar getah bening sekitar (regional).

  1. N0 (tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening sekitar)
  2. N1 (sel kanker menyebar ke 1 atau 2 kelenjar getah bening)
  3. N2 (sel kanker menyebar ke 3 hingga 6 kelenjar getah bening)
  4. N3 (sel kanker menyebar ke >7 kelenjar getah bening)
  1. Penyebaran (Metastasis) sel kanker ke bagian tubuh lain (M).

Kriteria ini menunjukkan penyebaran sel kanker ke organ lain di tubuh pasien. Nilai M terdiri dari M0 (tidak terdapat penyebaran ke organ lain) dan M1 (terdapat penyebaran ke organ lain dan kelenjar getah bening yang jauh dari lambung).

                             Penentuan stadium kanker lambung berdasarkan kriteria AJCC 2010 adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Kriteria stadium kanker lambung berdasarkan AJCC 2010

Stadium

T

N

M

IA

T1

N0

M0

IB

T1-T2

N0-N1

M0

IIA

T1-T3

N0-N2

M0

IIB

T1-T4a

N0-N3

M0

IIIA

T2-T4a

N1-N3

M0

IIIB

T3-T4b

N0-N3

M0

IIIC

T4a-T4b

N2-N3

M0

IV

T berapapun

N berapapun

M1

 

 

                      Terapi Kanker Lambung

Terdapat berbagai macam pilihan pengobatan untuk kanker lambung. Hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan terapi, meliputi stadium kanker ketika terdiagnosis, jenis kanker, usia, serta penyakit lain yang memperberat kondisi pasien. Secara garis besar, pengobatan kanker lambung terdiri dari:

  1. Operasi/pembedahan

Pembedahan biasanya dilakukan pada pasien dengan kanker lambung stadium I–III bila kondisi fisik pasien memungkinkan. Pembedahan dapat dilakukan dengan endoskopi atau laparoskopi, bila kanker lambung masih pada stadium awal. Pada stadium lanjut, dapat dipertimbangkan untuk gastrektomi (pemotongan sebagian atau seluruh lambung).

  1. Kemoterapi

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk mengganggu pertumbuhan dan siklus hidup sel kanker. Kemoterapi diberikan dalam beberapa siklus terapi yang diselingi dengan periode istirahat.

Efek samping yang sering dialami pasien adalah lemas dan demam (akibat penurunan sel darah putih dan merah), mual, muntah, nafsu makan turun, diare, rambut rontok, gangguan jantung, ruam pada kaki dan tangan, serta nyeri pada mulut. Efek samping akan membaik setelah kemoterapi selesai. Beberapa efek samping dapat dicegah dan diringankan dengan tatalaksana yang tepat.

  1. Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar radiasi energi tinggi untuk merusak DNA sel kanker. Efek samping yang mungkin muncul adalah iritasi kulit, mual, muntah, diare, serta mudah lelah.

  1. Terapi target

Terapi ini merupakan terapi jenis baru pada penanganan kanker dan masih terus berkembang dengan pesat. Terapi ini menggunakan obat yang mampu menghentikan pertumbuhan sel kanker secara molekuler. Sebelum memulai terapi, akan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia pada sel kanker yang telah dibiopsi. Setelah ditemukan karakteristik sel kanker, dokter akan memasukkan obat ke dalam tubuh melalui suntikan sesuai dengan karakteristik tersebut. Terapi target secara khusus menyerang sel kanker dan lebih jarang mengenai sel normal dibandingkan kemoterapi. Contoh terapi target pada kanker lambung adalah trastuzumab dan ramucirumab.

  1. Terapi suportif

Terapi suportif pada kanker lambung meliputi pemberian obat-obatan untuk mengurangi efek samping kemoterapi dan gejala akibat kanker. Jenis obat yang biasanya diberikan adalah obat antimual, analgesik (antinyeri), penurun demam, transfusi darah, dan lain-lain.

 

Prognosis

Prognosis kanker lambung biasanya dijelaskan dengan parameter tingkat kesintasan (survival rate). Tingkat kesintasan merupakan sebuah data statistik mengenai jumlah orang dengan jenis dan stadium kanker yang sama yang berhasil bertahan hidup dalam jangka waktu tertentu (biasanya dalam jangka waktu 5 tahun) setelah terdiagnosis.

Secara keseluruhan, tingkat kesintasan 5 tahun pada kanker lambung yang telah diberi pengobatan dengan tepat sebesar 29%. Faktor-faktor yang dapat memperburuk prognosis pasien, meliputi usia, stadium kanker saat pertama terdiagnosis, jenis kanker lambung, serta penyakit lain yang menyertai. Semakin tinggi stadium kanker, semakin buruk prognosisnya. Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi kanker sedini mungkin.

 

Tabel 2. Tingkat kesintasan masing-masing stadium kanker berdasarkan AJCC 2010

Stadium

Tingkat kesintasan 5 tahun

IA

71%

IB

57%

IIA

46%

IIB

33%

IIIA

20%

IIIB

14%

IIIC

9%

IV

4%

 

       Pencegahan

Belum diketahui cara pasti untuk mencegah kanker lambung. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena kanker lambung, seperti menerapkan pola makan sehat, menurunkan berat badan (bila obesitas), berolahraga rutin, serta menghindari rokok. Makanan yang sebaiknya dihindari, yaitu acar, makanan yang diasinkan, daging merah, serta makanan yang diasap. Orang yang berisiko kanker lambung apabila mengalami gejala di atas sebaiknya memeriksakan diri ke dokter sedini mungkin.