KANKER KELOPAK MATA

Oleh : dr. Angela Fovina
Share

Sekilas tentang Kelopak Mata

 

Pinggiran kelopak mata terdiri dari kulit, otot, lemak, tarsal (jaringan ikat), konjungtiva, dan struktur lainnya, termasuk sekitar 100 bulu mata, kelenjar (Zeis, Moll, dan Meibom), pembuluh darah, dan sistem kelenjar getah bening.

 

Gambar : Anatomi Mata.

Sumber https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sobo_1909_766.png

 

Apa itu Kanker Kelopak Mata?

 

Sesuai namanya, kanker kelopak mata merupakan kanker yang bertumbuh di kelopak mata. Asal mula kanker ini bermacam-macam, bisa dari kelenjar sebasea (kelenjar minyak akar rambut) atau kelenjar keringat.

 

Jenis kanker yang dapat terjadi pada kelopak mata:

  • Kanker sel basal

Sel basal merupakan sekelompok sel yang ada di bagian terbawah permukaan kulit. Sel ini bertugas untuk membelah diri dan menggantikan sel-sel kulit yang sudah rusak. Karena sifatnya mudah membelah diri, sel basal cenderung mudah berubah menjadi kanker. Kira-kira 80 % kanker kulit berasal dari lapisan kulit ini. Umumnya, kanker sel basal dicetuskan oleh paparan sinar matahari jangka panjang. Tidak hanya di kulit, kanker sel basal menjadi jenis kanker yang paling sering ditemukan pada kelopak mata. Biasanya, kanker ini bermula dari kelopak mata bagian bawah. Umumnya dijumpai pada orang berusia 50–80 tahun yang memiliki kulit cerah atau pucat.

  • Kanker sebasea

Kanker ini memegang peringkat kedua sebagai kanker kelopak mata tersering. Kebanyakan terjadi pada usia menengah atau lanjut usia. Biasanya berasal dari  kelenjar Meibom (kelenjar kelopak mata yang mengeluarkan sekret lemak), tetapi kadang bisa juga dari kelenjar Zeis (kelenjar sebasea pada dasar bulu mata). Kanker sebasea umumnya mengenai kelopak mata atas. Kanker ini diketahui berhubungan dengan paparan radiasi, penyakit Bowen, dan sindrom Muir-Torre. Apabila kanker sebasea berukuran besar atau kambuh kembali setelah terapi, pasien bisa  direkomendasikan untuk menjalani pengangkatan bola mata.

  • Karsinoma sel skuamosa

Sel skuamosa merupakan lapisan paling atas di epidermis (bagian kulit teratas). Kira-kira 10–30% kanker kulit dan 5% kanker kelopak mata berasal dari lapisan ini. Kanker ini disebabkan oleh paparan sinar matahari, luka bakar akibat zat kimia, atau radiasi sinar X. Kanker ini jarang terjadi dibandingkan kanker sel basal, namun sifatnya lebih agresif dan mudah menyebar ke jaringan sekitar.

  • Melanoma

Lapisan terdalam dari epidermis memuat sel yang disebut melanosit. Sel ini menghasilkan melanin, zat pigmen yang memberi warna pada kulit. Melanoma merupakan kanker yang berasal dari melanosit. Kanker jenis ini paling berbahaya dibandingkan kanker kulit lain. Akan tetapi, jumlahnya hanya sedikit, yaitu kurang dari 1% keseluruhan kasus kanker kelopak mata.

 

Faktor Risiko

 

  • Paparan sinar ultraviolet (UV)

Sinar matahari mengandung radiasi ultraviolet A (UVA) dan ultraviolet B (UVB). Radiasi UVB menembus kulit lebih dalam dibandingkan UVA sehingga menyebabkan kulit keriput dan mencetuskan timbulnya kanker, yaitu kanker sel basal, kanker sel skuamosa, dan melanoma. Risiko kanker kelopak mata akibat paparan sinar UV lebih tinggi pada orang yang tinggal di daerah dengan banyak paparan sinar matahari sepanjang tahun, begitu juga para penggemar kegiatan berjemur.

 

  • Kulit pucat atau cerah

Pada dasarnya, melanin (zat pemberi warna kulit) melindungi kulit dari paparan sinar UV matahari. Orang berambut pirang, mata berwarna terang, dan berkulit cerah mudah mengalami bintik-bintik coklat di daerah wajah (freckles). Kulitnya juga lebih mudah terbakar akibat sinar matahari (sunburn). Orang-orang demikian mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kanker kelopak mata.

 

  • Jenis kelamin

Pria ras Kaukasia (kulit putih) tercatat lebih banyak mengalami kanker kelopak mata dibandingkan wanita ras yang sama.

 

  • Usia

Kebanyakan kanker sel basal dan sel skuamosa terjadi setelah melewati usia 50 tahun.

 

  • Riwayat kulit terbakar sinar matahari

Kanker sel skuamosa dan sel basal lebih sering terjadi apabila paparan sinar matahari berulang-ulang dan berkepanjangan. Sementara itu, melanoma lebih sering terjadi jika ada paparan sinar matahari kuat dalam jangka waktu pendek.

 

  • Kondisi genetik atau individual

Sistem imun yang buruk memperbesar risiko mengalami kanker sel skuamosa dan sel basal. Penyandang kondisi genetik langka kulit, seperti xeroderma pigmentosum, sindrom nevus sel basal, atau albino berisiko tinggi mengalami kanker kelopak mata.

 

  • Riwayat kanker kulit sebelumnya

Pasien yang pernah mengalami kanker kulit, kemudian sembuh, berisiko untuk kembali mengalami kanker kulit, baik jenis sama maupun berbeda. Sebagai contoh, kira-kira 35-50% orang yang mengalami kanker sel basal berisiko menderita kanker kulit jenis lainnya dalam rentang 5 tahun ke depan.

 

  • Kondisi kulit prekanker

Kelainan kulit tertentu bisa mudah berkembang menjadi kanker. Dua jenis kelainan kulit yang berisiko menjadi kanker sel skuamosa adalah keratosis aktinik dan penyakit Bowen. Keratosis aktinik adalah plak kulit bersisik kasar dan berwarna merah atau coklat. Sementara itu, penyakit Bowen merupakan plak kulit bersisik berwarna merah terang atau merah muda, biasanya di kulit yang terpapar sinar matahari. Penyakit Bowen juga bisa timbul di kulit yang jarang terpapar matahari, umumnya karena paparan arsenik.

 

Tanda dan Gejala

 

Gejala dan tanda berikut bisa ditemukan pada kanker kelopak mata, tetapi tidak khas karena bisa dijumpai juga pada penyakit kelopak mata lainnya, misalnya infeksi.

 

  • Kelopak mata bengkak
  • Penebalan kelopak mata
  • Infeksi kronik kelopak mata
  • Ulkus (luka terbuka di permukaan kulit) kelopak mata yang sukar sembuh
  • Massa (benjolan) di kelopak mata

 

Karena gejala dan tandanya tidak khas, pasien harus memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan mengeksplorasi gejala dan tanda tersebut untuk mencari tahu benar ke arah kanker kelopak mata atau bukan.

 

Diagnosis

 

Dokter akan mempertimbangkan faktor-faktor berikut ketika memilih suatu tes diagnostik (tes untuk menegakkan diagnosis):

  • Usia dan kondisi medis pasien
  • Jenis kanker yang dicurigai
  • Tanda dan gejala
  • Hasil tes sebelumnya

 

Beberapa tes yang bisa dianjurkan oleh dokter untuk kanker kelopak mata:

  1. Biopsi

Biopsi adalah pengangkatan sedikit jaringan dari benjolan yang dicurigai sebagai kanker untuk diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi merupakan pemeriksaan terbaik untuk memastikan kanker atau bukan. Prosedurnya diawali dengan pemberian bius lokal atau umum (sesuai kebutuhan), lalu dokter mengambil sedikit jaringan dari benjolan yang dicurigai. Selanjutnya, sampel jaringan tersebut dikirim ke ahli patologi. Ahli patologilah yang akan menilai jaringan tersebut suatu kanker (termasuk jenis kankernya) atau bukan.

  1. Pemindai tomografi komputer (CT scan)

Alat ini menghasilkan gambaran tiga dimensi bagian dalam tubuh dengan bantuan sinar X. Selanjutnya, gambaran tersebut diproses oleh komputer sehingga tampak gambaran kelainan atau tumor di dalam tubuh. Ukuran tumor juga bisa ditentukan dengan alat ini. Bila perlu, dokter akan memberikan zat warna yang dinamakan kontras melalui suntikan atau pil. Zat kontras akan membuat gambaran CT scan menjadi lebih terperinci.

  1. Magnetic resonance imaging (MRI)

Berbeda dengan CT scan, alat ini menggunakan medan magnet, bukan sinar X, untuk menampilkan bagian dalam tubuh. Gambaran MRI juga bisa diperjelas menggunakan zat kontras jika dibutuhkan.

  1. Tomografi emisi positron (PET scan)

Mirip CT scan, tetapi bedanya PET scan mampu melihat penggunaan energi oleh jaringan. Prosedurnya adalah penyuntikan substansi radioaktif ke dalam aliran darah pasien. Substansi ini akan diserap oleh jaringan yang membutuhkan energi. Semakin banyak energi yang dibutuhkan, semakin tertumpuk pula substansi tersebut. Ini bisa terlihat di komputer. Sel kanker cenderung menggunakan energi secara aktif sehingga akan tampak lebih dominan dibandingkan jaringan yang bukan kanker.

  1. Ultrasonografi (USG)

Alat ini menggunakan pantulan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran organ dalam.

 

Stadium

Pemilihan terapi bergantung pada stadium kanker. Stadium ditentukan berdasarkan ukuran dan penyebaran kanker. Selain terapi, stadium juga bisa dimanfaatkan untuk menentukan prognosis, yaitu kemungkinan harapan hidup pasien dalam jangka waktu tertentu. Semakin tinggi stadiumnya, semakin buruk pula prognosisnya.

 

Tabel 1 Stadium melanoma kelopak mata

Stadium

Keterangan

Stadium 0

Melanoma in situ, yaitu sel melanoma hanya ditemukan pada lapisan kulit terluar atau epidermis. Pada stadium ini, melanoma sangat jarang menyebar ke bagian tubuh lain

Stadium I

Ketebalan melanoma £2 mm dan terbatas pada kulit

Stadium II

Ketebalan melanoma >2 mm serta melewati epidermis dan dermis (lapisan kulit di bawah epidermis)

Stadium III

Melanoma telah menyebar melalui kelenjar getah bening

Stadium IV

Melanoma menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lain, biasanya lokasi yang jauh, misalnya paru-paru, hati, otak, tulang, atau saluran pencernaan

Stadium IV M1a

Melanoma hanya menyebar ke kulit yang jauh dan/atau jaringan lunak

Stadium IV M1b

Melanoma telah menyebar ke paru-paru

Stadium IV M1c

Melanoma telah menyebar ke organ lain atau ada peningkatan serum laktat dehidrogenase (LDH)

 

 

Tabel 2 Stadium kanker non-melanoma kelopak mata

Stadium 0

Kanker belum menyerang jaringan sekitar

Stadium IA

Ukuran kanker £5 mm dan belum mengenai jaringan ikat tarsal

Stadium IB

Ukuran kanker >5 mm, tetapi £10 mm. Atau, kanker telah mengenai jaringan ikat tarsal

Stadium IC

Ukuran kanker >10 mm, tetapi £ 20 mm. Atau, kanker telah mengenai seluruh kelopak mata

Stadium II

Ukuran kanker >20 mm atau kanker telah menyebar ke jaringan sekitar mata

Stadium IIIA

Kanker telah menyebar ke mata dan struktur sekitarnya

Stadium IIIB

Kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya

Stadium IIIC

Kanker tidak lagi bisa diangkat via operasi karena telah menyebar secara luas

Stadium IV

Kanker sudah metastasis (menyebar ke organ lain yang jauh)

 

Terapi

 

  • Operasi

Pengangkatan tumor dan jaringan sehat sekitarnya melalui pembedahan oleh dokter spesialis mata. Prosedurnya bermacam-macam, tergantung ukuran dan lokasi kanker. Operasi luas untuk mengangkat tumor yang besar dapat menyebabkan kecacatan kelopak mata, enukleasi (pengangkatan keseluruhan bola mata yang terkena), dan/atau gangguan aliran air mata.

 

  • Terapi radiasi

Penggunaan sinar X energi tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Terapi radiasi digunakan untuk kanker yang sulit dioperasi. Sinar X juga memengaruhi sel sehat sehingga timbul efek samping, seperti ruam, kulit kering, mual, lemas, diare, atau konstipasi.

 

  • Kemoterapi

Penggunaan obat-obatan untuk menghancurkan sel kanker. Pada kanker kelopak mata, kemoterapi yang digunakan biasanya berbentuk obat luar, misalnya obat oles. Khusus kanker kelopak mata, kemoterapi merupakan pilihan alternatif selain operasi, terutama pada pasien dengan tumor kecil. Efek sampingnya adalah nyeri, gatal, kering, panas, iritasi, dan bengkak di bagian kulit yang dioleskan obat kemoterapi.

 

Pencegahan

  • Menggunakan pelembab atau tabir surya pada daerah kelopak mata, minimal sun protection factor (SPF) 15 setiap hari
  • Memakai kacamata untuk melindungi mata dari sinar UV matahari

 

Prognosis

Kanker kelopak mata bisa kambuh kembali setelah tuntas diobati. Angka kambuhnya kanker kelopak mata berkisar dari 5–30% bila diterapi dengan operasi standar dan terapi radiasi. Suatu studi mencatat bahwa pasien yang dioperasi dengan pembedahan Mohs (suatu teknik operasi, yaitu mengangkat jaringan tumor sedikit demi sedikit, dibekukan, lalu dinilai batasan sayatannya sudah bebas tumor atau belum menggunakan mikroskop, hingga seluruh tumor terangkat) memiliki angka kesembuhan dalam 5 tahun sebesar 99% dari 1.773 kasus karsinoma sel basal dan 98,1% dari 213 kasus karsinoma sel skuamosa