KANKER KELENJAR TIMUS

Oleh : dr. Wiedya Kristianti Angeline
Share

Pernahkah mendengar istilah kelenjar timus? Kelenjar timus merupakan kelenjar yang terletak di depan jantung dan di bawah kelenjar gondok. Walaupun jarang terjadi, ternyata kelenjar timus juga dapat mengalami pertumbuhan tidak terkontrol, alias menjadi kanker. Terdapat berbagai jenis yang berbeda dari kanker kelenjar timus. Timoma dan thymic carcinoma, merupakan dua jenis kanker kelenjar timus yang paling sering ditemukan.

Walau tergolong ganas, pada umumnya timoma bertumbuh dengan lambat dan cenderung menyebar hanya secara lokal sehingga penanganan yang cepat dan tepat akan memberikan peluang kesembuhan yang baik. Sedangkan thymic carcinoma merupakan jenis yang tergolong agresif, bertumbuh lebih cepat dan kerap menyebar dibandingkan timoma sehingga penanganannya membutuhkan perhatian lebih. Sayangnya, kedua kanker ini cenderung sulit untuk didiagnosis karena pasien seringkali memiliki gejala yang tidak jelas.

Kanker kelenjar timus dapat terjadi pada semua umur, namun paling sering ditemukan pada dewasa dan jarang ditemukan pada anak-anak. Angka kejadian tertinggi timbulnya timoma adalah pada usia 40–60 tahun, dengan kekerapan muncul yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Kelenjar Timus

Kelenjar timus terletak pada bagian depan atas rongga dada (mediastinum) dan jantung, berada di balik tulang dada, dan di antara paru-paru.

Anatomy of the thymus gland; drawing shows the thymus gland in the upper chest under the breastbone. Also shown are the ribs, lungs, and heart.

Gambar 1. Lokasi kelenjar timus

 

Kelenjar timus merupakan bagian dari sistem imun. Kelenjar ini berfungsi memproduksi sel darah putih terutama limfosit, mensekresi hormon untuk perkembangan sel limfosit T, dan mengubah sel T dan sel B yang berfungsi melawan organisme penyebab penyakit dan infeksi.  Limfosit begerak dari sumsum tulang menuju kelenjar timus, dimana mereka akan matang menjadi sel T. Ketika sel T matang, sel tersebut dapat bersirkulasi ke kelenjar getah bening dan limpa dimana mereka melanjutkan mematangkan diri.

Kelenjar timus paling aktif saat anak-anak dan remaja, kemudian semakin berkurang fungsi serta ukurannya seiring bertambahnya usia. Oleh sebab itu, pengangkatan kelenjar timus yang dilakukan saat dewasa tidak akan menyebabkan efek yang merugikan.

Kelenjar timus terdiri dari dua jenis sel utama, yaitu sel epitel dan sel limfosit. Masing masing dari jenis sel tersebut dapat menjadi keganasan. Pada timoma ataupun thymic carcinoma, sel yang tumbuh ganas ialah sel epitel. Sel epitel tersebut merupakan sel yang melapisi bagian luar kelenjar timus.

Epidemiologi

Timoma dan thymic carcinoma merupakan tumor primer mediastinum utama yang paling sering pada usia dewasa. Meski demikian, timoma ataupun thymic carcinoma merupakan jenis kanker yang jarang, berkisar antara 0,2% hingga 1,5% dari semua tumor ganas. Diperkirakan terdapat 400 kasus per tahunnya di Amerika Serikat, atau sekitar 1,5 orang per juta penduduk. Berdasarkan data dari National Cancer Institue Surveillance, Epidemiology and End Results (SEER) Program, insidensi keseluruhan untuk  timoma adalah 0,15 kasus per 100.000 penduduk. Thymic carcinoma lebih jarang lagi ditemukan, yaitu sebesar 0.06% dari seluruh tumor kelenjar timus. Timoma menyumbang 20% dari keseluruhan kanker mediastinum pada dewasa.

Pada pasien yang berusia lebih muda dari 20 tahun atau lebih tua dari 40 tahun, lebih kurang sepertiga dari kanker timus yang diderita merupakan tumor ganas. Sementara itu, pada pasien yang berusia 20-49 tahun, sekitar setengah dari kanker timus yang diderita merupakan tumor ganas.

Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab dan faktor risiko dari kanker kelenjar timus belum diketahui. Sampai saat ini, kanker kelenjar timus hanya dapat diperkirakan dicetuskan atau berhubungan dengan kondisi tertentu, seperti:

  • Penyakit kelainan autoimun sistemik

Merupakan kondisi dimana sistem imun tidak bekerja dengan benar, yaitu ketika sistem imun menyerang sel normal tubuh, bukan menyerang infeksi dan penyakit. Beberapa penyakit tersebut, antara lain:

  • Myasthenia Gravis (MG)

Merupakan kelainan yang paling sering dihubungkan dengan kanker kelenjar timus. Sekitar 30-65% orang dengan timoma juga didiagnosis mengalami kondisi myasthenia gravis. Sebaliknya, karena myasthenia gravis lebih sering ditemukan dibandingkan timoma, hanya 10-15% pasien yang terdiagnosis dengan myasthenia gravis mengalami timoma.  Myasthenia gravis adalah kelainan yang diakibatkan terbentuknya sel antibodi yang menyerang/menghambat atau mengubah sinyal saraf, molekul, sel atau jaringan tubuh. Gejala utama kelainan ini adalah mudah lelah, akibat timbulnya kelemahan dengan derajat yang tidak menentu pada berbagai otot. Otot tersebut termasuk otot yang dapat dikendalikan secara sadar, seperti otot penggerak mata dan kelopak mata, otot untuk mengunyah, menelan, batuk dan ekspresi wajah, otot pernafasan, hingga pergerakan tangan dan kaki. Kanker kelenjar timus dapat terdiagnosis dan timbul sebelum, selama, atau setelah pengobatan myasthenia gravis.

  • Hipogammaglobulinemia (Good’s Syndrome)

Seseorang dengan hipogammaglobulinemia memliki kadar antibodi yang rendah dalam darah sehingga lebih mudah untuk terserang infeksi berulang. Antara 5-10% orang dengan timoma juga memiliki hipogammaglobulinemia. Sebaliknya, terdapat sekitar 10% pasien dengan hipogammaglobulinemia yang juga memiliki timoma.

  • Pure red cell aplasia

Sekitar 1 dari 20 orang (5%) yang mempunyai timoma memiliki kondisi ini. Kelainan ini menyebabkan tubuh berhenti memproduksi sel darah merah yang cukup, sehingga orang tersebut akan mudah merasa lelah, kurang bertenaga, pucat, pusing dan sesak nafas. Hal ini terjadi karena sumsum tulang tidak menghasilkan sel darah merah yang cukup untuk membawa oksigen sehingga menyebabkan anemia.

  • Lain-lain, misalnya: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), polimiositis, artritis reumatoid, tiroiditis, skleroderma, sindrom Sjögren, sindrom Isaac, penyakit Addison, panhipopituitarisme, kolitis ulseratif, penyakit Crohn’s, sindrom Cushing, sindrom nefrotik, perikarditis akut, agranulositosis, anemia hemolitik, miokarditis, dan lain sebagainya.
  • Usia

Risiko kanker kelenjar timus meningkat seiring meningkatnya usia. Kanker timus jarang ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda, namun semakin sering ditemukan pada orang dewasa paruh baya.

  • Suku dan Ras

Di Amerika Serikat, kanker ini paling sering pada orang keturunan Asia, Afrika, dan kepulauan Pasifik. Kanker ini jarang ditemukan pada orang keturunan Eropa dan Amerika Latin.

  • Radiasi

Beberapa penelitian menyatakan adanya kemungkinan hubungan antara paparan radiasi pada bagian dada dengan timbulnya kanker timus. Sayangnya, kaitannya belum diketahui dengan pasti.

Sampai saat ini, belum ada faktor risiko lingkungan atau gaya hidup tertentu yang terkait erat dengan timoma atau thymic carcinoma.

Tanda dan Gejala

Tanda dari kanker timus ialah terjadinya perbesaran kelenjar timus, baik terlihat maupun tidak. Untuk gejala, sebagian besar timoma (50%) tidak memberikan keluhan atau gejala, terutama pada masa awal penyakit. Umumnya kanker ini sering ditemukan secara tidak sengaja saat dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti rontgen atau CT-scan pada dada yang ditujukan untuk mencari kelainan lain di rongga dada.

Gejala yang timbul dapat diakibatkan penekanan struktur sekitar oleh tumor yang semakin membesar atau menyebar. Selain itu, gejala juga dapat timbul secara tidak langsung akibat kondisi lain, seperti penyakit myasthenia gravis atau penyakit autoimun lainnya (disebut juga sindrom paraneoplastik). Sindrom paraneoplastik merupakan sindrom dengan gejala yang diakibatkan oleh senyawa yang dikeluarkan tumor atau akibat respon imun abnormal terhadap tumor. Sindrom tersebut dapat mengganggu fungsi normal berbagai bagian tubuh dan dapat menjadi pertanda tumor ganas.

Gejala dari kanker kelenjar timus (dengan atau tanpa disertai kelainan sindrom paraneoplastik) dapat berupa:

  • Nyeri atau rasa ditekan pada dada (bila terjadi penekanan atau penyebaran pada rongga dada)
  • Batuk yang menetap atau batuk darah
  • Kesulitan bernafas, sesak nafas atau nafas berbunyi (bila terjadi penekanan saluran nafas atau saraf oleh tumor)
  • Kesulitan menelan (bila terjadi penekanan esofagus)
  • Suara serak
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kehilangan berat badan
  • Kelelahan
  • Kelemahan otot (terutama pada mata, leher, dada)
  • Kelopak mata yang jatuh
  • Pandangan ganda
  • Anemia
  • Infeksi yang sering
  • Demam
  • Keringat malam

Walaupun jarang, kelenjar timus dapat menekan pembuluh darah besar pada daerah rongga dada. Seseorang dikatakan mengalami sindrom vena kava superior, apabila kelenjar timus sudah menekan pembuluh darah besar. Pada sindrom vena kava superior, pembuluh darah besar yang membawa darah kotor balik dari daerah kepala terhambat alirannya, sehingga dapat menyebabkan gejala seperti berikut:

  • Pembengkakan pada daerah wajah, leher, dada bagian atas. Kadang-kadang berwarna kebiruan.
  • Pembengkakan pada pembuluh vena yang terlihat pada tubuh bagian atas
  • Nyeri kepala
  • Merasa pusing atau rasa melayang

Segera konsultasi ke dokter bila terjadi sindrom ini. Sindrom ini merupakan kondisi serius yang membutuhkan perhatian medis dan tatalaksana segera.

Kanker kelenjar timus juga dapat menyebar pada beberapa kasus. Umumnya kanker ini menyebar ke lapisan pembungkus paru-paru (pleura) atau jantung (perikardium). Kurang dari 7% dapat disertai penyebaran di luar rongga dada, misalnya kelenjar limfe, hati, ginjal, otak, atau tulang. Penyebaran pada organ-organ tersebut dapat mencetuskan gejala spesifik terhadap organ tersebut. Misalnya saja penyebaran pada hati dapat menimbulkan gejala kuning, dan penyebaran pada tulang dapat menyebabkan sakit tulang.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis kanker kelenjar timus diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis

Dokter akan menanyakan berbagai hal dimulai dari keluhan yang mungkin dirasakan, riwayat perjalanan penyakit, riwayat penyakit sebelumnya, terapi yang pernah dijalani maupun riwayat keluarga. Adanya pertanyaan lain yang mungkin ditanyakan, misalnya:

  • Riwayat kebiasaan dan gaya hidup pasien sebelumnya
  • Menawarkan berbagai pemeriksaan yang berguna untuk mendiagnosis kanker kelenjar timus
  • Kesehatan secara umum selama ini
  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik umum dilakukan untuk melihat tanda-tanda kesehatan secara umum, termasuk apakah ditemukan tanda-tanda penyakit, seperti adanya benjolan ataupun hal-hal yang terlihat tidak normal lainnya. Pada pasien kanker kelenjar timus sering ditemukan adanya rasa penuh pada daerah leher bagian bawah. Seseorang juga dapat dicurigai mengalami kanker kelenjar timus apabila dijumpai tanda-tanda adanya penyakit myasthenia gravis, hipogammaglobulinemia, red cell aplasia, ataupun penyakit sindrom neoplastik lainnya.

  • Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang membantu memastikan kanker, mencari penyebaran ke bagian tubuh lain, melihat respon terhadap pengobatan, serta tanda-tanda kekambuhan kanker.

Berbagai hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan pemeriksaan penunjang, antara lain jenis kanker, tanda dan gejala penderita, usia dan kondisi medis penderita, serta hasil dari pemeriksaan sebelumnya.

Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kanker kelenjar timus, antara lain sinar-X (rontgen), CT-scan, MRI-scan, PET-scan, serta pemeriksaan mikroskopik biopsi kelenjar timus. Pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah tidak rutin dilakukan, tetapi mungkin dilakukan.

Sinar-X (Rontgen)

Rontgen sering menjadi pilihan pemeriksaan penunjang yang pertama sekali dilakukan. Rontgen dapat memperlihatkan organ dan tulang pada bagian dalam rongga dada, serta lokasi dan ukuran tumor. Hampir setengah dari kasus kanker kelenjar timus terdeteksi dengan pemeriksaan rontgen dada dan kebanyakan ditemukan dengan diameter sekitar 5-10 cm. Masih terdapat kemungkinan tumor tidak terdeteksi pada rontgen. Bila hasil rontgen masih meragukan, maka dokter mungkin akan menyarakankan pemeriksaan CT-scan ataupun penunjang lainnya.

Computed Tomography (CT) Scan

CT-scan merupakan pemeriksaan penunjang pilihan setelah rontgen. CT-scan pada bagian dada dapat memperlihatkan letak dan ukuran tumor secara 3 dimensi dan lebih jelas. CT-scan paling sering dilakukan untuk mencari, mengevaluasi kanker kelenjar timus, juga melihat adanya penyebaran pada lapisan paru (pleura). Terkadang pemeriksaan dilakukan dengan pemberian zat kontras untuk memperlihatkan gambaran yang lebih mendetil. CT-scan juga berguna untuk memandu biopsi jarum dengan tepat pada tumor atau lokasi kecurigaan penyebaran tumor,  dikenal sebagai CT-guided needle biopsy.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

CT scan view of tumor in the images above (a 34-ye

Gambar 1. Tampilan CT-scan terhadap timoma ganas

 

 

 

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI menggunakan medan magnet untuk mengambil gambar jaringan lunak dengan detil. MRI juga dapat digunakan untuk mengukur ukuran tumor. MRI juga dapat menghasilkan gambaran yang lebih jelas dengan pemberian zat kontras sebelum pemeriksaan. MRI sering dipilih bila terdapat kesulitan ataupun kontraindikasi dengan CT-scan. MRI dapat memperlihatkan penyebaran kanker pada otak dan sumsum tulang belakang. Untuk evaluasi pengobatan, MRI juga merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan.

Position Emission Tomography (PET) 

PET menggunakan sejumlah kecil gula radioaktif yang dimasukkan ke dalam pembuluh vena. PET kemudian akan merekam aktivitas sel yang sedang menggunakan gula tersebut. Metabolisme sel kanker yang lebih aktif akan menampilkan gambaran yang lebih terang karena sel tersebut mengambil gula lebih banyak dibandingkan sel normal. Adanya tampilan demikian mungkin mengindikasikan keganasan, walaupun infeksi ataupun peradangan juga dapat menghasilkan gambaran serupa. PET biasanya akan berguna bila digabungkan dengan pemeriksaan CT-scan. PET telah terbukti dapat membantu membedakan timoma jinak dengan timoma ganas serta memperlihatkan penyebaran ke kelenjar getah bening.

Biopsi

Seperti kebanyakan kanker, biopsi merupakan satu-satunya cara pasti untuk memastikan apakah daerah yang dicurigai merupakan kanker. Selain itu, biopsi juga dapat menentukan jenis kanker. Pada biopsi, sejumlah kecil jaringan diambil untuk diperiksa dengan mikroskop.

Walaupun demikian, karena adanya risiko penyebaran sel kanker akibat proses tindakan biopsi, maka biopsi masih kurang rutin untuk dilakukan untuk kanker kelenjar timus. Seringnya, biopsi jarum halus sudah cukup untuk mendiagnosis kanker kelenjar timus dengan baik.

Kebanyakan kanker kelenjar timus sudah dapat didiagnosis dengan baik menggunakan pemeriksaan pencitraan seperti rontgen, CT-scan, atau MRI, sehingga umumnya biopsi kurang rutin dilakukan.

Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah bukan merupakan pemeriksaan pilihan untuk kanker kelenjar timus, namun dapat berguna pada situasi tertentu. Misal, pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat antibodi tertentu bila dicurigai terdapat myasthenia gravis atau penyakit autoimun lainnya. Pemeriksaan darah juga mungkin dilakukan untuk memastikan bahwa massa pada dada bukanlah hasil penyebaran kanker dari tempat lain.

Hingga saat ini, belum terdapat penanda tumor untuk kanker kelenjar timus. Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk melihat gambaran kesehatan secara keseluruhan, terutama bila pembedahan dan/atau kemoterapi akan dilakukan.

 

Jenis dan Stadium

Terdapat berbagai jenis tumor pada kelenjar timus. Timoma dan thymic carcinoma merupakan tumor yang berasal dari sel lapisan luar timus yang paling sering ditemukan.

  • Jenis

 

  • Timoma

      Sekitar 90% tumor yang terbentuk pada timus adalah timoma. Sel tumor pada timoma terlihat serupa dengan sel normal kelenjar timus, tumbuh dengan lambat, dan jarang menyebar keluar dari timus. Sebanyak sepertiga orang dengan timoma mengalami kelainan autoimun myasthenia gravis, dan 1 dari 10 orang dengan timoma mengalami anemia yang dikenal sebagai red-cell aplasia atau hipogammaglobulinemia.

  • Thymic Carcinoma (disebut juga timoma tipe C)

      Thymic carcinoma terlihat sangat berbeda dengan sel normal timus.  Jenis tumor ini tumbuh dengan cepat, dan kerap sudah menyebar ke bagian tubuh lain ketika kanker ditemukan. Pada umumnya thymic carcinoma lebih sulit untuk ditatalaksana daripada timoma. Hal ini dikarenakan thymic carcinoma biasanya telah menyebar ke bagian lain tubuh ketika terdiagnosis. Thymic carcinoma diduga merupakan transformasi ganas dari timoma yang telah ada sebelumnya.

  • Timoma dan thymic carcinoma yang kambuh (rekuren)

Timoma dan thymic carcinoma rekuren adalah kanker yang timbul kembali setelah diobati. Kanker dapat muncul kembali di kelenjar timus atau bagian tubuh lain. Thymic carcinoma merupakan kanker timus yang paling sering kambuh. Timoma mungkin kembali setelah waktu yang lama. Untuk alasan ini, follow-up berkepanjangan sepanjang hidup diperlukan.

  • Stadium

Stadium merupakan suatu cara untuk menjelaskan lokasi dan penyebaran kanker. Berbagai pemeriksaan penunjang ataupun tindakan pembedahan dilakukan untuk mengetahui stadium kanker. Oleh karena itu, stadium hanya akan dapat ditentukan setelah dilakukan pemeriksaan penunjang. Stadium sangat membantu dokter untuk menentukan jenis tatalaksana yang terbaik serta peluang kesembuhan pasien.

Sistem penstadiuman mengklasifikasikan kanker berdasarkan ukuran, penyebaran, dan karakteristik lainnya. Sistem penstadiuman yang umum dan paling sering digunakan adalah sistem Masaoka yang mengklasifikasikan timoma atau thymic carcinoma berdasarkan derajat invasi kapsul sekitar tumor dan struktur sekitar. Pembagian stadiumnya adalah sebagai berikut:

  • Stadium 1

Kanker ditemukan hanya terletak pada kelenjar timus dan belum menyebar. Semua sel berada di dalam kapsul (pembungkus) yang mengelilingi timus.

  • Stadium 2

Kanker telah menyebar melewati kapsul dan masuk ke dalam jaringan lemak yang mengelilingi kelenjar timus, atau ke dalam lapisan rongga dada yang dekat dengan kelenjar timus (pleura mediastinal).

  • Stadium 3

Kanker telah menyebar ke organ sekitar kelenjar timus di dalam dada, termasuk paru-paru, pembungkus sekitar jantung (perikardium), atau pembuluh darah besar yang membawa darah ke jantung atau paru-paru.

  • Stadium 4

Stadium ini dibagi ke dalam stadium 4A dan stadium 4B, tergantung dimana kanker telah menyebar. Pada stadium 4A, kanker telah menyebar secara luas ke sekitar lapisan pembungkus paru-paru dan jantung. Pada stadium 4B, kanker telah menyebar lebih jauh ke darah, sistem kelenjar limfe atau rongga pleura (sekitar paru-paru), serta organ yang jauh misalnya hati, otak, ginjal, dan tulang.

Pembagian kanker kelenjar timus yang lain oleh World Health Organization (WHO) yaitu berdasarkan derajat dan jenis, yang dapat memberikan informasi kemungkinan progresitivitas kanker dan tampilan sel. Sistem ini dibagi dengan menggunakan huruf A-C , sesuai tampilan sel kanker dibawah mikroskop. Semakin menuju tipe C, maka semakin buruk prognosisnya (peluang kesembuhannya).

Sistem lain yaitu membagi kanker manjadi derajat rendah (low grade) atau derajat tinggi (high grade).

    • Penyebaran

Kanker kelenjar timus dapat menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis). Sel kanker dapat tumbuh ke jaringan di dekatnya (misalnya jaringan lemak) ataupun melepaskan diri dari lokasi asalnya (tumor primer di timus) dan berkeliling mengikuti sirkulasi sistem pembuluh limfe atau pembuluh darah ke bagian tubuh lain.

Penatalaksanaan                        

Tatalaksana akan bergantung pada stadium dan derajat kanker, kondisi kesehatan secara umum, serta pilihan pasien. Pada dasarnya tatalaksana untuk kedua jenis kanker yang utama adalah pembedahan. Kemoterapi dan radioterapi dapat diberikan sebelum maupun sesudah pembedahan, atau sebagai pengobatan utama bila pembedahan tidak dapat dilakukan.

  • Pembedahan

Pembedahan pada timus (timektomi) dilakukan untuk mengangkat kanker sebanyak mungkin. Pembedahan merupakan tatalaksana yang biasanya dilakukan pada kanker stadium I. Bila kanker telah menyebar keluar kelenjar timus (stadium lanjut) maka dokter akan mempertimbangkan untuk mengangkat jaringan di sekitar paru-paru atau jantung. Pembedahan juga dilakukan untuk mengangkat kanker yang timbul kembali (rekuren). Jika kanker telah menyebar sangat luas, maka dokter mungkin akan merekomendasikan radioterapi untuk mengecilkan tumor terlebih dahulu. Setelah itu, barulah pembedahan dilakukan.

Tumor yang lebih kecil terkadang dapat diangkat dengan metode video-assisted thoracic surgery (VATS). Pada metode ini sebuah sayatan kecil akan dibuat pada dasar leher dengan bantuan kamera yang tipis dan fleksibel serta alat pembedahan yang ujungnya berfungsi untuk mengangkat kelenjar timus.

  • Radioterapi

      Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker. Radioterapi juga dapat diberikan untuk mengurangi risiko kekambuhan setelah pembedahan, memperpanjang waktu kelangsungan hidup, atau sebagai terapi pilihan bila kanker tidak dapat diangkat dengan pembedahan. Radioterapi juga dapat dikombinasikan dengan kemoterapi. Biasanya terapi kombinasi (radioterapi dan kemoterapi sekaligus) lebih efektif dibandingkan terapi terpisah.

  • Kemoterapi

      Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan dan menghentikan pertumbuhan sel kanker. Kemoterapi berperan dalam menurunkan kekambuhan dan penyebaran jauh. Kemoterapi dapat diberikan sebelum ataupun sesudah pembedahan. Terkadang kemoterapi menjadi pilihan pengobatan bila pembedahan tidak dapat dilakukan, biasanya pada kondisi ketika kanker telah menyebar luas.

  • Terapi hormonal

      Penggunakan obat-obatan hormonal dapat membantu mencegah pertumbuhan dan penyebaran tumor. Jenis terapi hormonal yang diberikan tergantung pada berbagai faktor, seperti jenis tumor, ukuran tumor, reseptor hormon pada tumor, usia, dan faktor lainnya.

  • Kortikosteroid

      Kortikosteroid diketahui memicu pengecilan kelenjar timus. Hal ini terbukti dengan berkurangnya diameter tumor dengan pemberian kortikosteroid sebelum pembedahan. Kortikosteroid sering diberikan bersamaan dengan kemoterapi.

Terapi lain juga dapat diberikan pada kasus kanker timus. Beberapa terapi pilihan lain, misalnya imunoterapi, terapi target, serta pengawasan tanpa intervensi.

 

Jenis kanker kelenjar timus yang diidap menentukan pilihan terapi yang diberikan. Berikut pilihan terapi pada beberapa jenis kanker timus:

  • Timoma

Peluang kesembuhan untuk timoma tinggi, baik dengan hanya pembedahan ataupun pembedahan yang diikuti dengan radioterapi. Kemoterapi jarang diberikan karena kecenderungan timoma yang tumbuh tidak menginvasi jaringan di sekitarnya. Kemoterapi baru diberikan apabila kanker meluas secara dramatis pada jaringan sekitar.

  • Thymic carcinoma

Kanker ini cenderung lebih agresif dibandingkan timoma walaupun belum berada pada stadium yang lanjut. Oleh sebab itu pula, kanker ini lebih sulit diobati dibandingkan timoma. Kanker jenis ini kerap diterapi dengan tatalaksana kombinasi, meliputi kemoterapi, radioterapi dan pembedahan. Kemoterapi dapat menjadi terapi pilihan (dengan atau tanpa radioterapi) sebelum pembedahan.

  • Timoma rekuren

      Seseorang dengan kanker yang kambuh (rekuren) setelah pengobatan, sering membutuhkan kombinasi pengobatan kemoterapi dan/atau radioterapi sebagai tambahan pembedahan. Namun belum terdapat tatalaksana yang standar untuk kasus timoma rekuren yang jarang ini.

Pencegahan

Dikarenakan belum ditemukan penyebab dan faktor risiko yang pasti dari kanker kelenjar timus, maka belum diketahui cara pasti untuk mencegah kanker ini.  Dikarenakan adanya dugaan hubungan antara kanker kelenjar timus dengan paparan radiasi di dada,  menghindari paparan radiasi merupakan salah satu cara untuk mencegah timbulnya kanker ini.

Hingga saat ini, belum jelas apakah olahraga, mengonsumsi makanan tertentu, atau mengonsumsi suplemen nutrisi dapat menurunkan risiko kanker kelenjar timus. Namun tidak ada salahnya bila kita selalu menerapkan pola hidup sehat seperti tidak merokok, makan makanan yang sehat dan bergizi, aktivitas fisik yang teratur, dan mempertahankan berat badan yang sehat. Pola hidup yang sehat akan memberikan dampak positif yang dapat menurunkan risiko kanker kelenjar timus maupun kanker lainnya.

Deteksi Dini

Belum terdapat pemeriksaan untuk deteksi dini kanker kelenjar timus. Hampir separuh dari pasien yang menderita timoma atau thymic carcinoma tidak memiliki gejala ketika tumor ditemukan. Timoma lebih sering ditemukan secara tidak sengaja saat dilakukan rontgen atau CT-scan.

Walaupun demikian, kanker ini terkadang dapat ditemukan secara dini. Karena sering terdapat kaitan antara kanker kelenjar timus dengan penyakit autoimun, maka apabila seseorang memiliki penyakit kelainan autoimun, ada baiknya untuk memeriksakan diri ke dokter untuk deteksi dini.

Follow Up

Kanker timus dapat kambuh kembali, bahkan 20 tahun setelah pengobatan. Inilah mengapa follow up sangat penting. Disarankan agar setidaknya untuk melakukan kontrol rutin ke dokter hingga 10 tahun pasca pengobatan. Biasanya follow up dilakukan setiap 3 bulan pada 1-2 tahun pertama (untuk melihat adanya efek samping yang sulit ditolerir serta kemungkinan rekurensi), kemudian 1-2 kali setiap tahunnya pasca pengobatan (untuk melihat adanya tanda-tanda rekurensi yang memerlukan tatalaksana segera). Walaupun merepotkan, follow up berulang ke dokter selama bertahun-tahun dapat meningkatkan peluang kanker rekuren ditemukan lebih cepat, sehingga lebih mudah untuk diobati.

Beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi respon pengobatan akan diulang untuk mengetahui seberapa baik respon pengobatan. Pemeriksaan pasca pengobatan juga akan dilakukan secara berkala untuk melihat perubahan yang terjadi pada tubuh pasien.

Seseorang yang pernah didiagnosis dengan kanker kelenjar timus lebih berisiko mengalami kanker untuk yang kedua kalinya (kanker rekuren). Risiko tersebut sama besarnya, baik pada pasien yang diterapi dengan pembedahan, diberikan radioterapi, atau memilki riwayat myasthenia gravis.

Komplikasi

Efek samping jangka panjang dari penyakit ini dapat mencakup perubahan secara fisik dan emosional. Efek samping juga dapat berasal dari efek radioterapi dan kemoterapi. Efek ini biasanya timbul beberapa minggu atau bulan setelah pengobatan selesai. Keluhan yang sering dialami akibat radioterapi ialah kesulitan menelan, tenggorokan kering, nyeri ulu hati, gangguan pencernaan, bengkak, nyeri dan kemerahan pada daerah yang disinar, nyeri dada, serta batuk. Sedangkan kemoterapi dapat menyebabkan berkurangnya sel darah putih dalam darah selama pengobatan, mudah infeksi, mual, muntah, kelelahan, diare, rambut rontok. Namun biasanya keluhan ini akan menghilang dalam beberapa minggu setelah pengobatan berhenti.

Walaupun kecil, terdapat risiko timbulnya kanker jenis baru (kanker kedua) pada pasien yang mendapatkan radioterapi. Kanker kedua ini bisa muncul beberapa tahun setelah radioterapi pada bagian tubuh yang disinar. Beberapa contoh kanker kedua yang dapat muncul, misalnya limfoma non-Hodgkin, sarkoma jaringan lunak, kanker kelenjar ludah, dan kanker hati. Terdapat penelitian yang menghubungkan tindakan radioterapi pada timoma dengan kemunculan kanker jenis lain, walaupun hal tersebut belum benar-benar dapat dibuktikan.

Tindakan bedah yang dilakukan dalam terapi kanker juga memiliki risiko, walaupun kecil. Kerusakan saraf pada daerah rongga dada dapat terjadi saat pembedahan, menyebabkan kelumpuhan sementara maupun menetap pada diafragma. Hal tersebut dapat menyebabkan pasien mengalami sesak nafas. Apabila terjadi kerusakan persarafan lambung, maka pasien dapat mengalami kesulitan dalam pengosongan lambung (proses pencernaan).

Prognosis

Prognosis pada kanker kelenjar timus tergantung pada stadium kanker, jenis sel kanker, kesehatan pasien secara umum, apakah tumor dapat diangkat secara keseluruhan saat pembedahan, apakah kanker baru saja didiagnosis atau merupakan suatu kekambuhan, apakah terlah terjadi penyebaran ke jaringan dan organ lain (metastasis).

Secara umum, prognosis timoma yang jinak adalah baik. Timoma jinak memiliki angka kekambuhan sekitar 2-47%, sedangkan timoma ganas sekitar 20-35%. Secara umum, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) dalam 5 tahun pertama ialah 54-67%. Pada timoma stadium I dan II, tingkat kelangsungan hidup sebesar 73-95%. Sementara itu, pada stadium III dan IV, tingkat kelangsungan hidup sebesar 33-60%. Hampir 15% pasien dengan timoma mengalami kanker kedua.

Untuk thymic carcinoma prognosisnya lebih buruk dikarenakan kebanyakan kasus didiagnosis setelah sudah berada pada stadium lanjut. Pengangkatan tumor secara komplit hanya dapat dilakukan pada sekitar 50% kasus. Tingkat kekambuhan setelah pembedahan thymic carcinoma juga tinggi, hingga 40%. Secara umum, tingkat kelangsungan hidup 5 tahun thymic carcinoma adalah 30-50%. Tingkat kelangsungan hidup thymic carcinoma sekitar 74% pada stadium I dan II, 33% pada stadium III, dan 24% pada stadium IV apabila ditemukan dan ditatalaksana segera.

Namun perlu diingat, angka ini hanyalah statistik. Kesembuhan secara keseluruhan tergantung pada tatalaksana, respon terhadap pengobatan, dan kondisi pasien sendiri.