KANKER KELENJAR AIR LIUR

Oleh : dr. Yaumil Reiza
Share

Kelenjar Air Liur

Seperti namanya, kelenjar air liur bertujuan untuk menghasilkan air liur. Air liur berfungsi untuk menjaga kelembapan dan membasahi rongga mulut; melumasi dan melunakkan makanan sehingga mudah ditelan dan rasanya mudah dikecap; membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan bakteri sehingga mencegah plak gigi dan infeksi; serta menjaga keseimbangan asam-basa rongga mulut.

Terdapat dua jenis kelenjar air liur, yaitu kelenjar air liur mayor dan minor. Setiap manusia memiliki tiga buah kelenjar air liur mayor yang terletak berpasangan di setiap sisi wajah, yaitu:

  1. Kelenjar parotis. Kelenjar parotis merupakan kelenjar yang terbesar dan terletak di depan telinga. Sekitar 70% kasus kanker kelenjar liur berasal dari kelenjar parotis.
  2. Kelenjar submandibula. Kelenjar submandibula terletak di bawah rahang dan berukuran lebih kecil dibandingkan kelenjar parotis. Kelenjar ini menyebabkan 10–20% kanker kelenjar air liur.
  3. Kelenjar sublingual. Kelenjar sublingual terletak di bawah lidah. Kelenjar ini berukuran paling kecil dan paling jarang menyebabkan kanker.

 

Sementara itu, kelenjar air liur minor berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kelenjar ini dapat dilihat menggunakan mikroskop. Kelenjar air liur minor dapat ditemukan di bibir, lidah, langit-langit mulut, bagian dalam pipi, hidung, sinus, dan laring. Kelenjar ini sangat jarang menyebabkan tumor. Namun apabila muncul tumor, biasanya bersifat ganas.

 

Gambar 1. Posisi kelenjar air liur mayor pada manusia.

Sumber: https://1.bp.blogspot.com/-Axy9gqwb6x8/V1hod1FvJ1I/AAAAAAAAASI/EABd7LQAWLoV2js_Ramy2r9P0wKsnnYOACLcB/s1600/Kelenjar%2BLudah.JPG

 

Epidemiologi

Tumor kelenjar air liur merupakan salah satu jenis tumor yang sangat jarang. Tumor ini hanya ditemukan sekitar  0,4–13,5 kasus per 100.000 jiwa di seluruh dunia. Sedangkan angka kejadian kanker kelenjar air liur lebih jarang lagi, yaitu 0,4–2,6 kasus per 100.000 jiwa. Di Amerika Serikat, jumlah kasus kanker kelenjar air liur hanya <1% dari seluruh kasus kanker. Di Indonesia, data mengenai angka kejadian kanker ini masih belum ada.

Kanker kelenjar air liur dapat muncul pada usia berapa pun, namun jarang ditemukan pada anak-anak. Rata-rata usia penderita kanker kelenjar air liur adalah 64 tahun. Sejak tahun 2000 hingga 2008, kanker ini lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan dengan wanita. Angka kejadian pada pria adalah 1,41 kasus per 100.000 jiwa, sedangkan pada wanita adalah 1,00 kasus per 100.000 jiwa.

 

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab kanker kelenjar air liur masih belum diketahui secara pasti. Namun, risiko seseorang untuk menderita kanker kelenjar air liur dapat meningkat akibat faktor-faktor berikut:

  1. Usia

Seiring bertambahnya usia, risiko untuk menderita kanker kelenjar air liur juga turut meningkat.

  1. Jenis kelamin

Pria lebih sering menderita kanker kelenjar air liur dibandingkan dengan wanita.

  1. Paparan radiasi di area kepala dan leher

Sumber radiasi dapat berasal dari alam atau buatan. Sumber radiasi dari alam adalah sinar ultraviolet. Sementara itu, sumber radiasi buatan, antara lain adalah radiasi nuklir dari bom atom atau radioterapi yang digunakan untuk mengobati kanker di area kepala dan leher.

  1. Paparan terhadap zat tertentu

Para pekerja di pabrik karet, pipa, nikel, dan tambang asbes memiliki risiko lebih besar untuk menderita kanker kelenjar air liur. Hal ini disebabkan karena pekerja-pekerja tersebut terpapar zat karsinogenik di tempat kerjanya. Zat karsinogenik adalah zat yang dapat memicu munculnya kanker.

  1. Infeksi virus

Infeksi virus Epstein-Barr dan Cytomegalovirus diduga dapat meningkatkan risiko kanker kelenjar air liur.

  1. Kebiasaan merokok dan minum alkohol

Rokok dan alkohol diduga dapat meningkatkan risiko kanker kelenjar air liur. Meskipun demikian, mekanisme pastinya masih belum diketahui dengan jelas.

  1. Hormon

Beberapa penelitian menemukan bahwa hormon berperan dalam proses terbentuknya kanker kelenjar air liur. Namun, mekanisme pasti antara hormon dan kanker kelenjar air liur masih diperdebatkan.

  1. Riwayat keluarga menderita kanker kelenjar air liur

Seseorang yang memiliki keluarga dengan kanker kelenjar air liur berisiko lebih tinggi untuk mengalami kanker serupa.

 

Gejala Kanker Kelenjar Air Liur

Kanker kelenjar air liur sering kali tidak menimbulkan gejala. Biasanya kanker ini ditemukan secara tidak sengaja pada saat pemeriksaan gigi. Meskipun demikian, adapun gejala yang dapat muncul adalah sebagai berikut:

  1. Benjolan yang tidak terasa nyeri di daerah telinga, pipi, rahang, bibir, atau di dalam rongga mulut.
  2. Keluarnya cairan dari telinga.
  3. Kesulitan menelan atau membuka mulut.
  4. Mati rasa atau baal pada wajah.
  5. Rasa nyeri pada wajah yang terus-menerus.

Namun, tidak setiap gejala di atas pasti merupakan kanker kelenjar air liur. Sebab, tumor jinak, batu saluran air liur, dan infeksi pada kelenjar liur juga dapat menimbulkan gejala serupa. Apabila mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebab dari gejala yang dialami.

 

Diagnosis Kanker Kelenjar Air Liur

Diagnosis kanker kelenjar air liur ditegakkan melalui wawancara (anamnesis), pemeriksaan sederhana, dan pemeriksaan penunjang. Pada tahap wawancara, dokter akan menanyakan gejala yang dialami, riwayat kesehatan secara lengkap, dan riwayat keluarga yang mengalami hal yang sama. Dokter juga akan menilai faktor-faktor risiko kanker kelenjar air liur.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan sederhana. Pemeriksaan difokuskan pada daerah kepala dan leher, terutama wajah, mulut, telinga, dan rahang untuk mengenali gejala-gejala yang mungkin mengarah pada kanker kelenjar air liur. Pada pemeriksaan ini, dokter akan mencari ada tidaknya benjolan di wajah atau pembengkakan kelenjar getah bening yang kemungkinan adalah penyebaran sel kanker.

Jika dokter mencurigai adanya kanker kelenjar air liur pada tahap wawancara dan pemeriksaan sederhana, dokter akan meminta pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Pemeriksaan radiologi berupa foto rontgen, sialografi (foto roentgen saluran dan kelenjar air liur dengan menggunakan kontras), CT scan (dengan atau tanpa kontras), USG, MRI, atau PET scan. Pemeriksaan radiologi ini bertujuan untuk mencari ada tidaknya massa kanker pada kelenjar air liur.
  2. Sialoendoskopi adalah pemeriksaan endoskopi untuk mengetahui kondisi kelenjar air liur dengan memasukkan selang kecil ke dalam saluran air liur. Selang tersebut memiliki kamera kecil yang terhubung dengan monitor. Dokter dapat melihat kelenjar air liur melalui monitor tersebut.
  3. Pemeriksaan sampel jaringan yang dicurigai merupakan kanker kelenjar air liur menggunakan mikroskop.

 

Gambar 2. Hasil pemeriksaan sialografi

Sumber: http://www.rontgen.com/metod/bilder/bilder/rtg/tand_sialo_3_2.jpg

 

Klasifikasi Kanker Kelenjar Air Liur

 

Terdapat berbagai jenis kanker kelenjar air liur primer, yaitu karsinoma mukoepidermoid, karsinoma adenoid kistik, adenokarsinoma, dan lain-lain. Selain itu, kanker kelenjar air liur juga dapat muncul akibat penyebaran kanker dari organ lain, misalnya limfoma non-Hodgkin (salah satu jenis kanker sistem getah bening) dan sarkoma (salah satu jenis kanker tulang).

 

Derajat dan Stadium Kanker Kelenjar Air Liur

Berdasarkan bentuk sel, kanker kelenjar air liur dibagi menjadi tiga derajat (grade). Semakin tinggi derajatnya, pertumbuhan sel kanker semakin cepat dan prognosisnya semakin buruk.

  1. Derajat 1 (derajat rendah)

Bentuk sel kanker mirip dengan sel yang normal. Kanker derajat rendah tumbuh secara lambat dan kemungkinan besar dapat disembuhkan.

  1. Derajat 2 (derajat menengah)

Sel kanker memiliki bentuk yang berbeda dari sel normal.

  1. Derajat 3 (derajat tinggi)

Bentuk sel kanker sangat berbeda dari sel normal. Kanker derajat tinggi tumbuh dan menyebar secara cepat. Selain itu, kanker derajat ini sulit disembuhkan.

 

Selain berdasarkan bentuk sel, kanker kelenjar air liur juga memiliki beberapa stadium. Penentuan stadium kanker diperlukan untuk menilai penyebaran kanker dan menentukan pengobatan yang tepat. Stadium kanker kelenjar air liur ditentukan berdasarkan tiga hal, yaitu ukuran, ada tidaknya penyebaran ke kelenjar getah bening dan ada tidaknya penyebaran ke organ-organ tubuh yang lain.

  1. Stadium 0

Kanker hanya terbatas pada sel-sel yang melapisi saluran air liur. Belum ada penyebaran ke kelenjar getah bening di area kepala dan leher atau penyebaran ke organ tubuh lain.

  1. Stadium I

Kanker berukuran kurang dari 2 cm. Pada stadium ini juga belum terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening di area kepala dan leher atau penyebaran ke organ tubuh lain.

  1. Stadium II

Kanker berukuran 2–4 cm.  Belum ada penyebaran ke kelenjar getah bening di area kepala dan leher atau penyebaran ke organ tubuh lain.

  1. Stadium III

Kanker berukuran lebih dari 4 cm. Pada tahap ini, kanker sudah menyebar ke jaringan di sekitarnya dan kelenjar getah bening di kepala atau leher. Namun, kanker belum menyebar ke organ tubuh lain.

  1. Stadium IV

Pada kanker stadium IV awal, kanker telah menyebar ke jaringan sekitarnya, seperti saraf wajah, tulang rahang, lubang telinga, dan kulit. Kanker juga telah menyebar ke kelenjar getah bening di kepala dan leher, namun belum menyebar ke organ tubuh lain. Pada kanker stadium IV yang lanjut, kanker sudah menyebar hingga ke dasar tengkorak atau pembuluh nadi karotis di leher. Sementara itu, pada kanker stadium IV akhir, kanker telah menyebar ke organ tubuh lain, seperti paru-paru.

 

Tata Laksana Kanker Kelenjar Air Liur

Terdapat berbagai macam jenis pengobatan kanker kelenjar air liur. Pilihan pengobatan bergantung pada ukuran, derajat, jenis, dan lokasi kanker kelenjar air liur, serta usia dan kondisi pasien. Berikut adalah pilihan pengobatan kanker kelenjar air liur:

  1. Pembedahan/operasi

Pembedahan/operasi merupakan pilihan pengobatan utama pada kanker kelenjar air liur. Operasi dilakukan untuk mengangkat kanker. Kadang, pada proses ini, bagian wajah yang dekat dengan lokasi kanker juga akan diangkat. Oleh karena itu, dapat dilakukan bedah rekonstruksi untuk memperbaiki bagian wajah yang diangkat tersebut.

  1. Kanker kelenjar parotis

Pada kanker kelenjar parotis, dapat dilakukan pengangkatan sebagian kelenjar parotis (disebut parotidektomi superfisial) atau seluruh kelenjar parotis (disebut parotidektomi total), tergantung tingkat keganasan tumor. Pengangkatan kelenjar parotis juga dapat disertai dengan pengangkatan dan pencangkokan (graft) saraf wajah apabila kanker telah menyebar ke saraf tersebut. Risiko operasi yang mungkin terjadi adalah kelumpuhan saraf wajah yang memengaruhi kemampuan pasien untuk membentuk ekspresi wajah.

  1. Kanker kelenjar submandibula

Risiko operasi kanker kelenjar submandibula yang mungkin terjadi adalah kelumpuhan saraf-saraf lidah dan rahang bawah.

  1. Kanker kelenjar sublingual

Operasi kanker kelenjar sublingual memiliki risiko yang sama dengan operasi pada kanker kelenjar submandibula.

  1. Radioterapi/terapi radiasi

Radioterapi diberikan untuk kanker yang mungkin akan kambuh lagi. Radioterapi juga dilakukan untuk kanker yang lokasinya dekat dengan saraf atau pembuluh darah besar. Sebab, operasi di lokasi terebut terbatas. Belakangan ini, diperkenalkan teknik terbaru, yaitu pemberian radioterapi selama operasi berlangsung (radiasi intraoperatif).

  1. Kemoterapi

Penggunaan kemoterapi untuk pengobatan kanker kelenjar air liur tidak sering dilakukan karena kanker ini jarang menyebar ke organ lain. Namun pada kanker stadium lanjut, kemoterapi dapat diberikan bersamaan dengan radioterapi. Kemoterapi bertujuan untuk menghambat pertumbuhan tumor. Obat kemoterapi dapat dimasukkan dengan cara ditelan, diinfuskan, atau metode lain. Efek samping yang dapat timbul adalah mual, muntah, nyeri kepala, rambut rontok, rasa lemah, dan demam.

  1. Terapi target

Terapi target bekerja khusus pada sel kanker. Berbeda dengan kemoterapi, terapi ini lebih sedikit menyerang sel normal sehingga efek samping yang ditimbulkan lebih ringan.

  1. Terapi hormon

Saat ini, terapi hormon sedang dikembangkan untuk pengobatan kanker kelenjar air liur.

 

Prognosis Kanker Kelenjar Air Liur

Prognosis kanker kelenjar air liur cukup tinggi. Sekitar 72% pasien dengan kanker ini mampu bertahan hidup minimal lima tahun sejak pertama kali didiagnosis. Namun, angka kelangsungan hidup ini bervariasi, bergantung pada stadium kanker saat pertama kali didiagnosis. Sekitar 91% pasien dengan kanker kelenjar air liur stadium I dan 75% pasien dengan kanker kelenjar air liur stadium II mampu bertahan hidup selama lima tahun atau lebih sejak pertama kali didiagnosis. Angka ini menurun menjadi 65% dan 39% pada kanker kelenjar air liur stadium III dan IV.