KANKER KANDUNG KEMIH

Oleh : dr. Yaumil Reiza
Share

Pendahuluan

Kandung kemih merupakan sebuah organ berbentuk kantong yang terletak di perut bagian bawah. Organ ini berfungsi untuk menampung urine yang dihasilkan oleh ginjal. Bila sudah terisi penuh, kandung kemih akan teregang sehingga menimbulkan sinyal ke otak agar segera mencari toilet. Kandung kemih memiliki tiga lapisan:

  1. Lapisan dalam, yang terdiri dari sel-sel transisional (sel urotel). Sel-sel ini akan berubah menjadi gepeng setiap kali kandung kemih terisi penuh dan kembali ke bentuk semula apabila kandung kemih telah dikosongkan.
  2. Lapisan tengah, yang terdiri dari otot. Lapisan ini yang menekan urine keluar ketika kandung kemih dikosongkan (buang air kecil).
  3. Lapisan luar, yang terdiri dari lemak, jaringan fibrosa, dan pembuluh darah.

 

Kanker kandung kemih sendiri merupakan kanker yang berasal dari lapisan dalam kandung kemih.

 

Image result for bladder

Gambar 1. Struktur anatomi kandung kemih

Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6d/Diagram_showing_the_layers_of_the_bladder_CRUK_304.svg/2000px-Diagram_showing_the_layers_of_the_bladder_CRUK_304.svg.png

 

 

 

Image result for bladder cancer

Gambar 2. Kanker kandung kemih

Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d4/Bladder_Cancer_%2827785800576%29.jpg

 

 

Epidemiologi

Kanker kandung kemih merupakan keganasan paling sering ke-7 pada pria dan ke-17 pada wanita. Kanker ini tiga kali lipat lebih sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita. Median usia saat didiagnosis kanker ini adalah 65 tahun. Oleh karena itu, rata-rata pasien kanker kandung kemih juga memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes melitus (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), dan sebagainya. Kanker kandung kemih jarang ditemukan pada orang yang berusia kurang dari 40 tahun. Angka kejadian setiap tahunnya di seluruh dunia adalah 9 per 100.000 orang untuk laki-laki dan 2 per 100.000 orang untuk perempuan. Sementara di Indonesia, angka kejadian ini belum diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan mencapai 5,8 per 100.000 penduduk setiap tahunnya. Angka kematian akibat kanker kandung kemih di seluruh dunia adalah 3,2 per 100.000 orang setiap tahun, dengan perbandingan pria dan wanita adalah 3:1 per 100.000 orang. Di Indonesia, angka kematian akibat kanker kandung kemih mencapai 3,1 per 100.000 orang setiap tahunnya.

 

Faktor Risiko

Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita kanker kandung kemih:

  1. Merokok dalam jangka waktu lama

Orang yang merokok selama bertahun-tahun memiliki risiko mengalami kanker kandung kemih yang lebih tinggi dibandingkan dengan bukan perokok atau orang yang merokok hanya dalam jangka waktu yang pendek.

  1. Paparan bahan kimia

Para pekerja industri logam, tekstil, zat pewarna, karet, dan bahan kimia memiliki peningkatan risiko untuk menderita kanker kandung kemih. Selain itu, pekerja salon, sopir truk, dan pelukis juga berisiko tinggi. Beberapa zat yang telah diketahui sebagai karsinogen (penyebab kanker) adalah amino aromatik, hidrokarbon aromatik polisiklik, dan hidrokarbon yang diklorinasi. Paparan arsenik juga dapat meningkatkan risiko kanker kandung kemih.

  1. Infeksi dan iritasi kronis kandung kemih

Infeksi saluran kemih yang berulang dan iritasi oleh batu saluran kemih berukuran besar dapat meningkatkan risiko kanker kandung kemih. Infeksi cacing genus Schistosoma juga dilaporkan dapat meningkatkan risiko kanker kandung kemih.

  1. Paparan radiasi

Radiasi pada perut atau panggul untuk deteksi dan pengobatan kasus kanker prostat dan kandungan dapat meningkatkan risiko kanker kandung kemih.

  1. Kemoterapi

Beberapa obat kemoterapi, seperti siklofosfamid, dapat meningkatkan risiko kanker kandung kemih.

  1. Riwayat menderita kanker kandung kemih

Apabila seseorang pernah menderita kanker kandung kemih dan sembuh setelah diobati, maka ia akan berisiko menderita kanker tersebut lagi di kemudian hari.

  1. Riwayat keluarga menderita kanker kandung kemih

Apabila seseorang memiliki anggota keluarga yang menderita kanker kandung kemih, maka ia memiliki risiko untuk menderita kanker kandung kemih juga.

 

Klasifikasi

Berdasarkan pemeriksaan histopatologi (pengamatan sel kanker menggunakan mikroskop), kanker kandung kemih dapat dibedakan lagi menjadi beberapa macam. Sebagian besar kasus kanker kandung kemih termasuk ke jenis karsinoma sel transisional (95%), sementara sisanya merupakan karsinoma sel skuamosa (3%) dan adenokarsinoma (2%). Berdasarkan tingkat invasinya (kemampuan untuk menyebar ke organ lain di sekitarnya), kanker kandung kemih dikatakan sebagai non-invasive apabila kanker hanya terdapat di lapisan dalam (mukosa) saja, dan invasive apabila telah menembus lapisan mukosa hingga ke otot, bahkan hingga ke luar kandung kemih. Kanker kandung kemih juga dikelompokkan menjadi dua macam berdasarkan penampilan sel-selnya di bawah mikroskop, yaitu derajat rendah (low-grade) dan derajat tinggi (high-grade). Kanker low-grade (disebut juga well-differentiated atau berdiferensiasi baik) terlihat mirip dengan jaringan yang sehat, sedangkan kanker high-grade atau poorly differentiated terlihat sangat berbeda dengan jaringan yang sehat.

 

Gejala

Kanker kandung kemih dapat menimbulkan gejala-gejala berikut:

  1. Buang air kecil (BAK) berdarah

BAK berdarah (hematuria) merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan. Warna urine dapat menjadi jingga, merah muda, atau merah gelap, bergantung pada banyaknya darah. Kadang-kadang apabila jumlah darah sangat sedikit, maka warna BAK tetap normal. Pada keadaan demikian, darah tersebut hanya dapat ditemukan melalui pemeriksaan tes urine rutin di laboratorium. Keluhan ini bisa hilang-timbul. BAK berdarah tersebut biasanya tanpa nyeri, namun kadang-kadang dapat juga disertai sedikit nyeri.

  1. Perubahan kebiasaan BAK

Hal ini mencakup timbulnya keinginan BAK lebih sering dari biasanya, adanya nyeri atau panas ketika BAK, pancaran BAK yang tidak kuat, rasa tidak lampias saat BAK, dan harus mengejan kuat saat BAK.

  1. Gejala lanjutan

Apabila kanker tumbuh cukup besar atau sudah menyebar ke bagian tubuh yang lain, maka dapat muncul gejala lanjutan, seperti ketidakmampuan untuk BAK sama sekali, nyeri pinggang, pembengkakan di kaki, penurunan nafsu makan dan berat badan, serta lemas.

 

Seperti yang telah disebutkan, gejala-gejala di atas tidak selalu menandakan adanya kanker kandung kemih, tetapi juga dapat disebabkan oleh infeksi, batu saluran kemih, pembesaran kelenjar prostat, atau penyakit lain. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala tersebut untuk mengetahui penyebabnya.

 

Diagnosis

Apabila seseorang mengalami gejala yang dapat mengarah ke kanker kandung kemih, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara) untuk mengetahui gejala yang dialami, termasuk faktor risiko yang dimiliki. Dokter juga akan menanyakan tentang riwayat penyakit sebelumnya dan riwayat penyakit keluarga. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan perabaan (palpasi) perut untuk menentukan lokasi ginjal dan kandung kemih. Bila perlu, dokter akan melakukan tes colok dubur: jari yang telah dilapisi sarung tangan dan pelumas dicolokkan ke dalam dubur untuk memeriksa struktur dubur dan organ sekitarnya. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul. Pemeriksaan colok dubur dan panggul dapat menilai adanya tumor pada kandung kemih, ukuran tumor, dan sejauh mana tumor telah menyebar.

 

Apabila terdapat kelainan, pasien akan dirujuk ke dokter spesialis bedah urologi untuk menjalani sejumlah pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis, antara lain:

  1. Pemeriksaan urine rutin dan sitologi urine

Tes ini dapat mendeteksi adanya darah, sel kanker, atau penanda lain di dalam urine.

  1. Tes darah

Selain menilai kondisi sel-sel darah secara umum, dokter juga akan menilai fungsi hati dan fungsi ginjal melalui tes darah. Dokter mungkin juga akan memeriksakan penanda tumor (tumor marker) yang spesifik untuk kanker.

  1. Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan ini dapat melihat adanya tumor atau hambatan pada saluran kemih.

  1. Urografi intravena (intravenous urography atau IVU)

Zat kontras akan disuntikkan ke dalam pembuluh darah, kemudian zat kontras ini akan terkumpul dalam urine sehingga dapat memberikan gambaran jelas saluran kemih melalui foto rontgen berulang.

  1. CT scan

Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi yang lebih baik dari IVU. Pemeriksaan ini dapat menilai derajat invasi tumor, pembesaran kelenjar getah bening, dan penyebaran (metastasis) kanker ke organ lain yang jauh.

  1. MRI

Serupa dengan CT scan, pemeriksaan ini juga dapat menilai derajat invasi tumor, pembesaran kelenjar getah bening, dan penyebaran (metastasis) kanker ke organ lain yang jauh. Bedanya dengan CT scan, MRI tidak menimbulkan paparan radiasi, tetapi membutuhkan persiapan yang lebih lama.

  1. Foto rontgen dada

Pemeriksaan ini dapat mengetahui adanya penyebaran kanker ke paru-paru.

  1. Sistoskopi

Pada pemeriksaan ini, dokter akan menggunakan tabung yang tipis (sistoskop) yang dimasukkan melalui muara saluran kemih (uretra) untuk melihat kandung kemih secara langsung. Karena pemeriksaan ini tidak nyaman, maka digunakan pembiusan lokal.

  1. Biopsi

Dokter akan mengambil sampel jaringan kandung kemih dengan sistoskop, kemudian jaringan tersebut akan diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi merupakan cara yang paling akurat atau baku untuk mendiagnosis kanker. Pada beberapa kasus, biopsi dilakukan ketika operasi pengangkatan tumor.

 

Image result for cystoscopy

Gambar 3. Sistoskopi

Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/38/Diagram_showing_a_cystoscopy_for_a_man_and_a_woman_CRUK_064.svg/2000px-Diagram_showing_a_cystoscopy_for_a_man_and_a_woman_CRUK_064.svg.png

 

Stadium dan Klasifikasi

Kanker kandung kemih dibagi atas beberapa stadium:

  1. Stadium 0: Sel-sel kanker hanya ditemukan di permukaan dinding lapisan dalam kandung kemih, atau lazim disebut karsinoma in situ.
  2. Stadium I: Tumor tumbuh ke lapisan dalam kandung kemih, namun belum menembus lapisan otot.
  3. Stadium II: Tumor telah menembus lapisan otot.
  4. Stadium III: Tumor telah mencapai organ di dekat kandung kemih, seperti rahim dan vagina (pada perempuan) atau kelenjar prostat (pada laki-laki).
  5. Stadium IV: Tumor telah mencapai dinding panggul atau perut, atau telah menyebar ke kelenjar getah bening, atau telah menyebar ke organ-organ lainnya (hati, paru-paru, dan tulang).

 

Tata Laksana

Pengobatan kanker kandung kemih ada bermacam-macam pilihan, meliputi pembedahan (operasi), kemoterapi, dan radioterapi. Pengobatan yang diberikan bergantung pada lokasi tumor, penyebaran tumor, stadium tumor, usia pasien, dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Oleh karena itu, pasien mungkin mendapatkan lebih dari satu macam pengobatan. Dalam pengobatan kanker kandung kemih, pasien akan ditangani oleh dokter spesialis bedah urologi.

 

  1. Pembedahan

Pembedahan dapat dilakukan menggunakan dua cara, yaitu melalui muara saluran kemih (transurethral resection atau TUR) atau operasi terbuka. Metode pembedahan transuretral tidak menggunakan pisau, namun hanya menggunakan sistoskop. Alat untuk memotong akan disisipkan melalui sistoskop. Metode ini digunakan untuk kanker kandung kemih stadium awal. Pasien kemungkinan akan mengalami BAK berdarah atau sulit BAK selama beberapa hari setelah prosedur ini. Sementara itu, operasi terbuka menggunakan pisau untuk mengangkat jaringan kanker. Operasi terbuka dapat mengangkat sebagian kecil kandung kemih (sistektomi parsial) atau seluruh kandung kemih (sistektomi radikal). Organ-organ yang terdekat dan kelenjar getah bening mungkin juga diangkat, tergantung dari derajat beratnya kanker. Setelah sebagian kandung kemih diangkat, pasien kemungkinan tidak dapat menahan BAK sebanyak seperti sebelumnya sehingga pasien akan BAK lebih sering. Namun, apabila seluruh kandung kemih diangkat, maka dokter akan membuat saluran kemih baru, baik menggunakan sebagian dari usus maupun kantong urine (urine bag). Setelah operasi, dokter akan menyarankan pemasangan kateter urine, yaitu selang untuk mempermudah BAK. Operasi pengangkatan kanker kandung kemih dapat juga memengaruhi kehidupan seksual. Oleh karena itu, keputusan menjalani operasi perlu didiskusikan dengan pasangan.

  1. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan obat-obatan untuk melawan kanker yang dapat diberikan dalam bentuk obat minum, obat suntikan ke pembuluh darah vena (intravena), atau ke dalam kandung kemih langsung (intravesika). Kemoterapi diberikan dalam siklus-siklus yang terdiri dari periode pengobatan dan periode istirahat. Ketika menjalani kemoterapi, pasien kemungkinan akan mengalami efek samping, seperti mual, muntah, diare, rambut rontok, kebas-kebas, rasa cepat lelah, dan penurunan jumlah sel darah. Efek samping ini lebih ringan pada kemoterapi intravesika, tetapi pasien kemungkinan akan lebih sering BAK atau mengalami BAK berdarah selama beberapa hari. Efek samping ini biasanya menghilang setelah pengobatan selesai.

  1. Radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi diberikan setelah pembedahan atau bersama dengan kemoterapi. Pengobatan ini berupa sinar radiasi yang dipancarkan ke daerah panggul. Pengobatan ini dilakukan selama beberapa minggu, dengan setiap sesi pengobatan memakan waktu sekitar 30 menit. Efek samping yang mungkin timbul antara lain mual, muntah, dan diare. Namun, umumnya radioterapi tidak dianjurkan dalam pengobatan kanker kandung kemih.

 

Prognosis

Prognosis atau hasil akhir dari suatu kanker dinilai dalam tingkat kelangsungan hidup lima tahun (5-year survival rate). Angka ini tidak dapat digunakan untuk memperkirakan berapa lama sisa waktu pasien untuk hidup, tetapi dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan pengobatan. Contohnya, apabila tingkat kelangsungan hidup lima tahun suatu kanker adalah 75%, itu artinya 75 dari 100 orang yang menderita kanker tersebut masih hidup lima tahun setelah didiagnosis dan diobati. Berdasarkan data terbaru dari National Cancer Institute, tingkat kelangsungan hidup lima tahun penderita kanker kandung kemih untuk semua stadium adalah 77%. Untuk setiap stadium, tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk stadium 0 sebesar 98%, stadium I sebesar 88%, stadium II sebesar 63%, stadium III sebesar 46%, dan stadium IV sebesar 15%. Dengan demikian, semakin cepat kanker kandung kemih diobati, semakin baik juga hasil ke depannya.

Kanker low-grade cenderung lebih mudah diobati dan memiliki prognosis yang baik, sementara kanker high-grade cenderung lebih sulit diobati dan memiliki prognosis yang buruk, tetapi masih terdapat pilihan pengobatan yang dapat diberikan. Setelah pengobatan, pasien akan diminta untuk melakukan kontrol rutin setiap 3–6 bulan sekali karena kanker kandung kemih memiliki angka kekambuhan yang tinggi.