KANKER KANDUNG EMPEDU

Oleh : dr. Benny Theodore
Share

Kandung empedu

Kandung empedu merupakan kantung yang menyerupai buah pir dan terletak di bawah hati/liver. Kantung ini memiliki ukuran 7 cm hingga 10 cm dengan kemampuan tampung sekitar 30 ml. Organ ini terletak sejajar dengan garis imajiner yang memisahkan hati bagian kanan dengan hati bagian kiri. Kandung empedu dihubungkan dengan hati oleh jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfatik, dan saluran empedu.

Sesuai dengan namanya organ ini berfungsi untuk menampung cairan empedu yang sudah dihasilkan oleh hati. Cairan empedu diproduksi terus menerus oleh hati, meskipun kita sedang tidak makan. Cairan tersebut kemudian disimpan di kandung empedu. Pada saat makan, cairan yang ada di kandung empedu akan disalurkan ke usus.

Di dalam kandung empedu, cairan empedu akan dipadatkan hingga memiliki kepekatan lima sampai sepuluh kali tinggi dari sebelumnya. Proses pemekatan ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya batu kandung empedu. Dalam sehari, tubuh kita dapat mengeluarkan sekitar 250–100 ml cairan empedu ke dalam saluran cerna.

Gambar 1. Letak kandung empedu

Sumber : Wikimedia.org

 

Penyebab

Kanker kandung empedu merupakan jenis kanker yang jarang dan mempunyai prognosis buruk. Kanker ini hampir tidak menimbulkan keluhan dan gejala. Penemuan kanker lebih sering terjadi secara tidak sengaja saat proses pengobatan penyakit yang lain, misalnya pada saat operasi pengangkatan batu empedu. Oleh karena itu, cukup sulit untuk menegakkan diagnosis kanker kandung empedu. Diagnosis biasanya ditegakkan pada stadium lanjut dan kandung empedu sudah dalam kondisi yang sangat buruk, bahkan telah  dihancurkan oleh sel-sel kanker.

Kanker kandung empedu biasanya muncul pada pasien yang mengalami infeksi kandung empedu secara kronik. Infeksi ini, paling sering disebabkan oleh batu empedu dari kolesterol. Penyebab lain dari infeksi tersebut, antara lain adalah infeksi tifus, infeksi usus, infeksi lambung, dan lain-lain.

Faktor lain yang dapat menyebabkan kanker kandung empedu adalah obesitas, penggunaan obat tertentu (kontrasepsi oral, metildopa, isoniazid), pajanan terhadap bahan kimia (pestisida, hasil sisa dari pengolahan karet), pajanan terhadap zat-zat di tempat kerja (tekstil, minyak bumi, sepatu), penggunaan air yang tidak bersih, logam berat, dan radiasi. Kelainan anatomi dan genetik juga merupakan faktor pendukung untuk terjadinya kanker kandung empedu.

 

Epidemiologi

Kanker kandung empedu merupakan jenis kanker sistem saluran empedu yang paling sering ditemukan. Kanker ini menempati peringkat ke enam dari kanker saluran cerna tersering di dunia. Angka kejadian yang tinggi dipengaruhi oleh pajanan dengan karsinogen di lingkungan sekitar dan kelainan genetik yang sudah ada pada diri pasien. Faktor risiko kanker kandung empedu sangat bervariasi dan berhubungan kondisi geografis dan perbedaan etnis. Kanker kandung empedu paling banyak ditemukan di Amerika Latin, Asia, serta beberapa negara di Eropa Timur dan Tengah.

Sejak tahun 1973, angka kejadian kanker empedu secara global sudah menurun sebesar 50% dari tahun-tahun sebelumnya. Perempuan memiliki peluang lebih besar untuk terkena kanker kandung empedu. Kanker ini juga lebih sering menyerang populasi lanjut usia, biasa yang sudah memasuki dekade ketujuh.

 

Gejala

Gejala kanker ini biasanya menyerupai gejala batu empedu, sehingga sangat untuk membedakannya. Kanker biasanya menimbulkan nyeri yang menetap, sementara nyeri pada batu hilang timbul. Kanker yang sudah parah dapat menimbulkan gejala lain, misalnya ikterik (kulit menjadi berwarna kuning), penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.

Berikut adalah gejala-gejala kanker kandung empedu

  1. Nyeri pada perut bagian kanan atas yang menetap
  2. Rasa mual dan muntah
  3. Ikterik yaitu perubahan warna kulit menjadi kuning
  4. Massa di perut, terutama di perut bagian kanan
  5. Demam
  6. Kulit terasa gatal
  7. Air seni berwarna gelap
  8. Tinja berwarna terang

Gejala-gejala di atas adalah gejala yang sangat umum dan belum memastikan diagnosis kanker kandung empedu. Gejala serupa juga dapat disebabkan oleh batu empedu, hepatitis, dan penyakit lainnya.

 

Diagnosis dan pemeriksaan

Gejala kanker kandung empedu yang tidak khas sering menyebabkan penegakkan diagnosis dan pengobatan menjadi terlambat. Beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan laboratorium, radiologi, dan biopsi (pengambilan sedikit jaringan tumor/kanker untuk diperiksa di laboratorium) dapat membantu tim dokter untuk menentukan diagnosis dan memberikan pengobatan yang tepat. Setiap kanker di sistem saluran empedu memiliki karakteristik khas masing-masing sehingga pengobatan yang diberikan juga berbeda-beda.

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah:

  1. Hitung darah lengkap: untuk mendeteksi anemia
  2. Tes fungsi hati: dapat ditemukan peningkatan alkalin fosfatase dan bilirubin
  3. Tes fungsi ginjal : perlu dilakukan bila ada rencana untuk melaksanakan CT-scan dengan kontras
  4. Tes penanda tumor CA 19-9 : jika ditemukan peningkatan kadar penanda tumor ini, kemungkinan telah terjadi tumor di sistem saluran empedu.

Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan:

  1. Ultrasonography (USG) dan Endoscopic Ultrasonography (EUS): pilihan pemeriksaan awal untuk nyeri perut di sebelah kanan atas. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi massa kanker kandung empedu dan mengetahui penyebaran kanker ke hati.
  2. CT-scan: dapat melihat penyebaran kanker ke organ di dalam rongga perut atau panggul.
  3. MRI: untuk menegakkan diagnosis kanker di sistem saluran empedu.
  4. Cholangiography: pemeriksaan menggunakan sinar x dan zat kontras untuk melihat saluran empedu dan hati.
  5. Angiography: pemeriksaan pembuluh darah menggunakan sinar x dan kontras. Pada kanker empedu, pemeriksaan ini dapat menilai pembuluh darah di sekitar hati dan kandung empedu
  6. Foto rontgen paru: untuk menilai adanya penyebaran kanker ke organ paru.

Pada pemeriksaan biopsi, dilakukan pemeriksaan sampel jaringan yang dicuragi kanker. Kemudian diperiksa menggunakan mikroskop. Pengambilan sampel jaringan dapat dilakukan dengan cara berikut:

  1. Pengambilan sampel jaringan saat pemeriksaan cholangiography.
  2. Pengambian sampel dengan metode endoscopic ultrasonography guided fine needle aspiration.

 

Staging (derajat)

Berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh American Joint Cancer Committee (AJCC), kanker kandung empedu dibagi menjadi empat derajat. Pembagian ini menggunakan sistem tumor, node, metastase (TNM).

Berikut adalah penjelasan mengenai sistem TNM pada kanker kandung empedu:

  1. Kategori T (Tumor)

 

Kategori

Subkategori

Tx

Tumor tidak dapat dinilai

 

T0

Tumor tidak dapat ditemukan

 

T1

Tumor menginvasi lamina propia atau lapisan otot

T1a

Tumor ditemukan di lamina propia

T1b

Tumor ditemukan di lapisan otot

T2

Tumor menginvasi jaringan ikat perimuskular

 

T3

Tumor menginvasi lapisan serosa

 

T4

Tumor menginvasi pembuluh darah yang menuju ke hati atau beberapa organ di luar hati atau kelenjar getah bening di sekitar kandung empedu

 

 

 

  1. Kategori N (kelenjar getah bening)

Kategori

Deskripsi

Nx

Kelenjar getah bening tidak diperiksa

N0

Sel kanker tidak menyebar ke kelenjar getah bening

N1

Sel kanker menyebar ke kelenjar getah bening di sekitar kandung empedu

N2

Sel kanker menyebar ke kelenjar getah bening yang berada jauh dari  kandung empedu

 

  1. Kategori M

Kategori

Mx

Penyebaran ke organ lain tidak dapat  diperiksa

M0

Penyebaran ke organ yang berada di sekitar kandung empedu

 M1

Penyebaran ke organ yang berada jauh dari kandung empedu

 

  • Staging kanker kandung empedu menurut AJCC
  1. Stage 0 = T0 N0 M0
  2. Stage I = T1 N0 M0
  3. Stage II = T2 N0 M0
  4. Stage IIIA = T3 N0 M0
  5. Stage IIIB = T1–3 N1 M0
  6. Stage IVA = T4 N0–1 M0
  7. Stage IVB = Tx–4 N2 M0 ATAU Tx–4 N0–2 M1

 

Pengobatan

Pengobatan utama kanker kandung empedu adalah operasi pengangkatan kandung empedu. Terapi bedah/operasi ini memberikan kemungkinan sembuh yang paling besar. Sayangnya, mayoritas pasien datang pada saat kanker sudah menyebar ke organ tubuh lain sehingga pengangkatan kandung empedu saja tidak cukup untuk menyembuhkan kanker. Operasi biasanya akan mengangkat seluruh organ kandung empedu. Sebab, pengangkatan sebagian kandung empedu dapat meningkatkan risiko kekambuhan dan kematian. Bila ditemukan penyebaran kanker ke hati, akan dilakukan pula pengangkatan sebagian hati yang terkena kanker.

Rekurensi atau angka kekambuhan masih merupakan masalah untuk prosedur operasi. Terapi adjuvan (tambahan) setelah operasi menggunakan kemoterapi atau radioterapi masih belum banyak diteliti bahkan di negara-negara maju sekalipun. Penelitian yang ada saat ini menyatakan bahwa terapi adjuvan dapat meningkatkan angka survival pasien.

Dari semua pasien yang mengalami kanker kandung empedu, hanya sekitar 25% yang dapat menjalani operasi pengangkatan kandung empedu. Pada kasus yang tidak dioperasi, penggunaan radioterapi dan kemoterapi dapat dimanfaatkan. Salah satu penelitian di India melibatkan 81 pasien kanker kandung empedu yang tidak dapat dioperasi. Dalam penelitian tersebut, diberikan dua macam perlakuan. Grup pertama diberikan obat kemoterapi dan yang kedua tidak diberikan kemoterapi. Hasilnya, grup yang pertama memiliki angka survival yang lebih tinggi dibandingkan grup kedua.

National Comprehensive Cancer Network (NCCN) mengeluarkan rekomendasi untuk pasien yang kankernya tidak dapat dioperasi, yaitu:

  1. Terapi suportif dan paliatif
  2. Pemakaian obat-obat kemoterapi dan radioterapi

 

Prognosis

Prognosis pasien kanker kandung empedu  dipengaruhi oleh penyebaran sel kanker. Seperti kanker lainnya, semakin jauh dan luas penyebarannya semakin buruk pula prognosisnya. Kanker kandung empedu sering ditemukan pada tahap lanjut. Hanya sekitar 10–20% pasien yang ditemukan dalam kondisi kanker masih tahap awal. Struktur dan letak kandung empedu yang berdekatan dengan hati, usus, dan organ dalam lainnya mengakibatkan sel-sel kanker ini mudah menyebar ke organ lain. Sebaliknya, kanker kandung empedu tahap awal memiliki angka survival yang lebih baik. Diagnosis serta pengobatan dini sangat penting dan berhubungan dengan prognosis yang lebih baik.

 

Pencegahan

Sampai saat ini belum ditemukan cara yang pasti untuk mencegah kanker. Setiap orang memiliki faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti jenis kelamin, usia, keturunan, dan ras. Pola makan seimbang dan bergizi, aktif beraktivitas fisik, istirahat cukup, mengurangi stressor, dan menerapkan pola hidup sehat merupakan contoh-contoh kecil yang dapat kita lakukan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kanker.