Kanker Indung Telur (Ovarium)

Oleh : dr. Wiedya Kristianti Angeline
Share

Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan pada alat reproduksi wanita dengan angka kematian yang tinggi. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan oleh jarangnya pemeriksaan ovarium dan gejala yang cenderung sulit diketahui dan biasanya terdeteksi setelah berada pada stadium lanjut. Mengetahui penyakit ini secara dini sangatlah penting karena pada stadium awal, pengobatannya cukup efektif. Untuk selanjutnya, mari perhatikan pembahasan berikut ini.

 

Sekilas organ

Ovarium atau yang dikenal juga sebagai indung telur merupakan organ yang penting bagi seorang wanita. Ovarium adalah bagian dari organ reproduksi wanita yang mempunyai fungsi ganda, yaitu memproduksi sel telur dan menghasilkan hormon reproduksi. Hormon-hormon yang dihasilkan akan mempersiapkan dinding rahim untuk penanaman sel telur yang telah dibuahi sel sperma dan proses kehamilan terjadi.

 

Gambar 1. Posisi ovarium pada organ kewanitaan.

Sumber: CDC [Public domain], via Wikimedia Commons

 

Kondisi kanker ovarium di dunia dan Indonesia 

Menurut WHO, kasus kanker ovarium meliputi 30% dari keganasan yang dijumpai pada organ reproduksi wanita atau sekitar 204 ribu kasus per tahun. Risiko seorang wanita untuk mengalami kanker ovarium selama kehidupannya adalah 1 dalam 75 dan risiko meninggalnya adalah 1 dalam 100. Di dunia sendiri, terdapat 125 ribu wanita yang meninggal akibat kanker ovarium setiap tahunnya.

Di Indonesia, kanker ini umum terjadi sebagaimana kanker rahim dan kanker serviks. Indonesian Society of Gynecologic Oncology menunjukkan bahwa pada tahun 2012, kanker ovarium menduduki urutan kedua terbanyak setelah kanker serviks, dengan jumlah 354 kasus. Angka kejadian kanker ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya usia, yaitu 15-16 per 100.000 pada usia 40-44 tahun, dan paling tinggi yaitu 57 per 100.000 pada usia 70-74 tahun. Biasanya, pasien terdiagnosis pada usia di atas 60 tahun. Selain itu, karena belum ditemukan metode deteksi dini yang efektif, hampir 70% kasus ditemukan pada keadaan yang sudah lanjut yakni setelah tumor menyebar jauh di luar ovarium.

 

Jenis Kanker Ovarium

Terdapat lebih dari 30 jenis kanker ovarium. Namun, secara umum dikelompokkan menjadi tiga jenis utama, berdasarkan asal sel dari perkembangan kanker, yaitu:

  • Tumor epitelial

Sel kanker muncul pada lapisan jaringan terluar yang membungkus ovarium. Kanker ovarium jenis epitel inilah yang merupakan jenis kanker ovarium yang paling banyak terjadi yaitu 9 dari 10 kasus (90%) dan merupakan jenis yang paling berbahaya. Jenis ini biasanya timbul pada wanita berusia 50 tahun keatas.

  • Tumor stromal

Kanker yang muncul pada lapisan sel-sel penghasil hormon dan penghubung berbagai struktur berbeda dari ovarium. Jenis kanker ini termasuk jarang (5-8% kasus) dan dianggap sebagai kanker derajat rendah dimana sekitar 70% menunjukkan penyakit stadium I. Tumor stromal dapat muncul pada wanita usia manapun, walaupun jenis-jenis tumor tertentu lebih sering didapatkan pada usia remaja.

  • Tumor sel germinal

Kanker berkembang pada sel-sel penghasil telur. Jenis kanker ovarium ini cenderung terjadi pada wanita usia muda berusia 20 tahunan. Kebanyakan tumornya bersifat jinak, walaupun beberapa bersifat ganas dan mungkin membahayakan jiwa. Saat ini, 90% dari pasien ini dapat disembuhkan dan kesuburannya dapat dipertahankan.

 

Faktor Risiko dan Penyebab

Faktor risiko adalah hal-hal yang dapat mengubah kemungkinan seseorang untuk mengalami penyakit seperti kanker. Namun, dengan memiliki faktor risiko belum berarti seseorang akan mendapatkan penyakit tersebut. Hanya saja sampai saat ini, terdapat beberapa faktor yang diduga berperan besar dalam meningkatkan perkembangan kanker ovarium, diantaranya:

  • Usia

Risiko menderita kanker ovarium meningkat dengan bertambahnya usia. Tumor jinak ovarium umumnya lebih banyak terjadi pada wanita berumur 20-45 tahun, sedangkan tumor ganas lebih sering menyerang wanita dengan umur 45-60 tahun.

  • Demografi

Wanita berkulit putih lebih rentan dibanding wanita kulit berwarna.

  • Jumlah kelahiran

Kelahiran lebih dari satu kali berkaitan dengan penurunan risiko terkena kanker ovarium, di mana kelahiran dengan kehamilan cukup bulan mempunyai risiko terkena kanker ovarium sebesar 0,6-0,8 kali dibandingkan dengan wanita tidak pernah melahirkan. Wanita yang tidak pernah hamil (nulliparitas) setelah usia 35 tahun juga memiliki risiko yang lebih tinggi.

  • Penggunaan kontrasepsi

Penggunaan kontrasepsi dilaporkan dapat menurunkan risiko kanker ovarium sedangkan terapi hormon pada wanita menopause dapat meningkatkan risiko kanker ovarium. Penurunan risiko kanker ovarium pada pemakai kontrasepsi oral diperkirakan dapat mencapai sekitar 30-60%.

  • Hubungan familial (familial tendency)

Sejumlah penelitian membuktikan hubungan kanker ovarium dengan riwayat keluarga. Peningkatan risiko kanker ovarium bila terdapat riwayat pada garis keturunan pertama (Ibu), saudara perempuan, tante, atau nenek, dan risiko semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga yang memiliki kanker ovarium. Peningkatan risiko juga dapat melalui kanker ovarium yang berasal dari garis keturunan Ayah. Riwayat keluarga akan kanker jenis lain seperti kanker kolorektal dan kanker payudara dihubungkan juga dengan peningkatan risiko.

  • Mutasi gen

Terdapat 90% dari tumor ganas ovarium yang berhubungan dengan mutasi gen BRCA1 dan/atau BRCA2 yang diturunkan. Selain itu terdapat beberapa gen lain yang juga berhubungan dengan kanker ovarium seperti pada Sindroma Lynch (yang dikenal sebagai Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer (HNPCC)).

  • Obesitas

Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya peningkatan risiko pada wanita obesitas. Suatu penelitian menemukan bahwa pada wanita dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 30 kg/m2 atau obesitas memiliki kemungkinan 1,59 kali untuk  mengalami kanker ovarium dibandingan wanita dengan IMT normal.

  • Menyusui

Wanita-wanita yang menyusui mempunyai risiko terjadinya kanker ovarium sebesar 0,6 kali lebih rendah dibandingkan dengan wanita-wanita yang tidak pernah menyusui.

  • Infertilitas

Infertilitas mempunyai risiko tinggi terkena kanker ovarium. Beberapa peneliti menemukan hal ini berkaitan dengan seringnya pasien-pasien infertil terpapar atau diterapi dengan obat-obat untuk menginduksi ovulasi.

  • Terapi Hormon Pengganti (HRT)

Terapi Hormon Pengganti digunakan untuk mengatasi gejala-gejala yang berkaitan dengan menopause. Penelitian terakhir mengindikasikan bahwa menggunakan kombinasi esterogen dan progestin untuk 5 tahun atau lebih meningkatkan risiko kanker ovarium pada wanita yang belum menjalani operasi pengangkatan alat reproduksi dan penggunaan 10 tahun atau lebih pada wanita yang telah menjalani operasi.

  • Faktor hormonal

Hal ini meliputi pubertas yang lebih awal (menstruasi sebelum berusia 12 tahun) atau menopause yang terlambat (setelah 50 tahun).

  • Merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko dari jenis kanker ovarium tertentu. Sekitar 3% dari beberapa jenis kanker ovarium berhubungan dengan paparan asap rokok.

  • Faktor lingkungan

Radiasi, asbestosis, infeksi virus (campak, gondongan), penggunaan talkum (bedak) pada daerah kemaluan.

  • Diet

Diet rendah lemak menunjukkan risiko yang lebih rendah untuk terkena kanker ovarium.

 

Gejala

Kanker ovarium akan sulit untuk didiagnosis pada stadium awal, karena gejala-gejalanya yang sering samar-samar. Terlebih, timbulnya gejala-gejala tersebut hampir serupa dengan gejala penyakit saluran pencernaan maupun saluran kemih yang umum, sehingga gejala-gejala terasa baru muncul ketika tumor telah tumbuh mencapai jaringan sekitarnya dan ke organ-organ lain. Menurut American Cancer Society, hanya sekitar 20% kasus yang terdiagnosis pada stadium awal. Tetapi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker ovarium pada stadium awal sekalipun umumnya sudah dapat menyebabkan gejala-gejala berikut:

  • Perut terasa kembung
  • Nyeri panggul atau perut

Selanjutnya, pada stadium lebih lanjut, kanker ovarium akan dapat menyebabkan berbagai gejala lainnya, seperti:

  • Menstruasi yang tidak teratur atau perdarahan vagina setelah menopause
  • Nyeri perut bagian bawah (misal, kram)
  • Nyeri punggung bagian bawah
  • Gejala urinasi (lebih sering buang air kecil daripada biasanya)
  • Konstipasi atau diare
  • Nyeri saat berhubungan
  • Perut yang membesar 
  • Nafsu makan berkurang, kesulitan makan atau cepat merasa kenyang
  • Penurunan berat badan mendadak tanpa diet ataupun olahraga

Pada saat kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh, gejala-gejala yang dapat timbul meliputi:

  • Kelelahan
  • Mual
  • Pembengkakan kaki (akibat penumpukan cairan limfatik)
  • Nafas yang terasa pendek (akibat penumpukan cairan pada sekitar paru-paru)
  • Pembesaran perut akibat penumpukan cairan

 

Stadium

Stadium kanker ovarium menjelaskan seberapa jauh tumor telah menyebar dari asalnya di ovarium dan mengindikasikan seberapa agresifnya kanker. Mengetahui stadium akan membantu untuk menentukan rencana penatalaksanaan terbaik.

Berikut adalah 4 stadium dari kanker ovarium:

  • Stadium I

Pada stadium I, kanker terbatas pada ovarium (dapat satu atau keduanya) dan belum menyebar ke organ atau jaringan lain dalam tubuh.

  • Stadium II

Pada stadium II, kanker berada pada satu atau kedua ovarium dan telah menyebar ke organ-organ dan jaringan lain dalam panggul. Kanker belum menyebar keluar panggul atau ke kelenjar getah bening manapun.

  • Stadium III

Pada stadium III, kanker berada pada satu atau kedua ovarium. Kanker telah menyebar ke organ-organ dan jaringan lain diluar panggul menuju jaringan pada perut. Dan, satu atau lebih dari berikut ini telah terjadi: 1) kanker telah menyebar ke jaringan yang melapisi bagian dalam perut (peritoneum); atau 2) kanker mungkin telah menyebar ke kelenjar getah bening di bagian belakang perut dibalik peritoneum.

  • Stadium IV

Pada stadium IV, kanker telah menyebar ke lokasi yang jauh dalam tubuh melewati panggul dan perut. Kanker mungkin telah menyebar ke organ seperti paru-paru, otak, atau kulit. Mungkin pula telah menyebar ke dalam hati dan limpa. Selain itu kanker mungkin telah menyebar ke kelenjar getah bening diluar perut.

 

Diagnosis dan Pemeriksaan

Diagnosis pada stadium awal akan menguntungkan karena dapat meningkatkan harapan hidup. Diagnosis awal akan dibuat berdasarkan anamnesis atas gejala-gejala yang dialami, riwayat kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik. Kemudian, pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosis.

  • Pemeriksaan Fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menemukan adanya massa atau pembesaran dengan merasakan bagian perut dan vagina bagian dalam. Karena ovarium biasanya berukuran kecil dan berada di bagian yang dalam, pemeriksaan fisik mungkin tidak efektif untuk mendeteksi kanker ovarium stadium awal. Pada keadaan yang lebih lanjut mungkin akan dapat ditemukan penumpukan cairan pada perut (asites), penumpukan cairan sekitar paru-paru (efusi pleura) dan sumbatan usus.

  • Ultrasonografi (USG)

Jenis pemeriksaan ini adalah salah satu cara terbaik untuk melihat ovarium, terutama kanker ovarium stadium awal. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui bentuk, ukuran, dan struktur ovarium.

  • Sitologi cairan

Cairan yang terjadi karena kanker ovarium dapat ditemukan di rongga perut ataupun di paru. Cairan di perut dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan pembengkakan sehingga harus dikeluarkan dengan prosedur bernama parasentesis. Cairan yang menumpuk di paru (rongga pleura) dapat dikeluarkan supaya tidak nyeri dan sesak napas dengan menggunakan jarum melalui prosedur torakosintesis. Cairan yang dikeluarkan kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk melihat adanya sel kanker.

  • Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah untuk memeriksa darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi hati, urin dan protein kimia yang dihasilkan sel kanker yang disebut dengan tumor marker (penanda tumor). Penanda tumor paling sering untuk kanker ovarium adalah CA-125. Kadar CA-125 dapat lebih tinggi (lebih dari 80%) pada wanita dengan kanker ovarium stadium lanjut dan sekitar 50% pada stadium awal, tetapi juga dapat ditemukan normal pada stadium awal. Pemeriksaan ini tidak dapat dijadikan patokan karena CA-125 juga dapat meningkat pada wanita yang tidak memiliki kondisi kanker seperti menstruasi, endometriosis, irritable bowel syndrome, penyakit ginjal, hati, fibroid uteri atau kondisi lainnya. Perlu pemeriksaan klinis untuk memastikan temuan laboratorium ini.

  •  Rontgen (X-ray)

Rontgen digunakan untuk membantu menentukan ada tidaknya penyebaran kanker. Rontgen dada dapat dilakukan untuk mengecek adanya cairan dalam rongga dada (pleura).

  • CT Scan

CT (Computerised Tomography) scan dapat menentukan ukuran tumor, sifat, lokasi penyebaran dan menilai pembesaran kelenjar getah bening.

  • MRI Scan

MRI (Magnetic Resonance Imaging) scan menghasilkan potongan-potongan gambar yang detil dari tubuh. Pemeriksaan ini jarang digunakan untuk kanker ovarium tetapi dapat dipertimbangkan ketika hasil USG kurang jelas.

  • PET Scan

PET (Positron Emission Tomography) scan merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi potongan jaringan abnormal/sel kanker yang beredar dalam tubuh. Hasil pemeriksaan ini akan lebih bermakna bila dikombinasikan dengan CT scan (PET/CT Scan).

  • Barium enema

Merupakan pemeriksaan menggunakan zat warna yang diberikan melalui anus, dikombinasikan dengan X-ray, untuk mengetahui ada tidaknya penyebaran kanker di usus besar.

  • Kolonoskopi

Sebagian wanita menjalani pemeriksaan usus untuk memastikan bahwa gejala bukan dikarenakan masalah usus. Prosedurnya dilakukan dengan memasukkan selang yang berfungsi seperti teropong dengan kamera dan cahaya (endoskopi) ke dalam usus untuk melihat adanya abnormalitas.

  • Laparoskopi

Laparoskopi merupakan pemeriksaan kanker ovarium melalui prosedur operasi dengan menggunakan tabung yang tipis dan ringan disertai sayatan kecil pada perut bagian bawah. Saat pemeriksaan untuk diagnosis kanker ovarium belum jelas, laparoskopi dapat mengetahui ukuran dan sifat tumor panggul secara langsung. Massa pada panggul dapat dilakukan biopsi. Biopsi merupakan metode pasti untuk untuk mengkonfirmasi diagnosis kanker ovarium dengan pemeriksaan sel dibawah mikroskop.

  • Tes lain

Jika seseorang telah didiagnosis dengan kanker ovarium atau mempunyai riwayat yang berhubungan, mungkin dokter akan merekomendasikan konseling dan pemeriksaan genetik untuk membantu menentukan apakah seseorang memiliki perubahan genetik yang diwariskan, seperti mutasi gen BRCA1 atau BRCA2. Namun, pemeriksaan ini masih jarang dilakukan di Indonesia.

 

Deteksi Dini (Skrining)

Deteksi dini berguna untuk menemukan penyakit pada tahap awal keluhan atau ketika tidak adanya gejala. Akan tetapi, hingga saat ini masih belum ditemukan metode deteksi dini yang efektif sehingga penderita kanker ovarium sering ditemukan ketika tumornya sudah membesar atau pada tahap lanjut. Untuk mengatasi masalah ini, salah satu hal terpenting adalah selalu sadar akan perubahan yang dialami di tubuh, segera melakukan konsultasi dan pemeriksaan bila gejala-gejala yang dialami tidak membaik seiring waktu.

American College of Obstetricians and Gynaecologists (ACOG) dan The Society of Gynaecologic Oncologists (SGO) merekomendasikan wanita yang memiliki risiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan meliputi pemeriksaan fisik umum dan panggul rutin, USG (terutama transvaginal), dan penanda tumor CA-125. Mengenai siapa yang cocok untuk melakukan deteksi dini, sampai saat ini masih direkomendasikan pada wanita yang diketahui memiliki faktor risiko. Deteksi dini direkomendasikan dimulai dari usia 30 sampai 35 tahun pada orang yang mempunyai riwayat keluarga; dapat juga dilakukan 5-10 tahun lebih awal dari usia pada saat diagnosis kanker ditegakkan pada anggota keluarga yang menderita kanker ovarium (contoh: apabila keluarga anda menderita kanker ovarium pada usia 50  tahun, maka pada usia 40-45 tahun, sebaiknya dilakukan deteksi dini).

Hingga saat ini, informasi terbaru dari The US Preventive Services Task Force (USPSTF), kadar  CA-125 atau USG transvaginal tidak direkomendasikan sebagai deteksi dini kanker ovarium. Walaupun deteksi dini tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ovarium pada stadium yang lebih awal, beberapa bukti menunjukkan tidak adanya manfaat dari kedua alat deteksi dini tersebut. Hingga saat ini, penelitian sedang dilakukan untuk mengetahui alat deteksi dini paling efektif untuk kanker ovarium.

 

Pengobatan

Pengobatan utama dari kanker ovarium adalah:

  • Pembedahan

Pada umumnya ini merupakan pilihan pertama. Pembedahan membantu menentukan  stadium kanker dan melihat seberapa jauh penyebarannya. Ketika telah dikonfirmasi bahwa massa memang adalah kanker, ahli bedah akan mengeluarkan sebanyak mungkin massa tersebut.

  • Kemoterapi

Kemoterapi bekerja dengan menghancurkan sel kanker yang aktif, biasanya dengan menghentikan kemampuan sel kanker untuk tumbuh dan membelah. Kemoterapi sering dibutuhkan untuk menyingkirkan sel kanker yang masih tersisa setelah pembedahan.  Regimen kemoterapi umumnya terdiri dari sejumlah siklus yang diberikan dalam jangka waktu tertentu.

  • Terapi hormon

Menurut American Cancer Society, terapi ini sering digunakan untuk kanker ovarium stromal. Terapi hormon dapat ditambahkan pada rencana pengobatan untuk mencegah hormon mencapai sel kanker sehingga akan memperlambat pertumbuhan sel kanker. Terapi hormon bukan sebagai terapi utama pada kebanyakan kasus, tetapi dapat digunakan saat kanker kambuh kembali setelah pengobatan.

  • Targeted therapy

Pengobatan ini menggunakan obat-obatan lebih baru yang akan menyerang gen spesifik, protein atau jaringan sekitar yang berkontribusi dalam pertumbuhan dan pertahanan hidup sel kanker dengan menghasilkan sedikit kerusakan pada sel normal di sekitarnya.

  • Terapi radiasi

Sinar X berenergi tinggi akan membantu membunuh sel kanker yang tersisa. Radiasi dapat digunakan bila kanker datang kembali setelah pengobatan atau untuk mengkontrol gejala seperti nyeri. Radiasi biasa diberikan dalam jumlah dan jangka waktu tertentu.

 

Pilihan pengobatan bergantung besar pada jenis, stadium dan penyebaran dari kanker dengan menggunakan satu atau lebih kombinasi obat. Faktor lain yang berperan penting dalam pemilihan rencana pengobatan termasuk kondisi umum kesehatan penderita, efek samping, rencana memiliki keturunan, dan pertimbangan personal lainnya. Selain itu, obat-obatan lain mungkin diberikan selama pengobatan untuk mengatasi berbagai efek samping dari pengobatan utama.

 

Pencegahan

Dikarenakan penyebab pastinya belum diketahui, sampai saat ini belum ada cara pasti untuk mencegah kanker ovarium. Tetapi beberapa faktor yang dapat menurunkan risiko kanker ovarium, yakni:

  • Penggunaan kontrasepsi oral
  • Kehamilan yang lebih banyak
  • Riwayat menyusui yang lebih lama
  • Operasi pengangkatan organ reproduksi

Faktor lain yang dapat berpengaruh terdiri dari faktor yang dapat diubah dan tidak dapat diubah, Faktor yang tidak dapat diubah seperti riwayat keluarga atau perubahan. Faktor yang dapat diubah dan dilakukan untuk membantu menurunkan risiko kanker dan penyakit lain adalah:

  • Makan makanan yang sehat, bergizi, rendah lemak dan tinggi serat seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian.
  • Membatasi konsumsi daging merah dan daging olahan. 
  • Melakukan aktivitas fisik dan olahraga yang sesuai dan selalu menjaga berat ideal.
  • Menghindari rokok dan minum alkohol.
  • Melakukan deteksi dini secara rutin.

 

Prognosis (Angka Harapan Hidup)

Penderita kanker ovarium memiliki angka harapan yang kurang baik, ditambah jika penyakit tersebut didiagnosis pada stadium lanjut. Stadium I dan II memiliki angka keberlangsungan hidup hingga 90% dan 70% dalam waktu 5 tahun. Di sisi lain, dalam waktu 5 tahun, pasien dengan stadium III dan IV memiliki kemungkinan hidup kurang dari 30% dan 18%.

Kanker ovarium epithelial merupakan tipe kanker ovarium yang paling mematikan. Sekitar 80% dari penderita akan meninggal dunia. Akan tetapi, keberlangsungan hidup dalam waktu singkat cukup baik, untuk beberapa tahun. Tumor sel germinal dan stromal memiliki prognosis yang lebih baik karena keduanya lebih sering ditemukan pada stadium yang lebih awal.