Kanker Hati (Hepatoma)

Oleh : dr. Tan Fransisca Dian
Share

 

Gambar 1. Gambaran hati dan lambung manusia.

Sumber: Jiju Kurian Punnoose via Wikimedia Commons

Seluk-beluk hati

Hati, yang sering disebut juga dengan liver, merupakan organ terbesar di dalam tubuh yang memiliki berat 2–3% dari berat badan seorang dewasa. Posisinya ada di sebelah kanan atas rongga perut, tepatnya di bawah diafragma (sekat yang membatasi rongga dada dan rongga perut). Organ terbesar ini fungsi utamanya sebagai pemain kunci dalam proses metabolisme dan produksi energi. Selain kedua fungsi utama tersebut, hati memiliki banyak fungsi lainnya untuk menyokong tubuh, mulai dari memproduksi garam empedu, menyimpan berbagai mineral dan vitamin, mendetoksifikasi, hingga mengolah zat sisa di dalam tubuh untuk akhirnya dikeluarkan melalui sistem pembuangan, baik melalui urine, feses, maupun keringat.

Hati tersusun atas berbagai jenis sel, dengan jenis sel yang terbanyak adalah sel hepatosit. Sel ini juga turut menyumbangkan 80% dari berat hati. Sel hati memiliki kemampuan regenerasi yang sangat baik dibandingkan organ lainnya. Bahkan, didapati bahwa sel hati yang telah diangkat sebanyak 70% dapat kembali “tumbuh” dan menjalankan fungsi normalnya. Seluruh kemampuan di atas merupakan peranan dari DNA di dalam sel-sel hati. Apabila terjadi perubahan pada susunan DNA sel hati, maka akan terjadi pula perubahan perintah yang dihasilkan. Perubahan tersebut dapat menyebabkan pembelahan sel hati secara tidak terkendali dan menyebabkan terjadinya hepatoma (kanker hati).

 

Apa Itu hepatoma?

Hepatoma atau kanker hati adalah suatu penyakit kanker yang terjadi pada hati. Pada hati yang mengalami kanker dapat dijumpai pertambahan jumlah sel yang signifikan. Hal ini diakibatkan oleh terjadinya pembelahan sel hati secara tidak terkendali dan terus-menerus karena perubahan susunan DNA di dalam sel-sel hati. Pertambahan jumlah sel hati dapat menyebabkan pertambahan berat dan ukuran organ tersebut.

Gambar 2. Tumor di hati

Sumber: Cancer Research UK via Wikimedia Commons

 

Kejadian hepatoma di dunia dan Indonesia

            Hepatoma berada di urutan ke-6 sebagai kanker yang paling sering dijumpai di dunia. Diperkirakan sekitar 5,7% kasus kanker yang baru didiagnosis merupakan kasus hepatoma. Setiap tahunnya, sekitar 1% kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh hepatoma. Melihat angka tersebut, hepatoma menjadi salah satu kanker yang paling letal (mematikan) dan menempatkannya di posisi ketiga sebagai penyebab kematian penderita kanker di dunia.

            Angka kejadian hepatoma tertinggi didapati di Asia dan Afrika. Taiwan, Mozambik, dan Cina Tenggara mempunyai angka kejadian (pertambahan penderita baru) tahunan hepatoma tertinggi, yaitu sebesar 150 orang per 100.000 jiwa setiap tahunnya. Sekitar 55% dari total kasus hepatoma di seluruh dunia merupakan kasus dari Cina. Data kejadian hepatoma di Indonesia masih sangat minim, tetapi telah diketahui bahwa kejadian hepatoma di Indonesia paling sering ditemukan pada kisaran usia 50–60 tahun dan didominasi oleh kaum lelaki. Laki-laki memiliki risiko 2–6 kali lipat untuk menderita hepatoma dibandingkan dengan perempuan.

 

Penyebab hepatoma

Kejadian hepatoma yang tinggi di negara-negara berkembang berkaitan dengan tingginya kejadian infeksi oleh virus hepatitis B dan C. Seseorang yang terinfeksi virus hepatitis, terutama tipe B dan C, sangat berisiko untuk mengalami penyakit hati kronis (menahun) yang nantinya dapat berkembang menjadi kanker hati. Masih terdapat banyak kemungkinan penyebab lainnya yang juga dapat menyebabkan terjadinya hepatoma selain infeksi kronis virus hepatitis. Obesitas (berat badan sangat berlebih), diabetes melitus (kencing manis), penyakit keturunan yang berkaitan dengan kelainan genetik (seperti hemochromatosis, suatu kelainan penumpukan zat besi di organ tubuh), dan konsumsi makanan yang terkontaminasi racun aflatoksin (racun yang diproduksi jamur jenis tertentu) juga meningkatkan risiko untuk menderita hepatoma. Dari semua risiko tersebut, faktor risiko terbesar (ditemukan pada sekitar 70–90% kejadian hepatoma) adalah yang berkaitan dengan penyakit hati kronis, seperti infeksi kronis virus hepatitis B dan C, penyakit hati akibat alkohol, dan penyakit perlemakan hati.

Penyakit hati kronis paling sering dijumpai dalam kondisi sirosis hati. Sirosis merupakan kondisi mengerut dan mengerasnya hati sehingga keseluruhan fungsinya, yang telah dibahas di atas, menjadi terganggu. Sirosis hati memegang peranan besar dalam menyebabkan hepatoma. Di negara-negara barat, penyebab sirosis hati paling sering adalah penyakit hati akibat alkohol. Sedangkan di negara-negara Asia-Pasifik, infeksi virus hepatitislah yang menduduki penyebab tertinggi sirosis hati. Virus hepatitis B dan C memiliki kemampuan untuk mengubah susunan DNA di dalam sel hati. Akibat terjadinya perubahan DNA yang merupakan “otak” dari sebuah sel, maka perintah yang dihasilkan pun berubah. Hal ini menyebabkan kanker hati yang ditandai dengan terjadinya pembelahan sel terus-menerus secara tidak terkontrol.

 

Tanda dan gejala hepatoma

Pertambahan jumlah sel ini diikuti dengan pertambahan berat dan ukuran hati. Hati dapat membesar secara menyeluruh ataupun membesar secara tidak beraturan sehingga membentuk massa hati yang berbenjol-benjol. Sering kali pembesaran hati dapat teraba di daerah perut kanan atas ataupun daerah ulu hati. Beberapa gejala yang dapat dirasakan dan dikeluhkan seorang penderita hepatoma adalah penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, lemah, rasa nyeri pada bagian perut (terutama bagian perut kanan atas), rasa penuh pada perut dan cepat merasa kenyang, serta mual.

Selain gejala di atas, dapat pula dijumpai kuning pada mata ataupun kulit penderita. Kondisi ini terjadi karena bilirubin (zat pewarna cairan empedu yang berwarna coklat-kekuningan), yang merupakan hasil pemecahan sel darah merah, tidak dapat diproses oleh hati untuk kemudian dibuang melalui urine ataupun feses. Akibatnya, bilirubin yang tidak dapat dibuang dari tubuh ini kadarnya menjadi tinggi di dalam darah. Bilirubin yang tidak bisa dibuang tersebut akan berakumulasi di berbagai organ, termasuk di bawah kulit dan lapisan selaput lendir seperti mata.

Pada penderita hepatoma dapat pula dijumpai adanya pembengkakan pada perut. Pembengkakan ini terjadi karena penumpukan cairan di rongga perut, suatu kondisi yang dikenal dengan nama asites. Ada beberapa penyebab yang berperan dalam menyebabkan akumulasi cairan ini. Pertama, kurangnya produksi protein oleh hati, terutama albumin. Dalam keadaan normal, protein tersebut mestinya menahan cairan di dalam pembuluh darah agar tidak merembes keluar. Karena pada kondisi hepatoma jumlah protein ini berkurang, terjadilah perembesan cairan dari dalam pembuluh darah ke rongga perut. Kedua, terjadi gangguan sistem limfatik (aliran getah bening) yang berfungsi untuk membawa setiap kelebihan cairan yang terjadi di seluruh tubuh. Aliran cairan limfatik bisa tersumbat karena besarnya ukuran hepatoma. Yang terakhir adalah terjadinya peningkatan permeabilitas pembuluh darah (kemampuan dinding pembuluh darah untuk meloloskan zat) sehingga cairan mudah saja keluar dari pembuluh darah ke rongga perut.

Hepatoma juga mengganggu fungsi hati sebagai tempat untuk menghasilkan faktor-faktor koagulasi (zat yang berperan dalam pembekuan darah). Bila fungsi hati telah gagal, maka produksi faktor pembekuan darah akan menurun sehingga meningkatkan risiko terjadinya perdarahan terus-menerus yang sulit dihentikan pada penderitanya.

Fungsi lain hati adalah sebagai pengolah zat-zat buangan yang tidak terpakai lagi di dalam tubuh agar dapat dibuang melalui urine, feses, ataupun keringat. Bila fungsi ini terganggu, zat sisa ini dapat berakumulasi di dalam darah. Bila akumulasi mencapai otak, zat ini dapat menyebabkan terjadinya ensefalopati, yaitu gangguan fungsi otak yang dapat mengakibatkan turunnya kesadaran, bahkan kematian.

 

Pentingnya deteksi dini hepatoma

Terlepas dari berbagai tanda dan gejala yang disebut di atas, ternyata hepatoma bisa berlangsung tanpa menunjukkan gejala. Tanda dan gejala umumnya mulai timbul bila hepatoma telah berada pada stadium yang berat. Fenomena ini menyebabkan sulitnya menemukan kejadian hepatoma saat stadium dini. Oleh karena ini pulalah hepatoma menjadi salah satu kanker dengan angka kematian tertinggi. Sebab, ketika seseorang terdiagnosis dengan hepatoma, biasanya sudah pada stadium lanjut. Dengan demikian, peranan deteksi dini/screening sangat penting dilakukan untuk menemukan penderita-penderita hepatoma stadium dini agar dapat ditangani dengan segera.

Menurut panduan yang dikeluarkan oleh National Comprehensive Cancer Network (NCCN), deteksi dini penting untuk dijalani oleh orang-orang yang memiliki risiko yang tinggi menderita hepatoma. Seseorang dikatakan berisiko tinggi apabila telah mengalami sirosis hati (dengan berbagai penyebab seperti yang telah dijelaskan sebelumnya) ataupun penderita non-sirosis yang terdiagnosis sebagai karier hepatitis B (pembawa virus hepatitis B dan dapat menyebarkannya kepada orang lain melalui cairan tubuh). Seseorang yang memiliki riwayat menggunakan jarum suntik yang tidak steril memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B dan C.

Deteksi dini dapat dilakukan setiap 6–12 bulan sekali. Pemeriksaan yang akan dilakukan meliputi tanya-jawab, pemeriksaan fisik, laboratorium (pemeriksaan darah), dan radiologi/pencitraan. Pada tanya-jawab, faktor risiko yang ada akan digali lebih dalam. Pada pemeriksaan fisik, akan dicari ada atau tidaknya pembesaran hati, yang dilakukan dengan cara meraba secara seksama daerah perut kanan atas dan bagian ulu hati. Selanjutnya, pemeriksaan laboratorium darah akan dilakukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan kadar alpha feto protein (AFP) di dalam darah. AFP merupakan penanda khusus kanker hati. Apabila dijumpai peningkatan kadar AFP, maka akan diteruskan dengan pemeriksaan radiologi menggunakan ultrasonografi (USG) untuk memastikan benarkah terdapat massa tumor/kanker di hati. Bila dari hasil USG tidak ditemukan adanya massa atau kelainan di hati, maka screening dapat diulangi 3 bulan kemudian. Namun, bila dari pemeriksaan USG hati ditemukan adanya benjolan/massa, maka akan dilakukan pemeriksaan pencitraan tambahan, yang dapat berupa computed tomography scan (CT-scan), magnetic resonance imaging (MRI), ataupun USG lanjutan.

 

Kapan seseorang didiagnosis hepatoma?

Pada dasarnya, diagnosis kanker jenis apa pun ditegakkan secara pasti dengan melakukan pemeriksaan sampel kecil massa/jaringan yang diduga kanker di bawah mikroskop, dinamakan dengan pemeriksaan patologi anatomi. Diagnosis hepatoma dapat ditegakkan secara pasti bila ditemukan sel-sel hati yang abnormal pada sampel tersebut. Sayangnya, pengambilan sampel ini kurang nyaman bagi pasien karena harus menggunakan jarum yang ditusukkan ke hati melalui kulit perut. Terdapat cara lain untuk menegakkan diagnosis hepatoma, yaitu menilai kadar AFP di dalam darah. Bila kadar AFP mencapai lebih dari 200 ng/mL, disertai adanya massa tumor yang terlihat pada pemeriksaan radiologi hati, maka dapat ditegakkan diagnosis bahwa orang tersebut menderita hepatoma.

 

Penanganan Hepatoma

Setelah seseorang ditegakkan menderita hepatoma, maka dokter selanjutnya akan meminta penderita menjalani berbagai pemeriksaan yang bertujuan untuk menilai apakah massa kanker yang diderita dapat disingkirkan dengan operasi atau tidak. Hal ini bersifat sangat individual atau berbeda dari orang ke orang karena banyaknya faktor yang perlu dinilai untuk menentukan bahwa sebuah massa dapat dan layak untuk dibedah atau tidak, dimulai dari ukuran massa, lokasi, fungsi hati normal yang tersisa, kondisi organ hati, penyebaran kanker, dan kondisi penyakit penyerta lainnya yang dimiliki oleh si penderita.

Bila penderita hepatoma layak untuk menjalankan tindakan operasi, maka selanjutnya setelah tindakan pengangkatan massa kanker dikerjakan, akan dilakukan pemeriksaan darah untuk menilai kadar AFP serta pemeriksaan radiologi secara berkala setiap 3–6 bulan selama dua tahun. Setelah 2 tahun, selanjutnya dilakukan pemeriksaan rutin setiap satu tahun sekali. Namun, bila ternyata penderita tidak layak/tidak bisa menjalani operasi, maka tata laksana yang akan dilakukan dapat berupa pemberian kemoterapi (obat-obatan), radiasi, ataupun tindakan pendukung lainnya.

 

Pencegahan hepatoma

Melihat betapa panjang dan sulitnya terapi kanker, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan tindakan pencegahan sejak dini. Salah satu pencegahan sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hepatoma yang cukup mematikan ini adalah melakukan vaksinasi hepatitis B. Alasannya karena banyaknya kasus hepatoma di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terjadi akibat infeksi kronis dari virus hepatitis B dan/atau C. Vaksinasi hepatitis B pertama biasanya langsung diberikan setelah bayi lahir dan dilanjutkan saat bayi berusia dua, tiga, dan empat bulan. Orang dewasa juga dapat melakukan vaksinasi hepatitis B dengan memeriksakan terlebih dahulu kadar imunitas terhadap hepatitis B di dalam darah. Bila ternyata kadarnya masih mencukupi untuk melindungi diri dari virus hepatitis, maka tidak perlu dilakukan vaksinasi. Namun, bila ternyata kadar imunitas tidak memenuhi kriteria protektif alias negatif, maka sebaiknya dilakukan vaksinasi. Vaksinasi hepatitis B pada orang dewasa biasanya akan dibagi menjadi tiga dosis atau tiga kali penyuntikan.

Pencegahan hepatoma juga dapat dilakukan dengan cara menghindari kebiasaan mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar secara terus-menerus dan menghindari makanan dengan kolesterol tinggi. Selain melakukan pencegahan yang disebut di atas, olahraga rutin, minimal 5 kali seminggu selama 35 menit hingga 1 jam, juga akan sangat membantu mencegah terjadinya hepatoma dan penyakit-penyakit lainnya. Tentunya, melakukan pencegahan selalu lebih baik dibandingkan mengobati.