Kanker Endometrium

Oleh : dr. Yaumil Reiza
Share

Pendahuluan

Rahim, atau uterus dalam istilah medis, merupakan organ reproduksi wanita yang berongga dan berdinding tebal, terletak di tengah rongga panggul di antara kandung kemih dan rektum (bagian usus besar). Rahim wanita dewasa yang belum melahirkan berukuran 7,5 x 5 x 2,5 cm dan menyerupai buah alpukat atau pir. Rahim terdiri dari dua bagian, yaitu badan rahim (corpus uteri) dan leher rahim (serviks uteri), keduanya menyatu pada bagian yang disebut dengan isthmus. Rahim terdiri dari tiga lapisan, yaitu:

  1. Lapisan serosa, di bawahnya terdapat jaringan ikat subserosa dan merupakan lapisan yang paling padat, serta terdapat berbagai macam ligamen yang mempertahankan rahim pada posisinya.
  2. Miometrium, merupakan lapisan yang paling tebal dan terdiri atas serabut-serabut otot polos yang dipisahkan oleh jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah. Miometrium terdiri atas tiga lapisan, yaitu otot sebelah luar berjalan longitudinal, otot sebelah dalam berjalan sirkuler, dan di antara keduanya otot-otot berjalan saling beranyaman.
  3. Endometrium, merupakan lapisan terdalam yang melapisi rongga uterus. Jaringan ini terdiri dari sel-sel epitel kubus selapis, kelenjar-kelenjar, dan stroma dengan banyak pembuluh darah. Selama siklus haid, bagian ini senantiasa mengalami perubahan.

 

19263-1.jpg

Gambar 1. Struktur anatomi rahim (uterus)

Sumber: https://medlineplus.gov/ency/images/ency/fullsize/19263.jpg

 

Apa Itu Kanker Endometrium?

Kanker endometrium atau lebih sering dikenal sebagai kanker rahim adalah kanker yang mengenai lapisan dalam rahim. Terdapat dua jenis kanker endometrium, yaitu kanker endometrium tipe I dan tipe II. Tipe I cenderung tumbuh lambat dan umumnya terbatas pada endometrium, sedangkan tipe II memiliki tipe jaringan yang lebih buruk, menginvasi otot polos rahim (miometrium), dan tumbuh dengan cepat. Oleh sebab itu, kanker endometrium tipe II umumnya memiliki hasil akhir (prognosis) yang kurang baik apabila dibandingkan dengan tipe I.

 

Epidemiologi Kanker Endometrium

Kanker endometrium merupakan keganasan ginekologi tersering di Amerika Serikat dan terdapat 287.100 wanita yang didiagnosa mengalami kanker endometrium tiap tahun di seluruh dunia. Insidensi atau kasus baru kanker endometrium pada wanita di bawah usia 40 tahun adalah 2 dari 100.000 wanita per tahun. Akan tetapi, ketika memasuki dekade keenam hingga kedelapan, angka ini dapat meningkat menjadi 40-50 dari 100.000 wanita per tahun. Umumnya, kanker endometrium dijumpai pada wanita yang berusia 50-65 tahun dengan rerata usia 61 tahun, terutama di negara maju. Hal ini dikarenakan 75% kanker endometrium terjadi setelah menopause sehingga gejala yang paling umum adalah perdarahan setelah menopause. Sementara di negara berkembang seperti Indonesia, usia penderita kanker endometrium cenderung lebih muda, yaitu sebanyak 63,9% pada usia 50 tahun ke atas dan sebanyak 12,5% pada usia 40 tahun ke bawah.

 

endometrial-cancer-diagnose.jpg

Gambar 2. Kanker endometrium

Sumber: http://medicalterms.info/img/uploads/disease/endometrial-cancer-diagnose.jpg

 

Penyebab Kanker Endometrium

Hingga saat ini, penyebab kanker endometrium masih belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker endometrium. Umumnya, faktor-faktortersebut menyebabkan kadar hormon estrogen di dalam tubuh meningkat atau paparan terhadap hormon estrogen menjadi lebih lama, sementara kadar hormon progesteron di dalam tubuh menurun sehingga sel-sel pada lapisan dalam rahim (endometrium) terus memperbanyak diri. Hal ini mengakibatkan terbentuknya kelenjar baru pada endometrium. Apabila jaringan endometrium tumbuh tak terkendali, jaringan ini akan menebal dan dapat membentuk sebuah massa yang akhirnya menjadi kanker. Sel-sel kanker dapat menyebar (metastasis) ke bagian tubuh yang lain. Awalnya, kanker akan menyebar ke lapisan otot polos rahim (miometrium), kemudian menyebar hingga ke kelenjar getah bening. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

  • Usia

Usia tua meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium dengan jumlah kasus terbanyak pada wanita di atas 70 tahun. Hanya sekitar 5% kanker endometrium ditemukan pada wanita berusia di bawah 40 tahun.

  • Kondisi reproduksi

Kondisi reproduksi yang berhubungan dengan risiko kanker endometrium, antara lain usia menarche (awal menstruasi) dini (<12 tahun) dan usia menopause yang lambat (>52 tahun) karena terkait dengan paparan estrogen yang lebih lama. Menopause merupakan keadaan tidak adanya periode haid atau menstruasi selama 12 bulan dan merupakan suatu kondisi normal ketika wanita telah memasuki usia lanjut. Sebelum menopause, indung telur (ovarium) merupakan sumber utama penghasil hormon pada wanita, yaitu estrogen dan progesteron. Keseimbangan kedua hormon ini berubah selama siklus haid setiap bulan, sehingga terjadi haid atau menstruasi. Kondisi tersebut menjaga jaringan endometrium tetap sehat karena sisa jaringan akan meluruh bersama darah haid dan digantikan oleh jaringan baru. Setelah menopause, indung telur akan berhenti menghasilkan kedua hormon tersebut, tetapi sejumlah kecil estrogen akan tetap dihasilkan oleh lemak tubuh.

Kanker endometrium dapat terjadi pada wanita usia reproduksi dengan siklus haid yang tidak teratur. Selain itu, wanita yang tidak pernah melahirkan (nulipara) mempunyai risiko 3 kali lebih besar menderita kanker endometrium dibandingkan dengan wanita yang memiliki riwayat sering melahirkan (multipara). Hal ini disebabkan kehamilan mengurangi paparan wanita terhadap hormon estrogen. Salah satu penelitian menyatakan bahwa wanita yang sudah menikah, tetapi tidak pernah melahirkan anak memiliki risiko tinggi untuk terkena kanker endometrium dibandingkan wanita yang tidak pernah menikah. Ketidaksuburan atau infertilitas juga menjadi faktor yang berperan dalam hal ini. Hal ini terkait dengan paparan terhadap hormon estrogen yang lama tanpa diimbangi dengan hormon progesteron yang cukup, dan tidak mengelupasnya sisa jaringan endometrium setiap bulan ketika haid.

  • Terapi sulih hormon

Penggunaan terapi sulih hormon, yaitu hormon estrogen dari luar (eksogen) pada wanita menopause yang digunakan dalam jangka lama diperkirakan meningkatkan risiko kanker endometrium sebesar 4,5-13,9 kali. Terapi sulih hormon biasanya digunakan untuk mengurangi gejala yang timbul akibat menopause, antara lain serangan rasa panas (hot flashes), kekeringan vagina, dan kekeroposan tulang (osteoporosis). Akan tetapi, penggunaannya harus diberikan bersama dengan progesteron atau derivatnya untuk menurunkan risiko kanker endometrium.

  • Obesitas

Perempuan dengan kelebihan berat badan 11-25 kg mempunyai peningkatan risiko 3 kali lipat untuk mengalami kanker endometrium, bahkan risiko dapat meningkat hingga 10 kali pada wanita yang mempunyai kelebihan berat badan >25 kg.

  • Keturunan (genetik)

Riwayat keluarga yang menderita kanker endometrium atau riwayat pribadi yang menderita kanker tipe lainnya (misalnya kanker usus besar dan kanker payudara) juga dapat meningkatkan risiko kanker endometrium.

  • Kondisi medis lain

Kondisi medis lain antara lain sindrom polikistik ovarium, diabetes melitus, dan hipertensi.

 

Gejala Kanker Endometrium

Berikut gejala kanker endometrium, diantaranya:

  • Perdarahan dari rahim pada wanita yang sudah menopause
  • Gangguan menstruasi (siklus mentruasi tidak teratur)
  • Perdarahan di luar siklus menstruasi
  • Nyeri perut atau pinggul
  • Kembung atau cepat merasa kenyang
  • Perubahan kebiasaan buang air kecil dan buang air besar

Apabila Anda mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Adanya gejala tersebut, tidak selalu dapat disimpulkan mengarah ke kanker endometrium, tetapi masih diperlukan beberapa pemeriksaan lanjutan.

 

Penentuan Diagnosis Kanker Endometrium

              Tidak ada uji penapisan (screening) untuk mendeteksi kanker endometrium pada wanita yang tidak memiliki gejala. Oleh karena itu, apabila Anda sudah memasuki masa menopause, setiap perdarahan yang muncul harus diperiksakan. Dokter Anda akan melakukan sejumlah pemeriksaan fisik, antara lain inspeksi vagina menggunakan spekulum untuk mengetahui dari sumber perdarahan, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan bimanual dan palpasi rektovagina untuk mengetahui apakah terdapat massa atau benjolan yang dapat diraba.

Setelah itu, dilakukan ultrasonografi (USG) transvaginal (melalui vagina) untuk menentukan ukuran rahim dan ketebalan endometrium. Apabila terdapat penebalan endometrium >4 mm, maka Anda akan dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan berikutnya, yaitu biopsi endometrium. Biopsi merupakan baku emas atau standar penegakkan diagnosis kanker endometrium dengan mengambil sampel jaringan dan diperiksa di bawah mikroskop. Cara lainnya untuk mendapatkan sampel endometrium adalah dengan dilatasi dan kuretase (D&C), tetapi hal ini membutuhkan pembiusan agar Anda merasa lebih nyaman.

Pada wanita yang belum menopause, dokter akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum melakukan pemeriksaan biopsi, seperti usia, gejala, dan kondisi medis lain karena USG saja tidak banyak membantu dalam menegakkan diagnosis kanker endometrium. Penelitian lain menyebutkan bahwa MRI (magnetic resonance imaging) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kanker endometrium.

 

images-2.jpg

Gambar 3. Biopsi endometrium

Sumber: http://www.asiancancer.com/uploads/allimg/120903/7-20120Z31626192D.jpg

 

 

CDR680398-571.jpg

Gambar 4. Dilatasi dan kuretase (D&C)

Sumber:  https://www.cancer.gov/images/cdr/live/CDR680398-571.jpg

 

Jenis dan Stadium Kanker Endometrium

Terdapat enam jenis histopatologi dari kanker endometrium, yaitu:

1. Adenokarsinoma endometrioid

2. Karsinoma serosa

3. Karsinoma sel jernih (clear cell carcinoma)

4. Karsinoma musinosa

5. Karsinoma campuran

6. Karsinoma tak terdiferensiasi

Dari keenam jenis histopatologi tersebut, adenokarsinoma endometrioid merupakan tipe yang paling banyak ditemukan, yaitu mencakup 75-80% dari seluruh kasus. Tipe histopatologi kanker dapat ditentukan apabila Anda sudah menjalani pemeriksaan biopsi atau D&C untuk diperiksa di bawah mikroskop.

Menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO), terdapat empat stadium kanker endometrium, yaitu:

  1. Stadium I: Tumor terbatas pada endometrium

IA: <50% invasi ke miometrium

IB: ≥50% invasi ke miometrium

  1. Stadium II: Tumor menginvasi stroma serviks tetapi tidak meluas ke luar uterus
  2. Stadium III: Penyebaran lokal atau regional dari tumor

IIIA: Invasi ke serosa atau adneksa

IIIB: Keterlibatan vagina atau parametrium

IIIC: Metastasis ke kelenjar getah bening pelvis atau paraaorta

IIIC1: Keterlibatan kelenjar getah bening pelvis

IIIC2: Keterlibatan kelenjar getah bening paraaorta (dengan atau tanpa kelenjar getah bening pelvis)

  1. IV: Perluasan ke dinding pelvis, sepertiga bawah vagina, atau hidronefrosis atau ginjal tidak berfungsi

IVA: Invasi ke kandung kemih atau mukosa usus

IVB: Metastasis jauh, termasuk ke perut, atau keterlibatan kelenjar getah bening di lipat paha (inguinal)

 

Tata Laksana Kanker Endometrium

Kanker endometrium umumnya diterapi dengan pembedahan (operasi). Selama operasi, akan diangkat rahim (uterus) dan leher rahim (serviks) - atau disebut juga histerektomi total, beserta kedua indung telur (ovarium) dan salurannya (tuba fallopii) - atau disebut juga salpingo-ooforektomi. Kelenjar getah bening dan jaringan lainnya mungkin juga diangkat untuk diperiksa apakah mengandung sel kanker. Pembedahan juga bertujuan untuk menentukan stadium kanker agar dokter Anda dapat menentukan terapi selanjutnya, baik itu kemoterapi maupun radioterapi.

 

Prognosis Kanker Endometrium

Prognosis atau hasil akhir dari kanker endometrium sebenarnya cukup baik apabila diketahui dini dan ditangani dengan tepat. Tingkat kelangsungan hidup penderita kanker endometrium dalam 5 tahun bahkan dapat mencapai 84% karena umumnya kanker endometrium dapat dideteksi pada stadium awal. Hal ini berarti 84 dari 100 wanita yang menderita kanker endometrium masih bertahan hidup dalam 5 tahun setelah didiagnosis kanker. Angka ini dapat memberikan gambaran keberhasilan terapi, tetapi tidak dapat memprediksi seberapa lama Anda hidup.

 

Pencegahan Kanker Endometrium

              Tidak ada cara untuk mencegah kanker sepenuhnya, tetapi Anda dapat menurunkan risiko untuk menderita kanker. Cara menurunkan risiko terjadinya kanker endometrium antara lain mempertahankan berat badan yang sehat, aktif secara fisik, mendiskusikan penggunaan terapi sulih hormon (jika ingin menggunakan), dan memeriksakan diri ke dokter jika ada perdarahan yang tidak normal keluar dari organ reproduksi.