​​​​​​​GLIOMA

Oleh : dr. Yaumil Reiza
Share

Definisi Glioma

Sistem saraf pusat manusia, yang terdiri dari otak dan medula spinalis, memiliki dua jenis sel di dalamnya, yaitu sel saraf (neuron) dan sel glia yang mengelilingi dan mendukung kerja sel saraf. Sel glia terdiri dari empat jenis, yaitu astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependimal. Sel glia dapat berkembang menjadi salah satu jenis tumor otak yang dinamakan dengan glioma.

 

Gambar 1. Jenis-jenis sel pada otak, yaitu sel saraf (neuron) dan sel glia.

Sumber: http://fab-efl.com/page1/page2/files/stacks_image_909.png

 

Jenis-jenis Glioma

Dari empat jenis sel glia, tiga di antaranya dapat menghasilkan tumor, yaitu:

  1. Astrosit menghasilkan astrositoma
  2. Oligodendrosit menghasilkan oligodendroglioma
  3. Sel ependimal menghasilkan ependimoma

Beberapa kasus glioma dapat menampilkan campuran dari beberapa jenis sel tersebut, dengan tumor yang paling ganas disebut glioblastoma multiforme. Terdapat juga istilah glioma saraf optik dan glioma batang otak. Glioma ini dinamakan berdasarkan lokasi tumornya, bukan berdasarkan asal selnya. Pada kasus yang lebih jarang, glioma dapat tersebar banyak di bagian-bagian otak atau disebut dengan gliomatosis serebri.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Glioma

Penyebab glioma belum diketahui dengan jelas, namun terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita glioma. Faktor-faktor risiko tersebut antara lain:

  1. Usia

Pada dasarnya, risiko menderita tumor otak dapat terjadi pada usia berapapun. Namun, risiko menderita glioma meningkat seiring bertambahnya usia.

  1. Jenis kelamin

Tumor otak lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

  1. Paparan radiasi

Radiasi yang dapat meningkatkan risiko tumor otak yaitu radiasi ionisasi yang ditimbulkan oleh sinar X, sinar gamma, dan reaksi nuklir. Demikian pula halnya dengan penggunaan radioterapi untuk mengobati kanker juga meningkatkan risiko terbentuknya tumor otak yang baru. Paparan radiasi dari peralatan sehari-hari seperti microwave dan telepon seluler belum terbukti dapat meningkatkan risiko glioma. Paparan terhadap medan magnet juga tidak terkait dengan peningkatan risiko tumor otak

  1. Paparan bahan kimia

Paparan bahan kimia di tempat kerja seperti formaldehida, vinilklorida, dan akrilonitril dapat meningkatkan risiko tumor otak. Penggunaan pestisida dan herbisida juga ditemukan terkait dengan tumor otak.

  1. Penurunan sistem imun

Risiko glioma juga ditemukan meningkat pada penurunan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV (human immunodeficiency virus).

  1. Diet

Konsumsi makanan dengan kadar nitrit yang tinggi, misalnya daging asap (smoked beef), dapat meningkatkan risiko tumor otak.

  1. Kelainan genetik dan riwayat keluarga menderita glioma

Beberapa penelitian menemukan bahwa risiko tumor otak meningkat pada beberapa jenis kelainan genetik. Risiko menderita glioma juga meningkat apabila terdapat riwayat keluarga penderita glioma.

 

Gambar 2. Potongan tumor otak.

Sumber: https://1o976r1jw2eculmeoxz46ig6-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2015/09/Actual-Brain-Tumor-Label.png

 

Tanda dan Gejala Glioma

Berbeda dengan kebanyakan tumor, gejala yang ditimbulkan oleh tumor otak seperti glioma tidak bergantung pada perilakunya, apakah jinak atau ganas. Namun, gejala yang ditimbulkannya bergantung pada lokasi dan tingkat pertumbuhan tumor. Tumor yang tumbuh dengan lambat di bagian otak yang tenang mungkin saja tidak terdeteksi dan dapat menjadi cukup besar sebelum memunculkan gejala yang lebih serius. Sementara itu, tumor kecil jinak yang tumbuh di bagian otak yang penting dapat menimbulkan gejala yang berarti, misalnya glioma yang tumbuh di pusat bicara akan menimbulkan gangguan berbicara. Gejala yang sering ditemukan antara lain:

  1. Sakit kepala hebat disertai muntah menyembur. Hal ini merupakan tanda adanya peningkatan tekanan di dalam kepala
  2. Kejang
  3. Gangguan fungsi saraf yang progresif, misalnya penglihatan ganda, kelumpuhan anggota gerak, gangguan keseimbangan, dan lain-lain.
  4. Penurunan fungsi luhur (kognitif)
  5. Gangguan psikiatrik, salah satunya perubahan kepribadian dan perilaku, gangguan memori, gangguan mood, dan halusinasi
  6. Mual dan penurunan nafsu makan

 

Diagnosis Glioma

Untuk mendiagnosis glioma, dokter akan melakukan hal-hal berikut:

  1. Wawancara (anamnesis)

Dokter akan menanyakan dan menggali lebih dalam tentang keluhan yang dialami, penyakit yang sedang atau pernah diderita, pengobatan yang sedang atau pernah dijalani, riwayat keluarga yang pernah mengalami hal serupa, dan faktor-faktor risiko yang mungkin dimiliki oleh pasien.

  1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan keadaan pasien secara umum, fungsi saraf, dan fungsi luhur. Pemeriksaan fungsi saraf meliputi pemeriksaan penglihatan, pendengaran, keseimbangan, koordinasi gerakan, kekuatan otot, dan refleks. Hal ini bertujuan untuk memberikan petunjuk mengenai kemungkinan bagian otak yang terkena tumor. Sementara itu, pemeriksaan fungsi luhur bertujuan untuk menilai hendaya atau disabilitas yang ditimbulkan oleh tumor sehingga membantu dalam perawatan pasien.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan ini membantu menyingkirkan kemungkinan diagnosis yang memiliki gejala yang mirip dengan glioma, misalnya infeksi pada sistem saraf pusat. Selain itu, pemeriksaan laboratorium juga dapat menilai kesiapan pasien dalam menjalani terapi yang akan diberikan, baik pembedahan, radioterapi, maupun kemoterapi.

  1. Pemeriksaan radiologis

Untuk melihat adanya tumor dengan lebih pasti, diperlukan pemeriksaan radiologis seperti computed tomography (CT) scan dengan zat kontras, magnetic resonance imaging (MRI) dengan zat kontras, dan positron emission tomography (PET) scan. Zat kontras berguna untuk membantu memperjelas gambar yang dihasilkan. Zat ini diberikan dalam bentuk minuman atau disuntikkan ke dalam pembuluh darah, dan nantinya akan dikeluarkan dari tubuh melalui urin.

  1. Biopsi

Biopsi adalah pengambilan contoh jaringan tumor untuk diperiksakan di bawah mikroskop. Biopsi dapat dilakukan pada saat operasi atau dengan prosedur tersendiri, yaitu menggunakan jarum stereotaktik. Pada teknik stereotaktik, pasien akan dipasangkan alat stereotaktik di kepala, kemudian lokasi tumor akan ditentukan dengan komputer. Dokter spesialis bedah saraf yang menangani akan membuat lubang kecil di tengkorak, kemudian memasukkan jarum halus untuk mengambil contoh jaringan tumor. Biopsi penting untuk dilakukan agar dokter dapat menentukan jenis tumor dan terapi yang akan diberikan.

 

Derajat Glioma

Berdasarkan tingkat keganasannya, glioma dibedakan menjadi glioma derajat rendah (low-grade glioma) dan glioma derajat tinggi (high-grade glioma). Glioma derajat rendah tumbuh dengan lambat dan meliputi tumor grade I dan II, sementara glioma derajat tinggi tumbuh dengan cepat dan meliputi tumor grade III dan IV.  Penentuan derajat glioma ini penting dalam penanganannya, di mana tumor dengan derajat rendah dapat ditangani dengan pembedahan, sementara tumor dengan derajat tinggi selain pembedahan diperlukan juga kemoterapi dan radioterapi. Stadium glioma mengikuti stadium tumor otak pada umumnya, yaitu:

  1. Grade I: Tumor memiliki tampilan yang hampir mirip dengan jaringan otak normal, tumbuh dengan lambat, dan dapat diterapi dengan lebih efektif secara pembedahan
  2. Grade II: Tumor terlihat sedikit tidak normal, namun tumbuh dengan lambat
  3. Grade III: Tumor bersifat ganas dan memiliki gambaran sel yang tidak normal. Akan terlihat jelas perbedaan antara jaringan tumor dengan jaringan normal.
  4. Grade IV: Tumor dengan sel-sel yang memperbanyak diri dengan cepat. Pertumbuhan yang cepat ini didukung oleh terbentuknya pembuluh darah baru di sekitar tumor, namun juga terdapat daerah yang mengandung sel-sel yang sudah mati. Glioblastoma multiforme, yaitu bentuk glioma yang paling ganas, tergolong ke dalam tumor grade IV.

 

Gambar 3. Prosedur kraniotomi.

Sumber: https://www.cancer.gov/images/cdr/live/CDR691155.jpg

 

Gambar 4. Prosedur stereotactic surgery.

Sumber: https://media.gettyimages.com/photos/stereotactic-surgery-picture-id586036864

 

Penanganan Glioma

Pasien glioma akan ditangani oleh dokter dari berbagai spesialisasi, di antaranya spesialis saraf, spesialis bedah saraf, spesialis onkologi radiasi, dan spesialis rehabilitasi medik. Penanganan pada glioma berbeda tergantung pada jenis tumornya, namun secara umum mencakup beberapa hal, antara lain:

  1. Pembedahan (operasi)

Seperti telah disebutkan sebelumnya, operasi bertujuan untuk mengangkat jaringan tumor supaya dapat ditegakkan diagnosis yang tepat. Selain itu, pembedahan juga bermanfaat untuk menurunkan tekanan di dalam rongga kepala, mengurangi kecacatan yang timbul, dan meningkatkan efektivitas terapi lain. Pembedahan direkomendasikan pada hampir setiap kasus glioma yang dapat dioperasi. Namun, apabila keadaan umum pasien buruk, maka pembedahan tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Prinsip operasi adalah membuka sebagian tulang tengkorak dan selaput otak pada lokasi tumor dan mengangkat tumor dari jaringan otak yang sehat. Pada kasus glioma yang kecil, tumor dapat diangkat seluruhnya, namun pada glioma yang lebih besar atau terletak pada bagian otak yang penting, dokter akan mengangkat tumor sebanyak mungkin yang masih berada pada batas yang aman.

Pembedahan tumor otak umumnya dilaksanakan ketika pasien tidak sadar, namun pada beberapa kasus telah dikembangkan teknik seperti awake brain surgery, yaitu pasien sadar saat operasi berlangsung. Pada teknik ini, pasien akan diminta untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan bagian otak yang terkena tumor. Contohnya pada tumor yang terletak dekat dengan pusat motorik, maka pasien akan diminta untuk menggerakkan tangan dan kakinya. Hal ini memudahkan dokter spesialis bedah saraf untuk menilai apakah bagian yang diambil berpengaruh terhadap fungsi saraf tersebut.

Teknik lain yang juga dikembangkan yaitu operasi otak dengan dipandu komputer (computer-assisted brain surgery). Dengan menggunakan pemeriksaan radiologis seperti CT scan atau MRI, model tiga dimensi dari otak akan dibuat sehingga dapat menentukan lokasi tumor dengan lebih tepat.

  1. Radioterapi

Radioterapi diberikan pada kasus glioma yang tidak dapat dioperasi, sebagai terapi lanjutan pascaoperasi, atau pada kasus glioma yang sudah pernah dioperasi namun kambuh kembali. Efek samping yang ditimbulkan antara lain mual, rambut rontok, dan kulit kering. Selain itu, radioterapi juga mungkin memengaruhi sel-sel otak yang sehat dan meningkatkan risiko terbentuknya tumor yang lain. Meskipun demikian, manfaat radioterapi lebih banyak daripada kerugiannya.

  1. Kemoterapi

Kemoterapi bertujuan untuk menghambat pertumbuhan tumor dan biasa dikombinasikan dengan operasi dan/atau radioterapi. Kemoterapi dapat berupa obat makan (oral), suntikan, atau dapat juga diberikan secara intratekal, yaitu disuntikkan secara langsung ke sumsum tulang belakang agar dapat mencapai otak dengan lebih mudah. Efek samping yang mungkin timbul antara lain mual dan muntah, nyeri kepala, rambut rontok, lemah, dan demam.

  1. Terapi target

Terapi target merupakan terapi jenis baru yang masih dikembangkan. Berbeda dengan kemoterapi, terapi target khusus menyerang sel kanker dan lebih jarang menyerang sel normal. Cara kerjanya antara lain menghambat pembentukan pembuluh darah baru yang memberi makan tumor sehingga sel-sel tumor tidak dapat berkembang.

  1. Terapi imun (imunoterapi)

Terapi imun, contohnya vaksin untuk tumor, juga merupakan terapi jenis baru yang masih dikembangkan. Cara kerjanya adalah merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel-sel tumor.

  1. Obat-obatan lain

Obat-obatan lain diberikan untuk mengurangi gejala akibat glioma, misalnya obat antikejang apabila terdapat kejang dan antinyeri untuk mengatasi nyeri kepala. Selain itu, juga diberikan obat-obatan untuk mengurangi efek samping kemoterapi, misalnya antimual dan obat penurun demam.

  1. Terapi psikiatrik

Beberapa kasus glioma dapat menimbulkan gangguan psikiatrik seperti perubahan kepribadian dan halusinasi. Pasien dapat diberikan psikoterapi dan/atau obat-obatan untuk mengatasi gangguan ini.

  1. Terapi gizi

Asupan kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh tetap kuat. Pada pasien glioma dengan kekurangan gizi (malnutrisi) atau kesulitan pemberian makan melalui mulut, akan dipertimbangkan untuk diberikan makanan melalui selang yang dimasukkan dari lubang hidung atau rongga mulut langsung menuju lambung, atau melalui infus. Berbagai suplementasi vitamin dan mineral juga diberikan untuk mengurangi efek samping pengobatan yang diberikan.

  1. Rehabilitasi

Rehabilitasi merupakan hal yang penting dalam penanganan glioma karena tumor dapat tumbuh di bagian otak yang memegang peran penting seperti pusat pergerakan, bicara, penglihatan, atau berpikir, sehingga aktivitas-aktivitas ini akan terganggu. Rehabilitasi mencakup terapi fisik untuk melatih kemampuan pergerakan, terapi okupasi untuk membantu pasien kembali melakukan aktivitas sehari-hari, dan terapi wicara untuk melatih kesulitan berbicara.

 

Pencegahan Glioma

Cara pasti untuk mencegah glioma sepenuhnya belum ditemukan. Beberapa faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga memang tidak dapat diubah, namun terdapat beberapa cara untuk menurunkan risiko menderita glioma, antara lain menjaga pola hidup sehat, pola makan seimbang dan bergizi, berolahraga secara teratur, menghindari infeksi tertentu (misalnya HIV), serta menghindari paparan rokok, bahan kimia berbahaya, dan radiasi. Selain itu, deteksi dini juga diperlukan agar glioma dapat didiagnosis dan ditangani lebih cepat. Apabila Anda memiliki gejala-gejala yang mungkin mengarah ke glioma atau tumor otak lain, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Pemantauan Glioma

Setelah pengobatan selesai, pemantauan berkala tetap diperlukan untuk melihat apakah terdapat perbaikan atau masalah kesehatan yang baru. Pemantauan juga bertujuan untuk mengetahui kekambuhan tumor.

 

Prognosis Glioma

Prognosis atau hasil akhir glioma bergantung pada jenis dan derajat tumor. Glioma derajat rendah umumnya memiliki prognosis yang lebih baik, misalnya pada astrositoma grade I atau II, 50-90 dari 100 orang dapat bertahan hidup selama lima tahun atau lebih sejak pertama kali didiagnosis. Sementara itu, glioma derajat tinggi umumnya memiliki prognosis yang buruk, dimana hanya sekitar 15 dari 100 orang yang dapat bertahan hidup selama lima tahun atau lebih sejak pertama kali didiagnosis. Selain itu, anak-anak memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan orang dewasa.