FEOKROMOSITOMA

Oleh : dr. Angela Fovina
Share

Organ

 

Kelenjar adrenal merupakan organ berbentuk seperti segitiga yang terletak di atas ginjal. Normalnya, manusia memiliki sepasang kelenjar adrenal. Kelenjar ini terdiri dari dua bagian, yaitu korteks (bagian luar) dan medula (bagian dalam). Kelenjar adrenal menghasilkan hormon katekolamin. Hormon katekolamin terdiri dari tiga jenis hormon, yaitu hormon norepinefrin, epinefrin (adrenalin), dan dopamin. Fungsi hormon-hormon ini adalah mengatur detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah, dan reaksi terhadap stres.

 

 

../Downloads/CDR739009-750.jpg

 

 

Gambar 1. Anatomi Kelenjar Adrenal

Sumber : available from https://www.cancer.gov/types/pheochromocytoma/patient/pheochromocytomatreatment-pdq#section/_275

 

 

Feokromositoma adalah tumor yang berasal dari sel kromafin. Sel ini terletak di kelenjar adrenal dan berfungsi untuk menghasilkan hormon katekolamin. Pada feokromositoma, sel kromafin tersebut menghasilkan hormon secara berlebihan sehingga fungsi metabolisme tubuh terganggu. Biasanya, feokromositoma hanya terjadi pada salah satu kelenjar adrenal. Dalam satu kelenjar tersebut, dapat ditemukan lebih dari satu massa tumor.

 

Sebagian besar feokromositoma bersifat jinak alias tidak menyebar ke organ lain. Namun, tumor ini dapat menyebabkan berbagai gejala yang membutuhkan pengobatan. Hanya sekitar 10% feokromositoma yang bersifat ganas dan dapat menyebar ke organ lain di luar kelenjar adrenal.

 

 

Epidemiologi

 

Feokromositoma termasuk jenis tumor yang sangat jarang terjadi. Di Amerika Serikat, hanya ditemukan 2 kasus dari 1.000.000 penduduk setiap tahun. Kasus feokromositoma ditemukan lebih banyak 0,1–1% pada orang yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Tumor ini dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, feokromositoma lebih sering terjadi pada umur 30–50 tahun. Sekitar 10% kasus terjadi pada anak-anak. Sayangnya, di Indonesia belum terdapat data mengenai jumlah kasus feokromositoma. Banyak penderita feokromositoma yang tidak terdiagnosis selama masa hidupnya.

 

 

Faktor Risiko

 

Satu-satunya faktor risiko feokromositoma yang diketahui adalah penyakit akibat genetik. Faktor ini ditemukan kira-kira pada 25% kasus. Penyakit genetik yang dimaksud adalah:

 

  • Sindrom von Hippel-Lindau(vHL)
  • Sindrom Multiple Endocrine Neoplasia tipe 2A and 2B (MEN2A and 2B)
  • Neurofibromatosis tipe 1 (NF1)
  • Sindrom Paraganglioma Familial
  • Sindrom Carney Stratakis

 

Derajat keparahan

 

Tidak seperti kanker lainnya, tidak ada sistem klasifikasi standar untuk feokromositoma. Feokromositoma dikelompokkan menjadi:

 

  • Terlokalisir: terbatas pada satu atau kedua kelenjar adrenal
  • Regional: menyebar ke kelenjar getah bening terdekat atau organ lain yang dekat dengan tumor asal
  • Metastasis: menyebar ke organ yang jauh dari tumor asal, seperti hati, paru-paru, atau tulang.

 

Gejala

 

Produksi katekolamin berlebihan pada penderita feokromositoma dapat menimbulkan berbagai gejala seperti berikut:

  • tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • sakit kepala
  • keringat berlebihan tanpa penyebab yang diketahui
  • jantung berdebar-debar
  • nyeri dada
  • gelisah.

 

Selain itu, dapat ditemukan gejala lain yang lebih jarang, yaitu :

  • nyeri dada atau perut
  • mual dan muntah
  • diare
  • susah buang air besar (konstipasi)
  • rasa lemah atau lemas
  • pucat
  • berat badan menurun
  • hipotensi ortostatik (rasa pusing atau seperti mau pingsan akibat penurunan tekanan darah secara tiba-tiba karena perubahan posisi dari duduk ke berdiri yang mendadak)
  • diabetes mellitus (akibat kegagalan metabolisme karbohidrat)

 

Terkadang, tidak seluruh gejala yang disebutkan di atas akan muncul. Gejala yang paling sering adalah hipertensi yang sulit dikontrol dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup. Tingginya tekanan darah dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti denyut jantung tidak teratur, serangan jantung, stroke, ataupun kematian. Oleh karena itu, walaupun sebenarnya feokromositoma biasanya bersifat jinak, gejala dari penyakit inilah yang sebaiknya diwaspadai.

 

Gejala-gejala yang telah disebutkan di atas lebih mudah terlihat pada kondisi berikut:

  • aktivitas fisik yang berat
  • trauma fisik atau mengalami stres emosional
  • operasi, termasuk prosedur saat mengangkat tumor
  • makan makanan yang banyak mengandung tiramin (seperti anggur merah, coklat, dan keju)
  • saat dibius
  • saat persalinan

 

Penegakan diagnosis

 

  1. Anamnesis (tanya jawab dengan dokter) dan pemeriksaan fisik sederhana:

Pada tahap anamnesis dan pemeriksaan fisik sederhana, dokter akan mencari gejala-gejala penyakit yang telah disebutkan  di atas, seperti tekanan darah tinggi, jantung berdebar, dan lain-lain.

 

  1. Pemeriksaan urine tampung 24 jam:

Pemeriksaan dilakukan dengan cara menampung urine selama 24 jam. Kemudian, diukur jumlah hormon katekolamin (epinefrin, norepinefrin, dan dopamin) serta hasil metabolisme katekolamin (metanefrin dan normetanefrin). Jika dalam pemeriksaan ditemukan peningkatan kadar katekolamin atau metabolismenya, patut dicurigai adanya feokromositoma.

 

  1. Pemeriksaan metanefrin:

Pengukuran metanefrin menggunakan sampel darah. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling baik pada pasien dengan risiko berikut:

  • pasien memiliki tumor adrenal
  • keluarga pasien merupakan penderita feokromositoma
  • pasien memiliki penyakit genetik yang telah disebutkan di atas.

 

Namun, hasil yang positif tidak selalu menunjukkan diagnosis feokromositoma. Kondisi-kondisi di bawah ini dapat memberikan hasil yang positif:

  • konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antidepresan trisiklik
  • stres emosional
  • makanan, seperti kopi dan pisang.

 

Oleh karena itu, setelah melakukan pemeriksaan ini, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan urine tampung 24 jam untuk mengonfirmasi diagnosis.

 

  1. Pemeriksaan radiologi

 

CT-scan: pada kasus feokromositoma, biasanya akan dilakukan pemeriksaan CT-scan pada bagian perut dan panggul. Pemeriksaan ini dapat menampilkan gambar potongan-potongan dari kelenjar adrenal sehingga memperlihatkan gambaran yang lebih rinci daripada MRI

 

Magnetic resonance imaging (MRI): pemeriksaan ini memanfaatkan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk melihat gambaran organ dalam tubuh dengan lebih jelas.

 

Metaiodobenzylguanidine scan (MIBG scan): prosedur ini menggunakan metaiodobenzylguanidine (MIBG) yang merupakan suatu zat radioaktif. Zat ini disuntikkan ke pembuluh darah vena, kemudian diserap oleh jaringan Feokromositoma. Lalu, dilakukan scan untuk mendeteksi keberadaan MIBG dalam tubuh. Tentunya, MIBG akan terkumpul pada jaringan feokromositoma sehingga lokasi tumor dapat terdeteksi saat dilakukan scan. Pemeriksaan ini memakan waktu 1–3 hari.

 

Octreotide scan: pemeriksaan ini menggunakan prinsip yang mirip dengan MIBG scan. Bedanya, zat yang dimasukkan adalah octreotide, sejenis hormon yang akan menempel pada tumor. Ocreotide juga dimasukkan melalui pembuluh darah vena, kemudian dideteksi oleh kamera khusus sehingga lokasi tumor dapat diketahui.

 

Fluorodeoxyglucose-positron emission tomography scan (FDG-PET scan): prosedur ini bertujuan untuk mencari sel tumor yang ganas. FDG-PET scan memanfaatkan radioaktif glukosa (gula) yang dimasukkan melalui pembuluh darah vena. Lalu, PET scan menunjukkan gambaran lokasi glukosa tersebut digunakan. Sel tumor ganas memiliki metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan sel tumor jinak. Akibatnya, jumlah glukosa yang digunakan sel tumor ganas lebih banyak sehingga gambaran pada PET scan menunjukkan warna lebih cerah.

 

Tata laksana

 

  1. Pembedahan

Setelah feokromositoma terdiagnosis, pilihan pengobatan yang utama adalah pembedahan, baik untuk tumor jinak ataupun ganas. Pada proses pembedahan, dapat dilakukan pengangkatan tumor dan seluruh atau sebagian dari kelenjar adrenal. Jika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, organ dan jaringan yang terkena harus diangkat juga. Pembedahan biasanya mampu mengatasi gejala yang dialami pasien, termasuk hipertensi. Pemberian obat-obatan diperlukan untuk mengontrol tekanan darah sebelum pembedahan. Tujuannya adalah untuk mencegah komplikasi selama operasi.

Beberapa minggu setelah operasi, kadar katekolamin dalam darah dan urine diperiksa. Jika hasilnya normal, operasi dianggap berhasil. Pada pembedahan yang mengangkat kedua kelenjar adrenal, diperlukan terapi pengganti hormon untuk menggantikan fungsi kelenjar adrenal sebagai penghasil hormon.

 

  1. Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah terapi yang menggunakan energi dari sinar-x (x-ray) untuk membunuh sel kanker. Ada dua jenis terapi radiasi, yaitu:

  • Terapi radiasi eksternal yang menggunakan mesin di luar tubuh untuk memancarkan radiasi pada kanker.
  • Terapi radiasi internal memanfaatkan zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk membunuh sel kanker dari dalam tubuh.

Terapi radiasi biasanya diberikan pada kasus feokromositoma ganas yang telah menyebar ke tulang. Tujuannya adalah untuk mengurangi gejala, seperti rasa nyeri. Dosis dan lama pemberian terapi radiasi berbeda-beda, tergantung lokasi tumor dan berbagai faktor lainnya. Biasanya, terapi dilakukan selama dua minggu.

 

  1. MIBG dapat digunakan sebagai untuk menegakkan diagnosis ataupun terapi. Terapi ini biasanya digunakan untuk feokromositoma ganas. Terapi MIBG memiliki efek samping, yaitu menekan produksi sel darah dari sumsum tulang. Akibatnya, diperlukan pemeriksaan hitung darah lengkap. Setelah melakukan terapi MIBG, diperlukan pemeriksaan MIBG scan ulang. Jika pada pemeriksaan ulang terdapat penurunan penyerapan MIBG, terapi dikatakan berhasil.

 

  1. Kemoterapi

Kemoterapi berbentuk menggunakan obat-obatan yang ditelan atau disuntikkan. Pada kasus feokromositoma, kemoterapi tidak digunakan sebagai terapi utama. Terapi ini diberikan untuk feokromositoma ganas yang tidak membaik dengan terapi MIBG. Obat kemoterapi yang biasanya digunakan adalah siklofosfamid, vinkristin, dan dacarbazine.

 

  1. Terapi ablasi

Ablasi adalah terapi yang merusak jaringan atau fungsi jaringan tersebut. Jenis-jenis terapi ablasi yang dapat dilakukan adalah:

  • Radiofrekuensi ablasi: prosedur ini menggunakan gelombang radio untuk memanaskan dan menghancurkan sel tumor.
  • Krioablasi: prosedur ini menyebabkan jaringan menjadi membeku, kemudian menghancurkan sel-sel kanker. Biasanya, digunakan cairan nitrogen atau karbondioksida untuk membekukan jaringan.

 

  1. Terapi embolisasi

Pada terapi embolisasi, dilakukan pemblokiran aliran darah ke kelenjar adrenal. Hal ini menyebabkan sel kanker tidak mendapatkan asupan nutrisi dan oksigen. Dengan demikian, sel kanker tidak bisa berkembang dan pada akhirnya mati.

 

  1. Terapi target

Terapi target menyerang beberapa komponen yang mendukung pertumbuhan sel kanker secara spesifik, tanpa merusak sel normal. Terapi target digunakan untuk feokromositoma rekuren (berulang) dan metastasis (menyebar). Contoh terapi target yang digunakan untuk kasus feokromositoma adalah sunitinib.

 

Selain pengobatan tumor yang telah disebutkan di atas, penderita feokromositoma juga mendapatkan obat-obatan lain untuk mengurangi gejala tumor. Obat-obatan yang dimaksud adalah :

  • Obat untuk mengontrol tekanan darah.
  • Obat yang menjaga denyut jantung dalam batas normal.

 

Jika akan dilakukan operasi, obat-obatan ini diberikan 1–3 minggu sebelumnya.

 

Konseling genetik juga dapat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya mutasi genetik. Pasien yang perlu melakukan konseling genetik adalah:

  • Memiliki keluarga yang mengalami feokromositoma
  • Tumor pada kedua kelenjar adrenal
  • Lebih dari satu tumor pada satu kelenjar adrenal
  • Terdiagnosis feokromositoma sebelum usia 40 tahun
  • Memiliki gejala peningkatan katekolamin

 

Bila ditemukan adanya perubahan genetik, anggota keluarga lainnya juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan genetik.

 

Pencegahan

 

Tidak ada langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah feokromositoma karena faktor risiko yang diketahui adalah genetik.

 

Prognosis

 

Prognosis feokromositoma bergantung pada :

  • jenis tumor, jinak atau ganas
  • ada tidaknya penyebaran tumor ke area tubuh lainnya
  • tumor merupakan kasus pertama kali atau rekuren (berulang)
  • ada tidaknya gejala akibat katekolamin yang berlebihan

 

Tidak ada data yang jelas mengenai angka kelangsungan hidup pasien dengan feokromositoma. Walaupun pasien dengan feokromositoma jinak memiliki angka kelangsungan hidup yang sama seperti orang normal, 6,5–16,5% pasien mengalami kekambuhan. Kekambuhan biasanya terjadi 5–15 tahun setelah operasi. Sekitar 50% kasus feokromositoma yang kambuh akan mengalami penyebaran ke organ tubuh yang lain dan peluang bertahan hidup dalam jangka waktu 5 tahun adalah 40–45%.

 

Feokromositoma pada kehamilan

 

Kira-kira ada 1 kasus dari 50.000 ibu hamil. Feokromositoma dapat menyebabkan penyakit serius terhadap ibu dan janin. Berikut adalah tanda-tanda feokromositoma pada kehamilan adalah:

 

  • peningkatan tekanan darah selama tiga bulan awal kehamilan
  • peningkatan tekanan darah tinggi secara tiba-tiba
  • tekanan darah tinggi yang sulit diturunkan dengan obat-obatan.

 

Ibu yang berisiko tinggi mengalami feokromositoma harus menjalani pemeriksaan sebelum persalinan. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar katekolamin darah dan urine. Untuk menentukan letak tumor, digunakan MRI karena tidak menggunakan radiasi yang berbahaya bagi janin.

 

Feokromositoma pada kehamilan dapat diangkat melalui operasi. Operasi dilakukan pada trimester II (hamil 4–6 bulan) atau bersamaan saat persalinan melalui operasi sectio caesarea (SC).