Berbagi dan Bangkit: Pentingnya Dukungan dari Sesama Pasien Kanker

Oleh : dr. Adhitya S. Ramadianto, Sp.KJ
Share

Dewasa ini, istilah kanker tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sudah begitu banyak program kampanye kesehatan mengenai kanker, baik yang digalang oleh pemerintah ataupun dari masyarakat sendiri. Kisah-kisah para penyintas (survivor) kanker dapat dengan mudah ditemukan di media massa, apalagi di media sosial yang berkembang begitu cepat.

Walau demikian, ketika diagnosis kanker terjadi begitu dekat dengan kita — pada diri sendiri atau pada orang terdekat — tidak dapat dipungkiri akan muncul berbagai macam reaksi. Pasien-pasien yang baru mengetahui dirinya mengalami kanker kerap merasa ketakutan, kebingungan, cemas, dan hilang arah menghadapi sebuah masa depan yang mungkin belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kita harus maklum bahwa hidup dengan kanker terasa jauh berbeda dibandingkan dengan sekadar membaca selebaran mengenai kanker.

Kanker merupakan sebuah diagnosis medis, tetapi masalah yang harus dihadapi pasien kanker tidak melulu berkutat dengan urusan fisik saja. Kanker memengaruhi pasien sebagai seorang manusia yang terdiri dari berbagai aspek kehidupan, bukan hanya sepotong organ. Selain keluhan fisik yang ditimbulkan kanker, pasien mungkin mengalami perasaan yang tidak nyaman karena ketidakpastian saat menunggu hasil pemeriksaan, hambatan menjalani aktivitas seperti sebelum sakit, dan kebutuhan untuk berbagi perasaan serta meniti masa depan.

Sistem layanan kesehatan saat ini masih ada keterbatasan untuk menanggulangi seluruh masalah tersebut. Dari segi fisik, dokter memang dapat mengusahakan pengobatan melalui kemoterapi, radiasi, ataupun pembedahan. Dokter juga bisa menyusun terapi pendukung, seperti nutrisi dan rehabilitasi. Akan tetapi, masalah-masalah nonmedis atau psikososial tentu tidak bisa selesai dengan selembar resep obat dan sekali tusukan infus. Karena itu, diperlukan serangkaian komponen lain untuk bekerja sama demi membantu pasien kanker mencapai kualitas hidup yang optimal. Pendekatan ini disebut juga dengan konsep biopsikososial.

Salah satu komponen yang sudah terbukti manfaatnya adalah peer support atau dukungan sesama pasien kanker. Bentuk pelaksanaan peer support sendiri sangat beragam. Di negara-negara maju, program ini dijalankan secara terstruktur dan terintegrasi dengan layanan medis. Sebaliknya, dalam bentuk paling sederhana, peer support dapat berjalan dengan mempertemukan sesama pasien kanker untuk saling berbagi.

Tentu akan ada yang bertanya, “Apa yang bisa ditawarkan oleh peer support setelah dokter menjelaskan sekian banyak mengenai kanker, dari penegakan diagnosis hingga pengobatan?”

Kembali lagi ke konsep biopsikososial, peer support mampu membantu pasien menghadapi tantangan psikososial yang belum terjawab oleh dokter. Dokter adalah ahli dalam pemeriksaan dan pengobatan kanker sesuai dengan pendidikan dan kewajibannya, tetapi pasien kanker adalah orang yang paling ahli dalam menjalani hidup dengan kanker dan segala tantangannya.

Manfaat yang paling mendasar dari peer support adalah menentramkan pasien kanker bahwa ia tidak sendirian. Mengetahui ada orang lain dengan pengalaman yang serupa, pasien kanker akan memiliki sense of belonging (rasa memiliki) dengan sesama pasien kanker yang sedang berjuang menuju pemulihan. Mereka dapat memandang masa depan dengan optimis dan semangat. Optimisme dan semangat ini yang kemudian menopang pasien menjalani berbagai rangkaian pemeriksaan dan pengobatan kanker yang harus diakui tidak ringan, bahkan kadang menguji ketahanan mental.

Pasien kanker pun dapat belajar dari pasien lain yang lebih berpengalaman. Mereka bisa mendapatkan gambaran yang utuh tentang bagaimana hidup bersama kanker, bagaimana mendapatkan bantuan yang tepat dari layanan kesehatan, atau bagaimana cara beradaptasi dengan keterbatasan yang disebabkan oleh kanker. Banyak tips dan trik yang dapat dibagikan oleh sesama pasien kanker yang sangat membantu, tetapi kadang belum terpikirkan oleh dokter. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pasien kanker dan pelaku rawatnya sebenarnya memiliki sumber daya dan keterampilan pemecahan masalah secara mandiri yang dapat dimanfaatkan oleh diri sendiri dan pasien lain. Keterampilan inilah yang dapat ditularkan melalui peer support.

Pasien kanker yang merasakan peer support terbukti mampu menerima dan berdamai dengan kondisi kesehatannya sehingga lebih proaktif dalam mengikuti pengobatan. Belajar dari pengalaman pasien lain, seorang pasien kanker dapat memiliki keterampilan berkomunikasi efektif dengan dokter dan tenaga kesehatan lain sehingga tiap keluhan kesehatan yang dirasakan dapat ditangani segera. Hasilnya, pasien menjadi lebih optimis dan puas dengan kualitas layanan kesehatan.  

Dari aspek pribadi, pasien yang pernah mengikuti peer support memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai kondisi kesehatannya dan memiliki cara-cara pemecahan masalah yang lebih optimal. Pasien yang lebih optimis dan percaya diri tentu dapat membangun hubungan interpersonal yang lebih menyenangkan sehingga ia mendapatkan dukungan sosial dari keluarga dan teman. Dukungan sosial sudah terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dan bahkan mempengaruhi efektivitas terapi.

Berbagi perasaan dan pengalaman antara sesama pasien kanker terbukti membawa sekian banyak keuntungan yang bermanfaat dalam menjalani hidup dengan kanker. Diagnosis kanker bukan berarti awal untuk menarik diri dari lingkungan dan menghentikan segala aktivitas. Sebaliknya, pasien kanker justru sangat membutuhkan dukungan dari orang lain, termasuk sesama pasien. Kesempatan untuk berbagi adalah kesempatan untuk belajar demi kualitas hidup yang semakin baik.