Benarkah Rokok Dapat Menyebabkan Kanker?

Oleh : dr. Ryan Reinardi Wijaya
Share

 

Tembakau biasanya digunakan sebagai bahan dasar rokok. Tanaman yang berasal dari Amerika ini sudah dikenal sejak zaman dahulu kala. Awalnya, tembakau dianggap sakral dan digunakan sebagai penanda perjanjian hingga acara keagamaan. Tembakau mulai dikenal luas sejak masuknya bangsa Eropa ke benua Amerika. Oleh bangsa Eropa, tembakau diperkenalkan ke belahan dunia lain. Dari situlah, kebiasaan merokok daun tembakau menyebar ke seluruh dunia.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran, akhirnya diketahui bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit paru hingga kanker. Sejak itulah, rokok mulai dibatasi peredarannya. Berbagai penelitian dan kampanye tentang bahaya rokok pun bermunculan mulai awal abad ke-20.

 

Rokok dan berbagai masalah yang ditimbulkannya

Pada awal abad ke-21, hampir sepertiga orang dewasa di dunia merokok. Walaupun banyak penelitian menunjukkan bahwa tembakau dapat menyebabkan kematian, perokok tetap melanjutkan kebiasaannya. Kematian akibat penggunaan tembakau pun semakin meningkat. Diperkirakan dua pertiga dari perokok akan meninggal karena kebiasaannya.

Rokok juga terbukti dapat meningkatkan risiko kanker paru. Merokok lebih dari 25 batang rokok per hari meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru hingga 24 kali lipat dibandingkan orang yang tidak pernah merokok. Risiko kanker paru semakin meningkat dengan konsumsi rokok yang lebih banyak, lebih lama, dan lebih awal (usia mulai merokok yang lebih muda).

Sudah diketahui bahwa jumlah dan waktu merokok dapat meningkatkan risiko kanker paru. Namun, hingga saat ini belum ada rumus yang dapat menyatakan dengan tepat (menggunakan angka) berapa kali lipat peningkatan risiko kanker paru akibat jumlah dan waktu merokok tertentu. Dibandingkan dengan jumlah rokok yang dikonsumsi, lama merokok memiliki efek yang lebih besar dalam meningkatkan risiko kanker paru. Artinya, merokok 20 batang rokok per hari selama 20 tahun lebih berbahaya dibandingkan merokok 40 batang per hari selama 10 tahun.

Rokok tidak hanya menyebabkan kanker paru, tetapi juga berbagai jenis kanker lainnya. Sekitar 14 jenis kanker telah terbukti berhubungan dengan merokok. Keempat belas kanker tersebut adalah kanker paru, laring/pita suara, esofagus, mulut-faring, kandung kemih, pankreas, ginjal, hati, lambung, usus, serviks, ovarium, hidung-sinus, dan leukemia. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa merokok dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

 

Tidak ada jenis rokok “lebih sehat”

Terdapat lebih dari 5.300 zat kimia yang berbeda pada asap tembakau. International Agency for Research into Cancer (IARC), menyatakan bahwa asap rokok mengandung lebih dari 70 zat kimia yang dapat menyebabkan kanker. Beberapa zat tersebut beracun dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya karbon monoksida, sianida, dan amonia.

Beberapa rokok dipromosikan memiliki kandungan tar dan nikotin yang rendah. Ternyata, hal tersebut tidak berarti jumlah tar dan nikotin yang diserap oleh tubuh menjadi semakin rendah. Penelitian menunjukkan bahwa nikotin dan zat kimia lain di dalam rokok akan diserap oleh tubuh dalam jumlah yang sama, tidak peduli jenis rokok yang dikonsumsi. Hal ini disebabkan karena perokok akan mengubah kebiasaannya untuk mencapai jumlah nikotin dan tar yang sama. Beberapa cara untuk memuaskan rasa kecanduan nikotin, misalnya dengan menghisap lebih dalam, merokok lebih sering, atau meniadakan fungsi filter rokok.

Bukan hanya rokok yang dapat meningkatkan risiko kanker. Merokok dengan menggunakan pipa, cerutu, gulungan, atau shisha juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Mengunyah tembakau secara langsung juga tidak mengurangi risiko kanker. Sebaliknya, mengunyah tembakau justru meningkatkan risiko kanker mulut, tenggorokan, esofagus, dan pankreas.

 

Candu nikotin dalam rokok

Nikotin rupanya menjadi tersangka utama yang menyebabkan perokok sulit untuk berhenti. Bahkan, nikotin memiliki efek adiktif/ketergantungan yang lebih besar dibandingkan obat terlarang (misalnya ganja, kokain, heroin). Sekitar 31,9% perokok akan menjadi ketergantungan terhadap rokok. Sementara itu, hanya 9,1% pengguna ganja, 16,7% pengguna kokain, dan 23,1% pengguna heroin yang menjadi ketergantungan.

Perokok merasa bahwa merokok dapat menghilangkan rasa gelisah dan penat. Akan tetapi, beberapa bukti menyatakan bahwa hal tersebut hanya bersifat sementara. Efek melegakan ini muncul karena kebutuhan nikotin sudah terpenuhi dengan merokok. Jika dibandingkan, perokok umumnya akan lebih terlihat lebih penat dan gelisah dibandingkan dengan mantan perokok dan non-perokok.

Perokok juga memiliki pikiran bawah sadar yang mengingatkan akan rokok hanya dengan mencium bau rokok, melihat objek yang berhubungan dengan rokok (asbak dan korek), atau situasi saat merokok. Hal-hal tersebut dapat menimbulkan keinginan untuk merokok. Akibatnya, akan sangat susah untuk menghentikan ketergantungan merokok.

 

Berhenti merokok merupakan salah satu cara utama untuk menghindari kanker

Risiko kematian pada usia muda meningkat seiring jumlah rokok yang dikonsumsi. Perokok sosial atau ringan tetap memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah merokok. Satu penelitian menunjukkan bahwa perokok yang merokok 4 batang rokok per hari memiliki risiko 50% meninggal lebih muda dibandingkan non-perokok. Wanita yang merokok lebih dari 10 rokok per hari juga berisiko dua kali lipat meninggal lebih cepat dibandingkan non-perokok. Angka harapan hidup perokok rata-rata berkurang 1 dasawarsa dibandingkan non-perokok.

Berbagai macam penelitian menunjukkan bahwa berhenti merokok dapat menurunkan risiko kanker terkait merokok. Hasil penelitian dari British Doctor menunjukkan bahwa perokok yang berhenti sebelum usia 30 tahun akan memiliki angka harapan hidup mendekati non-perokok. Bahkan orang yang berhenti merokok di usia 60 tahun hanya kehilangan beberapa tahun dibandingkan orang yang tetap melanjutkan merokok. Dapat disimpulkan bahwa semakin cepat berhenti, semakin baik pula.

Meskipun merokok merupakan kebiasaan mematikan, berhenti merokok bukanlah pilihan yang mudah. Mencoba berhenti merokok merupakan suatu hal yang menantang. Banyak yang akhirnya kembali merokok karena efek candu nikotin. Beberapa usaha untuk berhenti merokok yang biasanya ditempuh adalah mengurangi konsumsi rokok, berhenti total mendadak, terapi pengganti nikotin, menggunakan rokok elektrik, atau meminta bantuan tim medis.

Penggunaan rokok elektrik sebagai ganti rokok tembakau dapat digunakan dalam upaya berhenti merokok. Hingga saat ini, bukti yang ada menunjukkan bahwa rokok elektrik lebih aman dibandingkan rokok tembakau. Rokok elektrik memang mengandung beberapa zat yang berbahaya. Namun, jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan rokok tembakau. Walaupun demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mencari tahu metode yang tepat untuk menggunakan rokok elektrik sebagai upaya berhenti merokok.

Bantuan tim medis berupa konseling dan obat ternyata memberikan peluang berhenti merokok terbesar. Keterlibatan tim medis ini dapat meningkatkan angka keberhasilan berhenti merokok hingga 2,5 kali lipat dibandingkan upaya lain yang dilakukan sendiri. Untuk informasi mengenai bantuan tim medis lebih lanjut, Anda dapat menghubungi fasilitas kesehatan terdekat.