ASTROSITOMA

Oleh : dr. Wiedya Kristianti Angeline
Share

Seluruh organ pada tubuh seseorang dapat mengalami perubahan pola pertumbuhan abnormal pada sel-selnya (menjadi tumor), termasuk otak. Hampir semua jenis sel otak dapat berkembang menjadi tumor. Berdasarkan keganasannya, tumor otak terbagi dua, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Perbedaannya, tumor ganas (disebut juga kanker) otak bisa merusak jaringan otak di sekitarnya ataupun menyebar ke organ lain (metastasis), sementara tumor jinak tidak mempunyai kemampuan tersebut.

Astrositoma adalah salah satu jenis tumor otak yang berasal dari sel astrosit (sel berbentuk bintang). Normalnya, sel astrosit berfungsi untuk menyokong dan melindung sel-sel lainnya di otak dan saraf tulang belakang. Astrositoma bisa bersifat jinak, tetapi bisa juga ganas. Astrositoma paling sering terjadi di serebrum (otak besar). Namun, astrositoma juga bisa muncul di serebelum (otak kecil), batang otak, dan saraf tulang belakang. Astrositoma sering muncul pada serebrum pada orang dewasa, sementara pada anak-anak dan dewasa muda, astrositoma lebih sering ditemukan di serebelum.

Epidemiologi

Astrositoma paling sering (50–75%) ditemukan dibandingkan jenis tumor otak lainnya. Astrositoma dapat terjadi pada segala usia, namun tersering saat usia 20–60 tahun dan kanak-kanak. Pria lebih banyak didapati menderita astrositoma dibandingkan perempuan, yaitu 1,18–2 (laki-laki) berbanding 1 (perempuan). Insiden (angka kejadian baru) rata-rata pada tahun 2006–2010 sekitar 5,17 per 100.000, dengan perkiraan 16.000 kasus baru per tahun di Amerika Serikat. Untuk usia di bawah 15 tahun, insiden astrositoma mencapai 14 kasus baru per satu juta.

Penelitian dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mendapati bahwa di Indonesia, astrositoma merupakan tumor otak tersering kedua setelah meningioma. Pada periode 2003–2010, penelitian tersebut menemukan 60 kasus astrositoma, 30 kasus  di antaranya adalah astrositoma derajat rendah (jinak), 19 kasus astrositoma derajat tinggi (ganas), sedangkan sisanya merupakan tipe campuran.

 

Etiologi dan Faktor Risiko  

Penyebab tumor ini belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah faktor dinilai meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami astrositoma:

  • Riwayat keluarga mengalami kanker otak dan penyakit gangguan genetik

Risiko astrositoma akan meningkat bila seseorang mempunyai orang tua atau saudara kandung terdiagnosis kanker otak. Di samping itu, gangguan genetik juga bisa memengaruhi risiko terkena astrositoma. Astrositoma sering dihubungkan dengan berbagai sindrom, seperti sindrom Li-Fraumeni, sklerosis tuberosa, mutasi p53, sindrom Turcot, sindrom von Hippel-Lindau, sindrom Cowden, sindrom Gorlin, serta neurofibromatosis tipe 1 dan 2. Akan tetapi, hubungan pasti antara gangguan genetik tersebut dengan astrositoma tersebut belum diketahui secara pasti.

  • Usia

Risiko astrositoma akan bertambah seiring bertambahnya usia, terutama astrositoma derajat tinggi. Namun, astrositoma dapat terjadi pada usia berapa pun.

  • Radiasi

Radiasi adalah satu-satunya faktor penyebab tumor otak yang telah diketahui secara pasti. Jaringan otak peka terhadap paparan radiasi, seperti sinar-X (baik dari alat rontgen, radioterapi, ataupun radiasi nuklir). Paparan radiasi tersebut dapat memicu tumor otak.

Faktor risiko radiasi yang masih kontroversial adalah penggunaan telepon seluler. Sejauh ini, dampak dari penggunaan telepon seluler belum dianggap bisa meningkatkan risiko tumor otak. Akan tetapi, karena kurangnya data efek paparan jangka waktu lama (>15 tahun) telepon seluler terhadap otak, Badan Kesehatan Dunia (WHO) tetap memperingatkan akan adanya risiko paparan radiasi telepon seluler dengan kejadian tumor otak.

  • Zat Karsinogenik

Penelitian tentang zat karsinogenik (pencetus kanker) sudah lama dan banyak dilakukan. Saat ini, zat-zat karsinogenik tertentu, seperti pestisida, formaldehida, vinil klorida, hidrokarbon aromatik polisiklik, pelarut organik, metilklorantron, nitroso-etil-urea (pada makanan, seperti nitrosurea, nitrosamin, dan lain-lain) telah diakui dapat memicu timbulnya tumor otak.

  • Riwayat kanker sebelumnya

Riwayat pernah mengalami kanker akan memperbesar risiko mengalami kanker otak di masa yang akan datang. Para penderita leukemia (kanker darah), limfoma (kanker kelenjar getah bening) non-Hodgkin, atau glioma (salah satu jenis tumor otak) berisiko mengalami kanker otak. Peningkatan risiko kanker otak ini mungkin disebabkan karena efek pengobatan kanker sebelumnya, misalnya radioterapi di daerah kepala. Riwayat kemoterapi yang dimasukkan ke dalam cairan tulang belakang juga telah terbukti dapat meningkatkan risiko kanker otak.

  • Mengidap HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS mempunyai risiko sekitar dua kali lipat untuk mengidap kanker otak dibandingkan dengan orang-orang sehat pada umumnya. Peningkatan risiko ini diperkirakan berkaitan dengan menurunnya kekebalan tubuh akibat penyakit tersebut.

  • Kegemukan atau obesitas

Kegemukan atau obesitas memperbesar risiko mengalami kanker otak.

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala astrositoma bervariasi, tergantung lokasi, ukuran, derajat pertumbuhan, dan sifatnya (ganas atau jinak). Berikut tanda dan gejala yang dapat terjadi.

  • Sakit kepala terus-menerus (yang tidak berkurang dengan obat-obatan, terutama ketika pagi hari)
  • Kaku atau nyeri leher
  • Pusing
  • Rasa letih
  • Penglihatan ganda atau kabur
  • Penonjolan bola mata
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pertumbuhan pada anak-anak (tinggi dan berat badan kurang dibandingkan anak-anak lainnya yang sebaya)
  • Kejang (pertama kali)
  • Kehilangan selera makan
  • Perubahan suasana hati dan kepribadian, mudah tersinggung, dan depresi
  • Merasa kebingungan
  • Hilang ingatan
  • Sering mengantuk dan tidak konsentrasi
  • Perubahan kemampuan berpikir, mengingat, dan belajar
  • Kelemahan tangan dan kaki salah satu sisi tubuh
  • Penurunan sensitivitas dan sensibilitas sensori (sulit merasakan sentuhan, nyeri, panas, dll.)
  • Kesulitan berbicara
  • Kesulitan berjalan dan hilangnya keseimbangan
  • Pada anak, ukuran kepala dapat membesar
  • Kesulitan berbicara dan kehilangan pendengaran yang terjadi secara berangsur-angsur
  • Gangguan buang air kecil

Jenis dan Stadium

WHO membuat sebuah sistem klasifikasi astrositoma yang membagi astrositoma menjadi derajat rendah (derajat I dan II) dan derajat tinggi/ganas (derajat III dan IV). Astrositoma derajat rendah bisa berkembang menjadi derajat tinggi.

  • Astrositoma Pilositik (Juvenile Pilocytic Astrocytoma [JPA]) — Astrositoma derajat I Astrositoma jenis ini umumnya terlokalisasi (tidak merusak struktur sekitarnya), bertumbuh lambat, mengandung kista, dan tidak menyebar. Walaupun demikian, jenis tumor ini dapat bertumbuh menjadi sangat besar dan menimbulkan gejala. Bila sudah berukuran sangat besar, tumor ini mengganggu serebrum, serebelum, saraf penglihatan, dan batang otak. Jenis ini merupakan tumor otak anak dan dewasa muda tersering, sekaligus tumor serebelum paling umum (dua dekade pertama kehidupan), yaitu 2% dari seluruh tumor otak. Tingkat kelangsungan hidup 10 tahun pasien yang mengalami tumor ini lebih dari 90%.
  • Astrositoma Difus (Astrositoma Derajat Rendah) Astrositoma derajat II

Astositoma derajat II cenderung menyerang jaringan di sekitarnya, biasanya berbatas tidak tegas, dan bertumbuh relatif lambat, tetapi bisa menjadi agresif dan bertumbuh cepat seiring waktu. Jenis ini paling sering dialami oleh dewasa muda (20–40 tahun) dan dapat terjadi hingga sekitar usia 30 tahun. Lebih sering ditemukan di laki-laki dibandingkan perempuan.

 

  • Astrositoma Anaplastik (Astrositoma Derajat Tinggi) Astrositoma derajat III

Jenis yang bertumbuh dengan kecepatan sedang. Usia rata-rata saat didiagnosis ialah 30–50 tahun, lebih sering pada laki-laki, dan menyumbang 4–9% dari semua jenis tumor otak. Jenis ini langka, cenderung berubah menjadi glioblastoma (derajat IV). Jenis ini membutuhkan pengobatan lebih agresif daripada astrositoma polisitik jinak.

 

  • Astrositoma derajat IV Glioblastoma, sebelumnya dinamakan glioblastoma multiforme, glioblastoma derajat IV, atau GBM

Jenis paling ganas dan sering dialami oleh orang dewasa (sekitar usia 45 dan 80 tahun), umumnya terjadi pada pria, dan mencakup sekitar 23–54% dari seluruh tumor otak. Glioblastoma tumbuh dengan cepat, sering kali mendadak dan menyebar ke jaringan sekitar. Glioblastoma dapat berkembang pada satu atau banyak tempat di otak. Astrositoma derajat IV terbagi dua, yaitu primer dan sekunder. Astrositoma derajat IV primer adalah jenis yang sangat agresif sekaligus bentuk paling umum dari astrositoma derajat IV. Sementara itu, jenis sekunder adalah astrositoma derajat IV yang asalnya dari derajat rendah, tetapi berkembang menjadi derajat IV.

  • Subependymal Giant Cell Astrocytoma

Merupakan jenis astrositoma terlokalisasi, digolongkan sebagai astrositoma derajat I oleh WHO. Jenis ini berhubungan dengan penyakit sklerosis tuberosa.

Tumor otak dapat menyebar ke bagian lain sistem saraf pusat yang lain, tetapi kenyataannya tumor ini jarang ataupun hampir tidak pernah menyebar ke organ lain.

Diagnosis
Diagnosis astrositoma ditegakkan berdasarkan anamnesis (tanya-jawab dokter dan pasien), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (menggunakan alat khusus). Dokter akan menanyakan gejala astrositoma (seperti yang telah dibahas sebelumnya), kemudian melanjutkan dengan pemeriksaan saraf dasar, termasuk pemeriksaan mata dan tes penglihatan, keseimbangan, koordinasi, dan status mental. Akan tetapi, gejala dan tanda astrositoma sering kali tidak begitu jelas dan mirip dengan penyakit lainnya yang lebih ringan (seperti sakit kepala umum atau radang sinus) sehingga sulit didiagnosis. Oleh karena itu, dokter memerlukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis astrositoma, yaitu CT scan dan MRI.

  • Computerized Tomography (CT) Scan

CT scan menggunakan sinar-X untuk menampilkan potongan gambaran otak pasien dari berbagai arah. Pada gambaran otak tersebut, tumor beserta dengan ukuran, lokasi, konsistensinya bisa terlihat. Gambaran kelainan yang terlihat bervariasi, mulai gambaran penekanan otak oleh tumor, pergeseran garis tengah otak, kalsifikasi (penumpukan kalsium), dan pembengkakan otak. Pewarna khusus (zat kontras) dapat disuntikkan ke pembuluh darah sebelum pemindaian untuk membuat tumor lebih mudah diidentifikasi.

                                                                        

Gambar 1 CT scan, sebelum dan setelah diberikan zat kontras, yang menunjukkan astrositoma derajat rendah pada otak lobus frontal kiri (daerah berwarna hitam di kanan atas).

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk kasus yang dicurigai sebagai astrositoma. MRI menampilkan garis batas tumor lebih akurat dibandingkan dengan CT scan. Selain itu, MRI bisa dilakukan secara teratur sebagai follow-up pascapengobatan. Serupa dengan CT scan, zat kontras juga dapat disuntikkan ke pembuluh darah sebelum pemindaian MRI agar membuat tumor lebih mudah diidentifikasi.

                                                                 

 

Gambar 2 Gambaran astrositoma pada MRI (warna putih di kiri tengah)

 

  • Biopsi

Bila ditemukan tumor pada hasil pemeriksaan CT scan atau MRI, selanjutnya perlu dilakukan biopsi untuk mengetahui jenis dan derajat tumor. Biopsi adalah satu-satunya cara pasti untuk mendiagnosis tumor. Biopsi dapat dilakukan sebelum operasi pengangkatan tumor atau saat operasi. Biopsi membantu memutuskan pilihan pengobatan terbaik dan mengetahui prognosis yang sesuai.

Selain pemeriksaan utama di atas, dokter juga bisa memutuskan melakukan pemeriksaan lainnya, seperti elektroensefalografi (EEG atau rekam otak), positron emission tomography (PET), single-photon emission tomography (SPECT), magnetic resonance spectroscopy (MRS) scan, dan analisis cairan serebrospinal.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan astrositoma tergantung pada jenis, ukuran, derajat, penyebaran, dan lokasi tumor; serta usia, kondisi kesehatan, dan preferensi pasien. Sampai saat ini, pilihan tata laksana astrositoma ialah observasi (hanya untuk astrositoma derajat rendah dengan ukuran tertentu dan tidak menunjukkan gejala berarti), pembedahan, radioterapi, dan/atau kemoterapi.

  • Pembedahan

Pembedahan dilakukan untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin tanpa melukai jaringan otak normal (kraniotomi). Pembedahan biasanya merupakan pilihan dan langkah pertama dalam mengobati sebagian besar jenis tumor otak, termasuk astrositoma dan hampir untuk semua stadium bila memungkinkan. Tumor otak yang kecil dan mudah dipisahkan dari jaringan otak sehat di sekitarnya memungkinkan pembedahan dilakukan secara menyeluruh. Sedangkan pada kasus lain, tumor mungkin tidak bisa dipisahkan dari jaringan sekitarnya atau terletak di area otak yang sensitif sehingga membuat operasi menjadi berisiko. Dalam situasi demikian, seorang ahli bedah saraf hanya akan menyingkirkan tumor sebanyak mungkin dalam batas yang masih bisa dikatakan aman.

Pengangkatan tumor dapat membantu mengurangi tanda dan gejala yang dialami pasien. Dalam beberapa kasus, hasil biopsi yang diambil saat operasi berlangsung bisa segera diperiksakan oleh dokter spesialis patologi anatomi sehingga jenisnya diketahui. Pada kondisi tersebut, dokter ahli bedah saraf bisa memutuskan jumlah jaringan yang harus diangkat.

Saat ini, telah tersedia berbagai teknologi dan teknik bedah untuk membantu ahli bedah saraf dalam melindungi jaringan otak sehat sebanyak mungkin saat mengangkat tumor, termasuk operasi otak yang dibantu komputer, operasi otak dalam keadaan sadar, dan pembedahan dengan bantuan MRI selama pembedahan berlangsung.

  • Radioterapi

Radioterapi biasanya dilakukan setelah pembedahan atau sebagai terapi utama bila pembedahan tidak dapat dilakukan (terutama pada astrositoma derajat tinggi). Radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi, seperti sinar-X atau proton, untuk membunuh sel-sel tumor. Jenis tumor, derajat tumor, dan faktor prognosis lainnya dipertimbangkan dalam  menentukan waktu dan jenis terapi radiasi yang diberikan.

Pilihan terapi radiasi yang ada: menggunakan komputer untuk menarget tumor otak, menggunakan sinar proton daripada sinar-X sebagai sumber radiasi, dan terapi radiasi stereotaktis (radiosurgery). Stereotactic radiosurgery (contohnya gamma knife atau linear accelerator [LINAC]) menggunakan banyak sinar radiasi yang sangat terfokus untuk membunuh sel-sel tumor di daerah yang sangat kecil.

Efek samping terapi radiasi tergantung pada jenis dan dosis radiasi yang diterima. Efek samping yang umum selama atau segera setelah radiasi adalah rasa letih, sakit kepala, iritasi kulit kepala, dan risiko kanker sekunder di waktu yang akan datang.

  • Kemoterapi
    Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel tumor. Obat kemoterapi dapat diberikan secara oral (minum) atau disuntikkan ke pembuluh darah (intravena). Kemoterapi biasanya digunakan dalam kombinasi dengan radioterapi untuk mengobati tumor otak. Kemoterapi dapat digunakan untuk mengobati tumor jenis glioblastoma yang kambuh (recurrent GBM). Contoh obat kemoterapi yang paling sering digunakan adalah temozolomide (temodar) yang berbentuk pil.


Efek samping kemoterapi tergantung pada jenis dan dosis obat yang diterima. Efek samping yang umum adalah mual, muntah, sakit kepala, rambut rontok, demam, dan rasa letih. Beberapa efek samping dapat diatasi dengan obat-obatan.

 

  • Terapi obat yang ditargetkan (targeted drug therapy)

Pengobatan ini berfokus pada kelainan spesifik yang ada di dalam sel kanker. Dengan memblokir kelainan tersebut, diharapkan sel kanker mati. Pengobatan ini mungkin bermanfaat bagi sebagian orang ketika kemoterapi biasa tidak lagi membantu. Pengobatan ini dapat diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan kemoterapi. Salah satu terapi obat yang digunakan untuk mengobati kanker otak jenis glioblastoma adalah bevacizumab (avastin) yang diberikan melalui pembuluh darah vena. Obat ini menghentikan pembentukan pembuluh darah baru sehingga memotong suplai darah ke tumor dan membunuh sel-sel tumor.

Selain mengangkat tumor, obat-obatan tertentu bisa mengurangi tanda dan gejala tumor, misalnya pemberian kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan otak dan tekanan rongga kepala sehingga mengurangi nyeri kepala; obat antikejang untuk mencegah kejang; dan obat antimual untuk mengatasi keluhan mual-muntah.

Rehabilitasi setelah pengobatan

Tumor otak yang berkembang dapat memengaruhi kemampuan motorik (pergerakan), bicara, penglihatan, dan berpikir. Oleh karena itu, rehabilitasi menjadi penting. Program rehabilitasi harus dimulai sedini mungkin dan berpusat pada pemulihan fungsi seoptimal mungkin atau memanfaatkan fungsi yang masih ada untuk meningkatkan kesejahteraan hidup pasien. Rehabilitasi yang dapat dilakukan:

  • Terapi fisik

Membantu seseorang mendapatkan kembali keterampilan motorik atau kekuatan otot yang hilang.

  • Terapi okupasi

Membantu seseorang kembali ke aktivitas normal sehari-hari, termasuk bekerja.

  • Terapi wicara

Dilakukan dengan speech therapist yang membantu mengembalikan kemampuan bicara yang hilang atau menurun.

  • Bimbingan belajar untuk anak usia sekolah

Dapat membantu pasien usia kanak-kanak untuk mengatasi perubahan ingatan dan cara berpikir.

Terapi alternatif

Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui peran pengobatan komplementer dan alternatif. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya perawatan alternatif yang terbukti menyembuhkan tumor otak. Namun, perawatan komplementer dapat membantu seseorang menghadapi tumor otak. Beberapa perawatan komplementer yang dapat membantu antara lain akupunktur, hipnosis, meditasi, terapi musik, dan latihan relaksasi.

Follow-Up

Seorang pasien astrositoma sebaiknya dipantau secara reguler oleh dokter untuk mengetahui perkembangan gejala, menyesuaikan dosis obat-obatan, dan memastikan tidak adanya tumor yang timbul kembali. Pada umumnya, kontrol dapat dilakukan dua kali per tahun. Bila tidak ditemukan adanya kelainan, jadwal pemeriksaan selanjutnya dapat diperpanjang menjadi satu kali saja per tahunnya.

Selain kemungkinan kambuh, keluhan selama pengobatan dapat dialami. Bila mengalami efek  samping pengobatan, seperti mual dan demam pascakemoterapi, konsultasikan dengan dokter agar keluhan tersebut diatasi.

Deteksi dini (skrining)

Bila seseorang mengalami sakit kepala berat yang tidak berkurang dengan pengobatan disertai mual-muntah, kelemahan otot pada salah satu sisi tubuh, kejang-kejang, masalah penglihatan, atau sulit berbicara, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mewaspadai adanya kemungkinan tumor otak.

Di negara maju, pemeriksaan genetik pada seseorang dengan riwayat keluarga penderita tumor otak dapat dilakukan untuk mengetahui adanya kerentanan seseorang untuk mengalami tumor otak. Dengan demikian, harapannya strategi pengobatan yang lebih efektif dan tepat sasaran bisa dilakukan. Namun, pemeriksaan genetik belum menjadi pemeriksaan wajib.

Pencegahan

Seseorang dengan faktor-faktor risiko tumor otak belum tentu pasti akan mengidap tumor otak. Upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah tumor otak, termasuk astrositoma, belum diketahui secara pasti. Namun, ada baiknya bila setiap orang selalu mengupayakan melakukan pencegahan dan menghindari faktor-faktor pemicu tersebut dengan pola hidup sehat, di antaranya:

  • Menghindari minum alkohol dan merokok
  • Istirahat dan tidur cukup
  • Mengurangi stres
  • Mengonsumsi sayur dan buah kaya antioksidan dan makanan kaya omega-3
  • Menghindari makanan dan zat yang dapat menyebabkan kanker (karsinogenik)
  • Menghindari radiasi
  • Olahraga cukup
  • Menjaga berat badan ideal

Komplikasi

Baik astrositoma sendiri maupun tata laksananya dapat menyebabkan komplikasi. Pada pembedahan, dapat terjadi risiko cedera saraf dan kemungkinan kematian. Namun, komplikasi tersebut bukanlah alasan mutlak untuk menolak menjalani pembedahan, mengingat tumor itu sendiri bisa menyebabkan cedera saraf permanen dan kematian yang lebih pasti. Seorang ahli bedah saraf tentunya sedapat mungkin meminimalkan kemungkinan kerusakan akibat pembedahan. Defisit neurologis (saraf) sementara karena peradangan lokal atau luka setelah pembedahan sering kali membaik setelah pasien menjalani fisioterapi dan rehabilitasi.

Radioterapi yang merusak jaringan normal kadang-kadang dapat menyebabkan penurunan kecerdasan, gangguan ingatan, perubahan sifat, dan kebingungan di kemudian hari. Efek samping tersebut harus dilaporkan pada dokter sehingga pasien dapat dirujuk kepada seorang ahli rehabilitasi yang dapat membantu memulihkan kembali kemampuannya.

Prognosis

Berbagai faktor telah ditemukan berpengaruh terhadap progresivisitas tumor dan kelangsungan hidup, meliputi usia, kondisi kesehatan, ukuran tumor, sejauh mana pengangkatan tumor dilakukan, dan efektivitas radioterapi/kemoterapi serta terapi lain yang dilakukan.

Seseorang yang mengalami astrositoma derajat I memiliki prognosis baik dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahunnya sekitar 90–100% dan dapat bertahan hidup hingga lebih dari 10 tahun. Pada astrositoma derajat II, tingkat kelangsungan hidup 5 tahunnya sekitar 34% (tanpa pengobatan) dan sekitar 70% dengan pembedahan dan radioterapi, dengan rata-rata kelangsungan hidup sekitar 4 tahun (sekitar 2,2–5 tahun). Pada astrositoma derajat III, rata-rata kelangsungan hidup sekitar 18 bulan tanpa pengobatan (radioterapi dan kemoterapi), dengan waktu kelangsungan hidup sekitar 2–5 tahun dengan pengobatan. Sedangkan pada astrositoma derajat IV, prognosisnya buruk, yaitu seseorang jarang bertahan hidup lebih dari 3 tahun (biasanya hanya sampai 1 tahun). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahunnya biasanya di bawah 3%. Hampir semua pasien dengan astrositoma derajat tinggi mengalami kekambuhan ataupun tetap progresif sekalipun telah dilakukan berbagai terapi dan secepatnya harus ditata laksana kembali.